
"mas? ". rengek Shindy
"iya sayang? " saut Dylan begitu serius dengan berita di TV.
"mas takut Bianka akan melukaiku kan? " tanya Shindy
"tentu saja! sebelumnya aku tidak pernah se khawatir ini, tapi sekarang aku lebih berkali-kali lipat khawatir padamu, kamu suka kabur dan membuatku kalang kabut mencarimu". balas Dylan tapi matanya masih fokus melihat TV cara Bianka melarikan diri di gambarkan lewat imajinasi kartun.
"mas... aku ngga selemah itu mas! aku mohon jangan sampai kepalamu bercabang 9 ! kenapa kamu selalu saja menjadikanku kelemahanmu? aku sering kabur karna keinginan bayi kita mas! lagian aku bisa kok membunuh mereka, buktinya tadi aku bisa membunuh bandot tua itu".
Dylan beralih ke Shindy lalu mengulurkan tangannya, Shindy bangkit dari ranjangnya lalu mendekati Dylan menyambut tangan Dylan.
Dylan mengecup punggung tangan Shindy, "apa salah jika aku khawatir sayang? aku tidak mau kamu menjadi target balas dendam orang jahat"
"tapi mereka yang jahat mas! kita hanya membalik keadaan dengan menyelamatkan diri kita sendiri, mana ada orang yang mau di tindas terus-terusan mas! ". Shindy memeluk Dylan dengan manja
"aku harap kamu bisa menjaga diri dan anak kita..! tapi aku mohon jangan pernah kabur dariku! lain kali kirim aku pesan, kalau tidak bawa HP pinjam ponsel orang lain kamu kan hafal nomorku sayang lalu segera di hapus dari ponsel yang kamu pinjam".
Shindy mengangguk-ngangguk patuh lalu Dylan mengecup sayang puncak kepala Shindy.
"ku mohon patuhlah sayang! kenapa kamu sering sekali melawanku sejak kamu hamil hmm? " tanya Dylan memeluk Shindy dengan posesif.
"maaf mas..! mungkin anakmu ini pribadi yang bebas tidak mau diatur, aku selalu patuh padamu mas tapi anak kita tidak bisa aku lawan kalau sudah menginginkan sesuatu, rasanya hal itu mencekik leherku mas ". curhat Shindy
"aku ingat semua nasehatmu tapi disituasi rumit aku tidak bisa mengelak kalau sudah mau sesuatu! maafkan aku yang selalu lupa diri padamu mas". sambung Shindy berkaca-kaca.
Dylan baru tau penderitaan istrinya yang sedang perang batin setiap kali mencoba kabur darinya,
"maafkan aku ya? ngga mengerti kamu sayang". ucap Dylan
"bukan mas yang tidak mengerti aku..! tapi aku yang ngga mengerti anak kita, masukkan saja kedua anak-anak nakal ini ke pondok pesantren nanti mas seperti Kanaya". celutuk Shindy
Dylan membayangkan hal itu terkekeh. "benarkah? kamu setuju anak kita mondok?".
"tentu saja! aku harus bisa membuatnya jadi anak yang baik, tidak nakal seperti sekarang". timpal Shindy
Dylan jadi sedikit terhibur dengan kata-kata Shindy,
"iya sayang..! anak-anak kita memang nakal dan aku tidak mau mereka jadi benar-benar nakal, asalkan dia tidak kabur aja kalau di masukin pesantren". kekeh Dylan membayangkan anak-anaknya kabur dari pesantren
Shindy tertawa kecil. "iya juga ya mas! kenapa aku ngga berpikir kesitu, pasti mereka kabur-kaburan seperti sekarang ".
"lain kali kamu harus bisa lebih tegas sayang! aku harus kamu beritau jika ingin keluar, jangan membuatku khawatir dengan keadaanmu di luar mansion". bujuk Dylan
"iya mas.! aku akan beritau kamu kemana aja aku pergi" .jawab Shindy meyakinkan
"tapi bagaimana mas bisa tau aku ada di tempat itu? ". tanya Shindy penasaran
__ADS_1
Dylan terdiam, ia tidak mungkin bilang kalau cincin yang melekat di tangan Shindy ada alat pelacaknya, bisa-bisa Shindy nekat melepaskannya
"aku menggunakan instingku aja sayang". jawab dylan meyakinkan.
Shindy pun mengangguk percaya dan kembali memeluk Dylan hal itu membuat Dylan lega, istrinya tidak curiga sedikitpun.
.
.
.
ke esokan harinya Shindy berjalan ke ruang kerja Dylan di ikuti Rilly yang sudah kembali bertugas mengikuti Shindy kemanapun pergi
"Lyli aku mau izin sama mas Dylan untuk ke kandang Max, itu boleh kan? " tanya Shindy harap-harap cemas
Rilly tak berbicara malah mengulum senyum, mana mungkin Dylan melarang Shindy yang masih normal berkeliaran di sekitar mansion.
"silahkan saja nona.. tuan pasti mengizinkan anda". Rilly mengetuk pintu ruangan kerja Dylan.
"kenapa cepat sekali? " gerutu Shindy membuat Rilly tersenyum lebar.
Shindy terpaksa masuk karna Rilly sudah membukakan pintu ruang kerja Dylan.
"mas? " Shindy berdiri didepan pintu
"hmm? ". Dylan segera meninggalkan pekerjaannya yang sudah setinggi gunung salak.
"ada apa sayang? kali ini kamu mau kemana? ". tanya Dylan dengan gemas.
sejak Dylan memohon ke Shindy untuk selalu mengadu ke dirinya kemanapun pergi, Shindy selalu izin pada Dylan walau di tengah-tengah kesibukannya saat ini.
"aku mau ke kandang Max ! terus beli cilok". rengek Shindy
"cilok yang waktu itu? " tanya Dylan
Shindy mengangguk-ngangguk.
"biar aku yang hubungi! sekalian aku akan traktir pelayan-pelayan melviano". Dylan menoel-noel hidung istrinya
"baiklah, mas hubungi penjual ciloknya untuk cepat datang, si dedek bayi udah ngga sabar minta jatah ciloknya".
Dylan terkekeh.
Shindy pun keluar dari ruangan kerja Dylan dengan muka berbinar, Dylan mau membelikannya Cilok walau harus menyuruh si penjual cilok untuk datang.
.
__ADS_1
.
"Max? bagaimana kehamilanmu hmm? ada berapa puluh ekor di perutmu ini? " kekeh Shindy mengusap-ngusap perut Kuda putih milik Nova
"kakak ipar? " Nova mendekati Shindy yang tengah bermain dengan Max.
"nona". sapa Rilly dengan sopan dibalas anggukan oleh Nova.
"kakak ipar main sama Max lagi ya? " kekeh Nova dengan gemas
Shindy mengangguk-ngangguk malu.
"maaf ya kakak ipar! si Max jadi makin gendut apalagi perutnya makin buncit aja kayaknya anaknya nambah lagi deh.. ".cekikikan Nova
Shindy tertawa "semoga kamu juga ya Nova.. ". goda Nova membuat pipi Nova merona seketika.
"Nova emang lagi hamil kak". cengir Nova
"hah? " pekik Shindy kaget.
"iya.. tapi Nova belum beritau siapapun, karna kakak Shindy yang memulainya terlebih dahulu.. jadi diam-diam aja ya kak! Nova mau kasih kejutan buat kak Kitty.. ". bisik Nova
Shindy terperangah takjub baru beberapa minggu Nova sudah hamil sungguh rahim Nova sangat subur.
"baiklah.. kakak akan diam-diam aja". bisik Shindy yang sudah tersadar dari lamunannya.
Nova tertawa membayangkan wajah bodoh Candra mengetahui dirinya hamil, Candra memang sangat posesif padanya, apalagi saat Nova tidak mau ikut, Candra sudah persis jadi cacing kepanasan hendak menolak pekerjaannya tapi dukungan Nova membuat Candra tak bisa lagi mengelak.
jadi terpaksa meninggalkan istrinya, setiap detik kalau ada waktu kosong Candra akan menghubungi istrinya terkadang Nova mau mengantuk dan sering menguap lebar saat Candra melakukan panggilan vidio dengannya padahal Candra sedang presentasi bisnis.
"sayang? " panggil Dylan.
"mas? ". Shindy hendak berlari tapi Rilly segera mencegahnya
terjadilah aksi tarik menarik antara Rilly dan Shindy hal itu membuat Nova tertawa keras.
"penjual Cilok nya udah datang". Dylan mengusap pipi Shindy.
"yeee... ayo mas". ajak Shindy semangat '45
"Cilok? " beo Nova menghentikan tawanya.
Nova yang kepo dan penasaran bagaimana Cilok itupun segera mengikuti kakak dan kakak iparnya, Rilly berjalan di samping Nova.
.
.
__ADS_1
.
.