
Shindy tertidur lelap di pelukan Dylan, Dylan tersenyum tipis lalu mencium puncak kepala Shindy.
.
.
sekitar jam 9 pagi Shindy terbangun mulai merasa gelisah karna perutnya kosong sejak 1 harian semalam.
"udah bangun? " tanya Dylan
Shindy membulatkan matanya lalu nyengir kuda melihat Dylan sudah terbangun duluan, rambut Dylan yang terlihat sedikit berantakan itu malah terlihat sexy dimata Shindy.
"mau mandi sendiri atau aku mandikan sayang? " tanya Dylan mencubit pipi Shindy.
"dimandikan sama mas ". jawab Shindy merona
Dylan tersenyum lalu menggendong istrinya ke kamar mandi dan terjadilah drama percinta*n lembut Dylan.
Dylan memakaikan Shindy baju lumayan tebal karna cuaca sedang musim hujan tapi sekarang tidak hujan tapi mendung, lalu membawa Shindy keluar dari ruang ganti.
"apa itu mas? " tanya Shindy menunjuk banyaknya plastik diatas meja sofa
"makanan enak". jawab Dylan membantu Shindy duduk di sofanya.
"makanan enak? " beo Shindy dengan mata berbinar.
Dylan tersenyum dan mengeluarkan semua yang ada di dalam plastik, menyusunnya dengan rapi hingga Shindy meleleh ingin melahap semuanya tanpa bersisa.
Dylan mencuci tangan Shindy yang tadinya emang sudah bersih lalu menyuruh istrinya berdoa lalu menyuapi Shindy makan
Shindy memejamkan matanya merasa senang dengan rasa makanan yang dibelikan Dylan
"gimana? enak? " tanya Dylan lembut menyibakkan rambut Shindy dibalik daun telinganya.
"enak... banget mas... enak banget". pekik Shindy lalu menyuapi Dylan
Dylan membuka mulutnya dan mengangguk puas dengan cita rasa makanan yang direkomendasikan oleh banyak orang padanya.
"makan pelan-pelan sayang! ngga ada yang mau mengambil makananmu" pinta Dylan dengan gemas
Shindy tersenyum lebar dengan mulut penuhnya mengecup bibir Dylan hingga siempunya tertawa gemas.
Dylan memperhatikan Shindy yang tengah lahap makannya, hatinya senang hanya dengan melihat Shindy makan saja.
Shindy bisa makan dengan lahap setelah melihat Dylan ada didepannya.
.
.
"udah sayang? " Dylan mengusap kepala Shindy yang sudah selesai makan.
"udah mas! makasih ya mas ". ucap Shindy dengan manja memeluk Dylan
"aku ingin menceritakan kisah Rilly mu sayang" ujar Dylan dengan serius.
__ADS_1
"hmm? Lyli mas? " tanya Shindy mendongak dibalas anggukan oleh Dylan
Shindy tersenyum lalu mengangguk-ngangguk.
Dylan menceritakan awal mula dirinya bertemu Rilly hingga sampai kejadian yang menimpa Rilly, membuat Rilly harus sering izin tidak bisa mengawal Shindy karna Rilly masa pengejaran mantan suaminya Daniel.
ekspresi wajah Shindy berubah-ubah dan terakhir mata Shindy memerah tangannya terkepal kuat.
"jadi Rilly menjauh dariku karna mantan suaminya mas? " tanya Shindy dengan mendesis geram
"iya sayang! terakhir Rilly menyerah dan minta ingin pergi dari kita karna tidak sanggup aku menjadi sasaran mantan suaminya".
"mas harus bunuh dia mas..! setelah apa yang dia lakukan sama Lyli dengan seenak jidatnya aja minta Lyli kembali padanya.. hahaha lucu sekali.. bagaimana bisa ada manusia sekejam itu? " .
Dylan mengusap kepala Shindy yang terbakar amarah.
"jadi bertahanlah sayang..! aku akan menyeselesaikan masalah Daniel untuk Lylimu supaya dia bisa ada terus disisimu tanpa bayang-bayang mantan suaminya itu".
"iya mas...! lakukan apa saja yang membuat aku dan Lyli aman mas, aku mau kamu juga baik-baik aja!" Shindy menangkup pipi Dylan
Dylan tersenyum "jika aku dalam bahaya aku tau cara menyelamatkan diri sayang! tapi jangan sampai kamu dalam bahaya karna masalah ini"
"iya mas..! aku ngga akan keluar mansion tanpa izin mu mas! aku akan tetap disini menunggumu". ucap Shindy dengan jujur.
Dylan tersenyum puas, memang inilah yang dia mau kepatuhan Shindy dengan tetap di dalam mansion bisa membuatnya lega.
"janji sayang? " Dylan mengulurkan jari kelingkingnya.
Shindy tentu menyambutnya dengan senyum manisnya.
Shindy mengangguk-ngangguk senang.
"aku keluar dan selesaikan semuanya..! ini hadiah untukmu sayang". Dylan memberikan satu tas yang belum dibuka
Shindy mengerutkan keningnya lalu membuka isi tas cantik itu dan pipinya merona melihat baju tidur tipis bermotif kupu-kupu berwarna peach.
"suka? " tanya Dylan mengusap pipi Shindy yang panas.
"sangat suka mas". cengir Shindy dengan malu-malu.
Dylan terkekeh "aku akan kembali sayang"
Shindy mengangguk lalu mengikuti Dylan ke depan mansion.
"hati-hati mas! ". lambaian tangan Shindy dengan ceria.
Dylan membalasnya lalu melajukan kendaraannya keluar mansion.
"cieee... kakak ipar....". goda Keyzo yang baru aja keluar dari kandang Black.
Shindy tersenyum lebar dengan wajah cerahnya tidak seperti semalam hingga Keyzo ikut senang melihat Shindy yang tidak lagi seperti semalam.
"Max bagaimana Key? " Tanya Shindy
Keyzo menggeleng pelan kepalanya dengan panggilan Shindy yang merupakan nama samaran nya di ajang balap motor.
__ADS_1
"baik kak! tadi kak Nova udah kasih makan dan minumnya dan bang Candra udah membersihkan kotoran Max.. ".
"hihihi.. udah pindah Frofesi si Candra!" ledek Shindy membuat Keyzo tertawa.
.
Shindy mendekati kandang Max dan naik ke punggung Max.
"Max.. bawa aku keliling mansion". pinta Shindy semangat.
Max berjalan perlahan hingga Shindy memekik girang, beberapa pelayan syok melihatnya.
"Nona...? Nona..? ". pekik pelayan mengekori Shindy yang tertawa tanpa beban
mendengar keributan Nova dan Candra melihat dari arah balkon dan tertawa terbahak-bahak melihat Shindy tengah menunggangi Max lalu banyaknya pelayan mansion berlari menjeritkan Shindy karna terlalu takut Shindy jatuh apalagi mereka dapat tugas langsung dari Kaira dan Mely.
"usil sekali kakak ipar". kekeh Nova
Candra mengangguk membenarkan lalu memeluk Nova dengan mesra dari belakang, mata mereka tertuju pada Shindy yang tengah bahagia dibawa Max jalan-jalan sekitar mansion.
"Nona? " Rilly (Lyli) menghadang jalan Max
"berhenti max". perintah Shindy
Max tentu berhenti,
"Nona mau turun? " tanya Lyli mendongak mendekati sisi tubuh Max
Shindy mengulurkan kedua tangannya, dengan sigap Lyli bisa menurunkan tubuh Shindy dengan mudah. para pelayan terduduk lemas karna terlalu lelah berlari keliling mengikuti Max dan Shindy
"sudah ada penjual cilok didepan nona". ujar Lyli
senyum Shindy terbit seketika lalu mengangguk-ngangguk senang.
"ayo kalian semua aku traktir.. " ajak Shindy pada semua pelayan yang masih tepar
"b.. baik nona". jawab semuanya serentak
Shindy meminta Max untuk kembali, tentu kuda pintar itu langsung meninggalkan Shindy masuk ke kandang mewahnya yang mana ada air pancur indah di ujungnya.
Dylan dan Nova membuatkan tempat tinggal nuansa hutan buatan untuk Max, beruntung tanah keluarga Melviano sangat luas kebelakang hingga bisa membuat apa saja untuk Max.
Nova yang mendengar cilok tentu tak sabar ingin memakannya.
seperti biasa Cilok itu habis begitu saja, sekali lagi pak cilok dapat untung besar lagi tanpa menunggu waktu lama dagangannya habis jadi bisa menghabiskan waktu dengan keluarganya.
"Lyli coba juga". Shindy memberikan semangkuk cilok yang lain untuk Rilly.
mereka semua makan di teras tanpa malu, bahkan Shindy, Nova dan Candra berbaur dengan pelayan seperti berteman, tidak ada kasta diantara mereka. Rilly begitu senang ada dilingkungan keluarga Melviano yang sangat dermawan dan baik hati.
.
.
.
__ADS_1