Sikembar Sang Penguasa 2

Sikembar Sang Penguasa 2
ancaman Dylan


__ADS_3

Shindy yang bawa mobil sampai ke rumah nya, ia memapah Dylan yang sudah lebih baik tapi masih terlihat pucat.


"sabar tuan! sepertinya obat tadi menyebabkan anda mengantuk". ujar Shindy memeluk erat pinggang Dylan


Dylan merangkul leher Shindy sambil menggeleng-geleng kepalanya yang terasa berat.


Shindy begitu sabar membantu Dylan masuk ke rumah,, Shindy menaiki lift ke kamar Dylan yang lebih luas dari kamarnya dilantai bawah.


"sedikit lagi tuan !". seru shindy melihat pintu kamar Dylan yang sudah terlihat.


Dylan jalan semakin sempoyongan Shindy tersandung kakinya Dylan hingga mereka sama-sama terjatuh, Shindy menindih tubuh Dylan tapi Shindy dengan cepat melindungi kepala belakang Dylan


bibir Shindy menempel di bibir Dylan, Shindy segera menjauhkan bibirnya walau jantungnya berdebar kencang tapi rasa khawatir masih menghinggapinya.


"maaf tuan? saya ceroboh apa tuan masih kuat berdiri? ". tanya Shindy mengusap peluh di kening Dylan


Dylan tidak menjawab hanya melenguh kesakitan, Shindy bangkit dan sekuat tenaga memapah Dylan sampai ke kamarnya.


Shindy akhirnya bisa membawa Dylan ke ranjangnya tapi ia juga ambruk di ranjang yang sama.


"aaah... huh.. huh... capek ". keluh Shindy terlentang tepat di samping Dylan.


Shindy segera duduk dan meluruskan kaki Dylan dengan telaten melepaskan sepatunya.


"tuan? ". Shindy mengusap rahang Dylan dan sedikit mengguncang dada Dylan tapi Dylan seolah tak terusik sedikitpun.


"tuan makan apa ya tadi? kok pencernaannya bisa terganggu? ". gumam Shindy penasaran.


Shindy menelfon Bagus dan mengatakan kalau Dylan tidak bisa kembali ke kantor begitu juga dengan dirinya yang harus merawat Dylan yang sedang terlelap tak lupa juga Shindy menghubungi Kaisha kalau Dylan tidak bisa kembali ke mansion.


hanya Shindy yang merasa pernikahannya dengan Dylan belum diketahui keluarga Dylan padahal semua sudah rencana keluarga Dylan.


Shindy tersentak mendengar ada orang yang menekan bel pintu rumah, ia segera berlari menuruni anak tangga dan melihat ke arah lubang pintu.


"siapa? ". tanya Shindy.


"paketan dari desa W nona ". jawab satpam kawasan rumah Elit.


Shindy mendengar desa W disebutkan segera membukakan pintu lalu mengucapkan terimakasih setelah mendapatkan paketannya.


Shindy berjalan ke dalam lift sambil membuka isi paketan sampai ia tiba didepan kamar Dylan, Shindy membuang semua bungkusan paketannya di tempat sampah lalu mengambil 2 buku kecil.


"buku nikah kami sudah siap". gumam Shindy membuka buku nikah miliknya terpampang potret dirinya dan Dylan yang terlihat sangat tampan.


Shindy memasuki kamar Dylan,,


"tuan? anda bangun? ". Shindy berlari melihat Dylan duduk.


"aku haus ". suara serak Dylan masih memejamkan matanya.


Shindy segera membuka kulkas di kamar Dylan lalu menyalinnya ke gelas yang tersedia, dengan telaten Shindy membantu Dylan minum.


Shindy meletakkan gelas nya lalu berbalik badan ke Dylan. "tuan? "


Dylan perlahan membuka matanya lalu tersenyum dengan bibirnya yang sudah tidak sepucat tadi,


"apa masih sakit? ". tanya Shindy dengan khawatir


Dylan memeluk Shindy menyandarkan dagunya di bahu Shindy hingga Shindy melebarkan matanya tapi tak bisa bergerak.


"lain kali jangan menyuapiku pasta terong lagi ".bisik Dylan


Shindy terhenyak mendengarnya.

__ADS_1


"anda tidak bisa makan pasta terong Tuan? ".


"aku bisa makan semua Pasta kecuali pasta terong jika aku makan itu perutku akan bermasalah". jelas Dylan


Shindy jadi merasa bersalah.


"maafkan saya tuan "


"maafmu aku terima ". Dylan merebahkan tubuh Shindy dengan hati-hati walau lemah tapi masih cukup kuat merebahkan tubuh Shindy.


Dylan mengecup kening Shindy dengan lama


"hadiahmu karna telah merawatku tadi! "


pipi Shindy memerah seketika mendengar perkataan manis Dylan,


"apa kamu lelah? " tanya Dylan mengusap pipi Shindy yang panas


"ti tidak! " jawab Shindy gugup apalagi Dylan ada di atasnya kini.


"kalau begitu istirahat ya? ". Dylan merebahkan diri di samping Shindy lalu menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Shindy yang memiliki aroma khas menenangkan Dylan.


Shindy mematung, tangannya bergetar lalu mulai mengusap rahang Dylan lalu Shindy tersenyum tulus.


"kapanpun anda meminta hak anda saya akan berikan tuan ! saya percaya anda akan bertanggung jawab walaupun anda tidak mencintai saya ".


batin Shindy mulai memejamkan matanya.


mereka terlelap sampai pagi, Shindy memang tidur nya seperti orang mati saat bersama Dylan sedangkan Dylan malah nyaman tidur memeluk istrinya.


ke esokan paginya Shindy meregangkan tubuhnya lalu segera bangkit dari tidurnya, Shindy menoleh kiri-kanan mencari sosok suaminya.


"Tuan? tuan? ". Shindy mengucek-ngucek matanya lalu tak sengaja ia melihat buku nikahnya hanya satu.


"apa itu milikku? ". Shindy membuka buku nikahnya dan memang itu miliknya.


.


.


"tuan? anda kembali? ". Shindy terkejut melihat Dylan kembali membawa 2 kantong kresek.


"aku beli sarapan". senyum tipis Dylan memberikan kantong kreseknya.


"apa kau baik-baik saja? ". tanya Dylan serius


Shindy menatap mata biru Dylan


"seharusnya saya yang bertanya hal itu tuan".


Dylan tersenyum lalu mengusap kepala Shindy.


"aku seorang pria ".


Shindy hanya menatap lekat suaminya.


"buku nikahnya sudah datang tuan"


"hmm! aku menyimpannya kamu juga simpan milikmu dan juga ubah panggilanmu". Dylan berjalan ke arah dapur.


Shindy berlari kecil mengikuti Dylan dengan bingung.


"saya memanggil anda apa tuan? ".

__ADS_1


Dylan menghentikan langkah kakinya hingga Shindy terantuk punggung kokoh suaminya.


Dylan membalik tubuhnya ke Shindy, Dylan hendak menyentil kening Shindy.


"aaakh...! ". Shindy memekik duluan sebelum tangan Dylan mengenai keningnya.


Dylan terkekeh.


"aku lapar siapkan aku sarapan"


Shindy membuka matanya lalu mengangguk patuh sambil memanyunkan bibirnya.


mereka sarapan berdua sesekali Shindy melihat Dylan dan sekali lagi matanya membesar saat mata Dylan menangkap basah dirinya.


Dylan tersenyum hal itu terlihat begitu tampan oleh Shindy yang cepat memalingkan wajahnya.


"apa yang kau fikirkan hmm? ". tanya Dylan mengacak poni Shindy.


"s saya hanya bingung memanggil anda apa? ". gagap Shindy sesekali menatap mata Dylan yang terlihat tenang tapi sambil tersenyum hingga terlihat oleh Shindy.


"apa panggilan mamamu ke papamu? ". tanya Dylan dengan enteng melahap sarapannya.


"mas ". jawab Shindy.


Dylan berpikir sejenak lalu mengangguk pelan


"tidak buruk juga".


"apanya tuan? " tanya Shindy bingung.


"panggilanmu ke aku! panggil aja yang kamu sebut tadi".


"Mas Dylan? ". panggil Shindy


Dylan mengangguk,,


"apa kamu mau aku beritau keluargaku? "


Shindy melebarkan matanya


" ja jangan tuan Eh mas, jangan dulu "


Dylan menaikkan sebelah alisnya.


"pilih salah satu aku beri tau keluarga ku atau aku beritahu satu perusahaan? ".


ancam Dylan dengan raut wajah datarnya.


Shindy membelalakkan matanya


" ja jangan kedua nya mas! " rengek Shindy.


"jangan menilai buruk keluarga ku Shindy mereka tidak sejahat yang kamu fikirkan" kata Dylan dengan enteng.


Shindy berdiri seketika saat Dylan hendak pergi.


"Tu eh Mas mau kemana? ".


"aku mau kembali ke mansion! sampai jumpa di perusahaan ". Dylan menjawab sambil mengusap kepala Shindy


Shindy bahkan belum sempat menghabiskan sarapannya tapi Dylan sudah pergi meninggalkannya, Shindy terduduk lemas di sofa melihat pintu rumah sudah tertutup.


Shindy berjalan lesu ke dapur meneruskan sarapannya yang tertunda.

__ADS_1


.


.


__ADS_2