Sikembar Sang Penguasa 2

Sikembar Sang Penguasa 2
bebas


__ADS_3

.


.


demi membujuk Shindy yang menangis Dylan membelikan semua makanan yang dia mau, sedangkan Keyzo sudah naik taksi duluan untuk urusan macan betina nya Black.


menunggu kakak nya pulang itu belum tentu cepat, sebab kakaknya yang satu itu sedang frustasi karna istrinya satu-satunya itu.


"udah..? ngga marah lagi? " tanya Dylan menyibakkan rambut Shindy kebelakang.


Shindy mengangguk-ngangguk sesegukan, sejak hamil ini sikapnya bisa timbal balik, ia tidak bisa dimarahi Dylan hatinya bisa terasa begitu sakit hingga air matanya mengalir begitu saja.


sungguh, sebelum hamil Shindy tidak pernah memperlihatkan kelemahannya pada siapapun, kini malah sering menangis tak kenal tempat kalau Dylan sudah membentaknya.


Dylan juga bukannya sering membentak Shindy, tapi ia hanya khawatir karna Shindy kabur tanpa meminta izin darinya,


"mas... ke WC.. ". rengek Shindy


Dylan melihat ke depan ada WC umum dan segera ia menepikan mobilnya.


"ayo turun! aku akan menjagamu dari luar". ajak Dylan sambil melepaskan seatbelt yang masih melekat di tubuh Shindy.


Dylan segera keluar dan berlari kecil membukakan pintu untuk sang istri.


Shindy dibimbing oleh Dylan hingga tiba di pintu Toilet umum, Dylan tidak bisa masuk lalu menunggu istrinya di depan pintu saja.


saat Dylan menunggu, ia merasa ada yang tengah mengawasinya.


"siapa lagi ini? " . batin Dylan masih bisa bersikap tenang.


mata biru Dylan perlahan mengedar dengan wajah tertunduk, anggap saja trik dirinya untuk bisa melihat orang yang telah berani mengincarnya.


mata Dylan memicing menemukan sosok perempuan yang tengah menatap dirinya, dari jauh perempuan itu memakai masker, topi dan jaket tebal. walaupun Dylan tidak melihat bentuk tubuhnya tapi Dylan tau sosok itu perempuan.


Dylan tampak berpikir keras. "siapa ya? "


telfon Dylan bergetar, ia pun mengangkatnya dari Rilly


"iya..Apa Ly? " tanya Dylan to the point


"tuan? saya dapat berita buruk". ujar Rilly terdengar gemetar


"apa..? " tanya Dylan masih tenang.


"nona Bianka keluar dari penjara tuan,, saya yakin dia pasti balas dendam pada anda melalui nona". jawab Rilly gelisah


"dia bebas? bagaimana bisa? " tanya Dylan masih terlihat tenang.

__ADS_1


"saya tidak tau bagaimana ceritanya dia bisa bebas tuan, dia melukai anggota polisi hingga harus menjalani operasi di rumah sakit". Jelas Rilly.


Dylan menangkap sosok itu yang telah pergi tak lagi terlihat olehnya.


"lalu? " . tanya Dylan.


"saat ini Bianka menjadi buronan polisi tuan,, tapi walaupun begitu anda harus tetap berhati-hati, dia pasti nekat tuan". ujar Rilly


"baiklah.. terimakasih informasimu". ucap Dylan


"sama-sama tuan". balas Rilly


Dylan mematikan panggilannya secara sepihak, ia menatap lurus kedepan dengan raut wajah dingin dan datarnya


"aku terlalu menoleransi mu ya? kau sama sekali tidak mau berubah! apa kau fikir aku tidak kejam? berani sekali kau mencari ku lagi untuk balas dendam hanya karna masalah spele..! aku tidak akan mengirimmu ke penjara jika kau berani mendekati istriku tapi aku akan mengirimmu ke neraka dengan kedua tanganku sendiri". batin Dylan


"mas? " Shindy menepuk tangan di depan wajah tampan sang suami.


"hmm? udah siap? " alih Dylan mengusap pipi Shindy


"maaf ya mas.! aku lama ya? perut aku mules terus". cengir Shindy


"iya sayang.! ayo cepat kita pulang". ajak Dylan merangkul istrinya berjalan ke arah mobil lalu membukakan pintu untuk Shindy


"mas? ".


"hmm? ". saut Dylan menoleh ke istrinya lalu memasangkan seatbeltnya.


Deg...!


jantung Dylan berdebar tak karuan saja mendengar insting istrinya yang sangat peka sejak masa kehamilannya..


"siapa sayang? apa kamu merasa orang itu jahat? " tanya Dylan memancing.


"iya... jahat". jawab Shindy memegang perutnya lalu mengusapnya lembut.


"aku merasa dia membahayakanku yang sudah pasti berefek pada anak kita". lanjutnya lagi.


"kita kembali sayang". Dylan menghidupkan mesinnya lalu melaju dari tempat itu.


Bianka yang menjadi buronan Polisi tidak bisa kemana-mana, bahkan untuk naik pesawat pun ia pasti akan tertangkap karna pasportnya tertera wajahnya sendiri.


terpaksa Bianka naik kapal ilegal untuk sampai ke tujuannya, Bianka tidak pernah menyimpan uang di bank malah menyimpan uang di brankasnya, sekarang ia membawa semua uang yang dia miliki.


"aku harus merubah wajahku yang menjadi buronan polisi..! ahahahaha.. kau sudah menghancurkan hidupku Dylan dengan mengirimku ke penjara karna ulahmu sendiri, aku tau betapa kuatnya dirimu itu jadi lebih baik aku mencari sekutu untuk melawanmu". seringai jahat Bianka.


ia tidak mau hidup di penjara yang sangat memuakkan, makanannya memang lumayan tapi tempat tidurnya tidak bisa di toleransi, kedinginan, belum lagi bulian pidana-pidana yang lainnya.

__ADS_1


Bianka berjanji akan kembali dalam waktu dekat setelah merubah wajahnya yang kini menjadi buronan polisi


"aku memang menyuruh mereka untuk membunuhmu tapi kenapa aku yang terseret masuk penjara karna aku yang membunuh 2 supir bodoh itu? aku tau hal itu pasti ada campur tanganmu TUAN! bersiaplah menghadapi diriku yang berubah nantinya. ".


dengan percaya dirinya Bianka akan berhasil mendapatkan apa yang dia mau, seolah dirinya akan mampu mencari sekutu melawan Dylan ke depannya.


.


.


Dylan membawa Shindy ke mansion.


"sayang? kenapa kamu selalu kabur-kaburan sih? kan mommy khawatir". Kaira menangkup pipi Shindy lalu melihat tubuh Shindy sekeliling.


Pasha menarik tangan Kaira. "kenapa kamu malah berkeliling begitu sayang? "


"lepas Hubby.. aku khawatir sama Shindy dan cucu kita". bela Kaira pada diri sendiri.


"udah mom sama Daddy berantemnya di kamar aja, Dylan mau ke kamar bawa Shindy ya? kepala Dylan sudah bercabang 9 ini". keluh Dylan


Kaira dan Pasha saling pandang lalu mengangguk pasrah.


di ruang tamu Shindy juga disambar oleh Mely dan yang lainnya, Dylan mengatakan hal yang sama lalu semua orang saling pandang kebingungan mencari jawaban dari Kaira malah dibalas mengangkat bahunya lalu menggeleng kepala Kaira yang artinya tidak tau kenapa Dylan begitu.


"ada apa sebenarnya mom? " tanya Kaisha


"Loh Keyzo mana? " tanya Kaira mengedar


"kak Keyzo ngurus sesuatu katanya mom.. dia heboh macan betina untuk Black udah datang". jawab Kaisha


Kaira pun mengangguk-ngangguk mengerti jadinya


"pasti masalah serius". ujar Pasha tak kalah serius.


semua mata beralih ke Pasha.


"masalah serius apa? " tanya Kaira.


"aku ngga tau sayang! yang pasti masalah itu menyangkut keselamatan Shindy, selama ini Dylan tidak peduli dirinya dalam bahaya tapi sekarang harus ada yang ia lindungi sedangkan Shindy suka kabur-kaburan gitu efek anaknya."


"masalah apa lagi sih? kenapa mereka selalu aja dalam masalah..? baru aja beberapa hari mereka bahagia..ada aja orang yang syirik". gerutu Mely


"sebaiknya kita berdoa saja semoga Shindy dan calon anaknya akan baik-baik aja..! kita juga tidak bisa bertanya pada Dylan, Pasha yakin dia ngga akan beritau masalahnya". Pasha


semua orang menghela nafas lagi, satu-satunya keluarga Melviano yang dibutuhkan Dylan cuma Nova yang sangat jago IT.. sedangkan yang lainnya tidak akan diberitau, Dylan tidak mau merepotkan keluarganya sebab Dylan selalu bisa mengatasi masalahnya sendiri, walau terkadang harus campur tangan Nova jadi tidak perlu memberi tau keluarganya yang sudah pasti mengkhawatirkannya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2