Sikembar Sang Penguasa 2

Sikembar Sang Penguasa 2
kepergian


__ADS_3

.


menjelang siang Dylan dan Shindy sudah berangkat bekerja, Shindy akan menemani suaminya bekerja karna ia takut dikamarnya sendiri sejak tau Daniel ada di hotel yang sama.


"Ndy? sayang? ". panggil Dylan mengusap kepala Shindy


Shindy yang tengah melamun tersadar seketika lalu menoleh ke Dylan.


"mas bilang apa? ". tanya Shindy


"kamu mikirin apasih? dari tadi aku panggilin nggak nyahut ! biasanya jawab iya Mas? gitu".


Dylan dengan sewot berbicara


Shindy tertawa lebar seketika lalu menggenggam tangan Dylan dan menciumnya dengan lembut.


"terimakasih mas udah menghiburku". ucap Shindy dengan tulus.


"kapan aku menghiburmu sayang? aku hanya bicara fakta dari tadi aku diabaikan "


elas Dylan


Shindy tersenyum,


"mas butuh asisten cantik ngga? ".


" no ! ". tolak Dylan dan muka shindy memberengut


"aku hanya butuh istri yang cantik dan bisa membuatku melayang diatas ranjang". sambung Dylan lagi


Shindy yang tadinya memberengut pipinya berubah merona seketika tapi tetap menebarkan senyumnya walau masih malu-malu.


demi mengusir rasa malunya Shindy memainkan ponselnya dan terbelalak melihat berita terkini mantan pemilik Sartika Group Yuni dan Joko meninggal dunia karna kecelakaan.


"mas? ". pekik Shindy menunjukkan foto paman dan bibinya yang meninggal dunia.


Dylan tersenyum tipis nyaris tak terlihat,


Shindy mengucap terlebih dahulu lalu berkata


"aku ngga nyangka paman dan bibi cepat sekali meninggalnya".


"mungkin sudah takdirnya". jawab Dylan dengan tenang.


"masa iya sih? aku fikir mereka baik-baik saja kenapa bisa kecelakaan ya? bagaimana ceritanya? sepertinya aku harus menemui Alexa..


Aaaah... Alexa bagaimana mas? dia pasti terpukul sekali ".


Dylan diam mendengarkan celotahan Shindy dengan nada berbeda-beda tanpa ikut bicara.


"mas? " Shindy mengguncang lengan Dylan


"hmm? ". sahut Dylan


"ih.. mas mah suka sekali mengejekku! kenapa penyakit mas kambuh lagi? pake Hmm.. hmmm.. hm.... emang nggak ada jawaban yang lain apa? iya gitu kek jangan hm.. hmmm.. hm.. aja ".omel Shindy tanpa rem.


"iya". jawab Dylan


"mas..? " rengek Shindy


"iya sayang apa? ". sahut Dylan dengan sabar mengusap kepala Shindy


"aku lagi berkabung nih! jangan pancing aku mas". kesal Shindy

__ADS_1


Dylan tertawa mengusap kepala Shindy


"kenapa kamu berkabung pada orang yang telah membunuh kedua orangtuamu? "


Shindy tertegun mendengarnya.


"iya juga dulu aku pernah memohon pada Tuhan untuk membalas perbuatan mereka tapi nggak nyangka semuanya akan dikabulkan"


"hmm.. itu hukum karma mereka". timpal Dylan


"tapi tetap aja mas mereka keluargaku juga! lalu siapa yang akan menempati rumah mama dan papaku? aku tidak mau menjualnya".


Dylan mengerutkan keningnya.


"kamu berharap mereka hidup? "


"tentu saja mas! mereka keluargaku dan kasihan Alexa dia kehilangan kedua orangtuanya sama sepertiku saat itu ..Astagah.. kan masih ada Alexa yang bisa menempati rumah itu iya kan mas? ".


Dylan mengangguk-ngangguk saja tanpa bicara membiarkan istrinya yang super bawel itu berbicara.


"semoga Alexa kuat!! aku tidak bisa datang ke pemakaman paman dan bibi! ". gumam Shindy dengan lirih.


.


.


Dylan menggenggam tangan Shindy masuk ke sebuah restaurant VVIP untuk mengadakan pertemuan dengan kolega bisnis Dylan membahas sebuah proyek baru di tepi pantai kota tempat mereka berada sekarang.


2 rekan kerja Dylan yang masih jomblo terpaku melihat Dylan menggenggam wanita super cantik padahal tidak tersenyum.


Shindy menangkupkan tangannya sopan pada 2 pria yang ada di depannya.


"maaf aku membuat kalian menunggu". Dylan melepas jas formalnya dan memberikannya pada Shindy.


"mau pesan apa Ndy? ". tanya Dylan


Shindy mengulurkan tangannya dan Dylan menyerahkan buku menu makanan


"apa yang kalian lamunkan? ayo pesan?" Dylan menatap tajam kedua rekan barunya.


"maaf tuan saya terlalu takjub dengan kecantikan istri anda". cengir Aman dengan jujur


"apa tuan muda sudah mengadakan resepsi pernikahan? menurut saya istri secantik itu tidak patut di sembunyikan". timpal Izal.


"aku ingin mengadakan resepsi tapi istriku menundanya sampai dia hamil baru dia mau adakan resepsi pernikahan kami". jawab Dylan enteng


"oh begitu ya! ". Aman dan Izal jadi mengerti mendengar penuturan Dylan.


menunggu makan siang Dylan, Aman dan Izal mulai bercengkrama tentang bisnis sedangkan Shindy memainkan ponselnya.


"ya Tuhan... kasihan sekali Alexa ! tapi aku yakin dia akan kuat demi anaknya setidaknya dia punya alasan untuk tetap hidup tidak sepertiku dulu".


"paman bibi ! aku udah maafkan kalian berdua sekarang kalian tenanglah disana dan minta maaf pada papa dan mama".


Shindy melihat mantan artis sosmed yaitu Alexa yang terlihat berantakan di potret oleh salah satu pengguna sosmed disebarluaskan di dunia maya.


"apa Alexa ngga punya HP lagi ya? mungkin itu alasan kenapa dia udah nggak aktif lagi di sosmed"


"sayang? "


"eh.. ?". kaget Shindy menoleh ke Dylan dan aman serta Izal


"iya mas ada apa? ". tanya Shindy dengan polosnya

__ADS_1


Aman dan Izal berdecak kagum dengan Shindy, hanya batas kagum bukan ingin memiliki ! mana berani mereka bersaing dengan Dylan, yang sudah pasti mereka kalah secara Shindy memang milik Dylan secara hukum dan agama.


"jus nya udah datang! tadi bilangnya haus" Dylan melirik jus pesanan Shindy sambil mengusap pipi Shindy.


"eeh... hehehe.. makasih mas". ucap Shindy


Dylan tersenyum tipis lalu kembali melanjutkan urusannya dengan Aman dan Izal.


"bagaimana jika kita tambah tempat wisata di tepi pantai itu tuan? ". seru Aman


"hmm...sepertinya bagus tuan muda". timpal Izal


"boleh saja jika lahannya luas". jawab Dylan enteng membuka kembali surat tanah area tepi pantai.


"sepertinya bisa ". Dylan mengangguk sekali setelah melihat ukuran tanahnya.


"lalu apa yang harus kita lakukan setelah ini tuan? ". tanya Izal


"donatur! untuk membuat Vila bagus, kolam renang fasilitas mewah dan tempat wisata butuh modal besar".


tutur Dylan


Aman mencatat apa saja yang Dylan katakan, Shindy tak sengaja mendengar perkataan Dylan padahal tadi dia sudah menulikan telinganya.


"Vila? Kolam renang? fasilitas mewah? tempat wisata? kepalaku jadi pusing memikirkan uang keluarnya". batin Shindy


tepat pembicaraan mereka selesai makan siang pun tiba, Shindy dengan cepat dan lihai melayani suaminya makan hingga Aman dan Izal yang jomblo meronta-ronta iri.


Dylan menyibakkan rambut Shindy ke balik daun telinganya sedangkan Shindy menoleh sekilas lalu tersenyum manis melirik sang suami lalu kembali fokus dengan tugasnya sebagai seorang istri. .


.


"terimakasih telah meluangkan waktu berharga anda pada kami tuan muda! kami beruntung bisa menjadi rekan bisnis anda". ucap Aman mengulurkan tangannya


Dylan menyambut tangan Aman, mereka berjabat tangan setelah selesai makan siang.


"jenuh? ". tanya Dylan mengusap kepala Shindy


Shindy menggeleng kepalanya lalu memeluk Dylan dengan manja mengendus aroma tubuh Dylan yang menenangkan hatinya.


"kenapa sayang? apa masalah paman dan bibimu itu? ". tanya Dylan


"iya mas! kasihan Alexa aku tidak bisa melihat mereka karna aku ada disini denganmu".


"Hei.. sayang.. Alexa tidak mengenalmu! biarkan dia hidup tanpa mengenalmu sayang kamu boleh membiarkannya hidup di rumah papa dan mamamu dan aku mengizinkanmu memberinya pekerjaan".


Shindy mengangguk patuh dan pasrah.


"iya mas! aku tidak akan mengatakan apapun tapi apa bukti foto di rumah ku masih ada? ". tanya Shindy


"semua barang-barang yang mereka pasang aku bakar dan hancurkan ! rumah itu sudah kembali persis dimasa papa dan mamamu masih hidup".


"benarkah? ". tanya Shindy berbinar


Dylan mengangguk mencium kening Shindy.


"mas baik sekali padaku". Shindy dengan super manjanya memeluk Dylan lagi makin erat.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2