Sikembar Sang Penguasa 2

Sikembar Sang Penguasa 2
menyerang balik


__ADS_3

.


.


Dylan mencari tau orang kelima yang berkomplot menyerangnya dan ternyata kelima pria itu juga tinggal di Indonesia entah apa masalah kelimanya hingga memusuhi Dylan yang tidak mengenal mereka satupun.


Dylan pergi ke Kota sebelah dan menghadang sebuah mobil yang cukup mewah di jalan sepi.


"kenapa berhenti? " tanya Pria bernama Mine di bangku belakang supir.


"maaf Tuan ada mobil yang menghadang jalan!" jawab sang supir dengan panik.


Mine melihat ke arah depan dan matanya memicing melihat mobil di depannya.


"apa dia? itu plat mobil khusus milik keluarga Melviano kan? " tanya Mine ke supirnya.


"i iya Tuan itu sebabnya saya tidak berani mengklakson" jawab supir


Mine berdecak lalu keluar dari mobilnya menodongkan senjata api ke arah mobil Dylan untuk melindungi dirinya yang saat ini sedang terkepung oleh Dylan sendiri.


"Hei...! apa yang kau lakukan di tengah jalan? Keluar...!! " bentak Mine menembak langit


Dylan secepat kilat membuka mobilnya dan menendang perut Mine hingga terlempar mengenai bodi mobilnya sendiri.


"..K.. kau.. " Mine berusaha untuk bangkit


"siapa kau? kenapa kau memusuhiku? apa masalahmu padaku? " tanya Dylan dengan dingin


Mine diam sesaat mengontrol rasa perih di punggungnya yang mengenai badan mobil lalu dia menatap Dylan dengan tak kalah dingin.


"segitu banyaknya kau membunuh manusia? hingga lupa siapa aku? " tawa Mine menggelegar


"oh.. kau seorang pecundang yang sama" kata Dylan mengangguk sekali mengerti maksud Mine


"apa katamu? Pencundang yang sama? " Mine menodongkan senjata apinya tapi Dylan seperti tidak takut, dia juga mengeluarkan senjata apinya.


"kau fikir aku akan membunuh tanpa sebab? kenapa aku membunuh salah satu dari keluargamu? seharusnya kau fikirkan apa kesalahan yang dia buat? aku tidak akan mengeluarkan taringku jika mereka yang berusaha mengalahkanku dan mengeluarkan cakar nya menyerangku...! "


"dasar Pria tidak punya hati..! aku akan membuat kau merasakan kehilangan dengan membunuh istrimu itu" seringai Mine bersikekeuh kalau alm. papanya tidak bersalah tapi Dylan lah yang salah.


Dylan tersenyum kecil. "kau bisa membunuhku? jika kau mencoba menyakikiti istriku seharusnya kau mencoba membunuhku terlebih dahulu " ujar Dylan meledek.


Mine menggeram marah. " aku bisa mengalahkan monster sepertimu "


Dor..


Dylan dengan cepat menembak ke arah yang sama hingga peluru mereka saling bertabrakan hingga terpelanting entah kemana yang pasti tidak melukai satupun dari mereka.


Mine mencoba menembak berkali-kali tapi Dylan bisa meloncat dan bersalto sebab mata Dylan sangatlah jeli hingga pelurunya Mine habis total sementara Dylan tidak terluka sedikitpun.


"kenapa? pelurumu habis? " ledek Dylan

__ADS_1


Mine jadi waspada dengan gerakan Dylan sebab Dylan memegang senjata api sedangkan dia sudah kehabisan peluru.


"tidak ada kesempatan kedua bagimu" Dylan menembak Mine tepat di bagian jantungnya.


Mine meninggal di tempat, Dylan menatap ke arah supirnya yang terbelalak dengan tangan gemetar.


"kau..? bawa dia kerumah sakit jika dia tidak selamat kuburkan dia dengan baik" wajah dingin Dylan


supir di dalam gemetar ketakutan melihat tuannya mati didepan matanya.


Dylan meninggalkan tempat itu dan melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi.


"orang kelima telah aku singkirkan" gumam Dylan melihat target keduanya nomor 4 sedangkan nomor 5 sudah tersingkir".


Dylan mendatangi pelaku no. 4 di sebuah Apartemen dengan kekuasaannya Dylan bisa masuk ke Apartemen itu dengan mudah.


Dylan mengelap sandi masuk Apartemen orang ke empat dengan hati-hati, lalu memasukkan kabel kecil sebuah alat canggihnya dan terhubung ke tempat menekan sandi itu,


Dylan memutar rekaman ulang dan mendengarkannya secara serius saat pelaku menekan Sandi, Dylan sangat tau bunyi khas setiap nomornya jadi ia tau sandi apartemen pelaku ke empat.


dengan mudah Dylan masuk ke Apartemen pria ke empat bernama Roky.


perlahan Dylan masuk hingga terdengar suara-suara desah*n. "oh... penggila wanita di atas ranjang". batin Dylan menyeringai.


Dylan membiarkan pasangan itu bercin*, mata Dylan memicing melihat wajah Roky.


"kenapa kalian membuang masa muda kalian hanya untuk balas dendam? " . decak pelan Dylan tak mengerti orang-orang yang begitu berani mengusiknya


"aaaaaaahh...! ". jerit wanita di bawahnya begitu Syok dan ketakutan Roky tertembak didepan matanya sementara bagian baw*h mereka masih menyat*.


Dylan berlalu dari tempat itu dengan senyum puasnya, Dylan menghapus jejaknya hingga tidak akan ada yang tau dirinya lah penyebab kematiannya.


.


.


kini Dylan pergi ke sebuah Hotel menyingkirkan pelaku ke tiga.


"Kau..? siapa kau? " panik pria yang baru keluar dari kamar mandi melihat Pria bertubuh gagah membelakanginya.


Dylan membalik tubuhnya lalu tersenyum tipis.


"K.. kau..? bagaimana bisa kau tau tempat ini?". tanyanya ketakutan.


"Pelaku ketiga Leon ". senyum miring namun terlihat menakutkan di mata Leon.


"bukankah kau mencoba membunuhku? lalu kenapa kau gemetar ketakutan melihatku secara langsung hmm? " ejek Dylan melihat Leon terlihat ketakutan.


Leon tidak tau dengan kunjungan Dylan, ia mencari-cari pistolnya.


"kau mencari ini? " tanya Dylan menunjukkan pistolnya Leon

__ADS_1


"berikan padaku!! ". perintah Leon


Dylan menyeringai lalu membuka bagian atas pistol itu hingga peluru berjatuhan hal itu membuat Leon membulatkan mata.


"sialan kau..! ". maki Leon makin gemetar ketakutan.


"kedua rekanmu telah mati ditanganku..! ternyata kalian cukup hebat bersembunyi dariku beruntung aku memiliki KO hingga aku bisa menemukan kalian semua" Dylan menodongkan senjata apinya ke Leon


"a. anda salah faham...! ak aku tidak melakukan apapun kenapa kau mencoba membunuhku? "


berusaha Leon berkata manis ke Dylan supaya dia tidak terbunuh sementara Dylan terlihat tidak terpancing sedikitpun.


"oh yaa? aku tidak akan memberimu kesempatan kedua..! sudah cukup bermain-mainnya" Dylan menembakkan pistolnya ke Leon


peluru yang bersarang di kepala Leon tentu membuatnya meninggal di tempat.


Dylan menghapus semua bukti yang ada di sekitarnya, lalu keluar dari hotel itu dengan tenang seperti tidak terjadi apapun di tempat itu.


.


.


Dylan mendatangi sebuah acara besar milik pelaku no. 2 yang seorang pejabat negara asing tapi memiliki darah indonesia.


saat pelaku no. 2 berpidato Dylan menembak mati si pelaku dari jarak sangat jauh hingga para penonton berteriak histeris berhamburan keluar dari tempat itu.


para bodyguard Wiliam berlarian mencari orang yang membunuh tuan mereka karna kesalahan mereka semua yang lalai menjalankan tugas menjaga wiliam.


sedangkan Dylan sudah meninggalkan tempat itu tanpa ada bukti yang tersisa


"sekarang tinggal 1 orang..! kali ini aku biarkan kau berjuang sendiri Noven ". Dylan melihat profil data pelaku utama yang menjadi bos diantara kelima komplotannya


Dylan melihat ponselnya yang bergetar ternyata sudah berpuluh-puluh panggilan tak terjawab dari Shindy


"halo Mas? mas dimana? ". rengek Shindy


Dylan tersenyum seakan sisi monsternya sudah kembali tertidur kini hanya ada sisi manusiawi nya aja.


"aku sedang di luar sayang! aku akan kembali"


"mas belikan aku Rujak ya..? " pinta Shindy terdengar memelas


"Rujak? kamu mau Rujak sayang? " tanya Dylan.


"iya mas.. Rujak aku pengen makan rujak" jawab Shindy antusias.


"baiklah.. ". jawab Dylan tanpa bertanya lagi


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2