Sikembar Sang Penguasa 2

Sikembar Sang Penguasa 2
ketahuan


__ADS_3

Shindy selesai mengobati kakinya, ia melihat sebentar kakinya yang sudah terbalut perban.


"jadi lebih baik". batin Shindy tersenyum tipis.


"kau mengingat semuanya ? ". tanya Dylan melihat ke arah Shindy serius.


"iya tuan". jawab Shindy yakin.


"t tuan? " panggil Shindy ragu-ragu.


"hmm? ". dibalas deheman oleh Dylan


"hutang saya benar-benar lunas 50% kan? ". tanya Shindy memastikan.


Dylan mengangguk dibalas raut wajah tanda tanya oleh Shindy


"kenapa dia tidak bicara..? ". batin Shindy gelisah.


Dylan yang tau dari raut wajah shindy menghela nafas panjang.


"aku seorang pria sejati,, pria sejati selalu memegang kata-katanya ! kalau aku bilang lunas 50% setelah kau menjalankan tugas pemberianku artinya benar begitu..! puas...?"


Shindy tersenyum lebar, lalu menunduk hormat guna menghargai sosok pria didepannya.


Dylan mengibas-ngibaskan tangannya pertanda dirinya mengusir Shindy.


.


.


Shindy ada di kamarnya dan melihat ke arah jendela kaca kamarnya,


"waah... tempat ini juga ramai ya? ". gumam Shindy dengan mata berbinar melihat lampu disetiap sudut kota P dari lantai teratas posisi Shindy saat ini.


ia menggenggam catatan buku hutangnya ke Dylan yang sudah lunas separuh.


"tapi kamar ini nggak termasuk hutang kan? ". gumam Shindy teringat kamar yang ia tempati kini


"nggak.. nggak.. tuan muda yang memintaku bekerja bukankah seharusnya itu tugas bos? ". ocehnya sendiri.


sementara Dylan sedang berbincang dengan bagus yang menginap di kamar sebelah,


"jadi ingat hari presentasi 1 bulan lagi, kau harus menyuruh tim penyusun dokumen presentasi untuk mengganti semua dokumen presentasi kita yang sudah di copy paste 50% oleh Willy ..! dan cari penghianat di perusahaan ".


Bagus mengangguk-ngangguk mengingat tugasnya.


"bagaimana tuan bisa tau kalau tuan willy mengambil ide kita tuan? ".


"saat dia bilang punya sesuatu untuk menjatuhkan kita". Jawab Dylan dengan tenang.


Bagus mengingat saat Dylan menerima panggilan telfon yang mengatakan willy punya kartu As untuk menjatuhkan perusahaan Dylan, alhasil Dylan tak punya pilihan selain harus ikut undangan pesta milik Willy di kota P ini demi mendapatkan apa yang ia curigai.


"bagaimana jika tuan willy balas dendam pada nona Shindy tuan? ". tanya Bagus tiba-tiba.

__ADS_1


Dylan diam sebentar memikirkannya.


"berarti aku harus melindunginya kan? aku yang melibatkannya..! ".


"itu sebabnya anda mengikuti permainan nona Shindy untuk membalas perlakuan nona Alexa yang telah menyakiti nona Shindy tuan? ". tebak Bagus.


Dylan menatap bagus dengan datar. Bagus tersenyum lebar lalu menunduk sopan izin berlalu dari Dylan dengan alasan tubuhnya sudah lelah butuh istirahat.


Dylan menghembuskan nafasnya dengan kasar, ia hanya mengikuti insting kemanusiaannya, bukan karna memiliki perasaan khusus pada Shindy.


.


.


ke esokan paginya mereka berangkat pagi-pagi dari bandara SSQ menuju bandara SH,


Shindy diantar ke rumah Dylan yang menjadi tempat tinggal Shindy saat ini, lalu mobil yang dibawa bagus meninggalkan Shindy yang sudah sampai ke tujuan dengan selamat,


"kita kemana tuan? ". tanya Bagus


"perusahaan". jawab Dylan.


Bagus pun mengangguk mengerti.


Shindy masuk ke rumah nya lalu merebahkan tubuhnya di sofa,,


"uuh... melelahkan juga". Shindy memijit bahunya sendiri dan melepas sepatu nya.


"boleh deh tidur sebentar". Shindy meluruskan kakinya lalu mulai berbaring di sofa hendak tidur.


.


.


baru aja Dylan tiba di perusahaannya, Dylan dapat panggilan masuk dari Kaisha.


"tunggu sebentar Bagus". ucap Dylan


Bagus mengangguk patuh tetap diam di bangku kemudi.


"iya.. ada apa dek? ". tanya Dylan to the point.


"kakak dimana? ". bisik Kaisha


Dylan mengerutkan keningnya mendengar suara aneh adiknya.


"kenapa? ". tanya Dylan


"mommy sama Daddy, granma dan granfa udah pulang..! mereka mencari kakak dan... itu.. hmmm?" bisik Kaisha kebingungan menjelaskan masalahnya saat ini.


"apa? bukankah mommy tau kakak bekerja? ". tanya Dylan dengan acuh.


"iissh.. kakak.. kalau itu 1 negara pun tau". gerutu Kaisha

__ADS_1


"lalu apa masalahnya? ". tanya Dylan tak mengerti.


"mommy tau ada perempuan yang menginap di kamar tamu..! sekarang mommy dan granma ada disini mau mengintrogasi kami kak! kami nggak akan bilang apa-apa...! cepatlah datang kak". bisik Kaisha lalu mematikan panggilannya secara sepihak


Dylan memijit pangkal hidungnya seketika, ia juga tak mengira kedua orangtuanya kembali begitu cepat belum cukup 30 hari atau 1 bulan penuh..


"ada apa tuan? ". tanya Bagus penasaran


"keluargaku kembali ". jawabnya cepat.


"bukankah itu hal baik tuan? kenapa anda terlihat tak tenang? ". tanya Bagus lagi


"ck... mereka itu sangat jeli akan sesuatu.! jadi mereka tau ada yang pernah menginap di kamar tamu padahal aku sudah menghapus jejaknya".


Bagus menahan tawanya sekuat tenaga.


"kau mau mati? apa perlu ku hilangkan tawamu yang menyebalkan itu? ". ancam Dylan dengan tajam.


Bagus mengatup bibirnya rapat-rapat, sekuat tenaga ia menahan bibirnya untuk tak melengkung sempurna alias tertawa.


di mansion Melviano..


Kaira mengintrogasi ketiga anak-anaknya yang bersikukuh tak mengatakan apapun


"sudahlah nak kamu tau sendiri kan solidaritas mereka saling menjaga satu sama lain sangat kuat. biarkan Dylan yang mengatakannya sendiri". Matt berkata dengan serius.


"pah.. nggak bisa gitu dong..! Dylan selama ini nggak pernah bawa perempuan dan sekarang membawa perempuan artinya gadis itu masuk ke hati Dylan walau hanya setitik.. pokoknya kami harus menemui gadis itu ! kamu sana pergi masuk kamar". Mely mengomeli suaminya dan mengusirnya masuk kamar untuk istirahat


sementara Pasha hanya diam di belakang Kaira dengan punggung menyandar di dinding.


"kita ke ruang keluarga aja ya..? ". bujuk Pasha mengelus kepala Kaira.


"hubby..! coba kamu tanyakan pada anak-anak kita..! mereka nggak mau bicara". rengek Kaira memelas ke Pasha.


Pasha tersenyum kikuk tak tau mau jawab apa.


"kamu masukkan ke kandang harimau pun mereka nggak akan bicara sayang! kan kamu tau sendiri mereka saling menjaga satu sama lain". jelas Pasha dengan lembut.


"tapi aku mommy mereka..! kenapa mereka nggak mau terbuka padaku? toh aku nggak akan melukai gadis itu hanya ingin bertemu aja" . rengek Kaira menginjak-nginjak kesal kakinya karna anak-anaknya tak ada yang mau buka mulut.


Pasha selalu gemas dengan tingkah istrinya, padahal anak-anak mereka sudah besar tapi istrinya selalu menggemaskan tiap harinya hingga sampai saat ini Pasha tak pernah berpaling dari Kaira.


Kaisha, Nova dan Keyzo bersimpuh dengan kedua tangan ke atas sebagai hukuman karna mereka tak bisa mengatakan rahasia kakaknya.


"mommy...? ". Dylan memanggil, matanya melihat ketiga adiknya yang dihukum karna tak mau bicara.


"ayo kita ke ruangan granma! ". ajak Mely berjalan duluan.


Dylan mendekati adik-adiknya dan membantu mereka berdiri.


"kamu bilang apa sama mereka sayang? kenapa mereka nggak mau bicara? ". Kaira berkacak pinggang menatap Dylan.


.

__ADS_1


.


__ADS_2