
Dylan tiba di sebuah Vila kecil di kota terpencil, banyak pengawal Daniel yang bersiaga di tempat itu.
"ck... " Dylan berdecak mendengar jeritan perempuan dan suara tendangan keras dari lantai atas.
"dia tidak berubah...! mengoleksi perempuan hanya untuk dijadikan samsak tinju". gumam Dylan dengan sinis.
Dylan tidak suka saat tau ada pria yang suka menggunakan kekerasan terhadap wanita.
"penyusupp...! " teriak pengawal Daniel kocar-kacir
Dylan mengeluarkan 2 senjata apinya kiri dan kanan.
saat pengawal-pengawal Daniel mendekat dan Dylan hanya menembak mati mereka saja, baginya keselamatan Shindy adalah yang paling utama, Rilly yang bertugas menjaga Shindy memiliki masalah hingga hendak mundur menjaga Shindy, tapi Dylan tidak akan membiarkan Daniel puas dengan semua perbuatan jahatnya selama ini.
Dor... dor.. dor...
suara tembakan menghentikan kesenangan Daniel.
"sial....! siapa yang berani mengacaukanku". geram Daniel melempar asal tongkatnya
ada 2 wanita yang menjadi istri Daniel bukan untuk disetubuhi tapi di pukul,ditendangi yang merupakan kesenangan Daniel mendengar jerit tangis kedua wanita itu.
"siapa itu? " teriak Daniel dari arah jendela
Daniel menggeram marah melihat pengawalnya sudah meninggal dan berserakan dimana-mana, Dylan akan membantai habis siapapun yang berani bermain api dengannya persis seperti Pasha dulu.
Dylan menendang pintu kamar Daniel hingga hancur lepas dari tempatnya.
Daniel mulai memucat melihat Dylan ada di hadapannya.
"kk.. kau? " Daniel hendak berlari mencari senjata apinya tapi kedua wanita yang dipukuli Daniel menjegalnya hingga Daniel tersungkur dengan hidung berdarah.
2 wanita Daniel itu benar-benar benci pada Daniel bahkan ingin Daniel cepat meninggal didepan matanya, mereka adalah orang pertama yang akan tertawa bahagia melihat Daniel meregang nyawa didepannya
Daniel menghapus darah yang mengalir di hidungnya lalu kembali berdiri demi mencari senjata apinya tapi Dylan sudah menembak kaki Daniel.
"aaah... " Daniel menjerit lalu mengambil tongkatnya melemparnya sekuat tenaga ke arah Dylan.
Dylan menangkisnya dengan satu tangannya hingga kedua wanita yang sudah luka lebam itu mengagumi sosok Dylan yang sangat kuat.
"kau.. mengibarkan bendera perang padaku... apa mau mu sebenarnya dengan mencari masalah denganku hah? " tanya Dylan dengan dingin
"a... apa maksudmu? " tanya Daniel terbata
__ADS_1
"jangan berlagak bodoh..! kenapa kau mencari masalah dengan Rilly hah? kau mengancamnya akan mencelakaiku begitu? kau fikir kau bisa membunuhku dengan ledakan itu iya? " sambar Dylan dengan seringai menakutkannya
"a.. aku tidak segila itu hingga berani melawanmu!" jawab Daniel terbata
"apa maksudmu tidak berani melawanku? tapi insiden ledakan itu perbuatanmu kan? " tanya Dylan memicingkan mata tak percaya omongan Daniel.
"ledakan? ledakan dimana? " tanya Daniel benar-benar penasaran
Dylan mengerutkan keningnya. "kau mau berakting padaku? "
"ti..dak tuan.. aku memang akui mengejar Rilly dan mengancam aku akan melukai anda! tapi itu hanya gertakan aku aja supaya dia mau kembali padaku! aku tidak segila itu berani melawan anda". jelas Daniel terbata tapi matanya terlihat jujur.
Dylan menautkan kedua alisnya. "jadi bukan kau pelakunya? "
"bukan tuan..! aku memang mengikuti Rilly kemana-mana dan bahkan memaksanya untuk ikut dengan pengawal-pengawalku tapi dia bisa melawan.. aku tidak bisa berbuat apa-apa selain mengancamnya begitu sebelum aku menghilang darinya"
Dylan terdiam memikirkan apa yang dikatakan Daniel. "lalu kalau bukan kau siapa lagi? "
"ak.. aku tidak tau tuan..! yang pasti bukan aku.,, aku hanya mau Rilly saja tidak mau mencari masalah dengan anda" .
"kau mencari masalah denganku karna berani meminta Rilly dari istriku..! dia sahabat baik istriku juga bodyguard kesayangannya.. kau tidak akan bisa mengambil apa yang istriku suka" sinis Dylan
Dylan tidak peduli dalang dibalik ledakan itu adalah Daniel atau bukan yang pasti keamanan Rilly tanggung jawab Dylan sebagai tuannya sekaligus teman dari anggota pasukan khususnya.
"kalian yakin?" tanya Dylan
"saya yakin tuan" seru Hani
"saya sangat yakin tuan" sambung Aria
Dylan menyeringai melihat wajah pucat Daniel.
"kau akan mati karna permintaan mereka berdua". Dylan menodongkan senjata apinya ke arah kepala Daniel.
Daniel berusaha merayu Aria dan Hani tapi kedua wanitanya malah memalingkan muka, wajah mereka yang baru aja sembuh dari luka makin saja terluka karna ulah Daniel yang suka memukulinya seperti samsak tinju tanpa hati sedikitpun, bahkan saat keduanya menjerit memohon ampun, Daniel seperti orang kesurupan makin memukulinya lebih sadis dari sebelumnya.
Dylan melempar senjata api milik bawahan Daniel tadi ke Aria dan Hani.
"itu tugas kalian... kematiannya kebebasan kalian maka kalian harus membunuhnya sendiri! aku pergi". Dylan meninggalkan tempat itu.
Aria dan Hani dengan tangan gemetar menodongkan senjata api pemberian Dylan ke arah Daniel.
"istriku.. bukankah kalian istri-istriku? apa kalian mau jadi janda membunuhku iya? kalian tega membunuh suami kalian sendiri? "
__ADS_1
Aria dan Hani tertawa hambar dan menyedihkan
"suami? hahah suami macam apa yang menjadikan istrinya samsak tinju hah? kau fikir kami tidak merasakan sakit iya..? " marah Hani dengan tatapan nyalang.
"kau hanya bedeb*h gila yang haus dengan jeritan kesakitan perempuan..! kau tidak pantas ada di dunia ini, berapa kali aku katakan kesabaran seorang istri itu ada batasnya..! aku berusaha melayanimu dengan baik tapi apa balasanmu hah? memukuliku begini? entah bagaimana reaksi keluargaku melihatku begini". marah Aria juga
"tapi aku suami kalian... bagaimana jahatnya aku ini, aku tetap suami kalian.. apa kalian mau masuk neraka karna durhaka dengan suami sendiri? " bujuk Daniel
"aku rela masuk neraka nanti.. mari kita bertemu di neraka suami tukang pukul ku yang kejam". Aria menembak Daniel hingga mengenai perutnya.
Daniel memekik dan memaki Aria,
"tunggu aku di neraka suamiku" kata Hani dengan senyum di bibirnya yang membengkak
Hani menembak mata Daniel, Aria dan Hani terus saja menembak Daniel sampai peluru habis di pistol mereka.
mereka yang tidak ahli memegang senjata api hanya bisa menembak asal tubuh Daniel.
Aria dan Hani menjatuhkan senjata api nya lalu saling berpelukan bahagia lepas dari Daniel yang sangat kejam pada mereka.
Aria dan Hani mengelap pistol tadi dengan tisu basah lalu mencampakkannya asal, mereka keluar dari vila itu meninggalkan semua orang yang meninggal di tempat-tempat tertentu.
beruntung Aria mengambil kunci mobil miliknya sebagai mas kawinnya dulu dengan Daniel.
sebelum mengenal Daniel mereka begitu terbujuk rayuan manis Daniel tapi saat menikah mereka malah jadi samsak tinju Daniel yang berubah tak semanis sebelum mereka menikah.
"Hani... bawa mobilnya kaki aku tidak bisa menginjak rem ". Aria melempar kunci mobil ke Hani
mereka membawa uang dan perhiasan milik Daniel yang sudah tiada, mereka juga berhak atas uang dan harta milik Daniel karna mereka istri sah nya Daniel.
"kita kemana Aria? " tanya Hani
"kita ke kota tempat tuan muda Melviano tinggal" ajak Aria
"kau Gila? kenapa harus ketempatnya? " tanya Hani tak percaya
"aku harus bisa mendapatkan hati tuan muda supaya aku bisa bahagia tidak seperti menikahi bedeb*h sialan itu yang manis sebelum menikah lalu berubah jahat setelah menikah". Aria
Hani terdiam memikirkan bujukan Aria.
.
.
__ADS_1
.