Sikembar Sang Penguasa 2

Sikembar Sang Penguasa 2
pertemuan


__ADS_3

Di kamar Dylan dan Shindy.


Shindy terbangun di malam hari mengucek matanya dan tak heran lagi saat tubuhnya keberatan seperti di timpa sesuatu.


Shindy bangkit dari ranjangnya lalu berlari kecil ke kamar mandi.


"perut aku lapar ya? " gumam Shindy mengusap-ngusap perutnya duduk di kloset.


"sayang? "


Shindy terperanjat mendengar panggilan sang suami.


"iya mas? "


"kamu ngapain dikamar mandi sayang? apa perutmu sakit? " tanya Dylan khawatir dengan wajah bantalnya yang setengah terpejam dan setengah sadar.


Shindy keluar dari kamar mandi dan tertawa gemas melihat raut wajah Dylan yang sangat lucu


"aku kebelet mas! dan perut aku sedang berdemo" Keluh Shindy


Dylan mengerjabkan matanya. " mau makan apa? " tanya Dylan mengucek-ngucek matanya.


"mau dimasakin kamu mas" manja Shindy memegang tangan Dylan.


"tunggu bentar ya sayang? aku cuci muka dulu" Dylan menangkup mesra pipi Shindy


Shindy mengangguk patuh dan kebingungan saat Dylan memapahnya ke sofa padahal dirinya baik-baik aja.


"mas? kenapa sih? kan kaki aku masih bisa jalan" tanya Shindy menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"diam aja ya? jangan bergerak sampai aku kembali" peringatan Dylan.


Shindy terpaksa patuh padahal baru sebentar duduk tapi bokongnya sudah terasa panas ingin jalan kesana-kemari hingga Shindy tidak tahan langsung beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya ke arah kulkas lalu mengambil susu kotak untuk diminum olehnya.


"sayang? " Dylan mencari Shindy di sofa tadi sambil melempar handuk yang dipakai untuk mengelap wajahnya


"iya mas? " saut Shindy


"kan aku udah bilang jangan kemana-mana" Dylan mendekati Shindy dan memegang bahu Shindy dengan cemas


"emang kenapa sih mas? aku kan ngga keluar kamar cuma ke sini aja karna haus"


"kamu harus jaga kandunganmu sayang" perintah Dylan dengan tegas mengusap perut datar Shindy


Shindy spontan saja melihat ke perutnya yang di usap lembut oleh Dylan, lalu mendongak lagi menatap Dylan


"maksud mas apa? aku hamil? " tanya Shindy


"iya..! kamu hamil sayang! emang nggak lihat hasil tespeknya garis 2 ?" gemas Dylan


Shindy melebarkan matanya jantungnya berdebar kencang hingga kaki Shindy melemas dengan sigap Dylan menangkap tubuh Shindy dan menggendongnya lalu meletakkan tubuh istrinya di sofa. Dylan berjongkok tepat di depan Shindy lalu mendongak menatap lembut istrinya.

__ADS_1


"besok Kinan akan datang kesini! untuk memeriksa keadaanmu sayang" ujar Dylan dengan lembut


"kenapa nggak ke rumah sakitnya langsung aja mas? " tanya Shindy masih dengan wajah pucat karna masih syok dengan hal yang baru aja dia dengar padahal Shindy sempat menyerah karna pernah terluka karna terlalu berharap.


"disini alat perlengkapan dokter ada hanya tidak ada dokter disini" jawab Dylan


"hah? perlengkapan dokter gimana? " tanya Shindy tidak tau apapun.


"kamu nggak tau ada UKS di kamar ujung sayang? " tanya Dylan malah kaget apa saja yang dilakukan istrinya hingga tidak tau tempat itu.


"ngga" geleng-geleng kepala Shindy


"ya udah lain kali aku jelaskan ! mau ikut atau tetap disini? aku akan membuatkanmu makan malam"


"ikut" jawab Shindy


saat Dylan menggendong Shindy, tangan Shindy terus saja memegang perutnya.


"benar mas? ada dedek bayi disini? " tanya Shindy kini mulai berharap penuh.


"iya sayang! besok akan diperiksa" Dylan mengecup kening Shindy


.


.


.


"udah kenyang kan ? ayo tidur" ajak Dylan menggendong istrinya ke kamar mandi dan menunggu Shindy menggosok gigi lalu mencuci muka.


"aku belum pernah mengalami hal ini sayang! jadi aku hanya berusaha melindungi kalian dengan baik tanpa tau ada yang berlebihan dan tidak"


"iya deh.. mas menang! aku senang mas perlakukan kayak tadi tapi seorang ibu hamil juga tidak boleh malas bergerak nanti susah melahirkan normalnya" jelas Shindy


Dylan menghela nafas panjang "aku akan mengubah sikapku tapi aku tidak berjanji"


"bagaimana dengan target pertamaku? aku tidak boleh membunuh orang saat istriku sedang hamil bagaimana jika anakku jadi lebih kejam dariku? ". batin Dylan merasa frustasi dengan musuh utama yang masih keliaran.


"aku menyesal telah melepaskannya! sepertinya aku harus menyuruh seseorang untuk menyingkirkannya". batin Dylan serius


"mas? "


"hmmm? " saut Dylan tersadar dari lamunannya melihat ke arah Shindy


"mikirin apa sih? kan aku sedang bertanya" kesal Shindy merasa diabaikan.


"maaf sayang.. maaf..! aku sedang memikirkan anak kita perempuan atau laki-laki? mungkin kembar? begitulah kemelut pikiranku saat ini" bohong Dylan dengan senyum manisnya hingga Shindy menebarkan senyum menawannya


"tidak masalah anak pertama kita perempuan atau laki-laki mas! yang penting dia sehat dan jenius sepertimu" kekeh Shindy mulai berangan-angan.


"kita tidur ya? besok aku akan urus semua kerjaan supaya aku kerja di mansion aja "

__ADS_1


"kerja di sini? emang sah? " tanya Shindy


"tentu saja sah..! aku kan bossnya" kekeh Dylan dengan gemas malah di tanya Sah atau tidaknya oleh Shindy


Shindy menyeringai lebar lalu merentangkan tangannya, Dylan mengecup bibir Shindy sekilas lalu menggendong istrinya dengan hati-hati membawa Shindy ke ranjang empuk mereka.


Dylan dan Shindy tidak teringat hal mesum sebab mereka terlalu sibuk dengan pikiran masing-masing walau tidur saling berpelukan mesra.


"ya Tuhanku.. terimakasih atas kepercayaan engkau aku akan jaga titipan engkau dengan baik" batin Shindy terharu sekian lama menunggu anak sekarang baru mendapatkannya.


.


.


ke esokan paginya Dylan izin ke perusahaan terlebih dahulu pada Shindy tapi di tengah jalan ada yang menghadangnya.


"apa ? mau apa? " tanya Dylan malas


"lepaskan dia" suara pria muda yang terdengar sexy.


Dylan menatap datar pelaku utama yang mengincar istrinya bersama ke empat rekan nya yang sudah mati ditangan Dylan ditempat-tempat tidak terduga


"siapa kau? " tanya Dylan berlagak tidak tau


"apa kau yakin tidak mengenalku? " tanya pria itu memicing curiga


"ckk.. emang kau aktor? kenapa aku harus mengenalmu? " decak kesal Dylan seperti benar-benar tidak sadar situasi.


"ck.. lalu siapa yang membunuh ke empat rekanku kalau bukan kau hah?? " teriak pria itu marah-marah


"siapa ke empat pria yang kau sebut rekan? apa hubungannya denganku? apa kau baru saja melucu? kalau mau stand up komedi jangan di depan mobilku membuang waktuku saja" dengan akting yang begitu bagus Dylan memutar kendaraannya memakan jalan lain lalu melewati pria itu yang masih termenung.


"kalau bukan dia siapa pelakunya? ". teriak Pria itu menggelegar.


cukup jauh dari posisi pria tadi Dylan tersenyum penuh kemenangan.


"mari kita bermain-main saja terlebih dahulu! karna aku sudah mematahkan kedua kaki dan kedua tanganmu hingga hanya tersisa kepalamu saja ".


"aku tidak bisa membunuhmu karna istriku sedang hamil jadi akan aku gunakan dengan cara hukum" seringai Dylan dengan licik.


.


.


.


wah.. wah.. wah... niat banget mas Dylan jagain dedek bayi ..hehehe...


Cuzz.. lanjut... Readers setia Othor !


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2