Sikembar Sang Penguasa 2

Sikembar Sang Penguasa 2
kota Megah


__ADS_3

Dylan meletakkan tubuh Shindy dengan hati-hati ia membuka jubah mandi yang dipakai Shindy.


Dylan melihat tubuh Shindy dengan jelas ia malah tersenyum hasratnya kembali bangkit tapi tidak mungkin melakukannya saat Shindy tertidur.


Dylan menyelimuti tubuh Shindy lalu dengan tenang Dylan pergi ke ruangan kerjanya, menjauh dari Shindy itu yang terbaik baginya supaya bagian bawahnya tertidur lagi.


ke esokan paginya Shindy menggeliatkan tubuhnya,


"huaaahmmmm". Shindy duduk lalu mengucek-ngucek matanya saat membuka mata.


"Eh.. kok disini? ". Shindy celingak-celinguk melihat sekeliling.


Shindy mencari sosok Dylan


"mas? "


"apa aku mimpi ya? aku yakin tadi malam aku ngga tidur disini".


Shindy meraba-raba tubuhnya yang memakai pakaian sexy


"kok bisa? apa aku memang bermimpi? ". Shindy menepuk-nepuk pipinya


Shindy mengerutkan keningnya melihat koper di depan pintu.


"apa mas Dylan mau pergi ya? ". Shindy segera berlari ke arah kamar mandi membersihkan diri.


Shindy berpakaian santai lalu pergi ke meja makan sarapan bersama keluarganya.


"kamu mau kemana sayang? ". tanya Kaira


"mau ke luar negri mom sekalian bawa Shindy liburan". jawab Dylan dengan santai


mendengar kata liburan senyum Shindy merekah sempurna, mood nya langsung baik kali ini Dylan membawanya tidak meninggalkannya seperti sebelum-sebelumnya


"cieee kakak ipar mau bulan madu yaa? ". Goda Keyzo


Dylan menoleh ke Shindy yang baru aja datang.


"maaf Mom, dad, Granma, Granfa Shindy kesiangan". ucap Shindy dengan malu-malu duduk di samping Dylan


"tidak apa sayang". ucap Kaira dan Mely serentak


Pasha dan Matt mengangguk mengerti tanpa bersuara.


"mau ke negara mana kak? ". tanya Kaisha berbinar


" kakak Ipar mau kemana? ". Nova malah bertanya pada Shindy


Dylan melirik ke Shindy lalu menekan kepala Shindy dengan wajah datarnya yang seperti biasa tidak bisa ditebak isi kepalanya oleh siapapun.


"hmm.. mau mas kemana? ". tanya Shindy ke Dylan


"aku? semua terserahmu! aku ada urusan bisnis di negara D aku rasa disitu negara paling romantis". jawab Dylan


Shindy membulatkan matanya.


"Negara D? disitu memang negara impianku karna takut tidak mampu aku ingin ke negara P saja ternyata ke sana"


"mau? " tanya Dylan


" mau ! mau". jawab Shindy semangat mengundang gelak tawa keluarganya.


muka Shindy merona malu, ia menunduk menyembunyikan wajah malunya.

__ADS_1


.


.


Dylan dan Shindy jalan berpegangan tangan di bandara, mereka jadi pusat perhatian karna dunia sudah tau Shindy adalah istrinya Dylan.


Shindy diam mengikuti Dylan dengan raut wajahnya yang terlihat bahagia,


"Negara impianku!! aku datang". batin Shindy memekik.


saat pemeriksaan pasport Dylan melirik penjaga yang menatap istrinya tanpa berkedip, Dylan mendecih hingga semua mata melihat ke arahnya begitu juga dengan Shindy


"kenapa mas? ". tanya Shindy


"tidak ada". jawab Dylan melihat datar ke penjaga yang menatap istrinya tadi. pria itu merasa terintimidasi dengan tau diri ia menunduk tidak berani menatap Dylan atau Shindy.


Dylan menarik 2 koper sekaligus sedangkan tangannya yang lain digenggam oleh Shindy dan Dylan juga membalasnya.


Dylan dan Shindy sudah masuk ke pesawat pribadi MattGroup.


di tempat pemeriksaan


"apa kalian tau kemana tuan Melviano dan istrinya pergi? ". tanya Gine seorang pria dari kebangsaan negara C.


Gine mengeluarkan beberapa lembar uang dan bertanya lagi.


"Negara D". jawabnya sambil menyimpan uang yang diberi Gine dengan terburu-buru.


Gine tersenyum puas langsung beranjak pergi ke pembelian tiket pesawat.


"Jika saat itu gagal maka rencana selanjutnya tidak boleh gagal lagi! aku harus bisa mendapatkan istrinya lalu Dylan akan menderita dengan penghianatan istrinya". batin Gine dengan senyum jahatnya.


.


.


Dylan mengusap kepala Shindy dan merangkul Shindy untuk jalan , Shindy melangkahkan kakinya tapi matanya mengedar melihat sekeliling negara impiannya.


Shindy terperangah mendongakkan kepalanya melihat betapa tingginya Hotel penginapan negara D ini yang di cap sebagai negara teromantis nomor 1 dengan pemandangan luar biasanya biaya menginapan di hotel itu terbilang sangat mahal semakin tinggi kamar penginapannya maka semakin mahal juga bayarannya tergantung mau menginap di lantai berapa? .


"mas kita nginap di lantai 50 ?". tanya Shindy berbisik ke Dylan


Dylan tersenyum tipis saja membayar biaya penginapannya untuk 1 minggu kedepan.


Shindy melihat 2 kartu yang diberikan resepsionis hotel CZ.


Dylan memberikannya satu ke Shindy.


"jaga dengan baik"


Shindy mengangguk-ngangguk hendak menyimpannya di dalam b* nya tapi Dylan segera menahan tangannya.


"apa yang kamu lakukan? ". tanya Dylan


"aku mau menyimpannya". jawab Shindy dengan jujur dan polos.


Dylan berdecak mengambil kembali kartunya membawa Shindy masuk Lift.


banyak orang yang melihat mereka dan dengan santainya Shindy hendak menyimpan kartu penginapan di dalam B* nya bisa malu Dylan.


setibanya di lantai teratas dan masuk ke kamar, Shindy memekik melihat betapa indahnya pemandangan Kota.


__ADS_1


Dylan menggeleng kepalanya sambil meletakkan kedua kopernya di depan lemari yang tersedia fasilitas kamar.


"Ndy? ".


"iya mas". Shindy berbalik mendekati Dylan


"lain kali jangan menyimpan barang di balik Bra mu"


peringatan Dylan menunjuk kartu penginapan kamar mereka yang terletak di meja nakas.


Shindy mengangguk patuh tanpa protes.


"maaf mas aku kebiasaan". cengirnya malu.


Dylan tersenyum.


"aku mandi dulu ya? nanti makan malam kita datang"


Shindy lagi-lagi mengangguk dengan senyum lebarnya.


Dylan melewati Shindy ke kamar mandi,


"apa dia pernah menginap disini? kenapa dia terlihat hafal sekali tempat ini".


Shindy mengambil koper Dylan dan membukanya, ia menyiapkan pakaian ganti untuk Dylan.


setelah selesai Shindy pergi ke balkon, matanya berbinar melihat pemandangan indah didepannya tanpa sadar air matanya menetes begitu saja.


"ma. pa... Shindy bahagia sekarang! apa mama dan papa yang meminta pada sang pencipta untuk memberi shindy pria seperti mas Dylan? walaupun dia kaku, datar dan tidak romantis tapi dia sangat baik ma pa.. shindy suka menggodanya". Shindy menatap langit berbintang.


Shindy mengeluarkan ponselnya dan memotret pemandangan indah didepannya langsung mempostingnya hingga muncul beragam komentar iri dari negara kelahirannya.


"sejak mas Dylan mengakuiku sebagai istrinya pengikutku bertambah banyak".


Dylan yang baru saja keluar kamar mandi tersenyum tipis melihat pakaiannya sudah di siapkan oleh Shindy.


Dylan mendekati Shindy di balkon.


"sana mandi"


"eh.. mas udah siap? ". Shindy tersenyum melihat Dylan walau sempat kaget di awal.


"apa senyam-senyum? sana mandi". Dylan menonyor kening Shindy yang memanyunkan bibirnya.


Dylan kembali ke kamar dan menutup pintu tapi gordennya di buka supaya Shindy senang sambil melihat pemandangan kota megah itu.


Shindy keluar memakai handuk di lilit di tubuhnya dan mencari sosok Dylan.


"mas? ". Shindy mencari Dylan tapi tidak ada sahutan.


"mungkin keluar". jawabnya sendiri dengan nada pelan.


Shindy dengan semangat mencari pakaian tidurnya yang demi menggoda Suaminya, Shindy mengusap perut datarnya,,


"biar kamu di hadirkan di negara ini calon debay


(Dedek Bayi) mommy dan Granma pengen punya cucu dan cicit dan Onty Kaisha Onty Nova serta Uncle Keyzo juga menantikan mu nak".


Shindy berharap ia akan berisi saat kembali dari negara ini kalaupun tidak ia ingin merasakan hubungan suami istri itu.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2