Sikembar Sang Penguasa 2

Sikembar Sang Penguasa 2
menggoda Mas Salju (part. 2)


__ADS_3

"mas? " Shindy memegang tangan Dylan


"apa? ". tanya Dylan dengan mata terpejam


"jadi benar milikmu kecil mas? ". tebak Shindy tak percaya


Dylan melebarkan matanya saat terbuka,


"kalau gitu coba buktikan! ". tantang Shindy


Dylan memijit pelipisnya.


"malas aku meladeni gadis mesum sepertimu"


Dylan hendak bangkit tapi Shindy juga ikutan berdiri menghadang jalan Dylan, Dylan yang sedang berusaha menahan diri karna banyaknya pekerjaan menumpuk di ruang kerja nya pun memejamkan matanya enggan melihat pemandangan indah itu.


"mas? coba aku lihat punyamu kecilnya seperti apa sih? ". Shindy bertanya ambigu lagi


Dylan membuka matanya saat Shindy mendekatinya hendak memegang celananya,


"cukup". Dylan menahan tangan Shindy


"aku tidak mau melanjutkannya". peringatan Dylan


Shindy berkaca-kaca mendengarnya Dylan segera menangkup pipi Shindy ia tidak bisa melihat gadis nya ini menangis.


"maaf.. aku minta maaf tapi aku sedang sibuk Ndy! aku sedang bekerja karna 3 hari aku tidak bekerja jadi dokumen yang harus aku tandatangani sangat banyak nanti semuanya makin menumpuk"


Dylan berusaha menjelaskan alasan ia menolak Shindy


"benarkah? bukan karna milikmu kecil? aku kan sudah bilang terima kamu apa adanya".


Dylan memijit pangkal hidungnya dan pelipisnya seketika.


"aku bisa gila menghadapimu Ndy"


Shindy memeluk Dylan dengan erat hingga tubuh Dylan membeku merasakan benda kenyal menempel di tubuhnya.


"aku istrimu mas! aku akan membantu mu supaya aku berguna untukmu setidaknya biarkan aku melayanimu, sebagai istri yang baik aku harus memberimu hak atas tubuhku".


"aku tau ". jawab Dylan dengan suara yang mulai berbeda


Shindy mendongakkan wajahnya melihat Dylan.


Dylan mendorong tubuh Shindy bersamaan dengan jatuhnya tubuhnya menindih tubuh Shindy.


"aku tau! tapi pekerjaanku sangat banyak hari ini aku berusaha menahan diri tapi kamu tidak lelah menggodaku! aku sudah bilang kan kalau aku tergoda saat itu juga aku akan menyentuhmu"


Shindy memejamkan matanya saat Dylan meraba alis, mata, hidung dan bibirnya.


"aku akan membantu pekerjaanmu mas ". seru Shindy meyakinkan.


Dylan menatap intens bibir Shindy, lama kelamaan bibirnya mendekat ke bibir Shindy


jantung Shindy berdebar tak karuan saat bibir Dylan mulai mendekat ia memejamkan mata tangannya meremas baju kemeja putih Dylan.


hanya 1 cm lagi bibir mereka akan bertemu tiba-tiba ponsel Dylan bergetar artinya ada panggilan masuk.


Shindy membuka matanya menatap Dylan diatasnya yang memejamkan mata seperti menahan sesuatu.

__ADS_1


"tidurlah! lain kali kita lanjutkan" Dylan mengecup lama kening Shindy lalu bangkit dari tubuh Shindy ia mengambil ponselnya segera meninggalkan kamarnya tanpa melihat ke arah Shindy takut semua yang ia tahan lepas begitu saja apalagi Shindy memakai pakaian begitu terbuka.


Shindy duduk sambil menekuk wajah cantiknya,


"lain kali kapan mas? ". gerutunya dengan kesal.


"lagian siapa sih yang ganggu malam gini? ". dumelnya lagi.


Dylan pergi ke ruangan kerja nya lalu mengangkat panggilan Bagus.


"bagaimana bagus? ". tanya Dylan


"seperti permintaan anda tuan, paman dan bibi nona muda sudah di usir paksa bersamaan Alexa sudah saya beri obat penghilang ingatan sekarang dia tidak akan ingat apapun"


"hmm.. awasi mereka jangan sampai ada yang menolong mereka satupun. biarkan mereka hidup dijalanan selama 6 bulan kedepan". perintah Dylan


"baik tuan saya akan awasi ! bagaimana dengan ribuan orang-orang yang anda tahan tuan? ".tanya Bagus


"biarkan mereka ditahan selama 1 bulan biar mereka bisa berpikir 2 kali saat tangannya hendak berkomentar mengenai Shindy".


"baik tuan". jawab Bagus


"sudah aku mau lanjutkan berkas-berkas ku". Dylan langsung mematikan panggilannya tanpa mendengar balasan dari Bagus.


Dylan segera mendinginkan tubuhnya yang panas dingin di kamar tamu beruntung Dylan punya pakaian ganti di kamar itu.


"karna gadis mesum itu aku jadi begini". gerutu Dylan menyunggingkan senyum tipisnya.


"dia banyak berubah". gumam Dylan mengingat semua tentang Shindy


"apa mommy atau granma yang memberi ide memakai pakaian aneh itu? ". decak kesalnya.


Dylan berceloteh sendiri setelah mandi air dingin Dylan kembali ke ruangan kerjanya lalu melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 00.36.


minuman ajaib yang di buat Shindy memang sangat ampuh untuk pemulihan tubuh juga lebih kuat lembur.


Dylan melirik telepon rumahnya, ia mengangkatnya


"Dylan? ".


"siapa? ". tanya Dylan dengan datar.


"kenapa kau mengurung istrimu? apa kau takut dia dalam bahaya maka nya kau kurung dia di mansionmu? ".


Dylan mengotak-ngatik komputernya, ia tau IT walau sedikit tidak seperti Nova yang sangat cerdas di bidang IT.


Dylan mencari titik tempat orang yang menelfonnya.


"kenapa kau di bar? "


"ck.. kau sangat hebat dewa perang". puji si penelfon


"kau cukup hebat bersembunyi di tempat yang ramai cukup merepotkan kalau aku mendatangimu sekarang".


"ahahaha... kenapa terburu-buru tuan? tidak usah terburu-buru kita bermain saja terlebih dahulu".


"ck.. kau hanya pengecut yang main sembunyi-sembunyi denganku". wajah datar Dylan dengan nada dinginnya.


"yah.. aku memang pengecut aku tidak bodoh melawanmu dengan tatap muka.. abangku saja yang seorang panglima perang mati ditanganmu ayahku juga sekarang aku hanya ingin kau merasakan bagaimana rasanya kehilangan orang tersayangmu".

__ADS_1


"aku tidak akan membiarkanmu menang! kita lihat sampai dimana keberhasilan permainanmu itu".


Dylan masih tidak terpancing kata-kata si penelfon.


"bersiaplah Tuan aku sudah merubah semuanya dan kau tidak akan mengenaliku.. ahahahaha... aku akan hancurkan kehidupanmu".


"baiklah aku tunggu kedatanganmu". setelah mengatakan itu Dylan menutup teleponnya.


Dylan melirik telepon perusahaannya dan tersenyum miring.


"ada penghianat di perusahaanku? ".


Dylan tau nomor telepon di ruangan kerja Pasha dan Dylan sangatlah rahasia hanya karyawan perusahaan yang tau nomor itu jika bocor artinya ada penghianat di perusahaannya.


jam sudah menunjukkan pukul 03.49 akhirnya pekerjaan Dylan selesai, ia berjalan ke kamarnya sambil memijit bahunya yang terasa pegal terutama bagian lehernya.


Dylan melangkahkan kaki ke kamarnya yang lampunya tidak mati.


"apa dia menungguku? ".


Dylan mencari sosok istrinya dan menemukan Shindy tengah terlelap di ranjangnya dengan posisi telungkup, Dylan tersenyum melihat hal itu.


.


"udah ganti baju rupanya". Dylan menyibakkan rambut Shindy yang menutupi wajah cantiknya.


bibirnya berkedut mengingat semua godaan Shindy padanya.


"wajah memerahmu sangat menggemaskan saat menggodaku". Dylan mengusap pipi Shindy mengecup keningnya lama.


"teruslah ceria seperti ini Ndy! jangan perlihatkan mata sedihmu pada siapapun aku akan ada untuk melindungimu".


.


.


Shindy menggeliatkan tubuhnya yang terasa berat.


"kenapa berat? ".


Shindy mengerjabkan matanya mengucek-ngucek matanya melihat perutnya matanya melebar melihat lengan Dylan tengah memeluknya.


Shindy memutar kepalanya ke arah Dylan yang terlelap.


"Tuhan.... indah sekali ciptaanmu".


Shindy memperhatikan wajah tampan suaminya yang sangat berbeda saat membuka mata,


kalau sadar Dylan akan berwajah datar dan Arogan tapi kalau tertidur wajahnya persis seperti bayi sangat menggemaskan.


.


.


Gagal Deh...


sabar Say mas Dylan udah suka kok cuma gengsinya masih di junjung tinggi tuh.. wkwkwk..


.

__ADS_1


.


__ADS_2