Sikembar Sang Penguasa 2

Sikembar Sang Penguasa 2
masalah kecil


__ADS_3

"tuan? ayo cepat tuan! ". desak Shindy sudah tiba duluan di didepan pintu


Dylan menggeleng kepalanya melihat tingkah Shindy yang terbilang aneh seperti tidak pernah kemari padahal memang benar.


Shindy terperangah melihat desain megah restaurant Nolan Food yang sudah terkenal diberbagi media, Shindy pernah ingin ke kemari tapi tidak pernah sempat karna cukup jauh dari kota tempat tinggalnya dulu.


Dylan menarik lengan baju Shindy yang melongoh bodoh kesana-kemari, sementara manager dan pelayan-pelayan yang lainnya menyambut Dylan merupakan anak sulung dari atasannya.


sebenarnya kaget melihat tuan mereka membawa perempuan tapi tak ada yang berani berbicara,


Dylan masuk ke lantai teratas bagian Rooftop yang hanya bisa di tempati keluarga Melviano pemilik restaurant ini.


"waah.. tempatnya indah sekali tuan". pekik Shindy dengan senang.


Sungguh Shindy tidak pernah merasa bahagia sebelumnya tapi Dylan yang di cap sebagai tuan Salju olehnya bisa membuatnya tersenyum bahagia.


Dylan memutar bola matanya dengan jengah, ia tak peduli Shindy suka atau tidak yang penting baginya Shindy harus makan itu saja.


"cepat kemari gadis penunggu pantai". teriak Dylan.


Shindy mengerucutkan bibirnya tapi juga mendekati Dylan, Dylan memberikan buku menu makan hingga senyum Shindy terbit seketika tanpa sadar duduk di samping Dylan.


"apa ini enak tuan? ". tanya Shindy berbinar


Dylan malah terlihat biasa saja saat lengannya di sandarin oleh Shindy yang mengoceh menanyai makanan yang enak di buku menu itu.


Manager dan yang lainnya membulatkan mata, sudah pasti menebak Shindy memiliki tempat di hati Dylan walau tidak tau posisi apa itu yang penting mereka semua berjanji akan menghormati Shindy


.


.


"sudah kan tuan? boleh saya kesana? ". tanya Shindy penuh harap.


Dylan menatapnya datar dan mengibaskan tangannya membuat senyum Shindy merekah sempurna.


Dylan fokus dengan ponselnya menunggu pesanan tiba sedangkan Shindy sibuk potret sana-sini karna tempat itu sangatlah indah, diam-diam Shindy memotret suaminya yang terlihat begitu gagah dan tampan sedang memainkan ponselnya.


"boleh dong buat aku sendiri". senyum manis Shindy melihat hasil foto Dylan.


Shindy melanjutkan potretnya dan mendapatkan foto dirinya dan Dylan walau Dylan jauh dibelakangnya tapi sudah membuat hati Shindy senang melihat hasil potretnya.


"anda baik sekali tuan Salju ! saya berjanji akan melindungi anda dari kesialan saya ". batin Shindy dengan senyum tulusnya meraba potret Dylan.


"oiii.. makanan sudah datang apa perutmu kenyang berselfi sana-sini hah? ".


Shindy menyimpan ponselnya dan berlari ke arah meja makan mereka yang sudah tertata rapi


"makan yang banyak". perintah Dylan dengan wajah datarnya seperti tembok mulus saja.


"terimakasih tuan". shindy memejamkan matanya sebelum makan dan Dylan melihat itu tersenyum tipis ia juga memejamkan mata berdoa sebelum makan.


mereka makan dengan tenang tanpa gangguan, Shindy yang makannya begitu lahap tidak seperti wanita anggun lainnya hal itu membuat Dylan menahan tawanya sekuat tenaga beruntung bisa di tutupi dengan wajah datar + kemampuan aktingnya yang memukau.


"waah... enak sekali tuan". puji Shindy mengelap bibirnya dengan tisu


Dylan melirik tisu itu tidak ada goresan lipstik sedikitpun, Dylan jadi penasaran

__ADS_1


"apa kau tidak memakai lipstik? ".tanya Dylan


"hah? saya tidak pernah pakai lipstik selain di acara pesta saja tuan muda ! karna saya tidak mampu beli lipstik." jawab Shindy dengan jujur.


"hmmm". Dylan manggut-manggut ia enggan meminta Shindy beli lipstik karna bibir Shindy sudah merah alami malah Dylan selama ini mengira Shindy pakai lipstik.


"sudah kan? kita harus kembali ke kantor". Dylan berdiri dari duduknya.


Shindy pun bangkit bersiap mengikuti Dylan.


"aku ke toilet sebentar kau tunggu disini". perintah Dylan dengan serius.


"baik tuan ". jawab Shindy


Shindy duduk di ruang tunggu menunggu Dylan kembali.


"lihat mah ada di pembawa sial".pekik Alexa dengan heboh hingga semua mata melihat kepadanya.


Yuni menatap nyalang anak dari kakak kandungnya itu, ia begitu benci Kakaknya sendiri yang selalu lebih baik darinya.


"kenapa perempuan pembawa sial itu ada disini? bukannya restaurant ini milik orang kaya raya ya? ". Yuni menarik tangan Alexa mendekat ke Shindy yang terlihat acuh seakan tidak mengenal 2 wanita itu.


"ohh.. berlagak tidak kenal ya? " Yuni menarik kasar rambut Shindy, Shindy yang kaget spontan saja meninju wajah bibinya sendiri karna itu alami gerakan tubuhnya saja.


"mama". teriak Alexa membelalak.


"Oupsss!! Sorry kenapa anda menarik rambut indah saya? ". Shindy berkata centil merapikan rambutnya


Yuni merasa terhina,


"dasar wanita pembawa sial! kenapa ada wanita ini disini? kalian hanya membuat restaurant ini tercemar kesialannya. "


"hanya karna kau simpanan tunanganku jangan harap kau berpikir berkuasa disini". teriak Alexa dengan marah.


Shindy menepis kasar tangan Alexa yang hendak menamparnya.


"wajah saya sangat berarti nona jangan merusak penampilan saya "


Alexa makin frustasi,


"bukankah tuan Dylan suamiku? boleh dong aku gunakan kekusaan suamiku untuk mengusir kedua wanita iblis ini". batin Shindy


"penjaga! penjaga ?" teriak Shindy


"iya saya nona". sahut kedua satpam


"seret kedua wanita ini keluar! jangan biarkan mereka berdua masuk jika saya dan tuan muda masuk ke tempat ini". perintah Shindy dengan aura kepemimpinannya yang keluar begitu saja mirip seperti mendiang ayahnya terdahulu.


Yuni makin geram begitu juga Alexa,, para satpam menyeret Yuni dan Alexa hingga Yuni makin heran kenapa kedua satpam itu menghormati Shindy.


"Fiiuuh... ". Shindy menarik nafas lega karna kedua wanita jahat itu sudah ia usir berkat kekuasaan suaminya.


Shindy tidak mau harga dirinya diinjak-injak oleh bibinya lagi itu sebabnya ia berani mengusir mereka berdua.


.


.

__ADS_1


"tuan? ". Shindy melihat Dylan yang terlihat pucat


"maaf apa aku membuatmu menunggu terlalu lama ? ". tanya Dylan


"tidak apa tuan ! apa tuan sakit? ". tanya Shindy khawatir.


"hanya perutku sedikit bermasalah ". jawab Dylan mengusap perutnya


Shindy jadi khawatir.


"apa karna tuan makan terlalu banyak tadi? "


Dylan menggeleng kepalanya.


"sepertinya tidak! " jawab Dylan.


"ayo kita ke dokter tuan anda terlihat pucat". ajak Shindy tanpa sadar memegang rahang Dylan.


Dylan mengangguk saja,


Shindy membantu Dylan berjalan hal itu terlihat jelas oleh pelayan dan manager yang melihatnya dari jauh, mereka jadi yakin Shindy kekasih Dylan karna tuan muda mereka itu tidak pernah mau disentuh oleh wanita secantik apapun.


.


.


Shindy membawa Dylan ke rumah sakit terdekat,


"bagaimana keadaan tuan saya dokter? ". tanya Shindy khawatir.


"hanya pencernaan nona! tidak serius kami sudah memberi obat dan sekarang tuan muda bisa pulang ! harap dijaga pola makan tuan muda nona".


Shindy lega mendengarnya,


"Shindy..? "


"iya tuan? ". sahut Shindy segera berlari kecil ke Dylan


dokter tersenyum lalu meninggalkan Shindy dan Dylan.


"jangan beri tau mommy ku". pinta Dylan serius


Shindy menghela nafas panjang.


"saya juga tidak punya keberanian mengatakannya pada tante tuan"


.


.


.


Cieee udah makin dekat nih....


Esok lagi yee..


selamat beraktifitas di pagi yang menyenangkan!!

__ADS_1


.


.


__ADS_2