
"mas hapus!! ". Pekik Shindy berusaha mengambil ponsel suaminya di belakang celananya
"apa yang kamu lakukan Ndy? lihatlah semua orang melihat kita". bisik Dylan
Shindy terkejut mendengarnya lalu segera memutar kepalanya hingga ia malu sendiri jadi pusat perhatian.
"maka nya jangan mesum berani pegang-pegang". Dylan mengacak rambut Shindy
"aku ngga mesum mas! aku cari pahala". ralat Shindy
"cari pahala dengan cara lain ".
"aku mau cari pahala yang simpel tapi enak mas". jawab Shindy dengan senangnya memeluk tubuh Dylan meraba-raba dada bidang suaminya.
Dylan memutar bola matanya melihat beberapa orang mulai iri dan memeluk pasangan masing-masing.
Dylan tersenyum kikuk sambil mengusap tengkuknya yang tidak gatal.
"Ndy? main aja dulu ya! tidak usah kayak gini juga". bisik Dylan
"habis meluk mas enak tau, hangat terus nyaman ". Shindy mendusel-dusel kepalanya di belahan dada suaminya.
Dylan diam sambil mengusap-ngusap kepala Shindy membiarkan Shindy memeluknya.
"dari pada begini lebih baik kita ke tempat lain". bisik Dylan demi mengalihkan fikiran mesum istrinya itu.
"iya mas? mau".
Dylan lega mendengarnya ia membawa istrinya ke tempat lain merental Yacht
"mas bisa bawa kapal mas? "
tanya Shindy dengan mata berbinar.
"hmm bisa dan juga ralat kata-katamu ini namanya Yacht". kekeh Dylan
"sama aja yang bisa berkendara di air cuma kapal berarti ini kapal mas".
Dylan hanya mengangguk mengalah biarkan saja Shindy berpikir itu kapal memang kapal tapi jika di dengar oleh orang lain Shindy bisa di tertawai karna menyebutnya Kapal bukan Yacht.
Shindy duduk dengan tatapan kagum melihat suaminya membawa Yacht terlihat begitu gagah dan keren.
"makin sayang deh". senyum manis Shindy
Dylan menoleh ke arah Shindy yang tanpa sadar mengatakan makin sayang.
Dylan menghentikan Yacht nya hingga berhenti tidak bergerak, Shindy menoleh kiri -kanan
"ke kenapa berhenti mas? ". tanya Shindy kebingungan.
"kehabisan bahan bakar". jawab Dylan
"hah? ". wajah bodoh Shindy
" te terus? ". tanya Shindy
"apa lagi? kamu harus isi bahan bakarnya lah" jawab Dylan dengan enteng.
"i iya aku tau tapi disini nggak ada tempat pengisian bahan bakar untuk kapal mas". jawab Shindy mulai gelisah tak karuan
Dylan menahan tawanya sekuat tenaga melihat wajah Shindy yang terlihat panik ia menarik tangan Shindy hingga masuk ke sebuah kamar.
"m mas? kenapa dibawa kemari? kapalnya gimana? masa kita disini aja karna kapalnya ngga bisa jalan". protes Shindy tidak mengerti maksud Dylan membodohinya
Dylan menarik pinggang Shindy hingga merapat ke tubuhnya dan ia langsung mendaratkan bibirnya di bibir Dylan.
Shindy melebarkan matanya persekian detiknya matanya menyipit karna senang lalu melingkarkan tangannya di leher Dylan
__ADS_1
sebuah kecupan lama kelamaan menjadi ciuman manis tanpa ada nafsu di dalamnya, Shindy sampai terbuai dengan cara Dylan menciumnya tentu membalas ciuman memabukkan itu.
"hmmm? tangkinya sudah penuh" senyum tipis Dylan mengelap bibir Shindy lalu meninggalkan Shindy yang langsung terduduk lemas di ranjang yang ada didekatnya.
"mas? apa kamu balas dendam padaku? ak aku suka dengan caramu menciumku ! mas? aku mau lagi". rengek Shindy tapi Dylan sudah meninggalkannya hingga Shindy merasakan Yacht sudah bergerak.
Shindy memegang kakinya yang terasa lemas
"cuma di cium mas Dylan aja kakiku langsung lemas gimana kalau lebih? ".
Shindy menatap tajam pintu keluar Dylan tadi.
"awas aja mas Dylan! nanti malam aku babat habis".
Shindy bertekat menggoda Dylan nanti malam harus berhasil dan jangan ada halangan lagi.
sementara Dylan yang sedang membawa Yacht nya tersenyum begitu tampannya meraba bibirnya untuk pertama kalinya berciuman dengan perempuan dan Firstkiss nya itu adalah gadis mesumnya sendiri.
"bibirnya manis sekali". gumam Dylan senyum lebarnya.
"mas? ".
Dylan langsung merubah wajahnya jadi datar dan tenang,
"hmm? ". sahut Dylan
"mau lagi". rengek Shindy
Dylan melirik Shindy sekilas lalu tersenyum tipis nyaris tak terlihat.
"mas? ". rengek Shindy duduk di pangkuan Dylan.
Dylan tidak terkejut lagi dengan keberanian Shindy karna ia tau istrinya itu mesum dan suka sekali menggodanya.
Dylan menghentikan lagi Yachtnya lalu hendak berciuman dengan Shindy tapi dengan tak tau malunya perut Shindy berdemo hingga Dylan menertawai perut Shindy.
muka Shindy memerah karna malu
shindy mengomeli perutnya sendiri hingga Dylan tertawa dengan bahu bergetar-getar.
Shindy membawa makanannya mendekati Dylan
"apa? ". tanya Dylan
"makan". jawab Shindy dengan enteng malah menyuapi suaminya makan terlebih dahulu.
"bukankah perutmu yang berbunyi? kenapa malah aku yang disuapi? ".
"mas adalah suamiku jadi mas harus makan duluan baru aku mau makan". jawab shindy dengan serius.
Dylan tertegun mendengarnya.
"kamu malah mementingkanku terlebih dahulu? "
"tentu saja! mas sangat baik padaku selalu saja membuatku bahagia jika suatu saat mas tidak punya uang aku akan tetap bersama mas walaupun tidak kaya lagi". jawab Shindy
Dylan menyentil kening Shindy
"bicara tanpa disaring! uangku tidak akan habis 12 turunan aku menghasilkan uang sejak umur 8 tahun menurutmu berapa uang yang aku miliki sampai sekarang? "
Shindy mengerucutkan bibirnya sambil mengusap-ngusap keningnya yang berdenyut.
"aku kan cuma bicara mas". cicit Shindy dengan pelan.
malam harinya Dylan membawa Shindy ke tempat paling terkenal di negara D.
"waah... mas indah sekali". pekik Shindy dengan senang bahkan ia buru-buru memotret keindahan itu.
__ADS_1
"mas nggak lelah seharian ini bawa aku jalan-jalan kayak gini ? ". tanya Shindy beralih ke Dylan
Dylan tersenyum dan menggeleng kepalanya.
"anggap saja hadiah dariku karna kamu sudah patuh dengan kata-kataku".
Shindy tersenyum lebar lalu memeluk Dylan dengan erat, mata Shindy yang tadinya terpejam terbuka dan tak sengaja dirinya bersitatap dengan pria gila yang mengikat sepatunya.
"kenapa pria sinting itu ada disini? ". batin Shindy segera menyembunyikan wajahnya yang di lihat oleh Gine.
Gine tidak sengaja melihat senyum manis Shindy yang terlihat begitu menggemaskan seperti anak kucing manis yang manja pada tuannya hingga ingin sekali tangan Gine mengusap kepala Shindy.
"pantas saja Dylan sialan itu jatuh cinta padanya! ternyata dia punya sejuta pesona". gumam Gine dengan takjub.
Shindy membawa Dylan berkeliling memutari air pancuran indah itu demi mencari tempat paling cocok untuk berfoto ria.
"mas? " bisik Shindy
"hmm? ". sahut Dylan beralih menatap Shindy
"mas percaya sama aku kan? ". tanya Shindy serius
Dylan menautkan alisnya
"jawab aku mas". pinta Shindy
"aku percaya". jawab Dylan serius.
"aku tidak mengenal siapapun di kota pusat mas tau kan? ".
"hmmm.. aku tau". jawab Dylan dengan heran dengan tingkah Shindy
"aku merasa seseorang mengikutiku mas". tutur Shindy dengan hati-hati
Dylan terkejut sesaat.
"apa dia ada disini juga? "
Shindy menautkan alisnya.
"mas tau? "
Dylan mengangguk.
"aku tau dari rekaman pengawal bayangan yang aku suruh menjaga kalian dari jarak jauh"
"benarkah? kenapa dia tidak menolong kami? ".
"aku sedang mencari buronan yang sedang menargetkanmu untuk menghianatiku". bisik Dylan seperti hendak berciuman
Shindy membelalakkan matanya.
"aku akan sunat duluan ekor depannya"
"ekor depannya? ". beo Dylan tak mengerti
"hmmm... ekor depannya biar tidak bisa dapat keturunan". geramnya dengan serius
"enak aja jadikan aku sebagai kelemahanmu akan aku buktikan kalau aku gadis tangguh yang tidak mudah untuk didapatkan jadi aku bisa saja memotong ekor depannya karna berani menilaiku gadis yang mudah untuk di dapatkan " dumel Shindy dengan serius.
Dylan terbahak seketika, Shindy menautkan alisnya melihat suaminya malah menertawainya.
.
.
cieeeh yang nunggu MP? kelamaan ya? bersabarlah say! emang harus di tunda-tunda biar makin greget..
ahahaha.
__ADS_1
.
.