Sikembar Sang Penguasa 2

Sikembar Sang Penguasa 2
bukan dia


__ADS_3

.


"Mas? " rengek Shindy


"Hmmm? " sahut Dylan menoleh sambil menimang Baby Satria sedangkan Baby Raya sedang tertidur.


"anak-anak kita sangat mengerti kebutuhanku sayang...! bagaimana jika kita wikik-wikik? " tanya Dylan menggoda dapat pukulan dari Shindy


"aku masih masa itu mas..! mana boleh ". kekeh Shindy


Dylan tertawa lebar. "aku hanya menggodamu saja sayang".


Shindy tersenyum mengusap rahang Dylan.


"kalau begitu..? " seringai Shindy lalu mengecup bibir Dylan yang sangat menggoda.


Dylan melirik ke Baby Satria yang memejamkan mata dengan mulut terbuka.


"jangan memperlihatkan adegan dewasa di depan anak kita sayang". peringatan Dylan


Shindy terdiam lalu menyengir kuda.


"maaf mas..! habis bibir mas menggoda sekali, merah merona seperti buah delima ".


Dylan tertawa sambil meletakkan Baby Satria ke box bayi.


"ayo kita berci*man". gemas Dylan


Shindy tersenyum manis mencoba untuk berdiri, Dylan dengan sigap membantu istrinya berdiri dan mendudukkannya di ranjang kingsize yang tersedia dikamar baby kembar.


perlahan mereka berci*man, dengan lembut Dylan mel*mat bibir istrinya sambil merebahkan tubuh istrinya di ranjangnya kini.


Shindy melingkarkan tangannya dileher Dylan, puas saling memadu kasih lewat bibir Dylan melepaskan pangutannya.


"bagaimana? puas? " gemas Dylan sambil mengusap bibir Shindy yang basah karna ulahnya


Shindy tersenyum juga mengusap bibir sexy Dylan. "I Love You so much..! "


Dylan menciumi wajah Shindy hingga siempunya tertawa kegelian, bukan hal aneh lagi bagi Shindy kalau Dylan tidak membalas ungkapan cintanya, Dylan tipikal pria yang suka mengungkapkan perasaan lewat perbuatan bukan lewat ungkapan di bibir semata.


"mas? "


"hmm? " saut Dylan


"bagaimana keadaan Lily? " tanya Shindy penasaran.


"Lyli kenapa? " tanya Dylan


"loh..? mas ngga tau kalau Lyli izin pergi ke kampung halamannya? " tanya Shindy balik.

__ADS_1


"dimana kampung halamannya? ". tanya Dylan datar


"hah? aku ngga tau mas..! " jawab Shindy tercengir.


"kapan dia izinnya sama kamu sayang?" tanya Dylan


"tadi sih aku minta belikan sesuatu, terus ngga lama dia bilang neneknya meninggal dan terpaksa harus pulang kampung" jawab Shindy


"neneknya yang mana? dia tidak punya nenek sayang! neneknya sudah lama meninggal". Dylan berkata dengan wajah datar.


"Eh...? tapi iya mas. ! Lyli memang bilang begitu". jawab Shindy meraba-raba ponselnya lalu menyerahkannya pada Dylan.


Dylan bangkit tapi kakinya masih mengunci tubuh istrinya dibawahnya,


"kamu yakin sayang? " . tanya Dylan


Shindy mengangguk, Dylan membuka ponsel Shindy dan membaca pesannya lalu dahi Dylan mengkerut.


"ini bukan dia sayang". Dylan berkata dengan serius


"apa maksud mas? tapi itu nomor nya mas". selah Shindy tak mengerti.


"Kami pasukan khusus sayang jadi sangat tau cara kami saat mengirim pesan..! ini bukan Lylimu... aku yakin.. ". Dylan bangkit dari tubuh Shindy dan duduk di samping Shindy.


Shindy mencoba bangkit dan menyandarkan dagunya di lengan Dylan sambil mengintip pesan Rilly lagi.


"apa Lyli punya musuh mas? " tanya Shindy penasaran.


"bagaimana cara membedakannya mas? aku tidak mengerti". tanya Shindy tak mengerti.


Dylan memperlihatkan pesan Rilly sebelumnya dan membandingkannya dengan pesan Rilly sekarang.


" ya ampun!! hanya sebuah titik? bagaimana bisa mas? ". tanya Shindy makin tak mengerti


pesan itu sama hanya tanda titiknya saja yang berbeda, Rilly tidak pernah mengirim pesan dengan kata-kata yang disingkat, sekarang sama tapi tidak ada tanda titik.


"mungkin dia lupa mas.. ". Shindy masih berprasangka baik.


Dylan mengambil ponselnya dan memperlihatkan chatnya dengan Rilly.


Shindy membulatkan matanya terkejut. "jadi Lyli memang mengirim pesan dengan tanda titik? "


"iya... itu kebiasaan kami dalam pasukan khusus, jika ponsel kami di rampas oleh musuh maka setiap prajurit punya tanda nya tersendiri dan aku sangat tau tanda identitas setiap abdi setiaku.. Rilly itu tandanya titik 3, 7, 9 itu dia sayang, kalau kurang atau tanda titiknya tidak berjumlah segitu.. artinya yang mengirim pesan bukan dia".


"aku tidak mengerti mas" Shindy menggaruk-garuk kepalanya


"aku tau kamu tidak akan mengerti sayang..! jadi aku mohon berhati-hatilah.. aku akan keluar mencari bukti". Dylan berkata serius sambil menekan kepala Shindy mencium keningnya dengan penuh cinta.


Shindy memperhatikan lagi Dylan yang mencium kening baby Raya dan Baby Satria.

__ADS_1


"jangan keluar sampai aku kembali sayang". peringatan Dylan dibalas anggukan oleh Shindy.


Dylan meninggalkan Shindy dikamar bersama anak-anaknya.


"bukan Lyli? lalu siapa yang kurang kerjaan mengaku Lyli? " gumam Shindy keheranan.


Shindy mengirim pesan ke Lyli.


"Rilly? "


"Saya Nyonya". balas Rilly cepat.


"aku memanggilmu apa? apa nama panggilan sayangku padamu? "pesan Shindy


" ? ". balas Rilly


"Ck... apa dia main tebak-tebakan denganku? coba aku tes kamu Lyli atau bukan" gerutu Shindy dengan kesal


"nama panggilan sayangku padamu apa? apa kamu lupa? Hiks.. hiks... illy? 😭😭😭" ketik pesan Shindy dengan emoticon menyedihkan di akhirnya.


"Maaf Nyonya.. ya.. saya Illy! ". balas Rilly membuat mata Shindy melotot tak percaya.


"Astagah...! " pekik Shindy


"awwwh.. awhh.. aduh.. ". Shindy mengerang sakit saat ponselnya terjatuh mengenai lututnya saking kagetnya tak percaya yang membalas pesannya bukan Rilly.


"ya Tuhan.. ! Lyli.. kenapa bisa? bagaimana ponselmu bisa jatuh sama orang lain? ". pekik Shindy tertahan dengan tangan gemetar ia mencoba mengambil ponselnya.


"Nyonya? ". balas Rilly


"iya..! maaf tadi baby Satria sedang menangis". Shindy membalas dengan berbohong.


"baik Nyonya..! bisakah anda dan Tuan menjemput saya? saya akan turun di halte 2 hari lagi". pesan Rilly.


"tidak bisa illy.. aku belum bisa berjalan bebas! dan Mas Dylan sedang sibuk dengan pekerjaannya di mansion walau bukan dikantor tapi tetap aja kerjaannya banyak sampai kepalaku pusing melihatnya".


Shindy yang muak dengan chatingan yang bukan Rilly pun beralasan sedang menyusu* bayinya.


Shindy meletakkan ponselnya di meja nakas. "ya Tuhan.. kalau dia bukan Lyli terus siapa dia? neneknya meninggal? kata mas Dylan itu bohong, sebenarnya kenapa dia bisa mengaku Lyli? apa keuntungannya? ". Dumel Shindy tak mengerti.


sedangkan Dylan di ruangan kerjanya mencari tau lewat CCTV yang dilewati Rilly, saat di persimpangan ada seorang ibu hamil yang tergeletak tentu Rilly keluar dari mobilnya dan hendak menolong wanita itu terlihat oleh Dylan Rilly langsung siaga bergerak cepat membanting orang dibelakangnya tapi wanita hamil itu menyuntikkan sesuatu di betis Rilly hingga Rilly terlihat sempoyongan dan pada akhirnya jatuh pingsan.


kalau hanya sekedar meretas CCTV Dylan bisa melakukannya, tapi kalau mencari data pribadi orang-orang yang dilindungi hanya Nova yang bisa melakukannya,


Dylan menguasai IT 50% sedangkan Nova menguasai IT 99,98% begitulah perbandingan kejeniusan mereka dibidang IT.


"siapa mereka? kenapa mereka menangkap Rilly? aku yakin Rilly tidak punya musuh lain selain Daniel..! kalaupun ada itu cuma sepupunya yang ada di negara C dan aku rasa tidak mungkin dia datang karna sudah senang disana .! tapi kalau musuhku siapa? kenapa mengambil ponsel Rilly dan mengaku dirinya itu Rilly pada istriku". Dylan mengepalkan tangannya dengan mata memerah.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2