
ke esokan harinya Dylan dan Shindy bersiap-siap pergi ke Rumah sakit.
"hati-hati kakak ipar? ". lambaian tangan Keyzo
Shindy mengangguk sambil tersenyum manis
"kapan mommy kembali dek? " tanya Dylan
"katanya nanti malam kak". jawab Keyzo
"kemana pengantin baru itu? " tanya Shindy celingukan mencari Nova dan Candra.
"palingan masih tidur berpelukan". jawab Keyzo asal.
Shindy mengangguk-angguk lalu Dylan merangkul pinggang Shindy membawanya keluar dari mansion.
.
.
setibanya di Rumah Sakit,
"Tuan? " Kaget Kinan
"apa? kenapa kau begitu kaget? " tanya Dylan dengan malas.
"seharusnya saya yang bertanya tuan..! kenapa anda bisa ada disini? " tanya Kinan balik.
"menurutmu sedang apa seseorang ke rumah sakit? apa mau jalan-jalan? " ketus Dylan dibalas helaan nafas Kinan.
Kinan tidak akan pernah menang melawan anak dari teman baik keluarganya itu.
panjang perdebatan akhirnya Shindy yang menengahi perdebatan mulut antara Kinan dan Dylan.
Shindy dibawa keruangan pemeriksaan, Sekali lagi Gel dingin bermain-main di perut Shindy.
"waah... baby kembarnya pertumbuhannya sangat cepat ya? sangat bagus " Kinan berkata ber antusias.
Shindy dan Dylan melihat arah monitor dan ikut bahagia dengan perkembangan anak mereka yang sangat baik dan cepat.
"kalau begini terus kelahirannya juga pasti cepat! sepertinya calon baby kembar kalian ini sangat ingin cepat keluar dari perut maminya". gemas Kinan
"Nan? " panggil Dylan serius
"Iya tuan? " balas kinan menoleh ke Dylan mengangguk serius mendengarkan perkataan Dylan
"kenapa istriku suka sekali makan? " tanya Dylan membuat Kinan tersedak hingga terbatuk-batuk.
ia tidak menyangka Dylan akan bertanya hal itu padahal Kinan sudah serius mendengarkan ternyata pertanyaannya Dylan hanya pertanyaan konyol.
Shindy hanya diam sambil mendengarkan
Kinan menjelaskan semua yang ia tau tentang kehamilan wanita pada umumnya, menurutnya wajar Shindy banyak makan karna bayinya tumbuh dengan cepat seperti saat ini.
Dylan mendengarkan dengan serius hingga ia tau betapa rakusnya anaknya di perut Shindy tapi bagus untuk perkembangan Janin itu sendiri.
"bagaimana Tuan? apa sudah faham? " tanya Kinan
"hmmm! aku mengerti" balas Dylan mengakui.
__ADS_1
semua penjelasan Kinan memang cukup Dylan mengerti, ia sangat jenius tapi perihal kehamilan itu sama sekali bukan ilmu yang pernah Dylan pelajari sebelumnya ia hanya tau mengobati saja.
.
.
Shindy dibawa keluar dari ruangan pemeriksaan oleh Dylan pergi ke Apotik memesan vitamin untuk sang istri, Dylan tidak bisa meninggalkan sang istri sendirian sedangkan Rilly tidak boleh ikut oleh Dylan sebab mereka akan merayakan hari Unniversarry pernikahan mereka hari ini juga.
"mas? "
"iya sayang? ". sahut Dylan menyibakkan rambut istrinya ke balik daun telinganya.
"perasaan aku ngga enak mas". keluh Shindy
Dylan tertegun, bagaimana bisa Shindy juga merasakan hal yang sama dengannya tapi Dylan berusaha menutupi semuanya supaya Shindy tidak takut, pada kenyataannya Shindy juga merasakan hal yang sama pasti Shindy gelisah.
"lalu kita harus bagaimana sayang? kamu mau kita pulang? " tanya Dylan lembut dibalas gelengan kepala oleh Shindy
"aku ngga takut". senyum manisnya
Dylan mengusap kepala Shindy. "aku akan menjagamu dan 2 Embrio kita sayang".
Shindy mengerucutkan bibirnya hingga Dylan yang gemas mencubit pipi Shindy
"kenapa bibirmu begini sayang? mau aku gigit? " gemas Dylan
"issh.. bukan gitu mas! aku cuma kesal aja masa mas nyebut anak kita Embrio...! ".
Dylan terkekeh. "bukankah dokter Kinan mengatakan itu? aku hanya mengikuti istilah kedokteran mereka saja".
"ya ngga harus bilang Embrio juga mas! pokoknya jangan sebut Embrio lagi..! Baby kita aja". tegas Shindy dibalas anggukan mengerti oleh Dylan.
"kenapa mobil nya mas? " tanya Shindy kebingungan
"sepertinya ada yang ingin menyentuh mobilku tadi" jawab Dylan mengedarkan pandangannya.
mobil Dylan mungkin terlihat biasa saja tapi memiliki kelebihannya sendiri jika ada yang menyentuh mobilnya terutama bagian alat-alat pentingnya akan hidup alarm mobil Dylan.
"apa ada yang berusaha membobol rem mobilmu mas?" tebak Shindy asal.
"biar aku periksa sayang...! kamu tetap di dalam mobil". Dylan membawa masuk istrinya lalu memasangkan seatbelt.
Dylan memeriksa mobilnya dibagian bawah ternyata benar ada goresan di bawahnya dan juga terlihat ada yang tidak beres hingga Dylan keluar dan masuk mobil.
Dylan mengotak-ngatik rekaman mobilnya dan benar saja ada yang hendak mencelakainya dengan Shindy.
"lalu kita harus bagaimana mas? mobilmu bermasalah" Shindy masih tenang hanya saja terlihat bingung dengan acara Unniversarry pernikahan mereka akan tertunda.
Shindy bahkan sudah tidak sabar dengan kejutan yang disiapkan suami tapi harus gagal karna ulah orang gila yang berani mencoba bermain dengan suaminya.
"tunggu disini sayang...! jangan keluar dari mobil ". peringatan serius Dylan
Shindy mengangguk-ngangguk.
Dylan berlari memasuki gedung Rumah sakit, saat Dylan tidak ada para anggota Mafia datang mengelilingi mobil Shindy
Shindy menatap datar mereka semua, "kalian berani sekali merusak mobil suamiku".
Shindy melupakan peringatan suaminya, entah iblis mana yang merasukinya hingga begitu berani keluar sendiri dengan tangan kosong.
__ADS_1
"berani juga ini perempuan".
"wanita nya tuan Melviano hebat juga".
"apa kalian yang merusak mobil suamiku? " tanya Shindy dengan serius
"iya... emang apa yang bisa kau lakukan cantik? " ledek anak buah Mafia itu.
Shindy tersenyum devil tersirat menakutkan,
"lalu terimalah amarahku" seringai Shindy langsung menendang pria satu.
Shindy memutar tubuhnya menendang pria yang lainnya..
tangannya dan kaki Shindy begitu gesit melawan para Mafia itu, entah apa yang merasukinya hingga bisa melawan Mafia bukan preman melainkan Mafia.
bahkan terdengar bunyi retakan tulang setiap saat Shindy melakukan perkelahiannya dengan orang-orang Mafia itu.
dalam hitungan menit Shindy bisa menjatuhkan 10 Mafia yang sedang merintih kesakitan disemen parkiran.
"aaakh"
Shindy dengan kejamnya memijak tangan pria itu.
"aku tidak bawa pistol.. jika bawa matilah kalian di tanganku". sinis Shindy dengan wajah mengerikannya.
para Mafia yang sudah babak belur tidak kuat berdiri karna tulang rusuk mereka hampir semua sudah patah ulah Shindy yang sangat kejam mematahkan rusuk mereka.
sungguh para Mafia itu terlalu meremehkan Shindy, mereka tidak membawa senjata api karna mengira Shindy lemah, namun tak disangka Shindy sangat tangguh .
"sayang? ". Dylan berlari ke arah Shindy dan menangkup pipi Shindy
"ada apa sayang? apa kamu baik-baik saja? " cecar Dylan khawatir.
"aku baik-baik aja mas! merekalah yang merusak mobilmu.. ". tunjuk Shindy dengan entengnya seperti anak-anak menunjuk orang jahat.
Shindy menginjak lagi punggung pria yang tersungkur hingga pria itu menjerit pilu begitu kesakitan saat tulang rusuk yang patah diinjak oleh si pelaku sungguh menyakitkan.
"katakan siapa yang menyuruh kalian? " tanya Shindy dengan kejamnya
"t.. tuan M.. megani " jawab pria itu menjerit kesakitan dan memohon pada Shindy untuk tidak menginjak punggungnya yang terasa mau terbelah dua.
"mas? " Shindy menoleh ke Dylan
"aku tau sayang! lebih baik kita fokus dengan unniversarry kita saja, urusan dia biar aku atasi nanti". Dylan membawa istrinya ke parkiran mobil Kinan.
"mas mobil siapa ini? " tanya Shindy
"Kinan". jawab Dylan
"Kinan bisa bawa mobil mas? apa boleh? "
"tentu saja boleh..! dia seorang dokter muda yang diakui rumah sakit! ayo kita pergi " ajak Dylan mengulurkan tangannya.
Shindy menyambutnya dengan senyum manisnya hingga melupakan kekejamannya tadi. sebenarnya banyak yang ingin Dylan tanyakan tapi ia mengurungkannya karna hari pernikahan mereka jauh lebih penting saat ini".
.
.
__ADS_1
.