Sikembar Sang Penguasa 2

Sikembar Sang Penguasa 2
di kunci


__ADS_3

Shindy memelas melihat Dylan,


Dylan yang sudah tau keadaan Shindy yang tidak bisa berkata-kata lagi pun menghela nafas panjang. ia sudah tau semua akan begini tapi desakan Kaira dan Mely membuatnya terpaksa membawa Shindy.


Shindy berbisik di telinga Keyzo.


"Kenapa kamu memanggilku begitu? bagaimana kalau orangtua mu salah faham? ".


Keyzo pura-pura tidak mendengarnya malah melebarkan senyum menawannya,


"kakak ipar mana kak Dylan? ". tanya Keyzo membuat Shindy memejamkan matanya dengan bibir komat-kamit memanjatkan doa


semua yang melihat tingkah Shindy tertawa lepas, Shindy membuka matanya dan merutuki kebodohannya lupa sedang berada ditengah-tengah keluarga Dylan.


"imutnya". Gemas Nova dan Kaisha kompak.


"sudah.. sudah diajak makan kakak ipar kalian". Kaira juga ikut-ikutan larut dalam drama kakak ipar Keyzo.


"ayo kak". ajak Nova dan Kaisha


mereka merangkul Shindy meninggalkan tempat itu,


"apa dia gadisnya dylan mah? ". tanya Matt tiba-tiba


"iya pah.. cantikkan? ". jawab Mely


"Kaira suka mah pilihan Dylan". seru Kaira


"Aku juga setuju sayang! matanya terlihat tidak serakah sama sekali ". timpal Pasha


"itu sebabnya Keyzo memanggilnya kakak ipar mom dad.. ". keyzo ikut-ikutan bicara melerai kemesraan Pasha dan Kaira


"hei.. anak nakal..! " Pasha malah menuding putranya yang berani merebut pujaan hatinya.


Keyzo menjulurkan lidahnya, sedangkan Kaira menggeleng-geleng kepalanya dengan perdebatan ayah dan anak itu memperebutkannya.


"lepaskan..! mommy mu milik daddy". Pasha memeluk Kaira dari arah samping


"Mommy milik kami" Keyzo merangkul Kaira dengan posesif.


"hei.. kamu cari gadis lain yang bisa kamu cap jadi milikmu". Pasha dan Keyzo asik berdebat tanpa sadar Kaira telah meninggalkan mereka yang masih asik berdebat.


"tuan? bagaimana cara anda menjelaskan semuanya? ". tanya Bagus basa-basi


Dylan memasang wajah datar nya


"apalagi..? mommy dan Granma pasti akan mencoba berbagai cara supaya kami memang benar-benar memiliki hubungan seperti yang mereka harapkan"


Bagus mengangguk membenarkan.


"kenapa anda harus melibatkan nona Shindy tuan? ".


"dia sudah terlanjur masuk dalam masalah ku jadi sekalian saja dia terlibat" jawab Dylan dengan enteng.


"tapi anda tidak mencintainya kan? ".


"hmm.. biarkan saja apa pentingnya cinta itu? kita buktikan saja apa dia memang kelemahanku".


Dylan terlihat acuh tapi dia tidak bisa melupakan kata-kata Kaira yang mengatakan laki-laki hebatpun punya kelemahan.

__ADS_1


"sepertinya nona Shindy gadis yang baik tuan". tutur Bagus.


"hmm..! tapi aku yang membuatnya akan berada dalam bahaya kedepannya.. aku merasa bahaya akan datang mengintainya".


Bagus tersentak mendengarnya, ia tau insting Dylan sangat kuat Bagus percaya dengan firasat Dylan yang tidak pernah meleset sedikitpun.


"lalu anda harus bagaimana tuan? ". tanya Bagus serius.


"aku harus ada didekatnya kan? lalu apalagi yang harus ku lakukan?".


Bagus tersenyum masam.


"saya kira anda akan menikahinya lalu tinggal bersamanya tuan"


Dylan melebarkan matanya lalu meninju dada Bagus hingga siempunya meringis kesakitan.


"mulutmu adalah harimaumu menerkam kepalamu"


Bagus masih mengusap dadanya, pukulan Dylan sangat kuat tapi karna badan Bagus terlatih ia sudah biasa dengan apapun yang dilakukan Dylan, Bagus tidak pernah jerah bekerja dengan Dylan walaupun Dylan suka menyakitinya.


"lalu anda harus tinggal bersamanya tanpa hubungan apapun? tuan besar 2 bisa marah tuan". bela Bagus masih bisa mengomeli Dylan walau dadanya sakit.


"kenapa aku harus tinggal bersamanya? ". tanya Dylan dengan tajam


"bukankah anda bilang akan melindunginya? artinya anda harus ada saat dia tidur kan? apa tebakan saya salah? ".


Dylan tertegun mendengarnya, ia baru menyadari hal itu tanpa memikirkan perasaan Shindy kalau berada dalam keadaannya seperti itu,


"aku akan melindunginya tanpa harus tinggal bersamanya". ujar Dylan dengan serius.


tak lama kemudian Arabela dan Lexy tiba di kediaman Rani merayakan ulang tahun Regita, acara berlangsung meriah padahal hanya saudara saja tidak ada orang luar sama sekali, bersamaan dengan Ella yang datang bersama orangtua Kaira.


.


"Onty.. Dylan tidur dimana? ". tanya Dylan dengan datar


"biasanya kan kamu tidur diruang tamu! sana keluar ini kamar kakek dan nenekmu". usir Rani tanpa hati.


"dikamar tamu kan ada Shindy Onty minta nenek tidur disana aja biar kakek disini sama Dylan".


"nggak bisa..!!". ucap semua keluarga Dylan serentak.


"kamu mau memisahkan kakek dengan nenekmu ya..? ". Lexy memeluk erat Arabela


Dylan memutar bola matanya dengan jengah,


"siasat macam apa lagi ini? ". batin Dylan dengan malas.


Dylan sudah tau semua orang tengah berkomplot menyatukannya dengan Shindy, bagaimana caranya Dylan mau melawan kalau mommy Kaira nya dan Mely juga ikut campur mengusirnya.


Dylan memutar kepalanya mencari kamar Bagus tapi sepertinya Bagus juga terlibat tidak mau membantu Dylan.


"ck..! mereka semua menjebakku ". desis Dylan memijit pelipisnya dengan datarnya.


Dylan melihat ke ruang tamu ada Keyzo, Pasha, Ramzi, Matt yang tidur memenuhi sofa hingga tidak ada yang tersisa.


Dylan mendengus pasrah,,


"kalau semua pria disini lalu perempuan yang ada dikamar mereka kan bisa bersama-sama dalam 1 kamar.."

__ADS_1


Dylan menarik nafas kesal lalu hendak keluar rumah supaya bisa tidur di mobil tapi sialnya pintu rumah dikunci hingga Dylan tidak bisa keluar.


"Ckk...!! mereka benar-benar berniat menjerumuskanku". decak pelan Dylan.


Dylan terpaksa tidur didepan pintu kamar Shindy tanpa berniat masuk ke kamar Shindy, semua yang mengerjai Dylan mengintip di balik tembok dengan berjejer seperti anak tangga dan terkejut melihat dylan yang tidak masuk karna keras kepalanya itu.


"kan Nova udah bilang mom ! kak Dylan itu keras kepala kayak batu". bisik Nova.


"Dylan itu sepertinya belum menyadari perasaannya masih memikirkan sikap arogannya". bisik Rani.


"dia memang arogan".bisik Ella


"diamlah". tegas Kaira


Kaisha hanya diam melihat kakaknya yang keras kepala, rasanya Kaisha ingin memberikan kamarnya pada Dylan tapi karna mommynya Kaisha bisa apa.


beberapa menit kemudian Shindy keluar dari kamar sambil menguap lebar, ia sangat haus namun dirinya tersandung dengan kaki panjang Dylan.


"aakh!". Shindy tersungkur tapi berkat cekatan tangan Shindy dengan cepat melindungi kepalanya biar tidak terkena lantai ia sudah terlanjur jatuh.


"awwh... ". ringis Shindy


Dylan melihat kakinya lalu segera bangkit menolong Shindy


"maaf..! kenapa kau jalan nggak lihat-lihat? ". Dylan baru aja berkata maaf tapi sekian detiknya malah menyalahkan Shindy yang tak lihat jalan.


Shindy meringis memegang siku tangannya,


"iya tuan saya jalan pakai kaki bukan pakai mata". desisnya dengan sedikit jengkel.


Dylan berdehem ia tau Shindy sedang marah,,


"tanganmu? "


"kenapa tuan diluar? apa tuan tidak tidur dikamar tuan sih ? ". tanya Shindy sudah duduk bersila sama seperti Dylan yang juga ikutan duduk bersila.


"kamarku tidak ada". jawab Dylan.


Shindy tersentak mendengarnya.


"kenapa tuan menyerahkan kamar tuan pada saya? ya sudah tuan tidur dikamar saja biar saya tidur di ruang tamu"


"jika ruang tamu memang kosong apa menurutmu aku akan menunggu disini..? aku mau kembali ke mobil pun tidak bisa.. "


Shindy melihat kiri-kanan


"kenapa tuan? "


Dylan memutar bola matanya lalu menjitak kening Shindy tanpa hati.


"aawwh...! ". Shindy kembali mengusap-ngusap keningnya.


"rumah ini di kunci lah apalagi? ". jelasnya dengan raut wajah kesal


Shindy mengusap-ngusap keningnya dengan alis menyatu.


sementara Kaira merekam aksi mereka yang terbilang manis persis seperti sepasang suami istri yang sedang berdebat.


.

__ADS_1


.


__ADS_2