
sepulang dari perusahaan seperti biasa ada yang mengikuti mereka,,
"kenapa sih selalu aja ada yang ngikutin? apa mereka benar-benar ngga ada pekerjaan lain? ". gerutu Shindy melihat ke arah spion
Dylan tersenyum mengusap kepala Shindy.
"kita mau kemana? ". tanya Dylan
"kita di ikutin gitu emang ngga masalah? ". Shindy menoleh ke Dylan dengan tatapan polosnya.
"tentu saja ngga masalah!! kali ini yang mengikuti kita hanya penguntitmu saja".
"penguntitku? ". Shindy menunjuk diri sendiri
Dylan mengangguk.
"kok bisa? aku tidak punya fans". ujar Shindy
Dylan terkekeh
"emang harus punya fans terlebih dahulu ya? ".
"benar mas? aku serius nih! siapa yang ngikutin aku coba? aku tidak punya kenalan di kota ini". oceh Shindy
"mungkin pria gila yang mengikutimu sampai ke negara D " jawab Dylan asal
Shindy terlonjak kaget.
"benarkah dia? isssh.. "
"seharusnya kamu senang kan banyak pria yang deketin kamu! artinya kamu cantik ".
ledek Dylan
Shindy memicingkan matanya menatap sang suami.
"apa? ". tanya Dylan mencubit pipi Shindy
"kenapa aku merasa kamu mengejekku mas? "
Dylan tertawa geli
"aku memujimu sayang! biasanya kan tidak ada yang mengejarmu? iya kan"
Shindy memukul-mukul tubuh suaminya.
"enak aja! aku emang cantik dan sebelum aku mengenalmu banyak juga pengusaha kaya menyukaiku".
"hmm... pengusaha kaya yang sudah beristri". ejek Dylan dengan gemas
"aaah... masssss..... tidak semua pria yang mengejarku sudah beristri". amuk Shindy
Dylan tertawa keras berhasil menggoda istrinya yang sudah merah padam menahan kesal.
Shindy melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap kesal suaminya.
"ketawa terus...! "
Dylan menepikan kendaraannya dan langsung mencium bibir Shindy memangutnya dengan lembut dan mesra, Shindy membalas ciuman Dylan tapi dengan mata terbuka jujur ia masih kesal, bibir Dylan berpindah ke leher Shindy.
tiiiiinnn.....
kemesraan mereka terhenti saat mobil yang mengikuti mereka juga berhenti di belakang mobil Dylan dan mobil itu mengklakson kuat.
Shindy memutar bola matanya dengan tajam menatap mobil itu.
"aku sudah bilang pengendara mobil itu marah sepertinya tau aku menyambarmu". kekeh Dylan
__ADS_1
"hanya orang gila mas! ayo kita pulang aja ". ajak Shindy
"tapi aku harus beli sesuatu sayang".
"ya udah ayo aku temani". pasrah Shindy
.
.
Dylan membawa Shindy ke toko perhiasan.
"mas? kamu mau beli emas untuk siapa? ". tanya Shindy penasaran
"buat kamu sayang". jawab Dylan
"mommy memberiku satu set giok antik, kalung, anting semua ada "
"lalu kenapa tidak di pakai? ". tanya Dylan
"mas.. kalung antik itu milik turun-temurun keluargamu kenapa malah di pakai tiap hari? yang ada nanti hilang mas bisa bahaya lah"
"itu sebabnya aku belikan kalung simpel untuk leher jenjangmu sayang! aku rasa kamu harus memakainya setidaknya untuk menyenangkanku".
Dylan mengecup punggung tangan Shindy
Shindy menghela nafas pasrah dan mengangguk patuh pada akhirnya.
Dylan mencari kalung simpel untuk istrinya.
"ambilkan ini! ". Dylan menunjuk kalung yang menarik di matanya.
pelayan toko emas tentu melayani Dylan dan Shindy dengan sangat baik.
"sini sayang !".
Shindy mendekat ke suaminya dan menyibakkan rambutnya ke belakang, Dylan memasangnya dari depan dan melihatnya kebelakang seperti berpelukan.
Shindy berkaca tersenyum melihat selera suaminya yang sangat manis dan simpel.
"ambil yang itu aja! ". Dylan mengeluarkan kartu limitednya membayar kalung itu tanpa di bungkus
.
.
"mau beli apa lagi? ". tanya Shindy mendongak ke Dylan
Dylan merangkul bahu Shindy
"mau makan ngga? "
"ngga mau! udah kenyang". tolak Shindy mengelus perutnya
"lalu? tidak mau bermain? ". tanya Dylan
Shindy menggeleng kepalanya
"aku mau di ranjang aja mainnya. "
Dylan menyentil kening Shindy yang sontak saja terpekik pelan sambil mengusap-ngusap keningnya.
"wanita mesum! ".
"tapi mas suka kan?". tanya Shindy dengan bangga
Dylan mencium lagi kening Shindy yang di sentilnya tadi.
__ADS_1
Gine makin panas melihat kemesraan mereka, ia menunggu Shindy sendirian tapi kenyataannya Dylan tidak meninggalkan Shindy selangkahpun bahkan sampai ke toilet pun Dylan menunggunya di depan pintu.
"Dylan sialan itu benar-benar mencintai istrinya tidak meninggalkan istrinya sedikitpun! tapi bagus semakin kau mencintainya semakin baik untukku"
seringai Gine
sementara Dylan berlagak tidak tau kalau Gine mengikutinya sampai saat ini.
Shindy keluar dari toilet dan terkejut melihat segerombolan wanita berkumpul beberapa meter dari posisi Dylan berdiri, mereka menatap Dylan dengan tatapan memuja sementara Dylan acuh tak acuh malah fokus memainkan ponselnya dengan wajah datar super dinginnya.
"mas? ".
Dylan melihat ke arah Shindy dan menyimpan ponselnya dan Shindy berjalan cepat mendekati Dylan.
"gimana? perutnya udah lega? ". tanya Dylan mengusap perut Shindy
"udah baikan mas! ayo kita pulang terus buat dedek bayi!". ajak Shindy sengaja mengeraskan suaranya
Dylan menautkan alisnya tapi mengikuti kemauan Shindy meninggalkan tempat itu sementara para wanita yang menatap Dylan tadi sudah ambruk dan lemas membayangkan Dylan Shindy melakukan hubungan suami istri.
"kenapa sayang? ". tanya Dylan heran
"kenapa? kenapa kamu tanya mas? ".
"iya kenapa sayang? kok kamu jadi marah? ". tanya Dylan tidak peka
"mereka menatapmu mas! ". kesal Shindy menunjuk ke arah toilet wanita tadi.
Dylan menaikkan sebelah alisnya lalu persekian detiknya tertawa, Shindy menarik tangan Dylan pergi dari tempat itu karna suaminya jadi pusat perhatian
"kenapa mereka selalu nempel seperti perangko? bagaimana caraku bisa dekat dengan wanita nya Dylan? ". desis Gine dengan geram
Gine sangat tau kemampuan beladiri Dylan jauh diatas rata-rata jadi tidak akan mampu melawan Dylan malah hanya mengantarkan nyawa saja.
.
.
Dylan dan Shindy masuk ke kamarnya,
"mas? ". kesal Shindy sejak tadi suaminya tidak berhenti tertawa
"apanya yang lucu sih mas? ketawanya ngga ilang-ilang". gerutu Shindy
"kamu cemburu itu sangat lucu sayang".
Shindy tersenyum licik dan langsung memegang ekor depan Dylan yang mengerang seketika tawanya terhenti begitu saja.
"siapa suruh menertawaiku? ". senyum tipisnya Shindy merasa menang dengan entengnya Shindy hendak masuk kamar mandi tapi Dylan mengejarnya
"tanggung jawab !!"
Shindy menggeleng kepalanya pertanda tidak mau padahal tangan nakalnya sudah menjalar kemana-mana.
terjadilah drama percintaan mereka di mana-mana hampir di setiap sudut kamar mereka melakukannya bahkan di kamar mandi pun masih melakukannya dibawah pancuran shower.
berbeda dengan Gine di luar menatap mansion megah Melviano dengan marah.
"entah kapan waktu itu tiba? sepertinya aku harus menggunakan cara licik! Dylan sangat berhati-hati menjaga istrinya sudah pasti tidak akan mudah menemui istrinya"
"sialan...! kenapa bukan aku yang pertama kali berjumpa dengannya? Shindy? ya.. istri Dylan bernama Shindy..."
"Shindy...? aku akan mendapatkanmu bagaimana pun caranya walau harus menempuh jalan curang! setidaknya aku harus membuat mu menjauh dari Dylan supaya kita bisa bertemu dan dekat"
Gine tersenyum jahat seperti mendapatkan ide menjauhkan Dylan dan Shindy supaya Gine bisa hadir di tengah-tengah mereka.
.
__ADS_1
.
.