Sikembar Sang Penguasa 2

Sikembar Sang Penguasa 2
dingin


__ADS_3

sedangkan Willy berusaha membuat rencana licik supaya bisa mendapatkan Shindy yang duduk dibelakang Dylan.


"aku selalu mendapatkan apa yang aku mau...! ". gumamnya dengan percaya diri.


Willy terpaksa keluar dari acara pesta padahal dirinya tuan rumah tapi demi menjalankan aksi mulusnya, ia memang harus keluar hotel supaya mendapatkan apa yang ia butuhkan.


Bagus mengirim seseorang untuk mengikuti Willy karna Dylan sudah memberi tau sebelumnya kalau Willy tipikal pria pendendam yang akan mendapatkan apapun yang ia mau asalkan keinginannya tercapai.


"bagaimana? apa kau mau kita ke kamar penginapan? aku rasa ini sudah terlalu malam". Dylan berdiri didepan Shindy dengan arogan seperti biasa.


Shindy segera bangkit,


"lalu bagaimana acara pesta nya tuan? biasanya makin larut malam makin meriah kan? ".


"apa pentingnya buatku? kau sudah mendapatkan apa yang aku mau, jadi nggak ada alasan untukku tetap disini ". jawab Dylan dengan santai.


Shindy mengangguk-ngangguk membenarkan apa yang Dylan katakan.


"boleh tuan..! kaki saya sudah pegal". Shindy memegang pergelangan kakinya,


saat Shindy bertopang satu kaki, ia tak bisa menyeimbangkan heels nya hingga ia terjatuh tapi Dylan dengan cepat menarik tangannya shindy hingga tak jadi jatuh.


"turunkan kakimu yang satunya". perintah Dylan dengan datar, bahkan tangannya yang lain masih didalam kantong celananya.


jika dalam dunia film adegan seperti itu akan jadi adegan mesra, tak sengaja jatuh hingga pemeran utama pria menarik pemeran utama wanita hingga jatuh ke pelukan pria terjadilah adegan saling tatap-tatapan, tapi tidak dengan situasi Dylan dan Shindy malah tak ada manisnya sama sekali.


"terimakasih tuan". Shindy menurunkan kakinya akhirnya ia bisa menyeimbangkan heelsnya yang tingginya 17 cm


"ayo kita keluar dari kurungan memuakkan ini.! ". ajak Dylan melihat banyaknya perempuan-perempuan kalangan atas dan menengah berjoget nggak karuan dengan pakaian super ketat dan pendek mereka.


Shindy setuju dengan permintaan Dylan, ia juga nggak nyaman melihat banyaknya tatapan lapar pria melihat gestur tubuhnya.


.


.


"apa ini tuan? ". tanya Shindy melihat pulpen dan kertas putih di berikan Dylan padanya.


"catat semua yang kau ingat ! besok pagi kita akan kembali ke kota". ujar Dylan lalu meninggalkan Shindy dikamarnya.


Shindy mengangguk mengerti, ia tak memakai heels lagi tapi tumitnya masih sakit ia terlalu enggan mengobati sebab Shindy memang biasa terluka tanpa diobati walau begitu kulit shindy tetap bersih dan mulus, seperti tak ada luka sedikitpun.


shindy mengingat jelas semua yang ia lihat di kertas willy, ia catat tanpa ada kata yang tertinggal sedikitpun


tok.. tok.. tok..


pintu di ketuk Shindy memutar kepalanya ke arah pintu, ia berjalan hati-hati melihat siapa yang mengetuk pintu dan terbelalak melihat Willy di luar kamarnya sedang memegang 1 ikat bunga mawar merah.

__ADS_1


"astagah..! kenapa dia bisa tau kamarku? ". pekik Shindy membekap mulutnya sendiri


Shindy mengunci kamarnya supaya tak bisa di buka walau pakai kartu sekalipun dari luar, beruntung Dylan menyewa kamar elit seperti ini untuknya tak ada yang bisa masuk kalau bukan izin si penyewa kamar termasuk petugas kebersihan kamarnya.


Shindy membawa pulpen dan kertasnya berjalan sedikit pincang ke kamar mandi, ia mengunci kamar mandinya dan menulis semua yang Dylan perintahkan.


"semua akan baik-baik aja shindy, jika dia sampai memaksamu tinggal sun*t aja dia ". oceh Shindy berusaha menetralkan rasa takutnya.


setelah mengoceh sendiri akhirnya Shindy bisa sedikit lebih tenang, shindy mulai mencatat semua yang ia ingat dan disalin dalam bentuk tulisan.


beberapa saat kemudian semua telah selesai, Shindy tersenyum lebar mengingat semua yang tertera di kertas HVS nya kini.


"hutangku terbayar 50% ? hihihi.. ada fungsinya kemampuan ingatanku saat ini". gumam Shindy cekikikan, ia lupa dengan willy yang sejak tadi ada di depan kamar Shindy.


"apa disini bukan dikamarnya? ". gumam Willy menggeram marah.


Willy melihat sekeliling dan mencari tau lewat cctv rupanya memang Shindy ada dikamar itu, ia mendapatkan kartu kamar Shindy tapi nggak bisa dibuka.


"sial..! sepertinya dia memang sengaja mengunci kamarnya dari dalam". geram Willy memukul-mukul marah pintu kamar Shindy.


"ekhemm....!! ". Dylan berdehem dibelakang Willy.


Willy terkejut lalu memutar tubuhnya dan kakinya seketika lemas melihat Dylan sedang bersandar dengan kerennya di pintu kamarnya.


"t.. tuan..? ". gagap Willy menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"ampuni saya tuan! tapi saya tidak mengganggu anda lalu dimana letak kesalahan saya? ". bela Willy tak merasa ada salah pada Dylan.


"kau mengganggu sekretarisku! kau bilang apa? nggak menggangguku? ck... dia bagian dari perusahaanku ". sindir Dylan dengan wajah dinginnya.


"aku nggak peduli wanita seperti apa yang kau tiduri selama ini...jangan samakan mereka dengannya..! kau akan menyesal telah berurusan dengannya". senyum tipis Dylan terkesan jijik karna Willy tak menghargai wanita.


"kau lahir dari rahim wanita tapi kenapa kau menjijikkan sekali? pergi sebelum aku marah besar". Dylan mulai menunjukkan seringai iblisnya hingga Willy gemetar ketakutan.


Willy segera lari pontang-panting.


"aku berjanji akan mendapatkanmu Shindy". batin Willy sambil lari sekuat tenaga.


Dylan menarik nafas panjang lalu hendak masuk kekamarnya tapi mendengar pintu kamar Shindy terbuka, Dylan memutar kepalanya kesamping.


"tuan..? ". Shindy terkejut melihat Dylan sedang memunggunginya seperti baru aja mau masuk.


"hmm? ". Dylan memutar tubuhnya dan bersandar di sisi pintu kamarnya.


Shindy berjalan dengan sedikit pincang ke Dylan hingga Dylan mengerutkan keningnya melihat kaki Shindy.


"ini semua yang saya ingat tuan". Shindy menyerahkan selembar kertas tulisan tangannya.

__ADS_1


"masuk! ". perintah Dylan.


Shindy menatap Dylan dengan bingung.


"masuk kemana tuan? ". tanya Shindy menoleh ke kiri-kanan dan kebelakang dimana ada kamarnya.


mana mungkin Shindy berharap Dylan meminta nya masuk kekamarnya. Shindy tak mau berharap hal yang mustahil karna ia tau Dylan pria yang baik tak pernah menilai rendah dirinya seperti kebanyakan pria.


"masuk ke kamarku". Dylan menatap tajam Shindy hingga Shindy gelagapan langsung jalan dengan sedikit pincang masuk kekamar dylan.


Dylan sama sekali tak menyentuh shindy tapi berjalan duluan melihat ke arah sofa kamar penginapannya kini.


Shindy yang tak faham tapi tetap mengikuti apa yang menurutnya benar karna ia melihat cara Dylan memberi perintah lewat sorot mata birunya yang tajam begitu menusuk ulu hatinya shindy.


Shindy terlonjak kaget saat Dylan mengeluarkan kotak P3K dari bawah meja dan menjatuhkannya ke pangkuan Shindy, beruntung Shindy cekatan menangkap nya.


"obati kakimu sendiri.. ". ucap Dylan sambil mengambil kertas tulisan tangan shindy di meja sofa.


Shindy melihat kakinya dan tersenyum canggung ke Dylan.


"kenapa aku bisa begitu takut padanya? padahal dia baik padaku. apa yang terjadi padaku? apa karna dia punya sesuatu yang bisa membuat orang tunduk padanya!" batin Shindy terpaksa ia mengobati kakinya.


biasanya Shindy tak peduli dengan lukanya tapi Dylan selalu memintanya mengobati sendiri,


Dylan fokus membaca tulisan tangan Shindy yang lumayan rapi dan bisa dibaca, sementara Shindy serius mengobati kakinya sesekali ia melihat Dylan tapi kembali melihat kakinya yang terasa perih..


.


.


"Othor : sungguh pria yang tak romantis sama sekali...! ckckck... Dylan oh Dylan... jangan dingin banget dong sama Shindy ntar Othor ngadu sama mommy Kaira biar kenak sidang sama mommy Kaira ..! wkwkwk, tapi ada yang setuju sama rencana Othor? ).


Just Kidding... 😂😂😂


.


.


Bersambung...!


"besok Othor bakalan Update 4 bab,,


hari ini udahan ya..? terimakasih... jangan lupa Like yang banyak ya...! "


.


.

__ADS_1


__ADS_2