Sikembar Sang Penguasa 2

Sikembar Sang Penguasa 2
sebuah jebakan


__ADS_3

Aria bersiap-siap pergi ke hotel MattGroup, ia berdandan secantik mungkin malam ini.


kini Aria sudah ada di gedung hotel MattGroup, tak ada halangan saat ia masuk, bahkan satpam pun membiarkan Aria masuk seperti sudah di beri perintah oleh seseorang sebelumnya.


Aria makin besar kepala. "aku benar-benar akan menjadi simpanan tuan muda...! aku sangat bahagia". gumam Aria memekik senang.


di meja resepsionis Aria hanya di tatap saja dan mereka saling berbisik-bisik.


"lantai berapa penginapan President suite nomor 2?". tanya Aria dengan sombongnya


resepsionis menjawabnya lalu Aria begitu pongah berjalan ke arah lift.


"ck.. baiklah.. aku sedang bersenang hati saat ini". gumam Aria begitu senang.


Aria tiba di lantai tertinggi penginapan hotel Mattgroup, sungguh ia tidak pernah masuk ketempat ini.


"tuan muda sangat kaya...! dia benar-benar menakjubkan, aku pasti akan sangat bahagia jika aku benar-benar menjadi simpanannya..! "


"sebentar lagi Aria.. kau harus benar-benar bisa membuatnya senang". ucap Aria pada diri sendiri


Aria memekik senang saat kamar janji temu nya terbuka, ia merapikan rambut menaikkan roknya menjadi lebih pendek, Aria juga mengambil cermin dan berkaca.


"apa lipstikku kurang tebal? ". gumamnya ragu-ragu.


Aria menambah rona pink di bibirnya dengan di ombre merah di tengahnya,


Aria masuk ke kamar no.2 lalu Aria memanggil tuannya.


"tuan? ". panggil Aria mencari-cari Dylan.


pintu tertutup dan di kunci, Aria memutar badannya "tuan? apa itu anda tuan? " Aria hendak berjalan ke arah pintu


lampu menyala memperlihatkan Rilly yang tengah berwajah datar mengunci pintu.


"Kau? kenapa kau bisa ada disini? " tanya Aria tergagap.


"justru aku yang bertanya".


suara itu membuat Aria merinding ia segera berbalik dan membulatkan matanya melihat Shindy tengah duduk di ranjang king size nya.


"kenapa kau bisa ada disini? " tanya Shindy dengan wajah dinginnya.


Glek....!


Aria bersusah payah menelan salivanya yang terasa tercekat.


"a.. aku disini disuruh oleh tuan". jawab Aria berusaha untuk terlihat kuat padahal jantungnya berdegup kencang saat ini.


Shindy tertawa menggelegar tawa yang membuat Aria dan Rilly merinding begitu saja.


"oh ya? tuan siapa yang kau maksud? " tanya Shindy berdiri dan berjalan pelan ke arah Aria.


"t.. tua...n Melviano". jawab Aria terbata


plaakkk....

__ADS_1


Shindy menampar pipi Aria dengan kuat hingga Aria terjatuh dengan sudut bibir berdarah.


"bangun...! ". perintah Shindy


Aria tidak mau bangkit dan Shindy menarik rambut Aria menghadap padanya.


"percaya diri sekali kau kalau suamiku yang mengundangmu... ". senyum remeh Shindy


Aria meringis kesakitan.. "l.. lepaskan rambutku"


"Apa..? kau bilang apa? ". tanya Shindy pura-pura tidak dengar makin menarik kuat rambut Aria.


"sa. sakiiit.... ". pekik Aria begitu berani


Shindy menampar pipi Aria yang lainnya hingga muka Aria memerah memperlihatkan cap tangan Shindy.


"kau fikir siapa yang mengundangmu kemari? apa kau yakin benar suamiku? " Shindy berkata sambil menepuk-nepuk tangannya seolah menghapus debu saja.


"kau apakan tuan muda? ". tanya Aria berprasangka Shindy melakukan sesuatu pada Dylan.


"dia hanya menyukaiku apa salahnya kami bersama? toh kau tetap dikenal sebagai nyonya melviani.. lagian apa salahnya jika dia melihatku? anda makin terlihat gendut pasti tuan muda sedikit malu bersamamu".


Shindy menarik lagi rambut Aria. "aku gendut karna aku hamil anaknya.... "


Aria meringis kesakitan, sekuat tenaga ia memberontak tatapannya tertuju pada perut Shindy timbul saja pikirannya meninju perut Shindy


Aria mengepalkan tangannya lalu hendak melayangkan pukulan ke perut Shindy tapi tangannya sudah di tahan oleh Rilly.


"anda tidak akan bisa melukai calon anak dari tuan dan nonaku". Rilly berwajah datar memelintir tangan Aria hingga siempunya menjerit kesakitan.


Shindy tertawa lalu kembali menampar Aria kiri dan kanan hingga wajah Aria benar-benar merah, saking geramnya Shindy meninju wajah Aria hingga jatuh pingsan.


.


.


saat Aria tersadar ia berada di sebuah penjara, ia memekik melihat banyaknya darah yang sudah mengering dimana-mana.


"dimana ini? aaakhh... tolong.. tolong aku... ". teriak Aria berjalan ke arah jeruji besi dan melihat seseorang.


suara heels mendekat dan terlihatlah Shindy bersama Aria diikuti wakil ketua Mafia the Xylver.


"Sam..? " panggil Shindy


"saya nyonya". balas Sam yang memiliki kepala botak nan mulus.


"aku mau kau membunuh wanita ini tanpa ada setetes darah yang jatuh dari tubuhnya" perintah Shindy dengan dingin dan tajamnya.


"baik Nyonya.. ". jawab Sam berpikir sejenak hukuman apa yang bisa membunuh seseorang tanpa mengeluarkan darah.


"kenapa tidak dibunuh langsung saja nona? " tanya Rilly yang memang sudah geram dengan tingkah Aria.


"darahnya terlalu menjijikkan". jawab Shindy singkat


Aria memekik dan memaki Shindy.

__ADS_1


"kau akan kena imbasnya.. kau sudah melukai wanita yang sangat berarti bagi tuan muda... kau akan di bunuh olehnya" teriak Aria menggebu-gebu.


Shindy tersenyum miring. "akulah wanita yang paling berarti baginya". ralat Shindy


Aria menggeleng-geleng tak terima kepalanya. "tuan muda menyukaiku... dia mengundangku datang kesana..! kau apakan dia...? hah? ". teriak Aria


Shindy tertawa menyeramkan. "lihatlah betapa percaya dirinya kau... bahkan Kasmara dewi jauh lebih baik darimu.. kau fikir suamiku meliriknya saat dia berusaha mendekati suamiku? "


Aria terdiam, ia tau siapa Kasmara dewi mantan artis top di negara ini.


"jangan bohong... dia sudah menikah" bantah Aria tak percaya


"aku tidak perduli kau percaya atau tidak..! yang penting kau harus terima kenyataan kalau suamiku tidak pernah mengundangmu... "


Aria memekik lagi saat HPnya ada di tangan Shindy.


"kembalikan ponselku". teriaknya berusaha menggapai tangan Shindy.


"kuat juga nyalimu". seringai Shindy melempar HP Aria ke dinding hingga layar hpnya retak.


"aaaahhh tidakkk... "teriak Aria berlari kesamping berusaha menggapai HPnya yang sudah retak


Rilly berjalan ke arah Aria dan menginjak HP Aria sampai terdengar bunyinya..


Aria lagi-lagi memaki Rilly yang menginjak hpnya,


"lakukan tugasmu sam" perintah Shindy


"baik nyonya". jawab Sam dengan tegas menerima perintah.


Rilly kembali ke Shindy dan keluar dari penjara markas The xylver itu.


Sam juga meninggalkan Aria yang menangis histeris tidak bisa menggapai ponselnya yang sudah rusak.


"Tuan.! ". isak tangis Aria melihat ponselnya dengan sedih.


Aria menghapus air matanya lalu menatap benci ke arah Shindy pergi tadi.


"dia pasti mengancam tuan muda untuk tidak datang ke hotel tadi... pasti dia membaca pesan tuan muda yang memintaku untuk datang".


Aria masih mengira kalau yang mengundangnya adalah Dylan bukan Shindy padahal Dylan tidak tau apa-apa.


dengan cara apapun Aria berusaha mendapatkan ponselnya dan akhirnya ia dapatkan setelah berusaha keras hampir 2 jam penuh.


"syukurlah.. hp ku masih bisa hidup walaupun retak ". Aria berucap senang.


Aria mencari nama kontak yang mengirimnya pesan saat itu lalu menghubunginya.


"aku akan mengadukanmu pada tuan muda supaya dia tau kau sangat jahat". ucapnya senang merasa akan mendapatkan status Nyonya Melviano


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2