
Dylan dan Shindy tiba di mansion, Dylan langsung menggendong Shindy seolah istrinya itu tengah terluka. beberapa pelayan tampak panik dan mengikuti Dylan tapi saat masuk Lift Dylan melarang mereka masuk hanya Rilly yang boleh masuk tapi itupun menuju kamar Rilly sendiri bukan kamarnya dengan Shindy.
Shindy menongolkan kepalanya mengintip Rilly yang terlihat terkejut lalu menebarkan senyum manisnya melihat raut wajah ceria Shindy seolah telah melupakan situasi menegangkan tadi.
"diam". Dylan melirik istrinya sekilas.
Shindy menutup rapat mulutnya seketika lalu menyusupkan kepalanya di leher Dylan matanya melirik Rilly yang sedang terdiam dengan datar tapi hatinya Rilly begitu tenang bercampur senang betapa perhatiannya Dylan pada Shindy.
"dulu tuan muda sangat dingin dan tidak pernah punya kelemahan tapi sekarang musuh-musuhnya mengincar nona muda yang dianggap kelemahan tuan muda!! ya Tuhan semoga mereka selalu bahagia ". Batin Rilly.
Rilly pamit duluan ke Dylan dan Shindy saat sudah sampai di lantai kamarnya, Dylan masih diam dengan wajah dinginnya. pintu Lift tertutup dan Shindy melihat ke dagu Dylan belum berani menatap suaminya.
"apa salahku coba? kan aku tidak apa-apa! kenapa hawanya menakutkan? ". batin Shindy merinding merasakan ada hawa menakutkan dari tubuh suaminya sekarang belum lagi raut wajah Dylan yang berubah.
"saking takutnya belanjaanku ngga berani ku ambil". batin Shindy cekcok sendiri
setibanya di kamar Shindy terlonjak kaget saat Dylan membawanya ke kamar mandi dan membuka seluruh bajunya tanpa tersisa sedikitpun bahkan dalam*nnya juga di buka.
"ada apa ini? Razia apa ini? ". batin Shindy masih belum berani berbicara.
Dylan memeriksa tubuh istrinya setiap inci tanpa tersisa bahkan Shindy sampai pusing sendiri saat suaminya memutar-mutar tubuhnya.
"mas? " rengek Shindy memegang kepalanya
"ada yang sakit? kepalamu yang terluka Ndy? ". cecar Dylan langsung berdiri memeriksa kepala Shindy
"bukan mas! malah kepalaku pusing karna mas mutar-mutar tubuhku". keluh Shindy jujur.
Dylan menghela nafas panjang.
"lehermu bagaimana sayang? " Dylan memeriksa leher istrinya.
"nggak apa mas! leherku baik-baik aja kok". Shindy menepis hati-hati tangan suaminya.
Dylan menangkup pipi Shindy menciumnya begitu mesra, Shindy mengalungkan tangannya di leher Dylan dan membalas ciuman Dylan yang sangat manis lama kelamaan makin panas dan terjadilah drama percinta*n mereka di kamar mandi.
.
"mas beri tau aku ya? ada apa sebenarnya? kenapa dokter Kinan berbicara mengenai Daddy? ". cecar Shindy penasaran.
Kini Dylan dan Shindy ada di ranjang saling berpelukan satu sama lain.
"kamu janji nggak akan ninggalin aku kan? " tanya Dylan serius
Shindy mengerutkan keningnya lalu kembali bertanya "ada apa sih mas? kenapa bilang begitu? tentu saja aku ngga akan ninggalin mas lah ! justru aku yang seharusnya bicara begitu "
"janji? " Dylan mengeluarkan jari kelingkingnya disambut oleh Shindy yang masih kebingungan.
"janji". jawab Shindy meyakinkan
Dylan menarik nafas panjang terlebih dahulu lalu mulai berbicara " Daddy ku memiliki benih luar biasa dan hanya perempuan istimewa yang bisa mengandung benihnya "
__ADS_1
"hah? jadi gosip-gosip dulu itu memang benar? ". cecar Shindy tak percaya.
"kamu tau sayang? " tanya Dylan
Shindy mengangguk-ngangguk.
"dulu aku sering dengar pembicaraan alm. Mama dan papaku yang sangat suka dengan kisah cinta mommy dan Daddy "
"tapi apa hubungannya denganmu mas? " tanya Shindy belum menyadari situasinya.
"kemungkinan aku juga begitu" jelas Dylan dengan pelan
Shindy membelalakkan matanya.
"bibitmu juga unggul? "
di luar nalar Dylan Shindy malah memekik girang sambil mengelus-ngelus perut datarnya berharap akan ada benih luar biasa Dylan di perutnya.
"mas! lalu kenapa kamu menutupinya? bukankah itu hal bagus? " Shindy belum faham letak masalahnya Dylan.
Dylan menghela nafas panjang tapi ia tidak bisa menjelaskannya secara rinci pada Shindy, Dylan tidak mau Shindy terluka dan pada akhirnya meninggalkannya sebab tidak bisa membuat Shindy menjadi wanita sempurna.
"aku berharap tidak ada di diriku sayang! semoga memang kamulah ibu dari anak-anakku". batin Dylan penuh harap.
Dylan tidak mau memulai percintaan baru lagi dengan wanita istimewa yang bisa mengandung anaknya, Dylan tidak memiliki anak dari Shindy tidak masalah asalkan tidak bersama wanita lain hanya Shindy saja yang Dylan butuhkan.
"aku sudah mengunci hatiku hanya untukmu sayang! ku harap kamu akan mengerti suatu saat nanti". batin Dylan mengecup lama kening Shindy yang masih senang dengan fikirannya.
.
.
Shindy menyalami keluarganya dan sudah biasa dapat kecupan sayang dari Kaira, Mely sedangkan Pasha dan matt hanya mengusap kepala Shindy sebagai tanda kasih sayang mereka pada Shindy walau tak banyak bicara Shindy tau keluarga nya sekarang sangat baik.
"bombom? ". Shindy mengambil alih kucingnya dari Kaisha yang terkekeh melihat binar senang Shindy.
"kucing aja kerja mereka" celutuk Keyzo dapat jitakan keras dari Dylan.
"adaaaww...! gila nih kak Dylan makin sakit aja sentilannya". pekik Keyzo begitu berlebihan
Dylan memutar bola matanya dengan malas lalu menarik tangan Keyzo menjauh dari keluarganya menuju kandang Black sedangkan Nova sibuk dengan ponselnya mematikan setiap panggilan masuk yang menganggunya
"siapa kak? kak Candra ya? ". goda Kaisha
Nova menonyor kening adik bungsunya yang mengerucutkan bibirnya begitu menggemaskan. Kaisha suka menggoda kakaknya.
"kenalkan mommy..! ini Rilly teman baru Shindy kalau keluar rumah" ujar Shindy menunjuk Rilly yang berdiri agak jauh dari mereka semua.
semua keluarga Dylan menyapa Rilly,
.
__ADS_1
.
"bagaimana sayang? apa udah ngisi? " tanya Kaira penasaran
"apa kamu udah datang bulan sayang? ". tanya Mely kepo
"Shindy belum datang bulan juga mommy Granma tapi saat Shindy periksa sama dokter Kinan dan hasilnya Shindy belum hamil. ".
"mungkin sebentar lagi ya mah? ". Kaira beralih ke Mely
"hmm.. kayaknya emang udah tanda-tanda siapin mental kita menghadapi calon penerus MattGroup yang baru". ujar Mely
Shindy masih menimang-nimang kucing nya yang sudah terlihat lebih besar sudah berhari-hari lamanya Shindy tidak melihat kucing nya sebab Kaisha sangat menyayangi bombom nya selalu membawanya kemana-mana.
"aamiin semoga saja Granma mommy". balas Shindy
.
.
makan malam bersama-sama setelah beberapa hari Dylan dan Shindy hanya makan berdua selesai makan bersama mereka kembali ke kamar masing-masing.
Nova di kamarnya terpaksa mengangkat panggilan Candra.
"apa lagi sih kak? dari tadi telfon meluluk ?".sembur Nova dengan kesal
"Maaf Mabi ku sayang! aku hanya ingin bertanya apa kamu udah sampai? kenapa tidak mengabariku? kan aku jadi khawatir aku sampai belum makan loh disini". balas Candra dengan semenyedihkan mungkin
Nova memutar bola matanya dengan malas.
"auk ah Kak Kitty aku mau tidur capek satu hari satu malam di dalam pesawat".
"jangan lupa kabarin aku Mabi? besok aku juga akan menyusulmu".
"jangan terburu-buru kak Kitty..! ntar aja sekalian bawa HP yang diciptakan om Abi untukku baru ke indonesia".
"iya deh.. iya... I Love You Mabi".
"Ck... Lebay..! ". ketus Nova lalu mematikan panggilannya secara sepihak.
.
.
cieee.... muncul lagi Mabi dan Kitty yaa.. Gila si Kitty muka tembok banget ya? tapi Othor suka hahaha.. biar timbal-balik Dylan dan Nova.
.
.
.
__ADS_1