
ke esokan paginya Shindy dijenguk oleh keluarga Dylan, bahkan Shindy tak menyangka semua keluarga atasannya benar-benar baik tidak memandang rendah dirinya yang bukan siapa-siapa.
kucing kesayangan Shindy di rawat oleh Ella saat Bagus membawa rumah kucing Shindy, beruntung kucingnya baik-baik aja jadi Shindy lega mendengarnya.
"bagaimana keadaan kakak? ". tanya Kaisha memegang leher Shindy diGips dibalas senyuman lebar oleh Shindy.
Kaira sedang menyiapkan bubur untuk dimakan Shindy, sedangkan keluarganya yang lain sibuk berbincang di sofa yang agak jauh dari tempat Shindy
Shindy di temani oleh Kaisha, Nova, Rani
"bagaimana kamu bisa bertingkah seperti kakak iparku sih Shindy? ". dumel Rani melirik Kaira yang dulunya juga melakukan hal yang sama.
Shindy balas dengan senyum canggungnya, ia nggak mungkin mengatakan pada orang-orang baik ini kalau dirinya pembawa sial bukan karna Dylan yang salah tapi dirinya yang salah berada didekat Dylan.
"apa kakak memang baik-baik aja? ". tanya Nova memastikan
"baik ". jawab Shindy
"apa nya yang baik coba? kakak sampai di operasi ringan gitu artinya otak kakak terbentur kan? lain kali diam saja kalau kak Dylan berada di situasi bahaya dia bisa menyelamatkan diri walau mobilnya masuk dalam jurang". omel Nova dengan kesal
Shindy melebarkan matanya sedangkan Rani dan Kaisha terkikik geli mendengar omelan Nova yang memang sangat mengenal sosok kakaknya.
"iya Shindy..! lagian bukan hal pertama baginya mengalami bahaya bahkan dia pernah berperang di usianya yang masih 13 tahun ".
Shindy membuka mulutnya lebar-lebar tak percaya mendengar cerita semua orang-orang terdekat Dylan
"Ya Tuhan..!! bagaimana ini? pantas saja tuan muda begitu tenang membanting setirnya saat itu tapi malah marah besar aku berani memegang setir mobilnya".
batin Shindy dengan malu karna merasa sok jadi pahlawan kesiangan.
"sudah..! sudah itu masa lalu zaman sekarang nggak ada lagi sistem perang semua sudah selesai jadi jangan ungkit hal mengerikan itu". Kaira menengahi.
Nova segera berpindah saat Kaira sudah menyiapkan makanan untuk Shindy,,
"ambilkan minum sayang! " pinta Kaira menatap Kaisha
Kaisha segera memutar kepalanya dan menjangkau gelas minuman untuk Shindy, semua merawat Shindy dengan baik seolah Shindy seseorang yang begitu berharga.
Kaira menyuapi Shindy tanpa sadar air mata Shindy menetes seketika.
"eeh.. kenapa sayang? apa makanannya ini tidak enak? ". tanya Kaira khawatir.
Shindy menggeleng kepalanya hingga Rani dan Kaisha, Nova makin kebingungan dengan tingkah Shindy.
"maaf..! bukan begitu tante saya tidak tau kenapa jatuh gitu aja" Shindy tersenyum sambil mengusap air matanya yang menetes hingga terlihat matanya berkaca-kaca.
Kaira dan Rani sepertinya mengerti arti tatapan Shindy yang merindukan sosok orang yang paling dikasihi seperti orangtua kandung, apalagi Kaira pernah mengalaminya.
Kaira menangkup pipi Shindy dan mencium kening Shindy cukup lama
"anggap kami keluargamu ya? "
Shindy menahan tangisnya sekuat tenaga, bagaimanapun Shindy tidak pernah memperlihatkan kerapuhannya didepan siapapun.
"sepertinya kita harus keluar deh". ajak Rani tiba-tiba
__ADS_1
Kaisha dan Nova malah makin bingung dengan perintah Rani, semua orang dipaksa keluar kamar inap Shindy..
"ada apa sih Dek? ". tanya Keyzo melihat Kaisha
"nggak tau tadi kak shindy berkaca-kaca tapi ditahan gitu kak terus Onty minta kita keluar deh"
jawab Kaisha
"sepertinya kak Shindy juga punya masalahnya sendiri apa perlu kita cari tau? ". tanya Nova serius
"kakak bawa laptop? ". tanya Keyzo
"bawa". ketiga saudara kandung itu berkumpul mencari tentang Shindy yang tidak tau masalah Shindy yang membuat Shindy seperti itu.
Dylan diam didepan pintu mendengar isak tangis Shindy yang sedang sendirian di kamar inapnya.
Kaira disamping Dylan mengusap lengan Dylan
"biarkan dia melepaskan tangisannya sayang ! sepertinya karna merindukan keluarganya, kamu tau kan masalahnya sayang? "
Dylan mengangguk pertanda ia tau masalah Shindy.
"sepertinya dia tipikal gadis yang tidak mau memperlihatkan sisi rapuhnya pada siapapun.. itu sebabnya Onty Rani mu mengusir kita semua keluar supaya dia bisa sendiri"
Kaira melihat ponselnya ada panggilan dari Ella, ia segera mengangkat panggilan Ella lalu meninggalkan Dylan yang masih terpaku.
Dylan meremas gagang pintu mendengar isakan Shindy yang makin menjadi-jadi memanggil mama nya.
"mama.. kenapa Shindy selalu membawa sial? kenapa orang yang baik dengan Shindy harus terkena sial? kasihan keluarga mereka yang sangat baik.. hiks.. hiks.. Shindy harus apa ma ? pa? apa yang harus Shindy lakukan? ". Shindy sampai sesegukan melepas unek-unek kepalanya.
Dylan mendengarnya dari luar, iba, lagi-lagi rasa bersalahnya kembali muncul apalagi Shindy masih mengira Shindy pembawa sial hingga berpikir kecelakaan yang menimpanya itu karna kesialannya Shindy.
hingga akhirnya Dylan tak mendengar apapun, Dylan melangkahkan kakinya memasuki kamar Shindy. matanya melihat Shindy tengah terlelap dengan mata yang sedikit membengkak dan mukanya yang merah.
Dylan dapat pesan dari Bagus kalau pelaku tabrak lari sudah tertangkap dan Polisi menahannya di kota sementara sampai Dylan memintanya untuk menjemut pelaku.
"tunggu sampai aku kembali ke kota! aku akan beri dia pelajaran yang mengerikan".
ujar Dylan sedikit menjauh dari Shindy.
Dylan keluar dari kamar Shindy melanjutkan pembicaraannya dengan Bagus.
.
.
3 hari lamanya Shindy di rawat di rumah sakit tempatnya tidak jauh dari kota Rani tinggal.
berkat permintaan Shindy yang meminta pulang tak ada yang bisa mencegahnya apalagi Shindy bilang terlalu jenuh di rumah sakit.
"kamu tinggal di mansion Melviano aja sayang". pinta Kaira
"t tapi tan.. " selah Shindy
"nggak ada tapi-tapian pokoknya kamu harus istirahat di mansion " tegas Kaira
__ADS_1
Mely membenarkan apa yang Kaira katakan begitu juga yang lainnya hingga Shindy meminta bantuan pada Dylan dengan tatapan matanya yang memelas tapi Dylan seolah acuh tak peduli permintaan Shindy seolah mendukung apa yang di usulkan oleh Kaira.
"sudah kakak ipar ayo kita pulang! kucing kakak harus dirawat juga kan? ". Keyzo merangkul Shindy
Ella memberikan rumah kucing Shindy yang sudah baru,,
"ayo kita kembali". ajak Pasha
hari itu juga mereka semua pergi ke Kota tapi tidak Rani dan Reza putri mereka Regita, mereka harus kembali ke rumah karna pekerjaan dan usaha mereka ada di kota itu.
Shindy memeluk rumah kucingnya dengan erat, Dylan melirik Shindy dan pelipis Shindy yang dibalut perban kecil.
"apa kau mau kena angin? ". tanya Dylan
"boleh kah tuan? ". tanya Shindy balik
Dylan menurunkan kaca tempat Shindy hingga shindy merasa jauh lebih tenang,
"apa tuan baik-baik saja? ". tanya Shindy menoleh ke Dylan.
Dylan tersenyum tipis, "kau tidak perlu memikirkanku lain kali jangan ikut campur kalau kita berada disituasi yang sama ! beruntung kakimu baik-baik aja kalau terjadi sesuatu mommy ku bisa mematahkan kakiku".
Shindy malah menganggapnya serius.
"benarkah tuan? saya tidak bermaksud begitu.. ahhh beruntung aja kaki aku kaki besi ".
Dylan menautkan alisnya.
"kau menganggapnya serius? ".
"hah? iya tuan mana mungkin anda bercanda".
Dylan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal
"aku hanya bercanda! mana ada ibu yang menyakiti anaknya sendiri"
Shindy malah mengerjabkan matanya berkali-kali
"apa dia tadi sengaja bercanda untuk menghiburku? benarkah? ". batin Shindy.
.
bersambung...
.
.
Hahahaha.. biar Othor yang ketawa mas Dylan... lucu banget sih.. hahaha kasihan mbak Shindy nya malah garing jadinya....
Just Kidding...!
.
.
__ADS_1