Sikembar Sang Penguasa 2

Sikembar Sang Penguasa 2
sisi lain Shindy


__ADS_3

Shindy makan dengan lahap tiba-tiba beberapa preman datang membuat orang-orang yang sedang makan berhamburan.


"tunggu mbak.. pak.. buk.. belum dibayar ini makanannya.. ". teriak pak asep si penjual makanan.


"ngapain teriak-teriak hah? ".


maki si ketua preman melempar kursi plastik di sampingnya hingga patah ia duduk atas meja


"maaf bang...! kalau begini terus saya bisa rugi bang bayar pajak tapi pelanggan saya kabur karna abang". kata pak Asep dengan jujur


Plak..!


Asep memegang pipinya di tampar keras oleh anak buah ketua preman itu.


"apa peduli ku hah?? cepat bayar pajak". teriak si Ketua tanpa hati


pak Asep tersungkur dengan sudut bibir berdarah, "maaf bang! saya belum ada uang".


"belum ada uang? jhahaha" tawa menggelegar ketua preman itu menakutkan tapi tidak bagi Shindy dan Rilly malah saling tatap lalu melihat pertunjukan itu terlebih dahulu.


"periksa lacinya..! kalau perlu hancurkan dagangannya berani sekali menipuku" geram si ketua preman dengan ganas.


"jangan bang..! saya benar tidak ada uang lagi". memohon Asep pada si ketua preman


"kalau kau melarang artinya ada uangnya! cepat periksa " Ketua preman tanpa hati memerintah bawahannya


bawahan ketua preman itu langsung berlari ke arah laci dagangan Asep, Asep berlari mengikuti mereka untuk mendapatkan uang yang dia butuhkan tidak bisa ia relakan buat si ketua preman yang membuat dagangannya tidak laku.


"jangan bang... saya mohon jangan...! ".


Asep berusaha menahan laci nya supaya tidak terbuka.


Bugh..


Asep terjungkal dan laci berhasil dibuka.


"banyak uangnya Ketua..! ". teriak preman jalanan itu.


"jangan bang..! uang itu sangat saya butuhkan untuk berobat anak saya yang sedang demam tinggi..! tolong bang.. jangan ambil uang saya". Asep memegang kaki preman itu meminta belas kasih


tanpa hati preman itu menendang Asep hingga kembali terjungkal.


mereka semua tertawa puas mendapatkan uang yang banyak,,


Shindy yang mendengar alasan Asep menahan uang itu untuk berobat anaknya mulai tersulut emosi, ia menginginkan anak membayangkan hal itu tentu amarahnya terpancing.


"Oi...? ". Shindy berkacak pinggang melambai-lambaikan tangannya ke ketua Preman bernama Jay.

__ADS_1


Rilly yang melihat nonanya ikut campur juga ikutan berdiri menjaga Shindy dari samping.


"kalian ngga dengar uangnya untuk apa? ". tanya Shindy dengan datar dan dingin


"untuk berobat anaknya..!". ledek semua preman yang ada didepan Shindy


"lalu kenapa kalian ambil juga? kalian tidak butuh uang itu kan? kalian hanya akan gunakan buat senang-senang iya kan? ". cecar Shindy berjalan ke arah Jay dengan wajah dinginnya


Rilly mengikuti Shindy yang sedang marah bisa Rilly lihat Shindy sedang marah matanya begitu merah menahan amarahnya yang seakan berusaha dia tahan meledak begitu saja.


"jangan ikut campur gadis kecil..! aku tidak butuh nasihat mu.. tapi kau lumayan juga" Jay menatap Shindy yang sangat imut dan menggemaskan.


"bagaimana jika kau layani aku? aku akan kembalikan uangnya". tawar Jay dengan berkilat na*su.


Ciiuuhh... Shindy meludah di sepatu Jay.


"melayanimu? emang kau fikir aku perempuan lemah? begitu? ".


Jay melihat sepatunya di ludahi Shindy memerah ia hendak mencengkram pipi Shindy tapi kakinya sedang di injak oleh Rilly.


"aaah... sakit... sialan... sakit.. woi.. sakit... ". teriak Jay meronta-ronta seperti anak kecil yang sedang di aniaya.


anak buah Jay hendak menolong tapi Rilly bisa menjatuhkan mereka semua dengan patah tulang di bagian tangan sudah pasti membuat mereka menjerit kesakitan.


"yang ini mainanku Ly..! lepaskan dia". Shindy berbicara serius tanpa melihat Rilly.


"kau melawan temanku saja tidak bisa? baru di injak bagaimana jika dia mengeluarkan senjata apinya? " Ejek Shindy


Jay mulai pucat pasi


"ma mana mungkin..? senjata api sangat mahal jangan mencoba membodohiku"


Shindy tertawa menakutkan hingga Jay merinding di buatnya


"suamiku bisa membeli 1 pabrik penjual senjata api untukku jika aku bilang menginginkannya! lalu apa menurutmu dia tidak akan membelikannya jika aku memintanya hanya 1? ". wajah dingin Shindy mengarahkan tangannya ke Rilly


Rilly yang faham langsung mengeluarkan senjata apinya dan meletakkannya di tangan Shindy.


Shindy menembak ke atas hingga atap (terpal) yang ada diatasnya bolong.


Jay ketakutan saat senjata api sungguhan itu di letakkan di pelipisnya keringat bercucuran di pelipis dan tubuhnya sendiri.


"ini apa? " tanya Shindy


"p.. pistol? ". jawab Jay tergagap


"kalau peluru ini bersarang di kepalamu kau akan mati ! percaya atau tidak? " tanya Shindy memain-mainkan ujung senjata apinya di pelipis Jay.

__ADS_1


"p.. percaya tapi anda akan masuk penjara". jawab Jay tergagap


Shindy tertawa lagi tawa yang mampu menjatuhkan harga diri Jay sebagai seorang preman.


"aku seorang psikopat! aku menginginkan kepalamu". senyum menakutkan Shindy


"kau sedang tidak beruntung ". Shindy mengarahkan ujung pistolnya ke dada Jay dimana letak jantungnya berada.


"suamiku orang yang sangat berkuasa! dia bisa melindungiku dari polisi diluar sana membunuh sampah sepertimu tidak akan membuatku masuk penjara". seringai Shindy


Jay bersikekeuh tidak percaya Shindy benar-benar akan membunuhnya dan tak disangka Shindy benar-benar menembak ke arah jantung Jay hingga Jay meninggal ditempat dengan mata terbuka


Shindy mengusap wajahnya yang terkena cipratan darah Jay, Rilly membulatkan matanya tak percaya Shindy juga bisa bertindak kejam.


"ini Ly..! kau bunuh saja mereka kalau berani datang kemari lagi". Shindy menyerahkan senjata api itu ke Rilly.


"kalian mau mati ditanganku atau mau kabur dan jangan kemari lagi? aku beri kalian 1 kesempatan". Shindy melenggang pergi dari sana menuju ke Asep yang masih bergetar ketakutan baru pertama kali melihat begitu tapi jujur hatinya sangat senang saat orang yang menghancurkan jualannya sudah tiada.


"maaf pak..! apa bapak takut sama Saya? " tanya Shindy dengan polos seperti anak kecil saja


"t tidak neng..! terimakasih atas bantuannya". ucap Asep dengan tulus matanya berkaca-kaca melihat Shindy.


Shindy bisa melihat tatapan Asep seperti sedang bersyukur atas sesuatu.


"ini pak bayaran saya dan teman saya.. dan ini lebihnya buat ganti rugi atap bapak yang sudah bolong nanti bocor pas kena hujan lagi".


" t tapi Neng ini kebanyakan lagian itu cuma terpal biasa neng tidak sebanyak ini juga uangnya". tolak asep.


"tidak apa pak! anggap aja uang tutup mulut ya pak? saya tidak suka ikut campur tapi saat bapak bilang uangnya buat anak bapak berobat saya jadi marah pak..! saya juga ingin punya anak semoga Allah SWT memberi kepercayaan pada saya ya pak? "


Asep jadi tersenyum lebar.


"terimakasih neng.. Amiin.. ya Allah amiin ..saya akan doakan semoga neng gelis cepat dapat keturunan ya? dan saya akan mendoakannya di setiap sepertiga malam saya neng".


mata Shindy berbinar melihat ke Asep.


"terimakasih pak..ini bonusnya lagi karna menjalankan ibadah di sepertiga malam itu sangat sulit.. "


Asep ternganga melihat uang yang ada di tangan kanan dan kirinya tidak sempat mengucapkan terimakasih Shindy sudah pergi bersama Rilly.


Jay yang sudah tidak ada sudah di bawa oleh teman-temannya yang begitu ketakutan di ancam oleh Rilly.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2