
Shindy memutar kepalanya ke arah kaca ia memikirkan kata-kata Dylan tadinya tanpa sadar bibirnya tertarik ke atas.
"apa aku boleh menyimpan perasaan pada anda tuan? anda orang pertama yang mengatakan saya bukan orang sial". batin Shindy mulai melihat Dylan sebagai pria bukan atasan.
selama ini Shindy tidak pernah tertarik pada pria bahkan setampan atau sekaya apapun dia, banyak pria yang ingin menjadikannya istri supaya tidak kesulitan bekerja tapi Shindy malah menolak dengan sopan beralasan belum siap terikat.
Dylan memang dingin, Arogan dan angkuh tapi Shindy bisa merasa hangat berada di dekat Dylan dengan perhatian kecilnya.
"apa kau mau makan? ". tanya Dylan
Shindy yang sedang melamun buyar seketika, ia menoleh ke Dylan lalu bersamaan perut Shindy berdemo, Dylan melirik perut Shindy tapi tidak menertawainya.
"ada restaurant kecil didekat sini ".Dylan menghidupkan lampu peringatan hati-hati mobilnya, keluarga Dylan pun mengikuti mobil Dylan.
"kamu lapar nak? ". tanya Kaira mendekati Dylan
Dylan menggeleng kepalanya melirik penumpangnya hingga Kaira tersenyum lebar mengusap rahang Dylan.
"ayo kita makan sayang! " . Ajak Kaira ke Shindy
dengan malu Shindy mengikuti Kaira karna perutnya tidak bisa diajak kompromi.
"mungkin kakak ipar lapar karna makan bubur aja akhir-akhir ini mom". seru Keyzo tiba-tiba dapat jitakan keras dari Dylan.
"kenapa kamu menjitak adikmu sayang? ". omel Mely, Matt disamping mely menggeleng kepalanya begitu juga yang lainnya.
Keyzo segera memeluk Mely dan menjulurkan lidahnya ke Dylan.
"iya mom! mungkin karna makan bubur melulu kak Shindy nya". timpal Kaisha.
Kaisha dan Keyzo menyamar seperti biasa,
Shindy hanya menebarkan senyum kikuknya, Kaira membelai kepala Shindy.
"itu karna kamu ada di rumah sakit jadi wajar makan bubur tapi ya sudahlah sekarang kamu sudah keluar dari rumah sakit, ayo kita makan banyak ya!!"
ajak Kaira dengan lembut
"ayo kak". ajak Nova
mereka makan bersama-sama di ruangan privat
.
.
.
kini Dylan dan seluruh keluarganya melanjutkan perjalanan.
Shindy kembali termenung mengingat betapa bahagia nya keluarga Dylan yang tidak haus akan tahta.
"ternyata kalau kita tidak serakah hidup itu terasa lebih bahagia ". batin Shindy membayangkan perbedaan keluarganya dengan keluarga Dylan.
__ADS_1
"apa kau memikirkan sesuatu? atau bertanya sesuatu? tanyakan saja ". suara Dylan membuyarkan lamunan Shindy.
Shindy beralih ke Dylan lalu tersenyum tulus.
"saya hanya iri dengan kebahagiaan keluarga anda tuan"
"kenapa keluargaku? ". tanya Dylan penasaran.
"bersaudara tidak haus akan kekayaan tidak seperti keluarga saya". jawab Shindy lirih mulai mencicit pelan.
Dylan mendengarnya ia tau kalau keluarga Shindy terpecah karna kekuasaan.
"kami bisa mendapatkan kekuasaan tersendiri tanpa harus menyakiti satu sama lain. bukankah bersaudara itu saling melengkapi? kalaupun ada musuh seharusnya dari luar kan? ".
Shindy tersenyum kecut.
"alangkah sempurna nya hidup manusia jika semua orang berada berpikir seperti tuan muda"
"sebenarnya bibi dari mommy ku juga jahat". curhat Dylan tiba-tiba
"hmm? ". Shindy menoleh
"mommy ku sejak bayi di buang ke panti asuhan hingga nenekku gila kau tau sendiri kan sejarah kerajaan di kota A? konflik kerajaan lebih mengerikan bahkan manusia disana benar-benar mengerikan dari pada iblis."
"benarkah? apa itu alasannya kerajaan kota A runtuh? ". tanya Shindy serius
"hmm.. nenekku sudah lelah berada di istana hingga adiknya sendiri yang mengkhianatinya dan kakekku juga lelah jadi raja yang sibuk dengan masalah rakyat hingga tidak pernah ada waktu mencari putri nya sendiri "
"kenapa anda menceritakan nya pada saya tuan? ". tanya Shindy penasaran.
Shindy tersenyum mendengar kata-kata bijak Dylan walau terdengar pedas tapi cukup menenangkan hatinya seolah kata-kata Dylan menyiratkan bukan hanya Shindy yang menderita tapi ada manusia yang lebih menderita.
"jalani hidupmu dengan tegar percayalah hukum karma itu berlaku". sambung Dylan lagi.
"terimakasih tuan ". ucap Shindy dengan tulus.
Dylan tersenyum tipis, Shindy tidak murung lagi ia mulai tersenyum membuka rumah kucingnya.
"bagaimana keadaanmu bombom? apa kamu masih lapar? ". Shindy mengoceh dengan kucing kecil hal itu membuat kening Dylan mengkerut.
"memang dia mengerti bahasamu? ". tanya Dylan.
shindy tersenyum lebar.
"tentu saja tuan tapi kita manusia yang tidak mengerti bahasanya ".
"hmm". Dylan manggut-manggut mengerti jadinya.
Dylan menahan tawanya mendengar Shindy mulai seperti orang tidak waras berbicara dengan hewan, Shindy menoleh ke Dylan dan tersenyum canggung ia memasukkan kucing kecilnya ke rumahnya.
"bagaimana anda bisa menemukan kucing imut seperti ini tuan? ".
tanya Shindy semangat
__ADS_1
"kenapa? ". tanya Dylan
"saya penasaran bagaimana ibu nya". jawab Shindy semangat.
"awalnya bocah itu menjual semua kucing-kucingnya termasuk ibunya supaya bisa membiayai operasi ayahnya tapi aku hanya mengambil 1 karna aku bisa melihat anak itu sangat menyayangi kucing-kucing itu"
Shindy melebarkan matanya.
"tuan? ja.. di..? "
"apa aku salah memisahkan dia dari ibunya? awalnya aku tidak mau mengambilnya tapi anak itu bersikeras memberikan anak kucingnya kalau tidak anak itu bilang tidak akan bisa tidur nyenyak karna merasa berhutang budi".
Shindy tertegun mendengar perkataan Dylan.
"kenapa? benarkah aku salah? ". tanya Dylan
Shindy menggeleng-geleng kepalanya.
"saya akan menjadi ibu nya " jawabnya melirik rumah kucing kecilnya yang tidur dengan menggulung tubuhnya.
Dylan tersenyum tipis, tanpa ia sadari Dylan sudah mulai berbicara cukup banyak pada Shindy, mungkin sebagai hiburan supaya Shindy tidak merasa paling menderita.
Shindy juga mengerti dengan apa yang Dylan jelaskan seolah memberi kekuatan padanya setiap manusia punya ujiannya masing-masing.
"beruntung sekali perempuan yang menjadi kekasih tuan muda suatu saat atau bahkan istrinya, dia memiliki rasa hormat pada wanita dan bisa menjadi sumber kekuatan bagi wanita itu sendiri ". batin Shindy merasa Dylan pria yang sangat baik.
.
.
setibanya di mansion,
"turunlah! aku harus melakukan sesuatu". kata Dylan dengan wajah datarnya.
"terimakasih tuan". ucap Shindy mengambil rumah kucingnya lalu segera membuka pintu, Shindy tak bisa bergerak ia berusaha untuk keluar.
Dylan mendekat hingga Shindy terkejut saat wajah tampan Dylan dekat dengannya. mata biru Dylan yang tajam sedang serius melepaskan seatbelt Shindy.
"kau tidak akan bisa keluar jika belum melepaskan sabuk pengamanmu". jelas Dylan dengan seringai tipisnya.
Shindy segera keluar dari mobil Dylan, lalu mobil Dylan langsung meninggalkan Shindy yang termenung di posisi yang sama.
"kakak ayo masuk". ajak Kaisha
"ayo kak". timpal Nova
"kakak ipar jangan terlalu difikirkan kak Dylan, dia sudah biasa pergi-pergi gitu aja". Keyzo menyahut
"sudahlah ayo masuk". ajak Pasha yang merangkul erat pinggang Kaira.
semua nya masuk ke dalam mansion, Ella sudah kembali ke rumahnya bersama Ramzi,,
hanya Arabela dan Lexy yang menginap di mansion melviano karna ingin berkumpul dengan cucu-cucunya sekaligus penasaran dengan Shindy yang bisa menakhlukkan hati dingin cucu pertamanya.
__ADS_1
.
.