
.
.
Shindy memasukkan pakaiannya ke dalam koper,
"kenapa hatiku berdebar ya? ". gumam Shindy mengusap dadanya.
Shindy menggeleng-geleng kepalanya.
"semoga tidak terjadi apapun dengan tuan muda".
"aku pembawa sial jadi kalau terjadi sesuatu dengan tuan muda aku bisa gila karna merasa bersalah apalagi keluarga tuan muda baik sekali". gumam Shindy mengingatkan diri berkali-kali.
Shindy mengerutkan keningnya melihat ponselnya ada DM masuk, Shindy menerimanya dan lalu membaca pesannya dengan raut wajah pias membaca pesan itu.
"Kau pembawa SIAL Shindy karna aku mencari masalah denganmu hanya kesialan yang menimpaku dan bisa aku pastikan tuan muda Melviano juga akan terkena sial mu dasar PEMBAWA SIAL! kenapa kau tidak mati sekalian sama orangtua mu hah ??? "
begitulah pesan dari akun pribadi milik Alexa.
Shindy seketika terkulai lemas,
"aku mulai lupa diri..! lalu bagaimana aku menolak ikut dengan tuan muda? Ya Tuhan...!! ".
Shindy meremas ujung spreinya kini, matanya mulai berkaca-kaca.
Shindy tersentak mendengar ada yang menekan sandi rumah, ia segera menghapus air matanya lalu keluar dari kamarnya yang pintunya memang terbuka sejak tadi.
Shindy sedikit terhibur melihat kucing kecilnya yang sangat aktif bermain dengan kemoceng nya.
ia berjalan ke arah Dylan yang terlihat sudah rapi oleh Shindy.
"tuan? ". Shindy menautkan jemari tangannya dengan wajah tertunduk
Dylan melihat gelagat Shindy yang tak biasa.
"kenapa? apa alasanmu lagi? "
DeG!!
jantung Shindy berdebar kencang bukan karna cinta tapi karna kaget Dylan seperti tau isi fikirannya.
"jangan banyak alasan cepat keluar..! aku tidak mau kemalaman di sana". ujar Dylan dengan tajam tanpa ada bantahan sedikitpun.
Shindy terkejut sebentar lalu kembali berbicara dengan lirih,
"perasaan saya tidak enak tuan! saya takut anda akan terkena sial karna saya".
Dylan menarik nafas panjang.
"itu hanya Mitos dan kepercayaan konyolmu saja! cepat bersiap aku beri waktu 3 menit... "
__ADS_1
Shindy terlonjak kaget mendengar kata 3 menit, ia bahkan belum memasukkan dalam*n, sabun mandi dan perlengkapan lainnya. Shindy berlari kocar-kacir memasuki kamarnya hingga Dylan menahan tawanya melihat hal itu.
"apa aku semengerikan itu hingga dia begitu takut terlambat? ". gumam Dylan menggeleng pelan kepalanya.
.
.
Dylan berjalan didepan Shindy, sedangkan Shindy menarik kopernya sendirian sambil membawa rumah kucingnya (bom-bom).
"lebih baik titipkan kucing kecilmu sama Kaisha". saran Dylan.
"eeh..? ". Shindy berpikir sejenak lalu melihat tatapan elang Dylan membuatnya gelagapan hingga menyetujui perkataan Dylan.
Dylan bertemu Keyzo di tempat janjian, sebab Keyzo memang diluar setelah bertemu dengan teman-teman balapannya.
"siap kak jaga kakak ipar baik-baik ya..! ". senyum lebar Keyzo dengan kedipan nakalnya.
Dylan menendang tulang kering adiknya hingga Keyzo melompat-lompat kesakitan, Shindy membekap mulutnya sendiri melihat hal itu.
"dasar kakak Zombie.. ". umpat Keyzo
"Zombie? kenapa tuan disebut Zombie apa karna sering bergadang? ". batin Shindy masih membekap mulutnya sendiri.
"ck.. dulu Monster? sekarang Zombie besok apa lagi? " kata Dylan dengan datarnya.
"besok batu Es..! ". seru Keyzo tanpa takut dengan raut wajah datar dan arogan kakaknya itu.
" sana pulang!! ". usir Dylan dengan tegas.
"iya.. iya ini kaki Keyzo sakit kak". kesal Keyzo
Dylan menajamkan tatapannya hingga mau tak mau Keyzo melompat-lompat memasuki mobilnya, sedangkan rumah kucing kecil Shindy sudah ada dibelakang bangku kemudi mobil Keyzo.
"kakak ipar kalau kembali jangan ikutan jadi Batu Es ya..? " teriak Keyzo dengan senyum lebarnya.
Dylan mendekati Keyzo hingga mobil Keyzo cepat meninggalkan tempat itu, Keyzo tau kakaknya sangatlah kuat hanya sekedar meninju sekali saja kaca mobil anti pelurunya akan pecah seketika.
Dylan melihat ke arah Shindy yang menundukkan wajahnya. "jangan tertawa sama sekali tidak lucu".
"maafkan kelancangan saya tuan". ucap Shindy dengan sekuat tenaga menahan tawanya.
Dylan berdecak pelan lalu melirik mobilnya, Shindy segera berlari memasuki mobil Dylan begitu juga Dylan yang masuk ke mobilnya.
detik itu juga Dylan melaju kendaraannya di malam sunyi, Shindy terlihat tidak takut di situasi itu ia malah takut jika dirinya dikejar-kejar orang karna itu mengingatkannya pada sosok tua yang membelinya saat usianya masih beranjak dewasa.
"apa kau mengantuk? ". tanya Dylan
Shindy menoleh ke Dylan dan menggeleng pelan kepalanya.
"Bisa bahaya kalau aku tertidur? tuan muda pasti kerepotan sama seperti hari itu ". batin Shindy teringat hari memalukan itu dimana Shindy tidur seperti orang mati tidak terbangun saat Dylan mencoba membangunkannya berkali-kali
__ADS_1
"tuan awas!! " pekik Shindy melihat ada ranting pohon seperti akan jatuh tepat di depannya.
Dylan dengan cepat memutar setirnya hingga mobilnya sudah melewati tempat itu.
"tuan saya sudah bilang anda akan terkena sial karna bersama saya". kata Shindy mulai percaya kutukannya.
"ck..! ranting tadi di tebang bukan jatuh sendiri". jelas Dylan
"hah? mana ada manusia di gelap malam begini tuan? ". Shindy malah tidak percaya perkataan Dylan.
Dylan menatapnya tajam.
"kau meragukan penglihatanku? ".
Shindy tersenyum gugup dan menggeleng-geleng kepalanya.
"saya percaya tuan! saya percaya".
Dylan kembali fokus dengan jalan di depannya, ia tau Shindy tidak akan percaya tapi biarlah tidak penting juga baginya.
Shindy melihat ke arah samping mengingat kata-kata Dylan.
"ada manusia yang sengaja menjatuhkan rantingnya? kenapa? apa keuntungannya? ". batin Shindy kebingungan.
setibanya di hotel desa W, Dylan dan Shindy kehabisan kamar hanya ada 1 kamar untuk disewa sementara mereka tidak terikat pernikahan sama sekali.
"apa tidak ada kamar termurah kak? ".tanya Shindy memastikan lagi kamarnya benar-benar penuh atau tidak.
Dylan melihat tajam wanita itu.
"aku bukan orang bodoh yang bisa kau tipu ! parkiran tidak banyak mobil menurutmu siapa yang menyewa kamar? hantu? hah? ".
"ma maaf tuan hanya ada 1 kamar sedangkan kamar kosong yang sebenarnya ada 25 kamar tapi semua sedang di renovasi tuan! jadi hotel kecil kami hanya ada 5 kamar yang bisa di tempati ". jawab resepsionis dengan sopan dengan raut wajah takut.
"menurutmu aku percaya? bagaimana bisa kamar yang di renovasi 25 kamar ? apa terjadi sesuatu di desa ini sebelumnya ?". tanya Dylan dengan dingin seperti biasa.
Shindy menarik ujung jaket Dylan hingga siempunya menoleh.
"jangan begitu tuan! menurut saya mana ada orang yang berani melawan atau menipu anda jika memang benar ada renovasi menurut saya mungkin saja itu benar! desa ini baru saja di landa musibah".
jelas Shindy dengan hati-hati.
Dylan melihat situasi dan baru menyadari banyak orang yang sedang bersih-bersih, dan di lobi sekarang begitu redup seolah tempat itu barusan saja hidup dari kematian.
"benarkah? ". gumam Dylan.
Shindy menjelaskan semua yang ia tau musibah yang menimpa desa ini, Dylan akhirnya mengerti.
Dylan menarik nafas panjang lalu berucap maaf ke wanita itu hingga Shindy tertegun mendengarnya.
.
__ADS_1
.