Sikembar Sang Penguasa 2

Sikembar Sang Penguasa 2
umpan (part. 2)


__ADS_3

"Ketua...Awi Ketua.. " teriak preman lainnya terbelalak ngeri melihat Shindy


si Ketua makin tersulut emosi. "cepat lawan dia! " perintah si Ketua dengan marah.


"tapi Ketua.. ". takut-takut bawahan si Ketua preman dengan ragu melihat ke arah Shindy yang tengah tersenyum misterius.


"ayo cepat...! kalau mereka tidak berani kenapa tidak kau saja bandot tua? " ejek Shindy


para preman bawahan si Ketua makin ketakutan, apalagi melihat tatapan Shindy yang sangat pantas di sebut wanita Mafia, tatapan Shindy seperti pembunuh berantai yang tak punya hati.


"sialan... cepat lawan dia...!! " teriak ketua preman hingga urat-urat lehernya terlihat jelas saking kuatnya


mereka terpaksa memasang kuda-kuda melawan Shindy, sedangkan Shindy masih terlihat tenang tidak bergeming sedikitpun.


"tahan dia... aku akan melepaskan bajuku". dengan tidak tau malunya si Ketua preman membuka bajunya sendiri.


Shindy terbahak seketika melihat ekor depan ketua preman yang sangat kecil berbanding terbalik dengan tubuh nya yang besar.


"ahaha.ahaha..haha.. sakit perutku... hahaha... sakit ya Tuhanku . sakit perutku.. ahaha. kecil sekali ekor depan mu bandot tua.. .. ahahahahaha udah layu lagi... haha...". gelak tawa Shindy membuat si Ketua makin marah


sedangkan ke9 preman itu juga syok ketua mereka menelanj*ngi diri sendiri dan memperlihatkan ekor depannya yang kecil. baru pertama kali mereka melihat milik ketuanya itu.


Shindy tak kuasa menahan tawanya hingga air matanya menetes begitu saja.


"sudah.. sudah.. pakai celanamu bandot tua.. aku geli melihat ekor depanmu yang sangat kecil itu" seenak jidatnya Shindy memerintah ketua preman itu tanpa ada rasa takut dimatanya.


dan anak buahnya tak kuasa menahan tawa hingga terdengar oleh si ketua preman yang mukanya sudah merah menahan geramnya.


"kau... " si Ketua dengan marah langsung mendekati Shindy yang tak bergeming sedikitpun.


"aku akan membuktikan padamu milikku ini bisa membuatmu menderita, dicela dan di hina semua orang yang ada di negara ini, hingga pada akhirnya kau akan mengemis padaku "


Shindy tersenyum miring tersirat mengejek kepercayaan diri pria depannya.


"batang kecil itu apa gunanya? " ejek Shindy


Ketua preman itu sudah berada di dekat Shindy, Shindy mengeluarkan lipstik nya lalu membukanya, isinya adalah alat sentrum dengan ketegangan sangat tinggi bisa membuat seseorang tidak sadarkan diri saking tinggi nya tegangan listrik di alat berbentuk lipstik itu.


Shindy meletakkannya di perut ketua pria itu yang buncit.


"aaah... aaaaakkk... ". seketika Ketua preman bergetar-getar hebat saat Shindy menancapkan alat sentrumnya di tubuh Ketua preman itu.


"hanya sebesar kacang polong berani sekali kau menunjukkan milikmu yang tak menarik sedikitpun, malah membuatku jijik". Kesal Shindy menendang dada ketua preman itu hingga terlempar jauh.


Shindy seperti dapat kekuatan ajaib, entah dari mana ia bisa memiliki tenaga sekuat itu.


"kalian juga? " Shindy berjalan sambil menunjukkan alat sentrumnya itu.


tak ada yang berani mendekati Shindy yang bisa menjatuhkan Ketua mereka.

__ADS_1


"dasar preman rendahan..! baru punya kemampuan seujung kuku pun sudah berani menginjak yang lemah bagaimana jika kalianlah yang terkuat? habislah dunia ini jika di kuasai pria seperti kalian semua"


.


"Sayang? " panggil Dylan dengan dingin melihat Shindy menginjak bagian bawah ketua preman yang sudah tak sadarkan diri.


"mas? ". Shindy mengangkat kakinya lalu berlagak polos tak berdosa


"mas..? bandot tua ini yang telanj*ng sendiri.. ". Shindy menunjuk ketua preman yang masih tak sadarkan diri.


"lalu kenapa kamu menyentuh harta karunnya? ". tanya Dylan mendekati Shindy lalu memeluk Shindy dengan raut wajah dinginnya.


Dylan tidak marah pada istrinya tapi pada orang-orang yang tengah ketakutan melihatnya datang menjemput Shindy.


Keyzo tersenyum sinis.


"aku akan ledakkan markas kalian". Keyzo memainkan remot pengontrol peledak bom.


"jangaaaan...! " pekik Shindy


Dylan menautkan alisnya "kenapa kamu membela mereka sayang? " tanya Dylan dengan raut wajah tak suka


"tapi disana ada anak kecil yang sangat memprihatinkan! demi mendapatkan makanan dia harus mencari mangsa untuk orang-orang yang kasihan melihatnya membawa umpannya kesini hingga mereka semua yang mendapatkan keuntungannya" jelas Shindy


masih beraninya mereka melarikan diri, Keyzo menyimpan remot controlnya lalu mengambil senjata apinya menembak preman yang berlarian tepat di titik kelemahan manusia di bagian punggung mereka sudah dipastikan orang yang terkena peluru Keyzo akan mengalami kelumpuhan total dan bahkan meninggal dunia.


"biarkan saja polisi yang kesini..! aku sudah meminta polisi untuk datang". ujar Dylan


Keyzo memutar bola matanya dengan jengah melihat cara Dylan membujuk kakak iparnya.


"bucin banget sih kakak laki-laki sebijik itu". umpat Keyzo pelan


"aku mendengarmu Zo..".kata Dylan tanpa menoleh ke Keyzo


"emang sengaja buat kakak dengar! kalau Keyzo ngga mau kakak dengar, udah pasti Keyzo bicara dalam hatilah kak" cerocos Keyzo sambil menyimpan pistolnya.


"bisa diam ngga? " wajar datar Dylan melirik ke Keyzo sebentar.


"bisa cepat ngga? hari ini macan betina untuk Black datang kak" balas Keyzo membalik kata-kata


"udah..ah... kalian berantem muluk.. pusing kepala aku nih" Shindy menengahi


Dylan mendengus ke Keyzo dibalas delikan kesal oleh Keyzo.


"ayo kita pulang" Dylan memeluk pinggang ramping Shindy


Shindy menahan tubuhnya sendiri "aku mau melihat anak kecil tadi"


"ngga boleh" Dylan langsung membopong tubuh istrinya yang memekik sambil meronta-ronta

__ADS_1


Keyzo mengekori Dylan dan Shindy,


"hormat kami tuan muda ! ". salam hormat sopan 10 polisi yang datang di panggil Dylan.


"hmm.. hormat kalian ku terima..! sana urus sisanya" perintah Dylan.


"baik tuan muda". jawab semuanya serentak.


Shindy diam sejenak lalu kembali meronta-ronta saat Dylan menjauh meninggalkan para polisi yang berbeda tujuan dengan mereka.


(ibarat polisi masuk, mas Dylan membawa mbak Shindy keluar begitulah perumpamaannya).


"mas... anak kecil tadi aku mau melihatnya..! tadi aku dengar perutnya, dia pasti kelaparan sekali apalagi bunyi perutnya seperti tidak makan berhari-hari.. karna berhasil membawaku baru dia dapat 1 mangkuk nasi putih... mas... anak sekecil itu butuh nutrisi lebih bukannya disuruh berjuang demi mendapatkan nasi putih untuk mengenyangkan mereka"


Dylan mengabaikannya.


"Mas..! " rengek Shindy


"jangan berbicara sayang! kamu membohongiku! apa kamu mau mengelak? kamu mau kabur kemana lagi sayang ? " Dylan menatap lurus kedepan.


Shindy terdiam, lalu menangis seketika hingga Keyzo tergelak keras di belakang Dylan.


Dylan malah panik saat istrinya malah menangis kencang.


"kakak marahin dedek bayinya sih..! ya nangis lah... ahahahaha... ". Keyzo masih asik terbahak


Dylan menatap tajam adik laki-lakinya itu


"diam Zo.!" ketus Dylan dengan tatapan sebilah pedang yang sangat tajam.


"oupss...!! " Keyzo mengangkat tangan lalu membekap mulutnya sendiri.


Dylan menoleh ke Shindy yang masih menangis seperti anak kecil.


"a.. aku tadi pengen cari makanan.. hiksh..hiks.. aku bosan makan salad buah, susu dan jajanan itu aku udah bosan! pengen makan yang lain.. hiks.. hiks.. "


"mas jahat... mas jahat.. huaaaa....."


Dylan makin panik saja mendengar tangisan Shindy yang makin menjadi, sungguh kepala Dylan terasa mau pecah saat ini, seharusnya Dylan yang marah karna Shindy yang salah telah kabur darinya tapi kenapa Shindy yang mengatakannya jahat.


"ya Tuhan.. hentikan kegilaan anakku yang tidak bisa ku mengerti itu, ku mohon jadikan saja anak-anakku manusia normal ". batin Dylan penuh harap dengan kepala nya yang sudah terasa pusing makinlah pusing.


.


.


.


Ahaha..... Mas Dylan yang sabar ya menghadapi wanita bumil yang sebijik itu ya..! ahaha... senangnya membuli mas Dylan yang sangat sabar walaupun kepalanya udah berdenyut nyeri lanjut Esok say.. ..

__ADS_1


.


.


__ADS_2