
Shindy dan Dylan kembali ke hotel,
"mas? ". rengek Shindy melingkarkan tangannya di leher Dylan.
Dylan tersenyum tipis "apa? ".
"kita buat dedek lagi yuk? ". ajak Shindy dengan senyum termanisnya.
Dylan terkekeh.
"wanita mesumku yang menggemaskan!! kalau kamu memasang wajah imut seperti ini bagaimana caraku menolakmu hmm?? " Dylan mencubit gemas pipi Shindy
Shindy menyeringai lebar, saat mereka hendak berciuman Dylan segera menutup bibir Shindy dengan tangannya Dylan seperti menyadari sesuatu.
"hmmm? ". Shindy membuka matanya seperti protes.
"sebentar sayang! sepertinya ada pengintai disini". bisik Dylan
Shindy melebarkan matanya lalu segera merangkul lengan Dylan dengan erat dan bersembunyi di balik tubuh Dylan seperti mencari perlindungan
Dylan melirik situasi hidup di dunia perang membuatnya begitu jeli pada penyusup atau pengintai.
"dimana mas? ". tanya Shindy
"aku cari dulu sayang! tetaplah berdiri disini". pinta Dylan memegang bahu Shindy
Shindy mengangguk langsung mengedarkan pandangannya dengan waspada padahal di kamar sendiri.
Dylan menggunakan instingnya memperhatikan letak tisu yang berubah sebelum mereka pergi tadi. Dylan mengambil kotak tisu dan memijaknya sekali langsung hancur
"kamera pengintai? ".
Dylan menemukan apa yang membuatnya merasa diawasi.
"mas? ". Shindy masih berdiri di posisi dimana Dylan menyuruhnya tetap diam.
"kita keluar dari sini sayang!" seru Dylan dengan tenang tidak terpancing amarah walau ada kamera pengintai di kamarnya.
"keluar mas? keluar bagaimana? ". tanya Shindy tidak mengerti.
Dylan tersenyum menakutkan
"kalian yang mencari perang padaku terlebih dahulu jangan salahkan aku jika kalian hancur ditanganku".
Shindy merinding seketika dengar kata-kata Dylan yang menakutkan tapi karna rasa cintanya pada sosok Dylan tak membuatnya lari atau takut.
Dylan berbalik ke arah Shindy lalu menangkup pipi Shindy dengan mesra tatapan Dylan berubah lembut tak semenakutkan tadi.
"kamu percaya padaku sayang? ". tanya Dylan serius
"aku percaya sama kamu mas!" seru Shindy dengan yakin walau sorot matanya terlihat takut akan sesuatu.
__ADS_1
Shindy memeluk Dylan dengan erat.
"mas! jangan lepaskan aku ".
"aku tidak akan melepaskanmu ". tegas Dylan
"aku hanya mencintaimu! aku hanya mau menjadi wanitamu mas ".
"hm... kamu wanitaku! milikku! tidak akan ada yang berani merebutmu dariku". Dylan menenangkan hati Shindy yang nada bicaranya mulai bergetar.
.
Dylan membawa Shindy keluar kamar bersama kopernya yang sudah di susun rapi,
saat di lobi Dylan dan Shindy di hadang oleh gerombolan bodyguard Daniel.
"kalian mau kemana? ".
tanya pengawal 1
Dylan diam melirik mereka satu persatu dengan tenang tanpa ada rasa takut.
"mas! ". Shindy melingkarkan tangannya di lengan Dylan
"ikut kami nona! anda tidak boleh keluar dari hotel ini sampai anda melayani tuan kami". tegas pengawal 2
tangan Dylan sudah terkepal kuat, Shindy mendengar deru nafas Dylan seperti menahan amarah tapi wajah Dylan masih tenang dan datar.
Shindy memejamkan matanya,
"hilangkan rasa takutmu Shindy..! hilangkan semuanya.. kau adalah wanita milik tuan muda melviano jadi jangan pernah takut dengan berkelahi sama muncikari tua ini suamimu sangat berkuasa".
Shindy membuka matanya dan melihat semua pengawal Daniel semakin banyak.
"Tuan mohon kerja samanya! biarkan Nona Shindy bermalam dengan Tuan kami setelah itu akan kami kembalikan". ucap Pengawal 3 tanpa ada rasa takut
"kenapa aku harus memberikan wanitaku? emang kalian bisa melawanku? ". nada meremehkan Dylan sambil tersenyum tipis khas mengejek.
"kami berjumlah 30 orang dan kami juga pengawal terbaik negara C anda tidak akan bisa mengalahkan kami".
seru pengawal 1 dengan sombongnya.
Dylan mendengar gelak tawa mereka yang menertawai Dylan, sementara Shindy sudah berani menatap tajam mereka semua.
"oh ya? lalu bagaimana jika aku bisa mengalahkan kalian? jika kalian melawanku? kalian akan kehilangan pekerjaan dan hidup cacat selamanya. ".
peringatan Dylan
mereka tak mengindahkan kata-kata Dylan malah menertawai perkataan Dylan yang dianggap lelucon walau tau Dylan mantan Jendral tapi menurut mereka Dylan kuat karna pasukannya sekarang Dylan sendiri
"baiklah aku akan buktikan pada 1 orang". Dylan masih menggenggam tangan Shindy lalu berjalan ke arah para pengawal yang tak beringsut sedikitpun seperti tidak takut.
__ADS_1
Dylan menendang tulang kering pengawal 1 dan memegang pergelangan tangan pengawal 3 dengan tenaga penuh hingga terdengar suara retakan tulang, Shindy juga tidak mau kalah dan melihat ke arah pengawal 2 dengan tendangan khasnya yang sudah melayang ke dagu pria itu dan pasti membuat lawannya pingsan.
27 pengawal lainnya terkejut mendengar teriakan pilu pengawal 1 dan 3 sedangkan pengawal 2 pingsan.
"itu buktinya". lirik Dylan ke kedua pria yang sudah menjerit kesakitan karnanya
"aku bisa mengalahkan jendral besar dengan tanganku sendiri tapi kalian yang hanya tukang jaga beraninya mengejekku? dan menertawai peringatanku".
tutur Dylan dengan senyum miringnya.
"itu hadiah karna dia berani memintaku untuk tuannya jika kalian masih ingin bertubuh normal pergi dari sini..! soal tuan Sek* kalian itu cari saja wanita lain sebelum aku memotong ekor depannya jika berhadapan denganku".
Dylan tersenyum tipis mendengar ancaman Shindy yang tidak takut lagi dengan banyaknya bodyguard di sekeliling mereka.
"wow....!! aku semakin menyukaimu Shindy..! selama ini aku mencarimu setelah membelimu aku belum mencicipimu sedikitpun tapi kau sudah kabur dariku". Daniel bertepuk tangan dengan kagum pada sosok Shindy yang sudah membuatnya jatuh cinta saat pandangan pertama.
Shindy mengertakkan giginya dengan geram, matanya tak lagi menyorot ketakutan tapi sorot mata tajam dan membunuhnya.
"kau semakin menarik gadis kecil" Daniel hendak menepuk bokong Shindy tapi Dylan sudah menendang perut Daniel hingga terlempar beberapa meter mengenai anak buahnya sendiri.
"uhuk.. uhuk.. ". Daniel menyeka darah di bibirnya tendangan Dylan di perutnya bisa menyemburkan darah segar dari mulutnya saking kuatnya tendangan itu.
"kau tidak akan menang melawanku". remeh Dylan dengan datar tapi tangannya terkepal erat hingga memutih.
Shindy tak kalah tajam, ia tak mengasihani Daniel sedikitpun Shindy tidak mau memperlihatkan ketakutannya pada orang jahat itu.
"kau membeliku dari paman dan bibiku tanpa persetujuanku tentu saja kabur ! mereka yang jahat padaku! aku di jual sementara anak gadisnya di sembunyikan dari penjahat kelamin sepertimu".
"jadi mereka punya anak perempuan? ". tanya Daniel berdiri dibantu anak buahnya.
"iya" jawab Shindy dengan tajam dan dingin
Dylan sedikit bangga dengan keberanian Shindy, itulah yang Dylan inginkan.
"sial...! mereka menipuku saat kau kabur mereka hanya mengembalikan uangku 2 kali lipat ".
Shindy tak peduli kata-kata Daniel.
"mari kita akhiri segera ". ujar Dylan dengan tenangnya
"tuan? anda mencari masalah denganku? aku membawa banyak pengawal sedangkan anda? hanya badan diri sendiri saja ". Daniel sudah kehilangan akal sehatnya melawan Dylan
perasaan ingin memiliki tubuh Shindy membuatnya kalap.
"oh ya? kita buktikan saja apa yang bisa kulakukan dengan badan yang ku bawa ini ".
seringai Dylan.
.
.
__ADS_1