
.
.
Dylan diam melihat pemandangan dibalkon kamarnya,
Shindy di desak oleh Kaisha dan Nova masuk ke kamar Dylan.
"tapi nanti tuan muda marah Kaisha.. Nova? kakak tidak mau". tolak Shindy.
"ayo dong kakak ipar kami pengen punya keponakan lucu". rengek Kaisha
Shindy melebarkan matanya.
"kenapa kalian meminta keponakan sama kakak? kalian katakan sendirilah pada kakak kalian memang apa hubungannya dengan kakak? "
Shindy berlagak tidak memiliki hubungan apapun dengan Dylan padahal seluruh keluarga Melviano sudah tau Shindy dan Dylan sudah menikah.
"kami mau keponakan dari kakak ipar lah". sungut Nova mendorong tubuh Shindy ke arah kamar kakaknya.
"apa apaan kalian? pikirkan saja pelajaran kalian kenapa malah meminta hal itu pada kakak? kalian pikir kakak ini siapa kalian? " gerutu Shindy berusaha mengelak Nova yang tengah bersusah payah mendorongnya masuk ke kamar Dylan.
"kakak ipar kami". jawab Nova dan Kaisha kompak
"apa maksud kalian sih? ". tanya Shindy tak faham maksud kedua kata-kata kakak adik itu,
sifat adik-adik Dylan berbanding terbalik dengan sifat Dylan yang lebih tertutup dan arogan.
"udah kakak ipar jangan ngoceh muluk deh..! cepat masuk beri kami keponakan lucu ya? ". Kaisha dan Nova kompak mendorong Shindy hingga tubuh Shindy masuk ke kamar Dylan.
Shindy berbalik segera berlari ke pintu.
baik Kaisha, Nova serta Shindy saling berebut tarik menarik gagang pintu kamar (Handle )
"Kaisha? Nova kakak mohon jangan begini? bercanda ada batasnya juga jangan begini ya? ". bujuk Shindy berusaha terlihat menyedihkan tapi sayangnya Kaisha dan Nova kompak melebarkan senyum manis lalu mengunci pintu kamar Dylan dengan cepat.
Shindy berusaha membuka Handle pintu kamar Dylan tapi tidak bisa.
"bagaimana ini? nanti kalau tuan muda marah bagaimana? ". ujarnya gelisah tidak karuan.
"kau? sedang apa? ".
suara itu mengagetkan Shindy hingga si empunya berbalik badan menempel di pintu kamar Dylan.
"maafkan saya tuan! saya di tarik oleh ....!"
kata Shindy tergantung ia ragu mau mengatakannya.
Dylan menarik nafas panjang,
"tidurlah".
Shindy terkesiap mendengarnya.
"tidurlah di ranjang ku! "
ulang Dylan lagi sambil berjalan ke arah ranjangnya membuka selimutnya.
Shindy berjalan dengan ragu-ragu ke arah Dylan,
__ADS_1
"ayo masuk kebalik selimut ". perintah Dylan
"hah? tuan tidur dimana? ". tanya Shindy gelagapan.
"aku? ya tidur di kasur ini lah! ". jawab Dylan dengan enteng
Shindy terkejut mendengarnya.
"aku ingin tau isi kepala tuan Salju ini ".
Dylan menyelimuti Shindy persis seperti anak kecil yang di urus oleh sang ayah.
"bukankah tadi kau tidak tidur! jangan fikirkan apapun tidurlah besok kau harus bekerja tidak ada cuti ".
Shindy mengangguk-ngangguk patuh.
Glek..!!
Shindy melirik ranjang yang terasa bergetar saat Dylan juga naik ke atas ranjang yang sama dengannya.
"kenapa? kau gugup? ". tanya Dylan seolah tau isi kepala Shindy
"hah? s saya ".
"jangan bicara apapun atau memikirkan apapun ! tidurlah mataku sangat berat".
potong Dylan memejamkan matanya.
Shindy tidak bergerak barang sedikitpun ia melirik Dylan sekilas yang tampak memejamkan matanya.
"lihatlah kelakuan kakak kalian Kaisha? Nova? kakak kalian ini tuan Salju yang isi kepalanya tidak bisa ditebak raut wajahnya dingin seperti Es bahkan saat dia berkata lembut pun masih dengan wajah Es nya beruntung kakak kalian sangatlah tampan". batin Shindy mengoceh sendiri mengingat alasan Nova dan Kaisha memaksanya masuk ke kamar Dylan.
Shindy bahkan tidak menyadari semua orang sudah tau pernikahannya dengan Dylan, Shindy mengira Dylan akan merahasiakan hubungannya karna Shindy yakin Dylan menginginkan gadis yang berpendidikan.
.
.
Shindy membekap mulutnya sambil bangkit dari ranjangnya pergi ke arah kamar mandi lalu menyiapkan air untuk Dylan mandi, semua baju dan segalanya sudah Shindy siapkan sebagai istri sekaligus sebagai sekretaris pribadi Dylan.
"tuan muda bilang minta dibangunin pagi apa tuan tidak marah aku bangunkan jam segini? ". gumam-gumam Shindy melihat jam dinding.
Shindy menggeleng kepalanya menepis pikiran lainnya.
"tuan muda benci membuang waktu pasti ada alasan kenapa tuan muda minta dibangunkan pagi-pagi buta"
Shindy menarik nafas perlahan lalu menghembusnya perlahan-lahan.
"tuan? ". Shindy membangunkan Dylan.
"hmm? "
diluar dugaan Shindy pria yang sudah sah menjadi suaminya itu malah menyahut bukannya marah.
"bukankah tuan minta dibangunkan pagi-pagi buta begini? ". tanya Shindy
Dylan bangkit mengucek kedua matanya.
"jam berapa? ". tanya Dylan dengan suara seraknya
__ADS_1
Shindy menjawab tapi matanya menelisik rambut Dylan yang sangat tampan dengan poni ke depan menutupi kening Dylan biasanya model rambut Dylan selalu memperlihatkan keningnya.
Dylan berjalan gontai ke arah kamar mandi, Shindy dengan sigap menolong Dylan yang hampir jatuh Dylan menguap lebar lagi-lagi mengucek matanya. Shindy terkesima seperti sebuah keberuntungan baginya melihat sisi lain Dylan.
"terimakasih". ucap Dylan menundukkan kepalanya lalu berjalan sempoyongan ke kamar mandinya.
Shindy tersenyum gemas melihatnya.
"ternyata tuan salju itu sangat menggemaskan kalau di dalam kamar nya! aku ingin menggigit pipinya".
Shindy menggeleng-geleng kepalanya lalu menampar-nampar pelan kedua pipinya menghilangkan fikiran anehnya.
"sadar Shindy! sadaarrr!! ". kesalnya pada diri sendiri.
.
.
sarapan pagi Shindy ragu-ragu mengambilkan sarapan untuk Dylan karna ada keluarga Dylan yang takutnya di curigai.
"kakak ipar bantu kak Dylan! mana bisa kak Dylan makan tanpa ada yang nyiapin, dia itu persis seperti raja loh kakak ipar yang semuanya harus di layani dan disiapkan". Keyzo mengoceh tiba-tiba entah itu mengejek kakaknya atau sekedar menggoda kakak iparnya.
yang lainnya kompak menahan senyum, hanya Kaisha dan Nova yang sejak tadi berbinar harap melihat Shindy.
Dylan melirik Shindy dengan cepat Shindy bereaksi melayani Dylan.
.
.
Shindy di dalam mobil memainkan kucing kecilnya dan Dylan sedang berbicara dengan keluarganya
"kamu bawa kemana istrimu nak? suruh tinggal disini aja". bujuk Kaira
"kenapa kamu membawa pergi istrimu? nanti bisa bahaya sendirian". timpal Mely
"Dylan bawa Shindy ke rumah Dylan mommy, granma tidak perlu khawatir tempatnya! kalau Dylan sudah memilih tempat tinggal sudah pasti tempat itu aman ".
"kamu punya rumah sayang? ".pekik Kaira tertahan
Pasha dan Matt saling pandang lalu menoleh ke Dylan karna Dylan memang tak pernah mengatakan apa-apa sedangkan ketiga adik-adik Dylan sudah tau tempat tinggal Shindy, Nova tau saudara kembarnya punya rumah dan alamatnya sudah tercatat jelas di ingatannya berdasarkan curhatan hati Kaisha yang gemar berceloteh.
"granma tidak menyangka". decak pelannya
"biarkan kami menerima semua secara perlahan-lahan mom Granma ! Dylan makin merasa bersalah padanya karna mommy dan granma yang menikahkan kami dengan situasi menyedihkan".
Kaira dan Mely tersenyum canggung.
"jaga istrimu dengan baik! ". peringatan Matt dan Pasha, dibalas anggukan oleh Dylan masih dengan wajah datarnya yang benar tidak bisa ditebak isi fikiran Dylan.
.
.
di perusahaan Shindy bekerja seperti biasa mengabaikan sindiran-sindiran keras mimi dan rekan-rekannya.
Shindy tak peduli mereka yang penting pekerjaannya selesai dengan baik juga memuaskan, semangatnya makin berkobar karna Dylan sekarang suaminya bukan sekedar atasannya saja.
"demi suamiku! ". batin Shindy tersenyum penuh semangat.
__ADS_1
.
.