Sikembar Sang Penguasa 2

Sikembar Sang Penguasa 2
ikuti Aku!!


__ADS_3

.


.


ke esokan paginya Dylan berangkat ke perusahaan demi mencari tau data penting mengenai Jenny..


"Bagus...? apa kau sudah cari data pribadi Jenny? " tanya Dylan dengan datar.


"sudah tuan". Bagus membuka berkas dokumen hasil pencariannya.


walau hasil pencarian Bagus tidak seakurat Nova tapi kemampuan Bagus boleh juga


"Operasi plastik selama 7 bulan lebih? " Dylan mencerna semuanya.


"iya Tuan... identitas sebelumnya bisa saya lacak, dia adalah buronan polisi di negara kita tuan". jawab Bagus lagi membuka halaman berikutnya dimana wajah Bianka terpampang jelas disana.


Dylan memukul meja, sedangkan Bagus tidak terkejut lagi dengan hal itu.


"dia berani kembali! hanya akan mengantarkan nyawa... ". Dylan berkata dengan sinis.


"apa kau menemukan tempat dia tinggal Bagus? " tanya Dylan dengan tangan terkepal.


"untuk itu tidak bisa saya ketahui tuan...! sepertinya dia punya tempat sendiri dan tidak terdaftar di penginapan Hotel manapun". jelas Bagus


Dylan memijit pangkal hidungnya yang terasa pening.


"istriku sedang hamil tua... bisa bahaya anak-anakku jika wanita itu berada didekat istriku ! jadi aku mohon Bagus..! cari lebih dalam lagi ".


"baik tuan muda". jawab Bagus yang tau betapa seriusnya kata-kata Dylan barusan.


Bagus pamit meninggalkan ruangan Dylan, Dylan terduduk dengan nafas naik turun.


"dasar tidak berguna..! wanita tidak tau diri..! seharusnya kau mencari ketenangan di negara lain tapi kau malah kembali dan berencana balas dendam denganku? aku ingin mencincang tubuhmu dan membuangmu ke laut lepas". geram Dylan mengingat istrinya yang sedang hamil besar.


kandungan Shindy 8 bulan penuh, walau belum genap 9 bulan tapi sudah masuk ke tahap Trisemester terakhir, Dylan tidak mau terjadi sesuatu dengan istrinya.


Dylan teringat istrinya lalu segera menghubungi Shindy. "halo sayang?"


"iya halo mas..? kenapa mas? apa ada yang ketinggalan? ". tanya Shindy penasaran.


"kenapa berisik sayang? kamu dimana? " tanya Dylan serius.


"oh... aku ada di rumah sakit mas ". jawab Shindy


"Apa..? " Dylan sampai bangkit dan bertanya dengan panik


"apa waktu lahir anak kita sudah tiba sayang? kenapa kamu bisa di rumah sakit? "


"bukan mas.. bukan aku.. tapi Alexa.. dia melahirkan mas... aku harus melihatnya ". jawab Shindy diselingi tertawa lucu.


"kamu sama siapa sayang? " tanya Dylan serius.


"sama Lyli, kenapa sih mas? ". tanya Shindy balik.


"kamu harus berhati-hati sayang, banyak musuh diluar sana.. kamu harus kembali.. tidak.. tidak.. biar aku yang jemput.. kamu di rumah sakit mana sayang? ". cecar Dylan khawatir.


"aku ada di Rumah Sakit... ?" balas Shindy tergantung saat terdengar suara tangisan bayi dari ruang persalinan.

__ADS_1


"mas.. udah ya..nanti aku telfon lagi.. Aku cinta kamu mas... miss you So much.. ". potong Shindy tak sabar


"sayang.. tunggu.. sayang... katakan kamu di rumah sakit mana? sayang? " panik Dylan


Tuttttt.....


Dylan berdecak dan berteriak frustasi.


"aah... Rilly.. iya Shindy bersama Rilly... ". Dylan teringat perkataan Shindy yang bilang sedang bersama Rilly.


Dylan mencoba menghubungi Rilly dan sayangnya Rilly tidak menjawab panggilan Dylan .


"Rilly... kau tinggal kah ponselmu? " desis Dylan sambil menggeretakkan giginya tak sabar


Rilly bersama Shindy sedang berada di Rumah sakit lumayan jauh dari alamat rumah Alexa.


Dylan yang tak tau apa-apa lagi segera meluncur kembali ke mansion demi mencari tau keberadaan Shindy dengan alat pelacak.


"tenang Dylan.. tenang... Shindy selalu memakai cincin pernikahan nya". Dylan bergumam sendiri.


sedangkan Shindy yang sudah mengatur diam ponselnya sedang berada di ruangan VIP dimana Alexa telah di pindahkan,


Shindy tersenyum melihat Alexa yang terharu saat Tio mengadzan+ mengkhomatkan anaknya, Alexa menghapus air matanya dengan cepat.


Alexa dan Tio sudah menikah beberapa bulan yang lalu dengan bangga Tio mengenalkan anaknya pada teman-temannya, kini Tio begitu mengasihi putri kecilnya tak peduli darah siapa yang mengalir di nadi bayi mungil nan merah itu, Tio dengan penuh cinta menciumi wajah mungil bayi itu.


"boleh aku yang kasih nama sayang? " tanya Tio sambil menimang bayi Alexa


Alexa ingin sekali menangis saat ini, ia mengangguk-ngangguk haru.


"aku akan beri nama bayi mungil kita Amanda Permata Sari... dia akan menjadi anak yang tangguh suatu saat nanti". Tio meninggikan tubuh Amanda kecil yang masih tenang dengan tidurnya.


Alexa tersenyum membalas genggaman tangan Shindy


"Nova titip salam Alexa... kamu tau sendiri kan suaminya sangat posesif". kekeh Shindy


"lalu kamu bagaimana Shindy? kamu sudah hamil tua tapi masih suka kesana-kemari seperti tidak bawa beban saja". kekeh Alexa melihat perut Shindy yang membuncit besar.


Shindy mengusap perutnya dengan bangga. "berjalan akan memperlancar kelahiran normal bayiku Alexa".


Alexa mengangguk-ngangguk membenarkan tapi ia cukup takjub dengan kaki Shindy yang bisa berjalan enteng padahal perutnya sudah begitu besar.


"sayang.. ini Amanda kayaknya lapar". Tio menyerahkan bayi mungilnya yang tengah menangis kencang.


Alexa pun memberi asi anaknya, Rilly mengajak nonanya untuk kembali dengan pasrah ia mengikuti Rilly berkat Alexa juga yang khawatir dengan Shindy yang bersikeras datang padahal sedang hamil tua.


"kau..? mau apa kau? siapa kau? " tanya Rilly melindungi Shindy.


Shindy memiringkan wajahnya melihat siapa yang sedang diajak bicara oleh Rilly


Shindy melihat wajah cantik bak boneka barbie sedang menatapnya.


"cepat...! " perintah Jenny (Author: anggap aja nama barunya ya...? nama lamanya Bianka).


Shindy mengedarkan pandangannya dan melihat banyaknya pria berbadan besar yang tengah mengepung mereka.


"apa ini musuh yang dibilang mas Dylan tadi? ". batin Shindy menebak.

__ADS_1


Rilly memasang kuda-kuda.


"nona jaga kandungan nona". bisik Rilly dengan serius.


Shindy seperti tidak takut malah menatap mata Jenny dengan memicing.


"kau siapa? " tanya Shindy


"hahahahaha... " Jenny tertawa terbahak-bahak..


"aku? (Shindy mengangguk) aku adalah malaikat kematian anak-anakmu". seringai Jenny dengan angkuhnya


Shindy melihat ke arah perutnya, sebenarnya Shindy bisa saja menghabisi mereka semua tapi ada rencana lain tersirat di otak kecilnya


"apa maumu? " tanya Shindy


"ikut aku...!! ". jawab Jenny dengan serius.


Shindy melihat sekeliling.


"Nona.. jangan ikuti mereka...! saya bisa melindungi anda". teriak Rilly menggeleng tak terima


Rilly mengeluarkan senjata apinya dan pria-pria berbadan besar yang tengah mengepungnya mengeluarkan senapan besar mengarah ke Rilly.


"jangan sakiti temanku" perintah dingin Shindy


"hahaha... " Jenny tertawa melihat cara Shindy yang sangat menjaga bodyguardnya.


"Nona.. jangan ikuti mereka.. walaupun saya mati saya tidak akan menyesal nona..! saya mohon pergilah selamatkan diri anda". pinta Rilly dengan memohon.


Shindy melihat mata Rilly yang terlihat tulus dan memelas, "tidak akan ku tinggalkan kamu Lyli". tegas Shindy


"bagus... bagus... sekali Nyonya... kalau begitu ikut denganku". tepuk tangan Jenny.


Shindy mengangguk tanpa rasa takut di matanya,


"jangan.... nona.. jangaaannn! " teriak Rilly menahan tubuh Shindy untuk tidak mengikuti Jenny


buugh...


"Lyli...? " kaget Shindy memegang tangan Rilly yang hendak jatuh karna tengkuknya Rilly di pukul dari belakang.


"tenang saja Nyonya.. dia hanya pingsan". ujar yang memukul dengan datar.


Shindy menatap tajam mereka semua, "aku akan membantai kalian semua". batin Shindy penuh tekat sambil mengepalkan tangannya.


.


.


.


jiwa Psikopat dedek bayi terlihat nih... cuzzzz...!! hajar terus Mbak....


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2