Sikembar Sang Penguasa 2

Sikembar Sang Penguasa 2
jadi penulis


__ADS_3

Dylan langsung duduk di depan komputer lalu meregangkan jemari tangannya.


Dylan langsung mengotak-ngatik komputernya menatap jeli setiap CCTV yang ada di aula pesta tak butuh waktu lama bagi Dylan menemukan dalangnya.


Dylan mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Bagus.


"iya tuan muda". sahut Bagus to the point,


"aku mau kau cari tau data pribadi Ria amelia buat dia pecat lalu tidak di terima di manapun dan tarik semua saham di perusahaan yang membantu si Willy ancam mereka dengan cara apapun buat perusahaan si tua bangka itu hancur dalam semalam".


"baik tuan muda". jawab Bagus tanpa bertanya apapun.


dylan mematikan panggilannya seperti biasa dan menatap tajam 2 manusia yang bekerja sama hendak menyakiti istrinya.


"aku akan hancurkan kalian tanpa tersisa karna sudah berani mengusik milikku". Dylan mengepalkan tangannya dengan raut wajah dinginnya yang tidak tertebak.


hati Dylan panas tapi otaknya masih bisa berpikir jernih beruntung Shindy tidak terperangkap oleh siasat busuk Willy.


"jika Shindy tidak memanggilku saat dia merasakan gejala itu kalau tidak mungkin pria tua ini sudah membawa kabur istriku yang sedang dalam pengaruh obat".


.


.


ke esokan paginya Shindy terbangun memegang kepalanya yang terasa sakit.


"kepalaku sakit sekali". ringis Shindy dengan mata terpejam seketika bayangan dirinya pusing setelah minum segelas air merah pemberian pelayan.


Shindy membuka matanya dengan lebar dan jantungnya yang terasa berhenti tadinya berdetak kembali mengenali tempat itu.


"mas? mas Dylan? ".


Shindy memanggil Dylan dengan panik


Shindy beranjak dari ranjangnya sambil memegang kepalanya yang masih terasa berdenyut.


"mas? "


"iya sayang? aku di dapur". saut Dylan


Shindy berjalan sempoyongan tanpa alas kaki,


Dylan mematikan kompor listriknya dan mengangkat tubuh Shindy duduk di westafel terdekatnya.


"gimana? masih sakit? ". tanya Dylan merapikan rambut Shindy


"mas tadi malam yang tidur sama aku kan? ". tanya Shindy dengan serius menatap lekat suaminya.


Dylan mengangguk.


"kamu beruntung selamat dari jebakan Willy sialan itu".


"Willy? pria tua saat kita hadir ke acara pesta di kota P? ". tanya Shindy terdiam beberapa saat memikirkan siapa Willy.


Dylan mengangguk lagi sambil merapikan tali jubah yang membungkus tubuh polos istrinya.


"aku minta maaf karna ceroboh mas! awalnya aku curiga tapi pelayan itu memberi yang lainnya minuman yang sama jadi aku menghilangkan fikiran negatifku pada pelayan itu".


"aku sudah membereskan mereka aku harap kamu berhati-hati kedepannya sayang!"


Dylan mengusap wajah Shindy yang terlihat terlalu banyak berfikir.


Shindy mengangguk-ngangguk langsung memeluk tubuh suaminya dengan erat.

__ADS_1


"terimakasih mas udah menolongku kalau tidak aku pasti bisa gila mas"


"sssttt... aku yang membuatmu seperti itu sayang! jika saja aku tidak melibatkanmu mungkin kamu tidak akan bertemu dengan penjahat kelamin itu! "


"aku akan kebiri ekor depannya jika aku bertemu lagi dengannya". Shindy berkata dengan serius


Dylan tersenyum lucu.


"hmm! kamu makan ya? hilangkan efek mabuk mu terlebih dahulu". .


Dylan dengan sabar menyuapi istrinya untuk sarapan.


"bagaimana dengan mommy mas? apa mommy tau keadaanku? ". tanya Shindy


"tidak! keluarga kita tidak tau sedikitpun aku juga sudah menutup mulut semua orang yang hadir di acara pesta tadi malam". jelas Dylan


Shindy menghela nafas lega


"maafkan aku yang membuatmu hampir malu karnaku mas"


Dylan tersenyum lembut.


"aku tidak heran lagi dengan tingkahmu saat mabuk dan tidak sama-sama ganas"


Shindy tersenyum canggung dengan pipi memerahnya.


"kita pulang dan setelah sampai di mansion aku harap kamu harus di dalam kamar saja sayang! aku mau kamu menonton berita di TV saat di kamar kita ya? ".


Shindy mengangguk malu-malu.


"apa aku boleh menjadi seorang penulis mas? "


"penulis apa? ". tanya Dylan


"Novel Online? apaan itu? aku kan sudah bilang kamu tidak boleh bekerja sayang".


Shindy tersenyum lebar.


"cuma modal HP dan internet doang mas! aku mau mengabadikan moment kehidupan kita dan impian aku juga mau cerita kita di terbitkan dalam buku cetak "


"bagaimana cara kerjanya? ". tanya Dylan


Shindy menjelaskan cara kerja jadi penulis novel online.


"kamu yakin sayang? ". tanya Shindy


"aku yakin mas! aku bosan kalau di dalam kamar terus walaupun senang menonton begituan tapi aku yakin bisa menulis kisah kita ! ya Mas? aku mohon boleh ya? beri aku izin memakai namamu ya mas? "


"namamu juga". perintah Dylan


Shindy tersenyum lebar.


"aku akan beri nama ku Nindy dan kamu mas hmmm? Dika dari nama panjangmu Mahardika aku tidak mau namamu jadi booming karna aku yakin Novel aku akan melejit pesat"


Dylan mengetuk-ngetuk gemas kening Shindy.


"percaya diri sekali kamu Ndy"


"tentu saja aku percaya diri mas! kisahku harus di bukukan biar bisa aku peluk dan aku baca tiap detik tanpa pake data internet"


"kalau tidak dibukukan? ". tanya Dylan


"aku memintamu untuk menerbitkan novelku mas! aku sangat yakin kamu bisa melakukan apapun untukku iyakan? ".

__ADS_1


Dylan tertawa kecil mendengarnya dan mengusap kepala Shindy dengan gemas.


"mandi sana! aku bisa saja membuka jubah mandimu dan....? "


"dan? ". goda Shindy mengerjabkan matanya dengan lucu.


Dylan dengan cepat mengalihkan pandangannya.


"jangan menggodaku sayang! aku harus bekerja pagi ini juga" desis Dylan


Shindy menatap serius suaminya.


"aku ikut"


"kamu yakin? apa kepalamu tidak sakit lagi? ".


Shindy menggeleng kepalanya.


"nanti kalau udah jam istirahat kita melakukannya ya? aku kangen kamu mas"


"tadi malam kamu memperk*sa ku beberapa kali sampai kamu pingsan kelelahan apa kamu tidak ingat ? ". Dylan menjitak pelan kening Shindy


walau pelan Shindy tetap meringis mengusap keningnya.


"mana aku ingat mas". desis Shindy dengan bibir mengerucut.


.


.


Shindy di bawa ke perusahaan mattgroup.


"sana masuk!! jangan keluar sampai aku masuk ya sayang? ". Dylan membuka pintu rahasia di ruangannya.


Shindy mengecup pipi Dylan lalu berlari riang masuk ke kamar rahasia suaminya. Dylan tertawa dengan tingkah Shindy lalu menutup pintunya raut wajah Dylan berubah dingin sambil berjalan keluar ruangannya.


Shindy membuka ponsel barunya yang dibelikan oleh suaminya tadi.


Shindy mendaftarkan semua aplikasi barunya, setelah semuanya selesai Shindy menghapus aplikasi di hp lama karna memorinya hampir penuh.


"okeh aplikasi novel online nya di hp ini aja". Shindy hanya menyisakan 1 aplikasi Novel online kesukaannya.


hari-hari Shindy dulu sangat sepi dan tidak punya apapun disaat tidak ada siapa-siapa di hidupnya hanya aplikasi novel online itu saja yang menemaninya.


"apa judul yang bagus ya untuk Novel baru aku? ". gumam Shindy berpikir serius.


"hah? Tuan Aroganku ". senyum manis Shindy menemukan judul yang sesuai.


Dylan sibuk dengan pekerjaannya yang mengadakan rapat penting seluruh pemegang saham dari perusahaan lain demi menjatuhkan 1 perusahaan yang sudah berani mengusiknya.


"aku tidak main-main ! jika kalian membantu nya walau hanya 1000 rupiah saja aku akan menghancurkan kalian ! dan ingat jangan terima wanita itu bekerja di manapun itu"


Dylan menunjuk layar infokus dimana ada potret Ria Amelia seorang pelayan yang berani mencelakai istrinya.


tidak ada yang berani berkomentar setiap kali Dylan berbicara, mereka hanya diam mendengarkan


tentu mematuhi tidak ada yang berani melawan penguasa Melviano itu


diusia Dylan yang sangat muda sudah menjadi Jendral perang yang ditakuti jendral dari negara manapun bahkan kemampuan pasukan khusus Dylan pun sangat setara dengan kemampuan jendral musuh jadi tidak heran setiap kali mereka perang pasukan Dylan selalu kembali dalam keadaan baik-baik saja walau terluka setidaknya masih selamat.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2