
Dylan menangkup pipi Shindy.
"kamu baik-baik aja kan sayang? ". tanya Dylan sekali lagi memastikan.
"baik mas". jawab Shindy tersenyum.
Dylan menatap ke arah perut Shindy ."apa Embrio kembarku yang melakukannya? masih Embrio saja sudah kejam bagaimana jika sudah jadi bayi". batin Dylan menelan salivanya bersusah payah.
"mas? ". Shindy menangkup pipi Dylan
"iya sayang! ". jawab Dylan tersadar
Shindy mulai berlagak polos dan tersenyum manis seperti bayi tak berdosa saja.
"semua sudah sepi...! acara sudah selesai kan? daddy sama mommy tadi sudah izin mau pulang sama Onty Rani dan Uncle Reza". jawab Shindy
"oh ya? kenapa aku tidak tau". Dylan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"mas aja yang ngga nyadar". kekeh Shindy mengusap-ngusap kepala Dylan.
"ayo kita pulang juga". ajak Dylan dibalas anggukan semangat oleh Shindy.
Shindy menoleh ke arah lampu gantungan tadi dan tetesan darah Aria membuatnya berbinar senang, entah apa yang salah dengan dirinya saat ini dan Dylan menyadari hal itu.
" ya Tuhan... tolong jadikan Embrioku anak baik-baik". batin Dylan penuh harap.
Dylan merasa ikatan batinnya dengan sang anak sangat kuat, ia sangat yakin jiwa psikopat ada pada diri anak-anaknya entah Embrio mana yang memiliki jiwa psikopat itu.
"ayo sayang...! " ajak Dylan
.
.
Dylan memijit pelipisnya saat Shindy bersikeras mendatangi rumah sakit tempat Aria di obati.
"tapi sayang? "
"tidak mau.. !! cepat antar aku kesana mas..! aku ingin memastikannya sendiri kalau wanita itu memang sudah terluka". alib Shindy
Dylan menghela nafas panjang pada akhirnya Dylan mengalah, kini ia menemani Shindy yang tengah main sembunyi-sembunyian mengintip Aria yang tengah menangis karna tubuhnya ada luka jadi terlihat jelek.
Shindy tersenyum puas melihat Aria yang sudah stress hanya dengan luka kakinya bagaimana jika Shindy membuat rusak wajahnya,
"sudah sayang...! ayo kita pulang". Dylan menarik tangan Shindy dan pinggangnya juga.
Shindy senyam-senyum senang karna bisa membuat Aria menangis.
"kau yang memulainya terlebih dahulu..! itu peringatan pertamaku, jika kau berani berulah lagi aku akan cekik kau sampai kehabisan nafas". batin Shindy dengan seringai menakutkannya.
Dylan tak sengaja melihat seringai jahat istrinya, matanya melebar kaget ia kembali melihat lurus ke depan.
__ADS_1
"sebenarnya spesies apa anakku ini? dosa apa yang telah ku lakukan? aku pengabdi negara kenapa Embrio-embrioku harus memiliki jiwa psikopat? apa tidak ada lagi bayi normal di dunia ini? ". batin Dylan tak bisa berbuat apa-apa.
Dylan menatap datar ke arah perut Shindy seolah mata Dylan bisa berbicara.
"jangan macam-macam Embrio.. jadi anak baik saja tidak usah nakal kalau tidak mau nurut kalian aku antar ke pondok pesantren". begitulah tatapan Dylan pada anak-anaknya itu.
Dylan menaikkan pandangannya menatap seringai jahat Shindy yang belum juga surut.
.
.
hari terus berlalu hingga 1 minggu telah berlalu, Aria sudah sembuh total dan kakinya mulus kembali dengan perawatan mahalnya.
Aria memekik melihat sosok ibunya ada di depan apartemennya.
"dari mana ibu tau alamat rumahku? " tanya Aria membentak.
"jangan banyak tanya...! " dengan cepat ibunya Aria masuk menerobos tubuh Aria.
Aria menggeram marah saat ibunya itu berani menggeledah rumahnya, dengan kasar Aria menarik ibunya keluar dan mengusirnya keluar apartemennya.
"ini rumah aku bu.! kau sudah menjualku kan? jadi jangan berani menemuiku lagi, anggap aku sudah mati bu..! jadi kau pergi saja dari sini". Aria berkata dengan tajam lalu membanting pintu nya dengan keras.
Ibu nya Aria menjerit frustasi, ia mendapatkan sebuah surat dan ada alamat rumah Aria disana entah siapa yang mengirim surat itu padanya.
"bagaimana Lyli? kau suka kan permainanku? ". tanya Shindy membanggakan diri.
"sebenarnya apa rencana nona? " tanya Rilly penasaran
"aku akan menerornya". jawab Shindy tersenyum usil.
.
"bagaimana ini? bagaimana caranya supaya anak itu mau membantu hutang-hutang suamiku? apa yang harus aku lakukan?". teriak ibu nya Aria dengan geram.
Ibu Aria bernama Rubby, ia tidak tau bagaimana caranya supaya bisa mendapatkan uang untuk membayar hutang-hutangnya sebelumnya Rubby juga sudah bermasalah dengan bank dan sebentar lagi rumahnya akan di ambil alih oleh pihak bank.
.
Aria mendapatkan sebuah paket,
"siapa yang mengirimku paket? ". gumam Aria melihat sekeliling.
Rilly menguap lebar di samping Shindy yang tengah sibuk memantau Aria.
"Nona kecil? Tuan Kecil? tolong berhentilah mengerjai kakak cantik ini". batin Rilly melirik perut Shindy yang terlihat sedikit membuncit.
sebelumnya Rilly dan Dylan di buat stres dengan ngidam Shindy sekarang sudah 1 bulan berlalu bumil satu itu malah berubah jadi wanita aneh dan suka berbuat ekstrim hingga membuat seorang Shindy menjadi psikopat saja padahal bawaan bayinya.
"aaaaakkkkh.... ". jeritan Aria membuat Shindy menyemburkan tawanya.
__ADS_1
Rilly hanya terkejut sesaat lalu kembali menguap lebar, "apa nona tidak lelah? ".
Shindy menggeleng-geleng kepalanya.
"sialan... siapa yang mengirimku boneka penuh darah ini... aaaakkkh... ". Aria keluar membuang kotak hadiah dan boneka bersimbah darah ke tong sampah.
Aria terus saja menjerit ngeri lalu masuk ke apartemennya.
Shindy tertawa terjungkal-jungkal seketika.
"sepertinya enak juga menerornya". tawa lepas Shindy membayangkan kirimannya esok hari.
.
ke esokan harinya Aria mendapatkan kotak hadiah lagi, Aria membukanya dengan hati-hati di tempat sampah dan mata Aria membulat melihat isinya..
"aaah... akhhhhh... " jerit Aria saat tikus-tikus putih berhamburan dari dalam kotak..
Aria berlari memasuki apartemennya tapi ada banyak tikus putih yang masuk ke apartemennya hingga Ia kewalahan mengusirnya sementara ia sendiri jijik dengan tikus-tikus itu.
.
.
esoknya lagi Aria mendapat hadiah kepala bab* hingga Aria menjerit histeris melihat kepala hewan yang memiliki lubang hidung yang besar itu.
"sialan...siapa yang menerorku...? siapaaa....?? matilah kau... ". teriaknya dengan frustasi
hari esoknya Aria tidak lagi mau membuka paketan langsung membuangnya ke tong sampah karna paketan tidak dibuka Shindy mengirim ulat bulu di luar pintu Apartemen Aria hingga kulit mulus wanita itu harus bengkak-bengkak terkena ulat bulu.
"basmi ulat bulu sampai ke akar-akarnya". begitulah isi surat yang ada didepan pintu apartemen Aria.
karna terlalu sering di teror Aria pindah rumah,
Shindy dikamarnya tertawa terbahak-bahak seketika mendengar perkataan Rilly yang bilang Aria pindah rumah hingga Shindylah yang paling bahagia saat ini, hari-harinya begitu menyenangkan karna begitu bersemangat meneror Aria.
"aku akan terus menerormu keket bulu". tawa Shindy menggelegar.
"baiklah.. aku biarkan kau tenang 2 hari ini, dihari berikutnya aku akan mengirimkanmu kepala buaya...! hahahahaha... ". tawa puas Shindy membayangkan betapa takutnya Aria menerima hadiahnya
.
.
.
Kejam banget mbak Shindy bukan main bunuh tapi main teror... tapi Othor dukung mbak'e... semangat meneror... hahaha...
.
.
__ADS_1
.