
.
.
di tempat lain.
Roy membeli rumah baru yang terlihat cukup megah,
"kalau aku tau dari dulu sudah aku cekik dan jual organ tubuhnya..hahaha aku kaya. . aku kaya... " teriak Roy menggema
Roy seperti menang lotre berkali-kali hingga memiliki banyak uang saat ini.
"oh.. baiklah.. aku harus menjenguknya". seringai Roy dengan senang.
Roy keluar dari rumahnya dan langsung membawa mobil keluaran terbarunya ke makan Anna.
"hai... istriku? apa kabar? kau berguna sekali... sampai akhir hayatmu pun kau memberiku kekayaan seperti ini.. lihat..? aku punya kunci rumah.. dan ini kunci mobil baruku.. aku akan menikah lagi.. sepertinya aku jatuh cinta pada gadis mata biru itu Anna.. aku mohon restui kami.. " Roy menunduk 90° ke makam Anna.
Roy memberikan seikat mawar putih ke makam Anna.
"ini terakhir kali aku datang..! semoga kamu tenang disana.. " Roy berkata dengan enteng tanpa ada beban sedikitpun.
Roy kembali ke rumahnya dan membersihkan diri di rumah barunya.
Roy tersenyum melihat potret Kaisha yang ia cetak sangat besar hingga dari beberapa meter pun jauhnya bisa melihat kecantikan dewi yang satu itu.
"cantik nya...!" gumamnya mencium potret Kaisha
wajah asli Kaisha tidak pernah terlihat di publik, Roy bisa menjamin Kaisha akan terkenal di dunia selebriti jika Kaisha mau jadi artis atau model,
"pantas saja keluargamu menyembunyikanmu! ternyata kau sangat cantik Dewiku.. " Roy begitu memuja paras Kaisha yang tengah tersenyum manja.
"aku harus bekerja keras supaya bisa menemuinya, aku harus punya usaha besar untuk bisa bersanding dengannya".
Roy bertekat akan menjadi orang sukses dengan modal uang dari penjualan organ tubuh Anna.
di kamar Kaisha,
"kenapa telingaku gatal terus sih?? ". gerutu Kaisha sambil menggaruk-garuk daun telinganya
"apa ada yang mengocehiku? benarkah? tapi aku tidak punya teman". gerutunya lagi tak percaya.
Kaisha menggeleng-geleng kepalanya lalu kembali menonton drakornya.
"waaah.. tampan sekali... hehe... waaah... uuh... manisnya... aduuuh.... Co cweeett... " Kaisha yang begitu heboh dengan tontonannya.
.
.
di mol MattGroup.
Dylan dan Shindy tengah berpegangan tangan dengan mesra.
"mas? "
"hmm? " saut Dylan mengecup punggung tangan Shindy
"ada yang mau mas beli? " tanya Shindy melingkarkan tangannya yang lain ke lengan Dylan
__ADS_1
beberapa orang yang melihatnya begitu iri sekaligus gemas dengan perlakuan Dylan.
orang-orang mengira hidup Shindy sangat enak bersama Dylan seorang penguasa Melviano padahal tidak tau apa-apa betapa banyaknya musuh seorang penguasa itu.
hidup sebagai seorang Penguasa itu selalu berhadapan dengan musuh, saingan, penghianatan dan sebagainya..
"hmm? apa ya? bagaimana beli baju buat Baby Satria dan Baby Raya? " usul Dylan
"buat apa mas? " tanya Shindy
"buat dipake nya lah sayang...! masa iya buat dipajang". kekeh Dylan mencubit pipi Shindy
"bukan begitu mas.! ". selah Shindy menekuk kedua alisnya tak terima
"terus mau protes apa? " tanya Dylan lembut.
"baby kembar kita itu kerjanya tidur melulu...! buat apa dibelikan baju bagus kalau hanya tidur di box bayi aja". jelas Shindy dengan kesal hingga Dylan tertawa.
"bagus dong sayang! anak-anakku suka tidur dan tidak mengganggu waktu kita berpacaran". ujar Dylan
Shindy tampak berpikir sejenak lalu nyengir kuda. "iya juga mas..! hehe... kita ke Vila yuk!! kita berdua aja, baby kembarnya ngga usah, aku takut nanti anak kita dalam bahaya".
"yakin?? " tanya Dylan
"ngga usah nginap mas..! pergi pagi pulang sore aja". jelas Shindy meyakinkan.
"okeh... aku akan bicarakan sama mommy". jawab Dylan
Shindy tersenyum manja,
"ayo... ". ajak Dylan mengecup singkat kening Shindy.
Dylan menemani istrinya belanja seperti membeli gaun mungil untuk Baby Raya,
Dylan menautkan kedua alisnya. " aku memang beli apa sayang? ".
"Hehe... " Shindy tersenyum misterius.
"jangan aneh-aneh sayang". peringatan Dylan
Shindy tertawa tapi membawa suaminya ke toko sandal.
Dylan menganga lebar saat sang istri membelikannya sandal untuk dikamar bergambar Pororo.
"sayang? " protes Dylan
"muah...!! "
Dylan terdiam seketika saat Shindy mencium pipinya, para pelayan toko malah terbelalak kaget lalu mereka menurunkan pandangan begitu malu melihat kemesraan Dylan dan Shindy
"kamu harus pakai mas..! menggemaskan tau" senyum manis Shindy tanpa dosa
"tapi ini terlalu berlebihan sayang...! yang ada aku di tertawai". selah Dylan tak terima seperti anak kecil yang memohon pada orangtuanya untuk tidak ditinggal di rumah sementara orangtuanya pergi jalan-jalan.
"lucu mas..! aku suka motif pinguin itu, cantik tau !! lagian siapa yang menertawaimu? hanya aku yang lihat". ujar Shindy dengan acuh langsung membayar belanjaannya.
Dylan memijit pangkal hidungnya yang terasa berdenyut nyeri.
"lucu itu menurutmu sayang! aku pria Cool dan Gantle.. buat apa motif anak-anak itu,, yang ada harga diriku bisa rusak". batin Dylan malah tak bisa berkutik.
__ADS_1
Shindy kini membawa Dylan ke toko anak bayi.
"mas.. ini kaus tangannya lucu!". pekik Shindy tertahan sambil celingukan kesana-kemari.
kini Dylan terlihat lebih bersemangat.
"saat anak kita sudah berumur 4 tahun aku akan bawa anak-anak kita ke negara Salju". ujar Dylan berjanji
Shindy menoleh cepat ke Dylan. "benarkah mas? "
"iya..! ". jawab Dylan tersenyum
Shindy tentu langsung melompat memeluk Dylan, "aku ingin sekali kesana mas"
"apa kamu mau kita kesana besok? " tanya Dylan yang seorang penguasa,
apapun bisa dilakukan olehnya dengan sekali perintah dari bibirnya saja.
"ngga mas..! aku mau sama anak-anak kita. ". senyum manis Shindy mulai berangan-angan membayangkan 4 tahun yang akan datang.
Dylan mengusap kepala Shindy dengan gemas
"kapanpun sayangku mau.. aku bisa mewujudkannya". tutur Dylan
Shindy menebarkan senyum menawannya
"ayo lanjutkan mas..! aku pengen belikan gaun untuk Baby Al dan Baby Nola.. " ajak Shindy makin bersemangat.
Dylan mengikuti saja apa yang bagus menurut istrinya,
"ini sayang? " Dylan menunjukkan baju rajutan khas bayi
"waah... aku jadi ingin belikan baby nya Tio dan Alexa deh.. ". Shindy teringat anak Alexa yang juga lahir di tahun yang sama hanya beda bulan dan tanggal saja dengan anak-anaknya.
"sebentar sayang" Dylan merogoh sakunya dan melihat siapa yang tengah menelfonnya.
"siapa mas? " tanya Shindy
"Onty Ella.. ". jawab Dylan
"apalagi? cepat angkat". pinta Shindy
Dylan mengangkat panggilan Ella lalu raut wajahnya berubah-ubah namun di akhiri dengan senyuman.
"ada apa sih mas? " tanya Shindy penasaran.
"semua keluarga kita berkumpul di mansion". jawab Dylan sambil menyimpan ponselnya kembali.
"benarkah mas? bagus dong..! ". senyum Shindy
"kamu ngga kecewa belanja kita gagal? " tanya Dylan penasaran.
Shindy malah terbahak seketika,
"aku kecewa buat apa mas? aku kan minta temani sama kamu karna lagi bosan.. kalau semua keluarga ada di mansion, sudah pasti itu lebih membahagiakan lah... iyakan?? "
Dylan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
.
__ADS_1
.
.