Sikembar Sang Penguasa 2

Sikembar Sang Penguasa 2
siapa bos nya disini?


__ADS_3

"tuan? ".


Dylan menoleh ke Shindy


"aku tidak tau kalau desa ini baru saja terkena musibah"


Shindy tersenyum mendengarnya.


"saya percaya tuan"


"bagaimana? hanya ada 1 kamar kau mau di sini? biar aku di dalam mobil".


tanya Dylan mengambil 1 kunci kamar yang tersisa.


Shindy ragu-ragu menerimanya. Dylan menekan kepala Shindy


"aku baik-baik saja...! ". senyum tipis Dylan membuat mata Shindy membesar karna kaget tapi kenapa tubuhnya tidak melawan saat Dylan menyentuh kepalanya


"aku biasa menekan kepala peliharaanku". acuhnya lagi berlalu meninggalkan Shindy sambil membawa kunci kamar.


Shindy menautkan alisnya


"tuan tapi saya bukan peliharaan ".


protesnya sambil berlari kecil mengikuti Dylan.


beberapa orang yang melihatnya antara heran dan juga baper sekaligus siapa yang tidak mengenal Dylan.


"waah.. tuan muda meminta maaf padaku? ". gumam wanita itu dengan takjub ditambah ia diberi tips oleh Dylan sebagai permintaan maaf,,


Sungguh Kaira begitu berhasil mendidik Dylan yang memiliki kepribadian baik walaupun wajah Es dan omongan Dylan cukup Kasar tapi Dylan tau cara meminta maaf kalau dirinya memang bersalah itulah didikan Kaira bukan seperti Pasha yang hanya tau mengajarkan hal yang cepat tanpa tau yang salah dan yang benar yang penting tujuannya sama, meski harus menempuh jalur paksaan atau jebakan.


Dylan menghentikan langkah kakinya Shindy yang kaget terantuk punggung kokoh Dylan


"aduuhh... maaf kan saya tuan! maafkan saya". ucap Shindy melangkah mundur, Shindy mengintip ke samping Dylan yang berwajah datar


"ada apa tuan? ". tanya Shindy mengikuti arah tatapan Dylan lalu mulutnya terbuka lebar.


"kamar apa ini? ". gumam Shindy dengan lirih.


"aah... ". Shindy memekik melihat tikus lalu melompat menaiki kasur di sampingnya.


Dylan terlihat tidak peduli malah menelusuri kamar inapnya saat ini, warna dinding yang sudah memudar lantainya memang bersih tapi jendelanya masih berupa Plastik yang di tusuk pisau saja maling bisa masuk


"Astagah tuan? kenapa anda begitu? lihatlah saya sedang ketakutan". batin Shindy menekuk tubuhnya memeluk lututnya yang gemetar karna kegelian melihat anak-anak tikus berlarian kesana-kemari.


"apa ini layak disebut kamar? ". desis Dylan dengan mata birunya yang begitu dingin dan tak terbaca.


"tu tu tuan? ". panggil Shindy dengan nada gemetar.


Dylan yang tadinya fokus ke jendela beralih ke Shindy baru menyadari wajah Shindy yang memucat


"kau kenapa? ". tanya Dylan seakan tak tau kenapa Shindy begitu.

__ADS_1


Shindy tersenyum masam.


"bagaimana bisa tuan Salju ini tidak menyadarinya sama sekali? apa aku tidak terlihat? ".pekik Shindy gemetaran didalam hati


"kenapa? ". tanya Dylan memasukkan tangannya ke kantong celananya.


"s saya takut itu tuan". Shindy memejamkan matanya menunjuk tikus-tikus berlarian di kakinya Dylan.


Dylan seolah tanpa hati menginjak ekor tikus yang melewatinya, satu hentakan kaki Dylan yang lain membuat semua tikus-tikus itu berhamburan melarikan diri dengan suara yang khas.


Shindy merinding mendengarnya, ia benar-benar geli dengan 1 hewan bangsa tikus itu.


"sudah ! buka matamu". kata Dylan dengan malas sambil melangkahkan kakinya ke dalam kamar mandi.


kamar mandi bersih tidak ada yang salah sedangkan kamar penginapan yang tak layak di huni dengan jendela yang terbungkus plastik, cat yang masih berantakan belum di cat ulang.


Shindy melihat sekeliling dengan tatapan waspada.


"kenapa ada tikus sih? aku takut". Shindy berkaca-kaca teringat masa kecilnya yang di kurung di gudang karna di bilang menggoda laki-laki yang Alexa suka dimasa sekolah.


Shindy juga takut tikus karna paman dan bibinya sendiri,,


"t tuan? ". Shindy berusaha memanggil Dylan tapi tidak ada sahutan.


"bagaimana ini? ". gumam shindy masih ragu menginjakkan kaki di lantai kamarnya kini.


"aaakhh... ". Shindy memekik melihat ada sesuatu yang lewat di depan jendela terbungkus plastik itu kini.


"a apa itu? ". gumam Shindy dengan gemetar.


"t tuan? ". Shindy membalut tubuhnya dengan selimut menutupi wajahnya semuanya.


Dylan yang baru keluar dari kamar mandi setelah memakai pakaian santainya pun keheranan melihat Shindy berada di kasur tapi bisa Dylan tebak tubuh Shindy sedang gemetar di balik selimut.


"hei..? ". Dylan menarik-narik selimut Shindy tapi tidak kuat.


"tuan? ". Shindy keluar dari balik selimutnya lalu memegang tangan Dylan dengan erat hingga Dylan menaikkan kedua alisnya.


"sa saya takut disini tuan! tadi saya melihat seseorang lewat ". Adu Shindy dengan nada gemetar.


"kau takut apa? manusia apa hantu? ".


"saya takut tikus dan juga hantu tuan". jawab Shindy jujur walaupun banyak yang ia takuti.


"lalu kau mau tidur dimana? besok pagi kita harus bertemu dengan orangku yang bekerja di desa ini setidaknya bertahanlah sampai besok pagi".


Shindy menggeleng-geleng kepalanya saat Dylan hendak pergi.


"tuan saya takut! saya mohon jangan tinggalkan saya". memelas Shindy.


Dylan melirik tangannya yang terasa dingin karna genggaman tangan Shindy


"jadi dia benar-benar takut hantu? ck.. mana ada hantu yang bisa dilihat oleh mata normal"

__ADS_1


batin Dylan.


"tuan saya akan tidur dibawah". rengek Shindy lagi.


"kau mau aku jadi laki-laki brengs*k ya? aku seorang pria bagaimana bisa membiarkan perempuan tidur di lantai?".


"saya sudah biasa tuan tapi anda mungkin tidak, sama seperti kaki saya yang kuat begitu juga dengan punggung saya yang sudah biasa dengan lantai, kayu bahkan tidur diatas matras pun saya pernah tuan.


"ck..! ".Dylan baru ingat kalau Shindy jatuh miskin karna paman dan bibinya.


"lalu kau mau kita tidur satu kamar? ". tanya Dylan dengan datar.


Shindy mengangguk-ngangguk sambil melihat arah jendela.


Dylan menautkan alisnya.


"apa ada orang iseng disini? ". batin Dylan dengan curiga.


Dylan tidur di sofa dan Shindy tidur di ranjang karna ada Dylan Shindy bisa terlelap, hanya Dylan yang bisa membuat Shindy merasa aman.


Dylan tidur tapi telinganya begitu tajam mendengar situasi, mata Dylan bergerak mendengar suara langkah kaki dari jendela tadi dan terdengar lagi seseorang merobek jendela plastik kamarnya kini.


Dylan mengeluarkan senjata apinya lalu menembak ke arah suara hingga terdengar teriakan dari si pelaku.


Dylan bangkit dari duduknya dan mendekati tempat pelaku, Dylan dengan cepat menembak kaki orang asing itu yang dengan lihai melompat dari ketinggian 2 meter kamar mereka kini.


Dylan menurunkan senjata apinya,


"cih..! manusia apa itu? kenapa dia nekat? apa orang-orang yang meresahkan tamu yang baru masuk ke tempat ini? ".


.


.


Dylan beralih ke Shindy yang tak terusik sedikitpun.


"ck..! kenapa aku menjadi bodyguardnya? "


Dylan melirik tajam Shindy yang begitu nyenyak tidur seolah seorang Dylan adalah bawahan Shindy.


"dia malah enak-enakan tidur! sebenarnya siapa bos nya disini? ". celotehnya pelan.


.


.


sabar mas Dylan Othor dukung kok Mas Dylan jadi bodyguardnya Shindy semalam aja dan kayaknya banyak juga yang dukung nih ...


hehehe..


Just kidding.


.

__ADS_1


.


__ADS_2