Sikembar Sang Penguasa 2

Sikembar Sang Penguasa 2
bertahanlah


__ADS_3

Dylan menendang pintu rumah Yuni hingga semua yang ada di dalam berdiri dengan marah tapi melihat siapa pelakunya mereka tertegun dan bulir-bulir keringat mulai menetes di pelipis mereka.


Alexa berusaha terlihat tenang karna ia tidak akan menyerah menjatuhkan Shindy,


"rasakan itu wanita pembawa sial! aku senang kau akan menderita dihina satu negara dan sekarang tuan Dylan akan meninggalkanmu... ahahaha". batin Alexa begitu percaya diri


Dylan menendang sofa di samping Yuni hingga terlempar mengenai dinding, kekuatan Dylan sungguh di luar nalar manusia karna seperti ada kekuatan supernya tersendiri


"berani sekali kalian menjelekkan nya? apa kurang cukup kalian menghancurkan hidupnya hah? ". marah Dylan melempar lagi vas bunga tepat dikaki Alexa hingga Alexa berteriak kaget


"t tuan? dia hanya anak pembawa sial ! kami tidak menghancurkan hidupnya".bela Yuni dengan aktingnya yang memukau.


Yuni dan Joko sudah tau kalau Shindy memiliki hubungan dengan Dylan karna di ceritakan oleh Alexa, awalnya tidak percaya tapi di jelaskan dengan rinci oleh Alexa membuat mereka percaya dan tidak menyangka Shindy memiliki daddy sugar setampan Dylan.


"Ciiuuuh...!! " Dylan meludah kesamping.


"jangan berlagak manis didepanku! aku menyesal tidak mengurus kalian sejak dulu "


"sekarang terimalah hukuman kalian karna membuat gadisku menjadi hujatan satu negara".


Dylan memberi peringatan tegas lalu balik badan


"dia hanya pembawa Sial tuan? kenapa anda menerimanya? anda hanya akan ikut sial karna nya! dia tidak pantas bersama anda hanya saya yang pantas Alexa tuan hanya Alexa yang pantas bersanding dengan anda dipelaminan" teriak Alexa dengan menggebu-gebu.


Dylan menoleh tanpa balik badan ia berkata


"dia adalah istriku dan hanya istriku yang pantas jadi teman dudukku di bangku pelaminan "


"APA? ??".teriak Joko dan Yuni terbelalak


Alexa terkulai lemas.


"aku memaafkan kalian karna dirinya yang selalu mengatakan hanya sendirian di dunia ini tapi kalian berhubungan darah dengannya.. karnanya aku membiarkan kalian hidup walau dengan bantuan Branz! tapi kalian masih serakah jadi terimalah imbalanku "


"tidak ada ampunan sama sekali".


Dylan meninggalkan tempat itu lalu menendang pintu rumah hingga terlepas.


"manusia seperti kalian tidak pantas hidup di rumah mertua ku bersiaplah aku akan mengambil rumah ini dan memberikannya pada istriku".


Dylan pergi dari rumah itu, sementara Yuni dan Joko mulai uring-uringan memikirkan rumah ini yang akan di rebut oleh Shindy.


"tidaaaaakkkk...!! kenapa dia jadi nona muda Melviano? hanya akuuuu.. akuuu... sialan kau Branz kenapa kau pakai mati segala? hah? kenapaaaa??? lalu siapa yang akan membantuku? siapaaaa?? "


"diammm!! ". teriak Joko


Alexa menggeram marah mengingat apa yang dimiliki Shindy saat ini.


"aku ingin menjadi istri tuan muda Melviano pa.. aku yang pantas menjadi menantu melviano bukan si pembawa sial ituu". teriak Alexa tak terima dibentak.


"diam Alexa! sekarang fikirkan bagaimana tempat kita tetap aman". bentak Yuni juga


"mama sama papa kenapa tidak membelaku hah? ".


"nanti itu dibahas sekarang yang pantas dibahas hanya rumah ini! mama dan papa tidak mau jadi gembel ". jelas Yuni dengan marah juga.

__ADS_1


"aaaaaakkkkh...! ". teriak Alexa frustasi hingga Yuni dan Joko makin meneriaki nya


Alexa berlari menaiki tangga dan masuk kamarnya, ia membanting pintu dengan keras didalam kamar ia berteriak marah saat tau Shindy adalah istri Dylan


"aku yakin dia akan makin dikenal dunia karna dia adalah istri tuan muda melviano! sialan kenapa wanita itu bisa memikat tuan muda? kenapa aku tidaaakkk!!"


kekacauan terjadi di rumah Joko dan Yuni,


.


.


Shindy menunggu suaminya di pintu mondar-mandir gelisah.


"kenapa Mas Dylan belum kembali? katanya akan kembali kok belum datang? ".


senyum Shindy merekah sempurna melihat sosok yang ia rindukan sudah ada di hadapannya.


"mas? ". senyum manis Shindy


"apa kamu baik-baik saja? ". tanya Dylan


Shindy mendekati Dylan dan memeluk Dylan dengan semangat, Dylan tertegun ia mulai mengusap punggung Shindy yang tengah bahagia.


"kenapa matanya terlihat berbinar? apa yang membuatnya senang? apa dia tidak lihat berita saat ini yang tengah membicarakannya? tapi tadi dia menyebut Branz ! ada apa sebenarnya ini? ".batin Dylan menebak-nebak.


"kamu lihat berita hari ini? " tanya Dylan memastikan kebenarannya.


"iya mas! aku sampai takut keluar kamar karna malu dengan keluargamu".


Dylan menarik nafas panjang


"maafkan aku mas! aku sudah biasa menghadapi ini tanpa memikirkan perasaan orang lain tapi sekarang aku harus menjaga perasaan keluargamu aku takut mereka salah faham karna berita itu tapi aku juga tidak berani menemui mereka semua mas".


Dylan melepaskan pelukannya lalu membawa Shindy ke ranjangnya.


"aku buatkan makanan ya? ". bujuk Dylan


"tapi kamu baru aja kembali mas! nggak usah mas" tolak Shindy


Dylan mengusap kepala Shindy.


"bertahanlah 1 hari ini! aku akan mengatasi masalah ini ".


Shindy tersenyum lebar matanya berkaca-kaca mendengar perkataan Dylan yang seperti senjata ampuh menguatkan Shindy saat ini


"aku tidak mengenal Brans mas! sungguh?".


Dylan mengangguk dengan senyum tipisnya,


"benar ya mas? aku takut kamu marah dan percaya sama berita".


"jangan difikirkan! aku akan kembali membawakanmu makanan".


Shindy melihat Dylan yang sudah tidak terlihat lagi,

__ADS_1


"aku ingin kamu mencintaiku mas! kita saling mencintai dan memiliki keturunan". gumam Shindy dengan angan-angannya yang sangat tinggi


Dylan kembali membawa nasi beserta sayur-mayurnya.


"makanlah".


"mas udah makan? ". tanya Shindy


Dylan mengangguk sebagai jawaban.


"kalau begitu mas mandi dulu aku siapin ya? ".


Shindy hendak bangkit tapi Dylan mencegahnya.


"istirahat saja aku mandi sendiri".


Shindy bukannya terlihat senang malah murung hingga Dylan menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"ya sudah siapkan sana di bathup aku ingin berendam setelah itu kamu harus makan"


Shindy mengangguk-ngangguk patuh lalu berlari senang ke dalam kamar mandi Dylan.


"kenapa dia begitu riang saat 1 negara menghujatnya? ". gelengan kepala Dylan


Dylan bisa melihat pancaran mata Shindy yang terlihat berbeda tidak seperti dulu yang terlihat rapuh dan kesepian.


.


.


"mas? mas mau makan apa? ". tanya Shindy tersenyum lebar.


Dylan menggeleng kepalanya pelan.


"aku ingin tidur saja"


Shindy dengan cepat berbaring di ranjang lalu menepuk pahanya, Dylan menaikkan sebelah alisnya.


"tidurlah disini mas !" pinta Shindy


Dylan dibuat heran dengan tingkah Shindy tapi membaringkan juga tubuhnya di tempat yang disediakan Shindy, Dylan merebahkan kepalanya di pangkuan Shindy.


"tidurlah mas ! aku akan tetap disini ". Shindy mengusap kepala Dylan dengan lembut dan penuh kasih sayang.


hanya sebentar Dylan tertidur di pangkuan shindy yang memiliki aroma yang sangat khas menenangkan hati dylan.


lama kelamaan Shindy juga ikut mengantuk,,


tengah malam Dylan tersentak saat dirinya bangun ada di perut Shindy sementara Shindy tidur terlentang tanpa bantal.


Dylan melihat jam tangan dan cukup membuatnya terperangah bisa tidur cukup lama di pangkuan Shindy.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2