
setibanya di rumah sakit Dylan langsung disambut oleh dokter Kinan putri kandung dokter Ades dengan dokter Haura.
Haura dan Ades yang seorang dokter pribadi Melviano kini putrinya juga mengambil jurus kedokteran yang sama dengan kedua orangtuanya
"kenalkan sayang dia Kinan dokter-dokteran disini"
"tuan? ". selah Kinan dengan datar juga.
Shindy memperhatikan kedekatan keduanya
"maaf nona jangan dengarkan perkataan tuan kaku itu dan kenalkan nama saya Kinan dokter muda nan cantik yang akan merawat anda kedepannya supaya cepat hamil dan juga saya berharap anda anda tidak berwajah kulkas seperti tuan kaku ini ya Nona".
cletak .!
Dylan menyentil kening Kinan
Kinan memekik langsung jadi tatapan semua orang, Shindy terperangah melihat hal itu.
"jangan menghasut istriku dengan kata-katamu yang tidak berfaedah itu" Dylan merangkul istrinya dengan posesif.
Kinan mengusap keningnya dengan tatapan kesal ke Dylan, Kinan berumur 21 tahun tapi sudah tamat kuliah kedokteran dan saat ini dirinya sedang magang di rumah sakit besar mengasah kemampuannya.
"bagaimana keadaan kak Bagus tuan? ". tanya Kinan
"kenapa kau jadi membicarakannya? kau cari tau aja sendiri aku kesini untuk istriku "
Kinan mendumel kesal.
"maaf nona atas ketidak nyaman ini! saya sangat menyukai kak Bagus itu sebabnya begini". cengir Kinan ke Shindy
Shindy tersenyum lebar,
"untung aja dia sukanya sama Bagus bukan sama mas Dylan".
Kinan membawa Shindy ke ruang pemeriksaan bahkan Dylan juga di periksa oleh dokter pria. kini Dylan dan Shindy ada di depan Kinan menunggu dokter muda nan cantik itu memberi tau hasilnya.
"begini nona..! hasilnya baik-baik aja tidak ada yang salah dengan nona ataupun tuan Kulkas"
Cletak..!
Kinan mengusap-ngusap keningnya.
"maaf Tuan udah kebiasaan"
"aku tuan nya pria yang kau suka! aku akan jodohkan dia dengan perempuan lain supaya kau menyerah".
"Jangaaaaannnn!!". pekik Kinan
"bekerja lah dengan baik! " wajah kulkas Dylan
"iya tuan kul. eh.. tuan muda". pasrah Kinan hampir keceplosan
Shindy menggeleng kepalanya melihat perdebatan keduanya.
"kita lanjutkan nona! tidak ada yang salah dengan tuan dan juga nona sendiri menurut saya memang belum rezeki nona dan tuan saja!! saya harap kalian tidak lelah melakukannya sama seperti tuan besar yang memiliki bibit unggul begitu juga dengan tuan muda mungkin butuh waktu lagi".
__ADS_1
"sama seperti tuan besar apa artinya dokter?". tanya Shindy mulai pias
Dylan menendang kaki Kinan hingga si empunya meringis, Shindy menoleh ke Dylan.
"dokter bisa beritau saya dok? "tanya Shindy penasaran.
"kalau itu bisa bicarakan dengan tuan muda saja nona saya tidak cukup mampu mengatakan hal itu". ujar Kinan dengan ramah menahan sakit di kakinya.
Shindy gelisah melihat ke arah Dylan
"apa mas? apa kamu mau merahasiakannya dariku?"
"kita bicarakan di rumah saja". jawab Dylan
Shindy terdiam raut wajahnya mulai tidak enak hingga Dylan melototi Kinan yang keceplosan, Kinan jadi merasa bersalah dia berpikir Shindy tau ternyata Dylan tidak memberi taunya.
saat keluar dari rumah sakit Shindy terlihat murung hingga Rilly kebingungan melihat raut wajah nonanya yang berubah drastis.
"sayang? kenapa kamu jadi begini? " Dylan menangkup pipi Shindy
Shindy menatap suaminya.
"beritau aku yang sebenarnya mas! ada apa dengan papa? "
"iya aku akan beritau tapi kamu jangan begini dong kan aku jadi ngga bersemangat".
Shindy memaksakan diri untuk tersenyum, saat Dylan dan Shindy ke mol sudah hal biasa jadi tontonan dan sekali lagi Dylan merasakan ada lagi yang mengintainya.
"sayang? ".
"apa masih lama? aku merasa ada yang tidak beres disini". bisik Dylan
Shindy menautkan alisnya dan Rilly sejak tadi memang sudah waspada instingnya terlatih kalau sedang jadi target seseorang.
gantungan lampu diatas mulai bergoyang,
"Ndy". pekik Dylan melihat ke atas
Rilly yang lebih dekat dengan Shindy langsung menarik tangan Shindy dengan kuat hingga mereka terjatuh Dylan juga sama mendorong tubuh Shindy dan melindungi kepala istrinya supaya tidak terkena benturan.
semua orang yang menyaksikan itu menjerit histeris tak ada yang berani mendekati Dylan dan Shindy, Dylan langsung membantu Shindy bangkit sedangkan Rilly berdiri menjaga Dylan yang tengah khawatir melihat keadaan Shindy
"kamu baik-baik aja sayang? ". tanya Dylan khawatir
"aku baik-baik aja mas! kenapa kamu malah menolongku mas? nanti kalau kamu terluka bagaimana? ".
Dylan menggeleng kepalanya lalu memeluk Shindy dengan perasaan lega istrinya baik-baik saja.
"kamu jangan membuatku takut sayang! aku lebih takut kamu terluka dan sekarang aku lega kamu baik-baik aja ".
"tuan sebaiknya kita pergi! sepertinya banyak musuh disini tuan". pinta Rilly
Dylan membantu Shindy berdiri lalu membawa Shindy pergi memecah kerumunan setibanya di tempat parkiran benar ada orang yang menunggu mereka.
"mas ". Shindy memeluk lengan Dylan
__ADS_1
"tenang sayang! aku akan melindungimu". bisik Dylan.
Rilly langsung bersiaga didepan Shindy,
"cepat dapatkan wanita nya". perintah ketua dari gerombolan itu.
perkelahian tak dapat di elakkan, Shindy juga ikutan melawan karna ia tidak mau menjadi kelemahan Dylan.
"berani sekali kalian menargetkanku". geram Shindy menendang lawannya dengan tendangan tipuan nya.
"Nona? ". pekik Rilly dan sedikit kaget melihat Shindy juga menguasai ilmu beladiri.
Dylan dengan cepat bisa menjatuhkan orang-orang yang menyerangnya seperti tidak ada habisnya.
bugh...
"berhenti...!". teriak seseorang berhasil menyandera Shindy
Shindy tetap tenang karna jujur Shindy tidak takut mati demi sang suami namun perlahan tangannya mengeluarkan sesuatu.
Dylan terlihat panik saat orang itu menodongkan senjata api di pelipis Shindy.
"hahaha...! ternyata wanita ini memang kelemahanmu tuan muda Melviano yang terhormat". kata pria berbadan besar itu makin menekan ujung pistolnya di pelipis Shindy.
Rilly juga tak berkutik melihat hal itu, mereka secara hati-hati mengikuti pria itu kemana membawa Shindy.
"jangan ikuti kami... ". ancam pria itu dengan tajam
sementara orang-orang yang babak belur karna Dylan mulai menyingkir karna tugas mereka memang hanya mendapatkan Shindy.
Dylan dan Shindy saling bertatapan, Shindy seolah tidak takut saat ini sedangkan Dylan terlihat begitu takut akan terjadi sesuatu pada Shindy.
"aaaakkkk... ". teriak pria itu kesakitan lalu pingsan seketika saat Shindy mengeluarkan lipstik tapi saat dibuka ujungnya bisa menyentrum lawannya tegangannya cukup tinggi beberapa ratus Volt hingga bisa tak sadarkan diri bagi yang terkena alat sentrum itu.
Shindy langsung berlari ke Dylan dan bersembunyi dibelakang tubuh Dylan, tentu Dylan mengeluarkan senjata apinya dan menembak mati semua nya begitu juga Rilly menembak mati semuanya termasuk pria yang sudah jatuh pingsan karna ulah alat sentrum Shindy.
"mas? "
"kamu baik-baik aja sayang? ". tanya Dylan khawatir masih memegang senjata apinya menangkup pipi Shindy
"iya mas "
"ayo kita masuk!! ". ajak Dylan melihat ke arah Rilly yang mengangguk mengerti.
mereka dengan cepat pergi dari tempat itu meninggalkan lokasi yang sudah kacau dengan banyaknya darah dimana-mana
.
.
.
hahah kena prank ya...? maaf yee...
.
__ADS_1
.