Sikembar Sang Penguasa 2

Sikembar Sang Penguasa 2
minta aneh (part. 2)


__ADS_3

"biar aku yang cari sayang! " perintah Dylan


Shindy menggeleng kepalanya bersikeras mengikuti Dylan,


Dylan tidak bisa berkata-kata lagi karna tingkah sang istri yang tak bisa di cegah walau Dylan memohon,


"sepertinya anakku benar-benar liar dan tidak bisa dilawan". batin Dylan memijit pelipisnya.


"cepat mas" desak Shindy


Dylan terpaksa membiarkan Shindy mengikutinya hingga terlihatlah oleh mereka berdua Kuda putih bersurai panjang tengah meringkik kesakitan.


Shindy berhambur dengan tubuh besarnya mendekati Kuda putih itu tapi Shindy tidak bisa berjongkok karna kostumnya.


"mas? suruh dokter mas tadi periksa kudanya" pinta Shindy memelas.


Shindy tidak tau kenapa kudanya meringkik kesakitan yang Shindy tau kuda putih itu sedang sakit


"sebentar sayang! aku tau kenapa dia menangis". bujuk Dylan menenangkan kegelisahan istrinya.


"Eh..? mas tau? " tanya Shindy bergeser sedikit.


Dylan berjongkok didepan kuda putih yang sedang kesakitan. dengan perlahan Dylan mengelus kepala kuda putih yang terlihat lemah itu.


"biar aku periksa ya Max!". Dylan memberi nama asal untuk si putih yang sedang meringkik kesakitan itu.


mata kuda itu terlihat basah hingga Shindy ikut berkaca-kaca melihatnya.


"hiks..hiks.. mas.. kok aku ikutan sedih melihat Max? cepat obati mas". rengek Shindy juga memanggil si putih Max.


Dylan mengangguk hendak berdiri menghadap Shindy tapi Shindy menggeleng kepalanya bertanda tidak boleh.


Dylan akhirnya kembali melihat Max lalu memeriksa tubuh Max yang terlihat pasrah di periksa Dylan, sebab Dylan membelai kepalanya terlebih dahulu seperti meminta izin pada si kuda untuk memeriksa keadaan Kuda itu.


Shindy diam dan memperhatikan Dylan yang tengah serius, Dylan memegang kaki si Max hingga makin meringkik kesakitan saja si Max.


"sepertinya kakinya yang terluka sayang" Dylan berkata pada sang istri sambil memperhatikan tapak kuda itu.


"mas? ada ranting pohon atau paku itu mas? " Shindy menunjuk tapak kuda Max yang terlihat menancap di kakinya.


"sepertinya dia terkena jebakan di dalam hutan sayang" Ujar Dylan


"tunggu sebentar Ndy..! aku akan carikan kotak P3K untuk mengobatinya". pinta Dylan dengan lembut membantu Shindy duduk dengan Kostum anehnya.


Shindy seperti sedang duduk disofa saat ini karna kostumnya yang seperti balon.


Shindy memperhatikan Dylan yang sedang berlari keluar kandang.


"sabar ya Max! suamiku orang yang baik". Shindy mengusap-ngusap kepala Max yang masih meringkik kesakitan.

__ADS_1


"sepertinya aku tidak bisa menaikinya hari ini". batin Shindy melihat keadaan kuda liar yang ingin dinaiki olehnya.


Shindy terus saja mengoceh pada Max, entah Max dengar atau tidak, mengerti atau tidak Shindy sendiri pun tidak tau. Shindy berpikir hewan itu mengerti bahasa manusia tapi manusia itu sendiri yang tidak mengerti bahasa hewan.


Max seolah mendengarkannya, Shindy memegang kaki Max lalu meletakkannya di perutnya.


"disini ada anakku Max! sebentar lagi kita sama-sama menjadi seorang ibu" senyum manis Shindy memperkenalkan bayinya.


"sayang? "


Dylan kembali membawa 1 koper yang bisa di tenteng berisi kotak P3K lengkap dari dokter yang dia bawa.


"mas". Cengir Shindy meletakkan kaki kuda itu lagi ketempat seharusnya.


Dylan tersenyum tipis lalu mengecup kening istrinya yang sangat menggemaskan.


Shindy menyeringai lebar, sedangkan Dylan kembali duduk dan membuka koper kecil nya, Dylan menyiramkan anti septik ke kaki Max dan membersihkan kakinya terlebih dahulu.


"lukanya cukup dalam Max hingga bisa menembus sepatumu! jadi jangan menangis ya kalau mau aku cabut besi yang tertancap di kakimu". peringatan Dylan


Dylan meletakkan sebuah kain dimulut Max untuk di gigit Max, Max kuda yang sangat pintar hingga membiarkan Dylan memberinya kain itu supaya dirinya bisa menahan rasa sakit nya saat besi yang menancap di kakinya bisa tercabut.


"iiiinnngggghh" ringkikikan pilu Max membuat Shindy ikut menangis seperti merasakan perasaan si kuda.


Dylan tersenyum puas besi sepanjang 15 CM itu berhasil keluar dari kaki Max.


Dylan mengobati kaki Max hingga membalutnya dengan perban, menunggu keadaan hewan itu pulih Dylan menyuntikkan obat penghilang nyeri, sebagai mantan jendral muda dia bisa melakukan apapun.


"sudah biarkan dia istirahat sayang! kita akan menunggunya diluar". pinta Dylan


Shindy menggeleng-geleng kepalanya sambil memeluk Max dengan erat, Dylan menjatuhkan rahangnya melihat Shindy tanpa segan tidur di tumpukan jerami yang menjadi tempat tidur kuda.


"sayang? "


"aku mau disini" rengek Shindy


"baiklah! jangan kemana-mana, aku akan bicara dengan Niko dan yang lainnya untuk izin bermalam disini"


Shindy terkejut lalu mengangguk-ngangguk senang saat Dylan bilang akan tidur disini malam ini.


.


.


Dylan kembali dan melihat Shindy tengah tertidur dengan kostum besarnya yang terlihat menggemaskan.


"apa. kamu nggak panas sayang? " gemas Dylan mencium kening Shindy.


baik Dylan dan Shindy tertidur di kandang kuda, bedanya Shindy tidur di leher Max dan Dylan tidur di bawah perut Max.

__ADS_1


suara ringkikikan Max membangunkan sepasang suami istri itu.


"Max? " Seru Dylan dan Shindy kompak.


Dylan mendekati Max begitu juga Shindy yang tak juga melepaskan kostum anehnya sejak kemarin sore, entah mengapa Shindy membiarkan saja tubuhnya memakai kostum itu.


"mas? kamu tidur disini juga mas? " Shindy melihat ke Dylan yang tampak sangat tampan dengan muka khas bangun tidurnya.


"aku harus menemanimu dan memeriksa keadaan Max"


dengusan Max membuyarkan pembicaraan mereka, Shindy terkekeh geli saat Max menduselkan kepalanya di wajahnya.


Dylan menjitak kepala hewan besar itu. "duduk! aku harus memeriksa kakimu untuk memastikan ada infeksi atau tidak"


Seolah mengerti kuda putih yang di cap liar itu hanya mengangkat kakinya yang terluka tanpa duduk hingga Dylan menjatuhkan rahangnya, dan Shindy terkejut melihatnya.


"mas? aku mau melihara Max mas! dia sangat pintar" pinta Shindy


"iya sayang! aku akan urus surat adopsinya" Dylan tentu tidak akan menyia-nyiakan hewan pintar seperti Max


setelah melakukan pemeriksaan lalu mengganti perbannya, Dylan keluar mencari makanan untuk istrinya makan dan memberi Max makan juga.


"bagaimana keadaan Kuda liar itu tuan? " tanya Niko khawatir.


"baik! aku sudah mengobatinya! dia sedang bermain dengan istriku" ujar Dylan sambil meninggalkan semua pekerja kuda yang tengah menganga tak percaya.


makin terbelalak saja semua pekerja kuda mendengar ringkikan Kuda liar dan gelak tawa Shindy dari dalam kandang Kuda. selama ini tidak ada yang bisa menjinakkan kuda liar itu tapi Dylan dan Shindy bisa mengambil hati Kuda itu hanya sekali pertemuan.


.


.


ke esokan paginya Dylan dan Shindy menaiki Max hingga semua orang tercengo-cengo dengan wajah bodoh.


"kami akan ke sungai untuk mandi! sudah 2 hari kami tidak mandi karna Max melarang kami" kata Dylan


tak ada yang bisa berbicara hanya mengangguk-ngangguk patuh dengan raut wajah tak percaya.


Max berjalan tenang membawa Dylan dan Shindy diatasnya. Shindy terus saja mengelus surai cantik Max sambil tertawa riang keinginannya tercapai bisa naiki kuda liar, Dylan tersenyum saja dibelakang Shindy sambil mengelus kepala Shindy dengan gemas.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2