
"aku mau lihat sekarang mas". Shindy masih bersikeras membuka baju suaminya tapi Dylan menahannya langsung mencium bibir Shindy hingga tangan Shindy menggantung di udara.
ciuman manis Dylan memang selalu memabukkan Shindy, Dylan melepaskan ciumannya.
"aku bilang di kamar aja sayang !". bisik Dylan
Shindy membuka matanya secara perlahan lalu bersitatap dengan mata biru nan hangat Dylan.
"baiklah". pasrah Shindy merasa jauh lebih tenang.
setibanya di mansion Dylan dan Shindy disambut oleh keluarganya Dylan.
"bagaimana sayang? berhasil? ". tanya Kaira berbisik di pelukan Shindy.
"berhasil mom". bisik Shindy dengan nada malu-malu.
Kaira terkejut lalu melepaskan pelukannya dan menatap lekat Shindy yang tengah malu-malu.
"benarkah? ". tanya Kaira sekali lagi memastikan
Shindy mengangguk-ngangguk malu.
"kenapa sih mom? ". tanya Kaisha
Nova dan Keyzo hanya saling tatap bingung tapi persekian detiknya Keyzo mengerti ia tersenyum
Dylan hanya diam seperti biasa setelah bersalaman dengan keluarganya.
"ya sudah kalian istirahat saja". pinta Kaira dengan senyum manisnya melihat Dylan yang memalingkan muka tidak berani menatap Mommynya.
"nanti malam kita harus ke acara pesta ". ujar Pasha
"pesta? maksudnya apa Daddy? ". tanya Dylan
"kita dapat undangan untuk datang ke acara pesta di jalan J ". jelas Pasha
"iya maka nya Granma dan Granfa kalian keluar menemui kakek dan nenek kalian katanya mencari gaun ". timpal Kaira
"kakak ipar? ". Kaisha menunjuk Bombom yang turun dari tangga
Shindy memekik memanggil kucing kecilnya yang terlihat makin menggemaskan.
"sayang? waah... bombom udah makin cantik dan gemuk ya? ". Shindy mengangkat tinggi kucing kecilnya.
Keyzo terkekeh geli melihat Shindy dan Kaisha sama-sama sedikit sinting suka berbicara dengan hewan. Kaisha mendekati Shindy dan mengusap kepala Bombom.
Dylan dan Pasha mulai berbincang mengenai acara pesta di jalan J, Kaira berjalan ke arah Shindy. Keyzo memainkan ponselnya berjalan ke arah Sofa tidak mungkin ia ikut bergabung dengan Shindy dan yang lainnya karna perempuan semua Keyzo juga tidak mau bergabung dengan Dylan dan Pasha yang hanya bicara tentang bisnis.
"apa kamu sudah datang bulan sayang? ". tanya Kaira
"belum jatuh tanggal mom". jawab Shindy masih sibuk menggendong bombom
"mudah-mudahan kamu cepat beri momongan buat Dylan ya sayang". Kaira mengusap kepala Shindy
Shindy tersenyum malu.
"semoga saja mom".
"yes...! Kaisha bakal punya keponakan lucu ya mom? ".
"iya Kaisha sayang masih butuh waktu ". Kaira mengusap pipi Kaisha
__ADS_1
"bagaimana kakak ipar? senang bersama kak Dylan? pasti sibuk kerja aja ya? kakak ipar dicuekin ya? ". cecar Nova
"emang ada waktunya kakak kalian bekerja selama 4 hari berturut-turut tapi di hari kedelapan dia mengajak kakak jalan-jalan dan kakak tidak marah padanya". jelas Shindy dengan senyum tulusnya.
Kaira tersenyum mendengarnya ia sangat bersyukur Dylan memiliki Shindy yang mau mengerti kesibukan Dylan.
"kamu harus mengerti kalau Dylan mengambil alih perusahaan sayang! makanya dia jadi super sibuk". Kaira berkata dengan lembut.
"iya mom! Shindy mengerti kok". senyum lebar Shindy
"iya dong kakak ipar kan harus mengerti karna kak Dylan bekerja untuk nya! iya kan kakak ipar? ". celutuk Nova
Shindy tersenyum malu mengusap bulu kucing nya yang diam saja di gendongannya.
"iya untuk masa depan anak kak Dylan kan mom? " timpal Kaisha
"sebenarnya tanpa bekerja pun kak Dylan tetap bisa menghidupi kakak ipar dan anaknya sampai dewasa tapi sekarang kak Dylan menjalankan tugasnya sebagai calon pewaris MattGroup". sambung Nova
"sudah-sudah kalian bicara apasih? jangan bicara lagi kenapa kalian malah berbicara anak? itu urusan orang dewasa " Kaira menengahi pembicaraan kakak adik yang menggoda Shindy
.
.
Shindy menarik tangan Dylan ke kamarnya, Dylan mengikutinya saja dengan senyum tipisnya.
Shindy mengunci kamarnya dan membawa suaminya ke ranjang.
"coba aku lihat ". Shindy membuka baju Dylan tanpa ragu.
Dylan hanya diam menatap lekat istrinya yang tengah menelanj*nginya demi memastikan tubuhnya terluka atau tidak.
"ngga ada yang terluka kan? ". Dylan bertanya dengan gemasnya melihat pipi Shindy merona tapi raut wajahnya masih terlihat khawatir dan penasaran.
Dylan memutar tubuhnya, Shindy mendekat memperhatikan tubuh Dylan yang sangat bersih tidak terluka, Shindy terbelalak melihat bekas luka di punggung Dylan
"mas ini luka apa? ". tanya Shindy meraba bekas luka itu.
"hmm.? selama aku ikut perang itu adalah luka pertamaku". jawab Dylan.
Shindy menatap ngeri punggung Dylan.
"lukanya panjang sekali pasti menyakitkan ya? "
Dylan menggeleng kepalanya.
"aku bisa memutuskan kepala pelakunya". jawab Dylan
"maksudmu melawannya dengan membunuhnya begitu ? ". tebak shindy
Dylan mengangguk
"sekarang jangan bertanya apapun! kamu harus tanggung jawab sudah melepaskan semua bajuku". .
shindy yang tadinya serius langsung menebarkan senyum manisnya.
"dengan senang hati mas".
Shindy mendorong tubuh Dylan
Dylan yang diam memperhatikan Shindy yang tengah melepaskan pakaiannya sendiri, Dylan mengerang saat Shindy menyerangnya dengan posisi yang sangat menguntungkannya.
__ADS_1
.
.
"kamu mau beli gaun lagi sayang? ". tanya Dylan memeluk Shindy dengan mesra di balik selimut menutupi tubuh polos mereka.
"beli gaun untuk apa lagi mas? aku punya banyak gaun yang belum aku pakai sekalipun bahkan bandrolnya masih ada".
"jadi kamu mau apa? ". tanya Dylan
"aku hanya mau kamu selalu ada untukku mas jangan pernah lepaskan aku walaupun kamu selalu dalam masalah karnaku! aku tau aku egois tapi aku hanya mau bersamamu mas aku hanya mau jadi wanitamu saja".
Dylan menatap mata Shindy yang terlihat serius.
"aku tidak akan meninggalkanmu!"
Shindy tersenyum mendengarnya.
"aku senang kamulah suamiku! selain kuat diatas ranjang kamu juga sangat hebat berkelahi".
Dylan tersenyum.
"aku anggap itu pujian".
"tentu saja mas itu pujian jangan pernah bosan padaku ya mas? ".
Dylan mengecup lembut kening Shindy.
"aku tidak akan bosan! karna kamu yang sudah berhasil menidur*ku maka harus kamu yang tanggung jawab sayang! tidak ada wanita lain"
Shindy tersenyum
"aku akan bertanggung jawab".
Mereka kembali bersitatap mesra.
"rekam lagi mas? ". rengek Shindy
"apa..? kenapa kamu suka tubuhmu direkam bagaimana bisa kamu begitu mesum sayang? jangan aneh-aneh ya? aku tidak mau".
"hanya aku yang menontonnya mas! kan aku pengen lihat bagaimana aku dibawahmu"
"tadikan udah di mobil". tunjuk Dylan ke ponsel Shindy
"yang tadi di mobil sekarang aku mau di kamar kita". jawab Shindy dengan nada khasnya.
berbagai bujukan maut Shindy terpaksa juga Dylan menyetujuinya terjadilah hal yang sangat di inginkan Shindy.
Dylan benar-benar tidak habis fikir bagaimana bisa ada wanita yang begitu unik seperti Shindy malah begitu senang menonton begituan, apalagi senang sekali melayani suaminya malah menawarkan diri sendiri bagaimana cara Dylan menolaknya ? dylan juga menginginkan tubuh shindy yang sudah menjadi candu baginya.
.
.
.
Hahaha..
mbak Shindy yang mesum yee...! mas Dylan juga mesum tapi masih bisa di tutup-tutupi..
.
__ADS_1
.
.