
"Billa...! " teriak Rilly dengan geram
"kemampuanmu benar-benar menakjubkan juga" seringai Billa
Dylan berjalan dengan langkah lebar ke Billa dan terbelalak melihat Shindy tiba-tiba sudah ada di belakang Billa sambil menodongkan senjata api.
Dylan spontan saja meraba-raba tubuhnya dan terperangah.
"kapan dia mengambilnya? kenapa aku tidak sadar? dan kenapa dia bisa ada disitu? aku yakin tadi mengantarnya sendiri masuk ke mobil". cecar Dylan pada diri sendiri
"kau menargetkanku? " wajah dingin Shindy
Billa angkat tangan dengan perlahan, Rilly gelagapan dengan rasa takut melihat Shindy begitu berani mendekati Billa yang seorang mantan anggota Mafia sekaligus mantan prajurit sepertinya.
"nona! jangan memancingnya " panik Rilly.
Billa ingin bergerak tapi Shindy sudah membaca gelagatnya Shindy bisa menghindar dengan mudah dan Rilly cepat bertindak memutar tangan Billa kebelakang, Rilly juga menendang belakang lutut Billa hingga terduduk seperti seorang buronan yang baru aja ketangkap oleh pihak polisi.
Billa menatap tajam dan penuh amarah ke arah Shindy seperti semua dendamnya selama ini pada Dylan akan terbayarkan jika membunuh Shindy
"kau mencoba membunuhku? jangan bermimpi..! aku seorang ibu sekian lama aku menantikan anak dari mas Dylan sekarang baru aja dipercaya oleh yang maha kuasa lalu kau apa? mau melukaiku? melukai anakku? jangan harap"
"kau salah menilai lemah diriku selama ini aku sangat mematuhi suamiku mendengarkan apa yang dia katakan tanpa membantah, bukan berarti aku lemah tapi karna dia yang lebih kuat melindungiku karna naluri seorang pria sejati didalam dirinya juga perasaan cintanya"
"hahaha..? pria sejati? pria sejati memiliki hati tidak sepertinya yang tega melukai rahimku hingga kemungkinan aku hamil sangat kecil dan suamiku meninggalkanku karna dia.. itu yang kau katakan pria sejati yang sangat baik hati iya?? " sinis Billa.
"kau tidak tau apa-apa mengenai hati! suamimu yang brengs*k meninggalkanmu disaat kau tidak bisa hamil..? lalu untuk apa di buka rumah panti? untuk mengadopsi anak bukan? kenapa kau malah menyalahkan suamiku? menargetkan anakku yang tidak punya salah padamu"
"supaya dia merasakan apa yang aku rasakan... ". marah Billa dengan intonasi cukup tinggi
"Bukankah kau seorang IBU??!!!" Marah Shindy dengan mata berapi-api
"aku tidak seorang Ibu..! aku tidak bisa HAMIL sialan". maki Billa tak kalah emosi
"Tuhan yang tidak mempercayaimu memiliki anak karna fikiranmu sangat dangkal dan tidak ada otak walau hanya se inci pun ! asal kau tau dengan sikapmu yang tidak keibuan Tuhan tidak akan mempercayai mu! "
__ADS_1
"apa..?? memberimu anak? Sialan... Kau fikir anak itu mainan? Hah..? tanggung jawab seorang ibu sangat besar kau mencoba melukai anakku saja sudah menunjukkan betapa jahatnya kau!! Tuhan yang maha pemberi pun tau kau TIDAK PANTAS menjadi seorang IBU... "
Billa terdiam mendengar makian Shindy yang sialnya menggores hatinya yang sudah tercabik-cabik.
Dylan tertegun dengan rahang terbuka karna sekali lagi kata-kata istrinya begitu mengagumkan seperti wanita berpendidikan tinggi.
Rilly sampai mencelos hatinya melihat kemarahan Shindy padahal yang di maki bukan dirinya tapi wanita yang sedang di tahannya.
"kau mau ngelak apa lagi? cobalah untuk intropeksi diri ! Tuhan yang maha Kuasa belum mempercayaimu Tuhan yang maha besar menunjukkan wujud asli suamimu yang tidak setia dan tidak menjaga janjinya saat menikah denganmu? apa Agamamu? "
" Agama apapun tidak akan melenceng dari hal utama yaitu setia sehidup semati, menjaga kehormatan istri dan menyayanginya dan hal yang pasti menghargai wanita! "
Shindy tertawa sinis. "kau bodoh mengantarkan nyawa ke sini! aku kau lawan? aku seorang Ibu tidak akan ku biarkan kau melukaiku atau melukai anakku walau sedikit dan aku tidak peduli siapa kau? ".
Billa menangis histeris seketika hal itu membuat Dylan segera mendekati Shindy dan memeluknya dengan penuh cinta, perlahan tangannya mengambil pistol di tangan Shindy
"mas! aku nggak mau ada musuhmu yang berani melukai ku! sebelumnya aku masih terima mas karna aku belum hamil, setelah sekian lama kita menanti anak? mas rela mereka melukaiku? ".
"tidak Ndy.. tidak.. aku takut semua kepercayaan orang-orang yang sedang viral itu benar terjadi! tidak boleh seorang suami membunuh binatang atau manusia disaat istrinya sedang hamil muda " tutur Dylan
Rilly tak berbicara pada Dylan karna tidak mau mengganggu Dylan dan Shindy.
"mas..! itu hanya mitos... lagian kamu membunuh manusia karna tidak mau ada yang terluka kan? sekarang juga mas tidak mau aku atau anak kita terluka kan? jangan beri siapapun celah untuk mencari kelemahanmu mas! jangan jadikan kami berdua sebagai kelemahanmu tapi kekuatanmu mas, aku mencintaimu dan aku harap mas mau menjaga anak kita dengan baik walaupun harus membunuh sekalipun"
"bagaimana jika anak kita jadi jahat karna aku membunuh orang? " tanya Dylan dengan raut wajah khawatir.
"mas kita semua pembunuh mas..! hanya saja caranya berbeda-beda, mas yang tipikal menghabisi nyawa, aku yang tipikal menampar mereka dengan kata-kata pedasku, keduanya sama-sama membunuh mas apa bedanya coba? ada yang membunuh dengan cara halus dan ada yang cara kasar tidak ada manusia yang bersih dari kata membunuh itu mas, bahkan tidak sengaja menginjak semut pun kita juga disebut pembunuh "
Dylan tertegun mendengar penjelasan Shindy, selama ini dia merasa manusia paling berdosa di dunia ini tapi Shindy bahkan menjelaskan secara rinci manusia tak luput dari kata keramat membunuh baik disengaja ataupun tidak.
"terimakasih !! aku tidak mau mereka melukaimu tapi aku juga ceroboh terlalu percaya mitos..! aku hanya belum berpengalaman akan situasi rumit kita sayang, aku baru kali ini memiliki anak yang sangat ingin aku lindungi, hingga aku jadi bodoh percaya mitos ".ucap Dylan dengan sendu.
Shindy tersenyum. "aku merasa sangat kuat saat ini mas! entah kenapa aku bisa memiliki kekuatan yang tak biasanya, aku rasa anak kita adalah kekuatanku"
"aku kaget melihatmu sudah ada dibelakang wanita itu tadi! dan aku ngga sadar kapan kamu mengambil senjata api ku"
__ADS_1
"mas janji kan nggak akan percaya hal begituan? " alih Shindy menunjukkan jari kelingkingnya dibalas oleh Dylan dengan tatapan matanya hanya tertuju pada sang istri.
"janji sudah dibuat..! tidak akan ada ingkar janji lagi kemudian hari" Shindy berkata dengan serius.
Dylan terkekeh mengecup sayang kening Shindy dan memeluknya begitu mesra.
"terimakasih telah hadir dihidupku Ndy.! kamu bukan kelemahanku melainkan kekuatanku"
"aku harap begitu mas! jadi jangan pernah menyembunyikan apapun dariku dan satu lagi kamu lah yang hadir di hidupku mas! " ujar Shindy dengan serius
"hmmm... aku akan jujur padamu bahkan jika aku tidak sengaja membunuh semut pun aku akan beritau kamu sayang" canda Dylan
Shindy memukul punggung Dylan hingga siempunya tertawa lebar.
"aku hanya menjelaskan apa yang menurutku benar mas..! kamu seorang pembunuh tapi mengakuinya sedangkan manusia yang tidak sengaja membunuh kucing atau binatang apapun malah kabur dan tidak mau mengaku? yang mana lebih baik? sekalipun itu hewan tanggung jawab itu mahal mas"
"iya.. tanggung jawab sangat mahal harganya" senyum tipis Dylan
"Loh.. kemana Lyli mas? " Shindy celingukan mencari pengawalnya
"sudah pergi! ". jawab Dylan enteng.
.
.
.
Yee.. benar itu kata Mbak shindy mas Dylan bunuh aja orang-orang jahat itu..! ntar makin pusing mikiran ngidam Ekstrimnya Shindy... hahaha... jahatnya Othor suka menyiksa suami baik seperti Daddy Pasha dan Mas Dylan.. wkwkwk..
.
.
.
__ADS_1