
"kau mau ambil apa? ". tanya Dylan tanpa peduli kening Shindy yang memerah bekas jentikan nya.
"saya haus tuan". jawab Shindy lalu menutup mulutnya yang menguap lebar.
Dylan melihat rambut Shindy yang tergerai tapi terlihat tidak rapi,,
"maaf tuan". Shindy langsung membenarkan rambutnya yang ia tau Dylan tak nyaman melihatnya.
"kalau kau keluar dengan kondisi seperti itu sama aja kau menjerumuskanku dalam masalah.. mereka akan mengira aku melukaimu".
Shindy mengusap-ngusap lengannya yang sakit dan perih. "lalu bagaimana cara saya mau ambil minum? ".
"masuk kekamarmu biar aku ambilkan minumanmu dan ingat obati lukamu sendiri".
Shindy mengangguk-ngangguk lalu segera bangkit dan jalan tertatih-tatih masuk kekamar, Dylan jadi sedikit merasa bersalah karnanya Shindy jadi sering terluka apalagi ia memiliki firasat Shindy akan dalam bahaya kedepannya.
Shindy duduk di ranjang sambil membuka lemari meja nakas, ia tadi melihat ada kotak P3K disitu.
"kenapa aku selalu sial setiap kali luka di tubuhku diobati? ". gerutu Shindy dengan kesal.
shindy mengobati sikunya, lututnya dan mengoles salep di keningnya yang memerah.
"lagian kenapa tuan muda meluruskan kakinya? aku tau kaki jenjangnya yang bagus itu tapi nggak harus diluruskan di depan pintu kan? bisa saja mencelakai orang lain".
"kau yang jalan tak lihat-lihat.. ". Dylan tiba-tiba menyambar membawa segelas air untuk Shindy.
Shindy terlonjak kaget segera ia mengatupkan bibirnya serapat-rapatnya.
"maaf tuan saya tidak bermaksud". gumam-gumam Shindy mengalihkan pandangannya.
"lagian perempuan mana yang keluar tengah malam bukannya tidur aja". omel Dylan
Shindy membulatkan matanya.
"saya haus tuan". protes Shindy
"kau berani melawanku? ". tanya Dylan dengan raut wajah datarnya.
"saya tidak melawan tuan memang saya yang selalu sial..! apa anda tidak takut terkena sial karna menampung saya tuan? ". lirih Shindy
Dylan tertegun mendengarnya
"tidak ada manusia yang diciptakan seperti itu."
Shindy menoleh ke dylan
"tapi buktinya anda terkena sial karna saya anda jadi bermasalah dengan keluarga anda".
Dylan tersenyum miring.
"aku yang membuatmu masuk dalam masalahku jadi jangan katakan kau hal aneh itu".
Shindy ingin bicara lagi tapi melihat tatapan tajam Dylan membuatnya tak jadi bicara.
__ADS_1
"saya tau anda pria yang baik tuan tapi saya gadis pembawa masalah bahkan paman dan bibi saya juga mengatakan hal yang sama !!". batin Shindy dengan lirih ia bahkan lupa rasa sakit tubuhnya tadi.
"jangan memikirkan apapun tidurlah". Dylan berkata dengan datarnya.
"tuan? biar saya tidur disofa anda tidur di ranjang saja".
Dylan mengeluarkan hawa dinginnya.
"kau mau melihatku marah? "
Shindy meneguk salivanya bersusah payah.
"tidurlah! biarkan aku tidur di sofa". Dylan berjalan ke arah Sofa dan membaringkan tubuhnya.
Shindy juga membaringkan tubuhnya, ia menyelimuti tubuhnya entah mengapa hatinya terasa aman saat Dylan berada didekatnya hingga ia cepat tertidur.
diluar Kaira dan yang lainnya mulai berkumpul di kamar Ella,, semua perempuan menjadi satu di kamar Ella banyaknya kamar yang kosong tapi karna rencana Kaira Dylan seperti terlantar tak punya kamar hingga tidak punya pilihan lain selain ke kamar Shindy.
"bagaimana caranya supaya Dylan mau menikahi Gadis itu Kaira? aku merasa gadis itu sangat cocok buat Dylan". ujar Ella dengan serius.
" Keyzo juga suka memanggil kakak ipar sama Shindy, mungkin biar beneran jadi kakak iparnya". sambung Rani
"ck.. mereka sangat sulit disatukan mommy jika karakter kak Dylan begitu siapa yang akan luluh coba..? ". gerutu Nova
"hei.. siapa yang bilang begitu? kakak kalian sangat imut dan menggemaskan hanya saja belum ada perempuan yang mendapatkan hatinya dia masih polos seperti anak kecil yang belum pernah pacaran".
bela Kaira pada sosok Dylan
"sudahlah kenapa jadi berantem sih.. kak Dylan emang arogan Kaisha jadi kasihan mom! gimana caranya bisa menyatukan kak Dylan dengan Kak Shindy kalau kak Dylan begitu jahat. "
"kakakmu nggak jahat sayang! tapi dia emang belum jatuh cinta aja sama perempuan onty yakin Shindy pasti bisa meluluhkan hatinya buktinya Dylan membawa Shindy menemui kita kan? ". sambung Ella
"itu karna paksaan mommy sama Granma". jawab Kaisha menghela nafas
"iya walau hanya paksaan pasti bisa jadi kebiasaan suatu saat bukan? semua pria arogan emang harus di paksa biar jadi kebiasaan apalagi Dylan nggak percaya cinta pandangan pertama ". timpal Rani.
"ck.. diamlah..! kalian mengacaukan konsentrasiku". gerutu Kaira.
alhasil semuanya jadi diam, mereka bergadang sampai pagi menyusun rencana untuk menjebak Dylan dan Shindy.
"kamu yakin Kaira? " tanya Ella ragu-ragu
"kenapa? ". tanya Rani dan Kaira kompak
"aku takut putramu jadi pembangkang nantinya". jelas Ella
"nggak mungkin Onty..! kak Dylan nggak akan seperti itu karna kak Dylan sangat patuh sama mommy ". jelas Kaisha
"sudahlah..! kita lihat saja besok". lerai Kaira
.
.
__ADS_1
ke esokan paginya Dylan dan Shindy pamit pulang duluan ke kota, sedangkan yang lainnya seakan malas kembali hingga Dylan menatap keluarganya satu persatu ia curiga akan sesuatu.
"jangan macam-macam granma mommy! kami tidak punya hubungan apapun". jelas Dylan dengan serius.
dibalas acuh oleh mereka semua,
Shindy hanya diam tanpa ikut campur, ia memang memiliki kepribadian tertutup tidak suka ikut campur dengan urusan keluarga Dylan.
Shindy hanya berbicara saat pamit pada keluarga Dylan yang telah memberinya makan dan tempat tinggal pastinya.
Dylan menatap curiga ke orangtuanya
"apalagi rencana mereka semua? ". batin Dylan masih curiga.
semua orang melambaikan tangan saat mobil Dylan pergi dari pekarangan rumah Rani dan Reza.
"apa mereka bicara sesuatu padamu? ". tanya Dylan
Shindy menoleh ke Dylan dan menggeleng kepalanya. "bukan masalah serius sih tapi cukup menyinggung juga ". batin Shindy
"apa kamu menyukai anak tante sayang? tante bisa membantumu? ". kata-kata Kaira terngiang-ngiang dikepalanya
"mana mungkin aku menyukai tuan muda yang sangat sempurna! yang ada tuan muda terkena sial olehku ". batin Shindy melihat arah lain.
Dylan tau shindy sedang memikirkan sesuatu tapi tidak bertanya karna itu haknya Shindy merahasiakan apa yang ia anggap tidak penting untuk diketahui Dylan.
Dylan melirik sebuah truk besar yang tiba-tiba keluar dari jalan lain,, Dylan dengan cepat memutar setir mobilnya hingga Shindy terlonjak kaget.
"tuan..?" pekik Shindy saat mobil nya hendak menabrak pohon Shindy segera memegang setir mobil Dylan.
"apa yang kau lakukan? ". teriak Dylan.
"saya tidak mau anda terluka tuan". teriak Shindy dengan kencang masih kekeuh memegang setir mobil hingga beberapa saat kemudian mobil Dylan menabrak pohon.
Shindy terantuk dasboard padahal pakai seatbelt Dylan tidak terluka sedikitpun karna Shindy melindunginya dengan membanting setir ke kiri hingga yang tertabrak pohon adalah tempat shindy duduk.
"hei.. Shindy? ". Dylan membuka seatbeltnya lalu menolong shindy ia memegang pipi Shindy dan menampar-namparnya pelan.
"sial..! kenapa gadis bodoh ini sok jadi pahlawan?" desisnya dengan kesal
Dylan segera melepas seatbelt Shindy dan melihat kaki Shindy terjepit, Dylan menendang kuat bodi mobilnya yang ringsek menjepit kaki Shindy hingga kaki Shindy terbebas.
.
.
mau lagi??
lanjut nih ya? konflik mereka akan dimulai.. ciee siap-siapkan jantung biar jangan copot ya..? heheh maaf cuma bercanda..
yukk lanjut...!!
.
__ADS_1
.