Sikembar Sang Penguasa 2

Sikembar Sang Penguasa 2
pertengkaran kecil


__ADS_3

Shindy terkejut saat Dylan sudah ada didepannya, Dylan mengerutkan keningnya melihat Shindy yang terlihat kaget.


Dylan melihat ke layar ponsel Shindy lalu melihat ke arah Shindy yang sedang nyengir malu karna sudah ketahuan memotretnya hingga begitu berani mempostingnya.


"tidak masalah kamu memotretku seperti ini sayang! asalkan kamu jangan kabur -kaburan lagi ya? kalau mau kabur tinggalin surat biar aku tau kamu dimana".


Shindy menggaruk kepalanya yang tidak gatal "kalau kabur ya kabur aja kan mas? kenapa harus bilang-bilang mau kabur kemana? itu namanya bukan kabur tapi minta izin".


Dylan terkekeh dan tidak peduli kata-kata Shindy "yang penting kamu jangan kabur dariku".


"iya deh.. iya... kalau aku mau kabur bilang-bilang deh! biar mas ngga khawatir lagi". pasrah Shindy


Dylan mengusap kepala Shindy "aku sangat khawatir kalau kamu tidak terlihat dimataku sayang".


Shindy mengangguk-ngangguk mengerti dengan raut wajah merasa bersalah. Dylan mengulum senyumnya lalu mencium sayang kening Shindy dan tangannya mengelus perut Shindy, Dylan duduk di bawah dan wajahnya menghadap perut Shindy.


"sayang.? anak papi yang hebat..! jangan menyusahkan mommy kalian ya? Papi ngga mau mommy kalian terluka! jadilah anak yang patuh Ok! papi mencintai kalian semua".


Shindy menganga lebar "Kalian? "


"iya". jawab Dylan masih asik mengajak bicara anaknya.


"emang anak aku lebih dari 1 mas? " tanya Shindy kebingungan.


"kamu ngga dengar apa kata Kinan? " tanya Dylan


"apa? aku emang ngga dengar". Shindy


"Embrio di perutmu ini ada 2 ". ujar Dylan


"hah?? ". Shindy terkejut benar-benar terkejut, ia benar-benar tidak tau kalau dirinya mengandung anak lebih dari 1


"apa aja yang kamu ketahui sayang? kenapa bisa ngga sadar sedang hamil anak kembar? " kekeh Dylan mencubit pipi Shindy yang masih melongoh bodoh.


"aku benar-benar ngga tau mas! aku cuma minta anak 1 sama yang maha kuasa tapi dikasih 2".


"keluarga kami punya keturunan kembar sayang! otomatis kamu juga akan hamil anak kembar". Dylan berdiri akan menyiapkan rujak yang dia buat khusus untuk Shindy


Shindy melihat ke perutnya lalu mengusapnya dengan lembut.


"benarkah sayang? kalian ada 2 di dalam perut mama? ". batin Shindy


"satu lagi sayang! anak-anak kita harus manggil papi dan mami".


Shindy mendongak ke arah Dylan yang tersenyum tulus


"baiklah... mas.. papi". jawab Shindy meledek.


Dylan yang gemas mendekati sang istri lalu meradu hidungnya dengan hidung Shindy, sebab tangan Dylan penuh cabe saat ini bisa kepanasan wajah cantik sang istri


"kapan siap masaknya mas Papi? " tanya Shindy beberapa saat kemudian.


Dylan tergelak mendengar panggilan Shindy yang aneh sangat menggelikannya

__ADS_1


"kamu panggil Mas aja sayang..! nggak usah nambah papinya". Dylan berkata masih dengan gemas.


"aku mau manggil mas papi" cengir Shindy sambil menjulurkan lidahnya.


ingin sekali Dylan menggigit lidah Shindy yang berani meledeknya


"apa telingamu ngga terasa geli mendengar sebutan mas papi itu hmmm? "


Shindy menggeleng kepalanya dengan wajah polosnya.


"udah.. udah.. aku ngga akan menang melawanmu sayang.. cepat makan". Dylan menyerah melawan mulut istrinya yang selalu benar.


Shindy makan dengan lahap,


"maaf abang ipar.. Candra numpang buat sarapan". izin Candra ragu-ragu


Dylan menoleh lalu tersenyum tipis.


"pakai saja dapurnya Ndra..! kamu Chefnya Nova kan? sedangkan Nova putri kesayangan disini".


Candra menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


.


Candra memasak dengan menu sehatnya, Shindy tiba-tiba nongol ingin masakan Candra.


Dylan memijit pelipisnya mendengar permintaan Shindy,


"ta.. tapi Nova sedang kelaparan kakak ipar! ". Tolak halus Candra.


"mas... hiks... hiks... ". Shindy mulai menangis hingga Candra gelagapan harus memilih antara istri dan kakak iparnya yang tengah mengandung.


"kau tidak mau memberikannya pada istriku Ndra? " tanya Dylan dengan tatapan tajamnya.


"bukan tidak mau bang.. tapi Nova kelaparan tadi kami tidak sarapan karna dia tidak mau.. sedangkan kakak ipar udah sarapan bahkan udah makan rujak..." jelas Candra bersikeras tidak mau memberikan sarapannya untuk Shindy sementara perut istrinya kosong sejak tadi pagi.


Dylan pun mengerti jadinya kalau Candra sangat perhatian pada adiknya hingga berani melawannya.


"kalau begitu abang antarkan ini buat Nova.. biar Candra masakkan lagi buat kakak ipar...masakan ini harus buat Nova.. ". dengan beraninya Candra memerintahkan Dylan.


Dylan menghela nafas panjang lalu dengan sabar ia memberikan nampan sarapan yang dibuat Candra untuk Nova ke pelayan wanita yang berjejer rapi diluar pintu dapur.


"berikan pada Nova...katakan padanya aku meminjam suaminya memasak makanan untuk istriku". pesan Dylan


"baik tuan muda". jawab pelayan itu segera melaksanakan tugasnya


Candra mulai memotong sayur mayur yang sama dengan takar yang sama, memasak lagi untuk kakak ipar nya yang sedang mengandung menginginkan masakan buatannya juga.


Shindy sesegukan sambil melihat cara Candra masak, wangi masakan Candra sama persis seperti yang ia cium tadi.


pelayan tadi mengantarkan masakan Candra ke kamar Nova.


"loh.. kak..? mana kak Candra? " tanya Nova yang terbalut selimut di sekujur tubuhnya.

__ADS_1


pelayan itu tersenyum saja lalu menjawab "tuan muda meminjam tuan Candra untuk memasak yang sama"


"buat siapa lagi? " tanya Nova sambil mengekori pelayan yang sedang membawakan sarapan untuknya.


"untuk nona muda..! tadi terjadi pertengkaran kecil di dapur Nona".


"pertengkaran kecil bagaimana? " tanya Nova penasaran


Pelayan itu menceritakan apa yang dia dengar hingga Nova tersenyum-senyum sendiri, kini ia yakin Candra sangat mengasihinya hingga begitu berani melawan kakaknya yang bahkan Nova pun tidak berani melawan kakaknya


"makasih kak".ucap Nova dengan senyum lebarnya.


"sama-sama nona! saya permisi"


Nova mengunci kamarnya lalu kembali berjalan ke meja sofanya dan tersenyum manis.


"maafkan aku kak.. aku sangat lapar..! karna jalanku yang aneh dan tubuhku yang masih banyak tanda merah-merah aku ngga berani keluar kamar jadi ngga sarapan tadi..! hari ini kak Dylan kalah telak denganku karna kak Kitty... ahaha.. ". Nova tertawa cekikikan membayangkan wajah dingin kakaknya menatap Candra.


dan membayangkan Candra yang sangat sexy menantang Dylan serta berani melawannya tanpa memikirkan kemarahan Dylan demi dirinya yang belum sarapan.


Nova sarapan jam 9 pagi, biasanya sarapan bersama keluarga jam 6 atau jam 7 tapi sekarang telat 2 jam tentu perutnya sangat lapar.


.


.


Candra selesai memasak porsi besar untuk Shindy dan Dylan hanya menonton saja, ia tau resepnya karna ingatan Dylan sangat bagus.


"terimakasih.. ". ucap Dylan menepuk pundak Candra


"iya sama-sama bang... maaf Candra tadi melawan abang.. "


Dylan mengangguk "aku yang seharusnya minta maaf...! istriku yang satu ini sejak hamil suka makan kalau apa yang dia mau tidak dapat, pasti dia akan menangis hal itu membuat kepalaku sakit jadi aku lupa adik perempuanku belum sarapan".


Candra tersenyum jadinya, ia jadi suka dengan kepribadian Dylan yang sangat sayang pada istrinya hingga tidak mau melihat istrinya menangis.


"aku juga ngga akan biarkan Nova menangis karna kelaparan bang ". ujar Candra serius.


"walau harus melawanku? " tantang Dylan


"tentu saja.. berdarah-darah pun aku tetap tidak akan membiarkan Nova kelaparan". jawab Candra dengan serius.


Shindy memekik girang merasakan masakan Candra memenuhi ruang mulutnya.


"pergilah...! nanti dia memintamu masak lagi". usir Dylan


Candra segera pamit undur diri meninggalkan dapur menuju Lift masuk ke kamar Nova.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2