Sikembar Sang Penguasa 2

Sikembar Sang Penguasa 2
tidak berubah juga


__ADS_3

.


.


sore harinya Baby kembar tengah sibuk di gendongan Arabela dan Lexy yang berkunjung ke mansion melviano.


"sabar ya sayang!! mami beli popok dulu ke luar ya?? " Shindy mengusap-ngusap kepala kedua anak-anaknya.


Raya dan Satria seperti tidak tau apa-apa hanya sibuk mengoceh seolah mengizinkan mami dan papinya keluar mansion.


"tidak apa sayang... biar mommy yang jaga Little Girl dan Little Boy.. " kekeh Kaira juga ikut-ikutan menyebut Raya dan Satria memanggil Little.


Pasha dan Matt saling pandang di sofa dan tersenyum, mereka mengalah untuk Lexy dan Arabela yang memang tidak setiap hari disini, jadi sekali berkunjung pasti ingin melihat Little Kembarnya Melviano


Mely juga sibuk menoel-noel hidung Raya, Rilly kembali setelah memberi makan Black dan Blink.


"Lyli...? " panggil Shindy mendekat ke Rilly yang juga mendekati Shindy.


"saya nyonya". saut Rilly


"aku mau keluar sama mas Dylan jadi aku mohon jaga Little Kembar ku ya? "


"baik Nyonya". jawab Rilly mengerti


"kalau mereka haus ada botol ASIku di lemari seperti biasa, mungkin agak lama kami pulang" cengir Shindy.


Rilly tersenyum dan mengangguk mengerti.


"sudah..sudah.. kan ada mommy". Kaira menengahi.


"iya sayang memang ada mommy, Granma dan nenek juga kan? ... ayo kita berangkat". ajak Dylan yang sejak tadi diam.


Shindy mengangguk lalu bergandengan tangan dengan suaminya izin pada semua keluarganya,


Dylan membawa istrinya keluar mansion dan dengan romantisnya Dylan membukakan pintu mobilnya ke Shindy.


"mami dan papi keluar sayang..!" goda Arabela.


"mereka benar-benar anak yang pintar ya? apa benar mereka tidak pernah serewel Babynya Nova dan Candra? " kekeh Lexy.


"huuh... kalau menangis ya pasti pernah cuma bisa dihitung jari.. yang satu ini jarang sekali menangis bahkan aku rasa tidak pernah". Mely menjawab sambil mengetuk-ngetuk hidung mungil Raya.


Raya sibuk memainkan Squishy nya yang sangat lembut hingga dirinya begitu senang memainkannya.


"cicitku ini sangat menggemaskan". Arabela menciumi sayang wajah Satria.


bukannya menangis Satria terus saja mengoceh-ngoceh tak jelas menatap mata Arabela.

__ADS_1


"sepertinya Bunda di omelin itu".ujar Kaira tertawa cekikikan.


"berani mengomeli Oma nak...! berani hmm? " makin gemas saja Arabela dengan omelan tak jelas cicitnya yang sangat jenius.


Lexy mencium pelipis Raya hingga mata Raya beralih ke Lexy, Lexy ingin mencium lagi tapi bibirnya di tutup dengan tangan mungilnya Raya hingga semua orang tertawa terbahak-bahak seketika melihat hal itu.


kini semua orang mendekati Raya dengan cara mengeroyoknya, menciumnya disana sini hingga Raya memekik dengan suara khasnya seperti sedang protes saja saat ini.


"bagaimana bisa Raya tidak suka di cium mah? padahal dia anak perempuan".tanya Kaira takjub dengan gelagat Raya yang seolah waspada tidak mau dicium.


"mereka kebalik...! ahahahaha".Mely membandingkannya dengan Satria.


ada aja tingkah Little kembar melviano itu yang selalu menjadi warna tersendiri di mansion mewah itu, terkadang Baby Al dan Baby Nola datang dari rumah depan untuk sekedar bermain dengan Little kembarnya Melviano.


.


sementara Dylan dan Shindy sudah ada di pusat berbelanjaan terbesar di kota ini, tempat itu adalah Mol MattGroup yang menjadi mol ternama di negara Indonesia itu sebagai tempat pusat perbelanjaan para artis, pejabat baik dari kalangan tinggi, menengah atau kalangan rendah,,


asalkan bajunya masih rapi dan bagus jangan seperti gembel, tentu satpam tidak akan mengizinkan masuk.


Dylan menggenggam tangan istrinya membawanya ke arah Troly, bahkan saat Dylan mengambil Troly tangannya belum juga lepas dari tangan Shindy.


"Alexaaa? " pekik Shindy dengan heboh.


Alexa yang sedang berbelanja dengan pengawal perempuan nya menggendong Amanda pun menoleh.


"Waah...?Mbak Shindyy? " Alexa mendekat lalu mereka berpelukan erat.


rumah lama Shindy (milik orangtuanya) sudah diberikan pada pembantunya untuk dijaga bersama suami dan anaknya,, perusahaan Sartika group berada dibawah kendali Mattgroup tapi Dylan yang memperkerjakan seseorang untuk menghandel perusahaan Sartika group.


Ali lah yang dipercaya, Ali dan Dewi mengurus perusahaan itu yang kini telah menjadi lebih baik, tapi sekarang Dewi sedang hamil muda,, setelah sekian lama barulah ia diberi kepercayaan memiliki keturunan, jadi dewi hanya bisa membantu di rumah saja setiap suaminya bekerja di rumah.


"sedang apa disini? " tanya Shindy dengan heboh


"belanja keperluan Amanda... Mbak juga? " tanya Alexa semangat berapi-api karna bertemu teman dekatnya di mol mattgroup ini.


Dylan menarik nafas panjang jika istrinya sudah bertemu dengan temannya maka akan lupa waktu.


Dylan yang terlihat kesalpun melototi Amanda yang tak sengaja menatapnya, hanya persekian detiknya Amanda merasa tertekan saat Dylan mengeluarkan hawa membunuhnya dan akhirnya Amanda menangis,,


pengawal Alexa berusaha menenangkannya, Dylan dengan cepat mengalihkan pandangannya ke arah ponselnya untuk Alibi nya supaya tidak disalahkan.


"kenapa Amanda Alexa? " tanya Shindy juga khawatir.


"ngga tau juga mbak.. ". jawab Alexa menimang-nimang Amanda yang tak henti-henti menangis.


akhirnya Alexa pamit pulang duluan pada Dylan dan Shindy karna tidak bisa berlama-lama sebab Amanda terus saja menangis.

__ADS_1


"kenapa Amanda ya? ngga biasanya dia cengeng didepan umum". gumam Shindy masih bisa didengar oleh Dylan.


tapi Dylannya malah terlihat santai seolah merasa tidak bersalah sedikitpun.


Akhirnya Dylan terbebas dari Alexa yang membuat istrinya melupakannya, cemburu? bilang saja iya karna Dylan diabaikan tanpa di lirik oleh Shindy sedikitpun.


"mas tau kenapa Amanda mas? " tanya Shindy


"mana aku tau sayang..! " jawab Dylan mengangkat bahunya acuh.


Shindy mencebikkan bibirnya tanpa curiga suaminya lah pelakunya yang sudah membuat Amanda menangis padahal Amanda tidak pernah menangis di depan umum.


"itu popoknya sayang". tunjuk Dylan ke atas.


Shindy sontak saja mendongak dan mengangguk membenarkan.


"ambilkan". pintanya manja.


Dylan mengambilkannya dan menaruhnya di Troly,


Dylan menggeleng gemas kepalanya saat Shindy memasukkan jajanan-jajanan ke Troly nya.


tak lupa juga Shindy membelikan Little kembarnya baju dan sepatu baru.


"kamu tidak pakai Lingerie lagi sayang? " bisik Dylan


Shindy memerah lalu menatap manik mata biru suaminya.


"mas ini". senyum malu-malu Shindy hingga Dylan tergelak melihatnya.


"kapan kita wikik-wikiknya? " goda Dylan membuat muka Shindy makinlah merah.


"kan tadi pagi udah!! jadi waktu mandi aja ya? setelah Little kembar tidur". jawab Shindy menyeringai lebar


Dylan tertawa langsung saja hidungnya bermain dengan hidung Shindy, beberapa orang yang melihat tingkah manis mereka tentu saja iri dengan apa yang dimiliki Shindy, siapa yang tidak iri memiliki suami idaman seperti Dylan.


Shindy masuk nominasi sebagai wanita paling beruntung di dunia yaitu menjadi istri tuan muda Melviano.


"baiklah.. tapi kamu yang mimpin ya? " seringai mesum Dylan menekan hidung Shindy.


"iya kalau punya mas udah berdiri tegak". jawabnya malu-malu hingga Dylan tergelak mendengarnya.


"kenapa kamu makin mesum aja sayang? " goda Dylan dengan gemas.


Shindy hanya balas dengan cengiran manjanya, padahal Dylan juga mesum.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2