Sikembar Sang Penguasa 2

Sikembar Sang Penguasa 2
mencoba


__ADS_3

Dylan membawa Shindy ke rumah orangtua nya.


"mas? in ini?"


"rumah orangtuamu kan? ".


Shindy mengangguk dengan mata berkaca-kaca.


"aku tidak suka kamu memperlihatkan kelemahanpun pada bibi dan pamanmu! jika kita sudah ada di kamar aku mengizinkanmu menangis". Dylan


"aku tidak menangis mas! aku terharu kamu tau aku di usir dari rumah ini saat usiaku 17 tahun hingga sekarang aku tidak pernah kemari lagi". Shindy


"tidak usah dijelaskan! perlihatkan betapa berkuasanya dirimu saat ini usir mereka dengan tegas tanpa belas kasih".


Shindy memejamkan matanya menarik nafas dalam-dalam lalu menghembusnya secara perlahan.


"aku boleh menggunakan namamu mas? ". tanya Shindy


Dylan tersenyum miring lalu mengusap kepala Shindy.


"Of course! "


Shindy tersenyum lebar lalu merangkul lengan Dylan, mereka berjalan memasuki rumah kediaman Sartika


Shindy bisa terlihat kuat saat ini, matanya memancarkan kebencian seolah tidak punya hati sama sekali.


"Shindy..? sayang kamu pulang nak? ". Yuni berlagak manis mendekati Shindy


"pa.. papa Keponakan tersayang kita pulang pa". teriak Yuni


Dylan menatap dingin nan menusuk ke arah Yuni disusul Joko juga datang.


"nak udah pulang ya? ayo nak kita duduk". ajak Joko


Shindy mengangkat tangannya.


"sekarang rumah ini akan menjadi milikku lagi BIBI PAMAN! ". kata Shindy dengan wajah dinginnya


Dylan melipat kedua tangannya didepan dada melihat aksi Shindy yang sedang membalaskan rasa sakit hatinya selama ini.


"kamu bicara apa nak? ini memang rumah kita".


Yuni


Shindy tertawa sumbang.


"KITA? sejak kapan rumah ini jadi milik KITA bibi? bukankah kalian memaksaku menandatangani perpindahan harta warisan kalau tidak? aku akan dijual ke bandot tua itu nyatanya kalian menyembunyikan Alexa tapi malah aku yang kalian sodorkan setelah menandatangani kalian tetap menjualku ".


"kemana kalian saat aku sendirian diluar hah? ini rumah orangtuaku tapi kalian malah memperlakukanku seperti anak pembantu seolah aku hanya menumpang disini padahal kalian lah yang menumpang di rumah orangtuaku"


"dengan alasan tidak tega membiarkanku tinggal sendiri dirumah ini kalian berlagak sok pahlawan tinggal di rumahku pada akhirnya kalianlah yang serakah menjadikan ku sebagai batu sandungan kalian untuk memiliki rumah dan perusahaan papaku kalian menyingkirkanku ... "


Yuni berusaha mendekat tapi Shindy menepisnya kasar.


Yuni mengepalkan tangannya, jujur ia tidak sudi meminta maaf dan berlagak manis pada Shindy tapi demi rumah ini ia harus bersabar supaya tidak di usir.


"tapi saat itu kami sudah mencarimu nak". bela diri Joko.


Shindy mendecih.


"upaya apapun yang kalian lakukan tidak akan merubah pendirianku! kalian akan tetap pergi dari rumah ini"


"tapi kamu sudah punya rumah dengan tuan muda kan? lalu tidak bisakah kamu membiarkan kami tinggal disini nak? ". tanya Yuni

__ADS_1


"kalian tidak perlu memikirkan masalahku! jika aku suruh kalian keluar maka keluar saja "


ketus Shindy


"lalu rumah ini kamu apakan nak? ". tanya Joko


"aku apakan? terserah aku PAMAN mau aku jual atau aku kontrakan juga tidak masalah asalkan kalian tidak lagi ada di atap rumah orangtuaku "


"kapan rumah ini jadi milikku mas? ". tanya Shindy menoleh ke suaminya.


"beberapa menit yang lalu rumah ini sudah sah menjadi milikmu Ndy". jawab Dylan.


Shindy tersenyum puas.


"besok rumah ini harus sudah kosong! jika belum aku akan suruh orang-orang suamiku untuk mengusir kalian ".


"biarkan kami tinggal disini nak! apa kamu tega melihat kami tidak punya tempat tinggal? kenapa kamu sangat kejam? ". Joko


Shindy tertawa hambar.


"aku kejam? tidakkah kalian berkaca? lalu kalian bagaimana? kalian mengusirku saat aku masih remaja jika kalian hanya sekedar mengusirku mungkin aku bisa maafkan tapi Kalian menjualku supaya aku jadi jal*ng itu yang tidak aku maafkan"


"jangan salahkan aku paman bibi jika aku kejam, Kalian yang membuatku begini".


Shindy langsung berbalik meninggalkan Joko dan Yuni.


bahkan Paman dan Bibinya menjerit memanggilnya pun diabaikan, Dylan tersenyum miring.


"apa yang kau tanam itulah yang akan kalian tuai, ,seperti apa yang dikatakan istriku besok pagi rumah ini harus kosong! ".


Dylan juga meninggalkan Yuni dan Joko.


Shindy di dalam mobil Dylan meneteskan air matanya, hatinya begitu lega sekaligus sedih mengingat perlakuan paman dan bibinya.


Dylan masuk ke mobilnya dan melihat Shindy menghapus air matanya.


"apa kamu bahagia mengusir mereka? ". tanya Dylan


Shindy mengangguk lalu menggeleng kepalanya.


Dylan langsung mengerti


"aku akan mengawasi mereka selama 6 bulan ini, biarkan mereka hidup di jalanan selama 6 bulan setelah itu terserah padamu".


Shindy tersenyum tulus.


"mas peluk aku! "


Dylan memutar bola matanya dengan malas


"Hiks.. hiks... "


Dylan langsung beralih ke Shindy dan mengusap kepala Shindy.


"nanti di rumah ya? " Bujuknya lembut


Shindy mengangguk lalu menahan air mata harunya supaya tidak keluar.


.


.


.

__ADS_1


di kamar Shindy langsung merentangkan tangannya. Dylan menautkan alisnya.


"apa? "


"katanya tunggu di rumah peluk aku nya! ". tutur Shindy mengingatkan.


Dylan menepuk jidatnya.


"kenapa kamu jadi seperti Kaisha? bahkan Kaisha pun sudah jarang manja denganku kenapa manjanya pindah padamu? "


Shindy mengabaikannya, ia menghentak-hentakkan kakinya dengan raut wajah menggemaskannya. bibir Dylan berkedut menahan tawanya melihat hal itu


"siapa yang butuh yang mendekat kenapa harus aku yang memelukmu? ". Arogan Dylan


Shindy mengeraskan suaranya yang menangis hingga Dylan gelagapan langsung mendekati Shindy dan memeluknya,


"udah-udah jangan nangis lagi". bujuk Dylan dengan kaku membujuk Shindy


Shindy menebarkan senyum manisnya, ternyata tips manja nya benar-benar berhasil.


"aku akan membuatmu mengakui bahwa kamu mencintaiku mas! tidak peduli betapa arogannya dirimu aku tau kamu menyayangiku ". batin Shindy


Shindy teringat kasih sayang papanya bersama mamanya dulu, Papanya tidak bisa melihat mama nya menangis ataupun sedih itu berupa cinta nya sama seperti Dylan yang mengasihinya walau masih tertutup dengan wajah datar suaminya itu.


Flasback On.


"Kakak ipar harus bisa membuat kak Dylan mengakui dia mencintai kakak ipar? " Nova


"apa yang kalian pikirkan? kakak ipar kalian mencintai kakak? ". tanya Shindy tak percaya


"kakak ipar Polos dan kak Dylan Arogan mementingkan harga diri kalau begini terus sampai kiamat pun tidak akan ada yang berubah dalam hubungan kalian". dumel Keyzo


"kakak ipar tidak sadar kalau kak Dylan mencintai kakak ipar ? " tanya Kaisha


"dia tidak pernah mengatakan apapun!". bantah Shindy


ketiga kakak beradik itu saling pandang lalu tertawa keras hingga Shindy menatap kesal mereka semua.


"biarkan bom-bom sama Kaisha kak! kakak ipar berjuang mendapatkan pengakuan kakak ipar".


kata Kaisha


"katakan apa kalian sudah berciuman? atau berhubungan lebih? ". tanya Keyzo


"bicara apa kamu Keyzo? umurmu masih kecil". ceramah Nova


Keyzo mengabaikannya.


"be belum katanya saat dia terpancing saat itu juga dia akan melakukannya? ". jawab Shindy dengan muka memerahnya.


seketika ketiga kakak beradik itu menjerit frustasi..


"udah begitu kakak ipar tidak tau kalau Kak Dylan hanya menahan diri? dia mencintai kakak ipar loh". gemas Nova


"pokoknya kakak ipar harus lebih Agresif". tegas Keyzo


"kalau dia mengusir kakak dari kamarnya bagaimana? ". tanya Shindy


"Tidak akan! ". jawab Nova, Keyzo dan Kaisha kompak.


Flasback Off.


.

__ADS_1


.


__ADS_2