Sikembar Sang Penguasa 2

Sikembar Sang Penguasa 2
mengunjungi Alexa


__ADS_3

"apa yang harus kita lakukan pada pak Willy tuan muda? ". tanya Bagus


"apa menurutmu hukumanku terlalu ringan? ". tanya Dylan balik


"iya tuan! saya merasa anda sudah berubah menjadi lembut dan tidak sekejam dulu lagi". balas Bagus tanpa ada yang di tutupi.


" hmmm... Bagus...! kau kirim dia ke pulau terpencil dan jadikan dia budak selamanya disana".


"baik tuan muda". balas Bagus


Bagus meninggalkan ruangan Dylan, Dylan menarik nafas panjang lalu berjalan ke arah ruangan rahasianya.


"Ndy? ".


"iya mas? " sahut Shindy meletakkan ponselnya dan berlari kecil ke Dylan.


Dylan tersenyum saat Shindy memeluknya.


"apa kamu bosan? "


"tidak mas!! aku udah Update 4 Bab sekaligus jadi aku tidak bosan menunggumu". jawab Shindy


"apa kamu sudah makan? " Tanya Dylan


"udah mas.. itu? ". Shindy menunjuk masakannya sendiri.


"aku yakin mas pasti sudah makan iyakan? "


Dylan menggeleng kepalanya.


"benarkah? Pipi belum makan? ".


Shindy mencubit pipi Dylan


"Pipi? ". beo Dylan


"Hmm... Calon papi jadi manggil Pipi deh". cengir Shindy


"aku suka kamu panggil aku Mas sayang! dan aku ngga suka panggilan barumu".


Shindy manggut-manggut jadinya.


"baiklah mas Dylan ! ayo sini aku buatin makan siang spesial untuk mas".


menarik lengan Dylan.


.


.


Shindy dan Dylan dalam perjalanan pulang.


"mas? ".


"hmm? ". saut Dylan


"bagaimana keadaan Alexa? paman dan bibiku? " tanya Shindy


"aku memberi mereka pelajaran Ndy! jadi jangan sampai kamu terpengaruh".


"aku lihat Alexa tidak ada lagi posting apapun di akun sosmednya..! apa dia baik-baik aja? ".


gumam Shindy penasaran


Dylan mengangkat bahunya acuh.


"coba antar aku ke rumahku mas!". pinta Shindy


"hari sudah mulai gelap sayang! lain kali aja ya? ".

__ADS_1


tolak Dylan dengan halus.


Shindy mengangguk jadinya lalu matanya melihat mobil yang mengikutinya lewat kaca spion mobil.


"kenapa Ndy? ". tanya Dylan menekan kepala Shindy


"apa hanya perasaanku aja mas? mobil itu sepertinya mengikuti kita". Shindy menunjuk kaca spion.


Dylan melihat lewat kaca spion nya tidak ada raut wajah takut di mata Dylan malah masih terlihat tenang.


"mas? ".


Dylan menepi dan mobil dibelakang juga sama Dylan melaju kencang mobil itu juga ikutan kencang mengejar mobil Dylan.


Dylan sengaja belum mengeluarkan kecepatan penuhnya lalu mobil dibelakang menyalipnya lalu supir turun membukakan pintu mobil untuk tuannya.


wajah Shindy memucat melihat pria itu, Dylan bisa melihat Shindy yang terlihat takut melihat pria tua yang berdiri gagah didepan mereka.


"mas? ". Shindy menahan lengan Dylan yang hendak keluar.


"aku akan tangani ". kata Dylan menepuk tangan Shindy memberi ketenangan pada Shindy


Dylan keluar dari mobilnya dan mendekati pria tua yang sedang menatap bangku penumpang.


"siapa kau? ". tanya Dylan tanpa sopan santun


"aah.. anda tuan muda Melviano ya? maaf saya salah mobil ". kata pria tua itu dengan sopannya.


Dylan masih tenang menatap laki-laki yang tengah mencuri pandang melihat ke arah Shindy duduk.


tidak ada perkelahian diantara mereka, Pria tua itu bernama Daniel,, seorang boss besar dunia wanita malam siapapun yang menginginkan wanita penghibur kualitas tinggi Daniel lah tujuan para pejabat dan pria penjahat kelamin.


"apa dia pria yang membeli Shindy? ". gumam Dylan pelan tak akan di dengar oleh siapapun


Dylan menatap mobil Daniel yang sudah pergi.


"mas? ". Shindy keluar mobil dan merangkul lengan Dylan


"dia pelakunya? "


Shindy mengangguk dengan wajah yang masih pucat.


"hanya seorang pria tua aku bisa membunuhnya tadi jika dia menyerangku duluan".


Shindy sedikit terhibur dengan kata-kata Dylan.


"makasih mas!! aku takut dengannya mas".


Shindy memeluk Dylan dengan erat


"jangan takut saat kamu berada dalam lindunganku! menjadi istri seorang Dylan Mahardika harus berani menghadapi penjahat ! bukankah aku sudah mengajarimu? "


Shindy tersenyum kecil, Dylan membawa Shindy ke mobilnya..


"aku fikir aku berani bersitatap dengannya..! ku kira Aku bisa memotong ekor depannya tapi ternyata aku masih sedikit trauma".


"tidak apa Ndy..! mommy ku juga pernah trauma dan seiring berjalannya waktu trauma itu akan sembuh dengan sendirinya". jelas Dylan mengusap kepala Shindy


Shindy tersenyum mendengarnya.


"makasih mas ! ".


Dylan tersenyum kecil menoel-noel pipi Shindy.


.


.


ke esokan paginya Shindy pergi ke tempat pemukiman kumuh memakai topeng wajah pemberian suaminya tadi malam, tidak ada yang mengenali wajah Shindy saat ini.

__ADS_1


"tempat ini kah rumah bibi dan paman tinggal? Alexa bagaimana keadaannya? ". gumam Shindy penasaran.


Shindy melangkahkan kaki masuk ke pemukiman kumuh itu walau jalannya becek tidak membuatnya jijik , Shindy sudah biasa dengan hal itu.


"astagah!! ini bukan rumah tapi tempat pembuangan sampah! mana layak di katakan rumah". Shindy melihat beberapa rumah kayu yang sudah lapuk mungkin kalau hujan akan bocor.


"permisi? ". Shindy berdiri di rumah pondok yang paling kecil.


"iya..? ". Alexa keluar dari rumah gubuknya


Shindy terbelalak melihat Alexa yang sangat jauh berbeda tidak seperti Alexa yang dikenalnya cantik. Kini Alexa tidak pernah perawatan atau sekedar memoles make up di wajahnya.


"cari siapa mbak? ". tanya Alexa Sopan dan insecure melihat penampilan Shindy bak dewi saja begitu bersinar tidak sepertinya kulitnya yang sudah menghitam.


"saya mencari ibu.. hm.. ibu.. siapa ya namanya? ". Shindy berlagak tidak tau nama mama nya Alexa


"oh.. cari mama saya ya mbak? ". tebak Alexa


"namanya siapa ya ? ". tanya Shindy


"Yuni".


"hah..? iya.. iya... bu Yuni". Shindy berakting begitu baik.


"ada perlu apa ya mbak? ibu saya lagi bekerja".


"hmm.. begini.. hemm dengan siapa saya bicara? ". tanya Shindy


"Alexa". jawab Alexa


"ahh.. dengan mbak Alexa begini.. saya ingin melihat bagaimana perumahan buk Yuni saya lihat berkas pengajuan permohonan bantuan warga miskin! dan buk Yuni mengatakan kalau keluarganya ada yang sedang hamil! boleh saya lihat siapa yang mengandung ? lebih cepat lebih baik mbak supaya dananya bisa lebih cepat turun"


"s saya yang sedang hamil mbak". kata alexa mengusap perutnya


"mbak yang hamil? ". tanya Shindy kaget dan syok.


Alexa tersenyum masam dan mengangguk, ia tidak ingat masa lalu dan tidak tau siapa yang sudah menghamilinya.


"ya Tuhan? bagaimana bisa Alexa sehancur ini? kasihan bayinya ". batin Shindy


"kalau begitu bisa ikut saya mbak? saya ingin memastikan sendiri dengan periksa ke dokter kandungan ".


"ta..tapi saya tidak punya uang untuk ke dokter mbak". gagap Alexa


"tenang saja mbak! ini untuk keperluan perusahaan jadi jangan fikirkan biayanya ya? "


.


.


Alexa mau di bawa ke rumah sakit dengan memakai baju dasternya.


Shindy melihat perutnya yang datar.


"semoga aku juga cepat hamil".


batin Shindy


Alexa berkaca-kaca melihat ke arah layar monitor USG.


"bayinya sehat bu tapi mohon pola makannya dijaga ya? saya merasa tubuh anda terlihat tidak baik kekurangan nutrisi demi kesehatan sang bayi anda harus rajin makan-makanan sehat bu". tutur dokter kandungan


"maaf bu dokter saya tidak mampu membeli vitamin untuk bayi saya".


Shindy teringat dirinya yang tidak punya apa-apa, jika hanya Alexa saja yang menanggung penderitaannya tidak akan membuat Shindy iba tapi bayi yang dikandung Alexa tidak bersalah.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2