
"bagaimana jika aku di ikuti seseorang! dan belum lagi kejadian saat aku syuting, aku harus bagaimana tuan? " tanya Dewi masih tak menyerah
"sebenarnya apa tujuanmu? " tanya Ali menatap datar Dewi
"aku menyukaimu" ungkap Dewi dengan jujur
"jika kau menyukaiku itu bukan urusanku! kalau tuanku bilang tugasku selesai maka tugasku selesai tidak ada urusannya dengan perasaanmu"
"jadi anda tidak menyukaiku sedikitpun tuan? apa anda tidak normal? " pekik Dewi spontan saja Ali membekap mulut Dewi hingga jarak wajah mereka begitu dekat.
"apa kau tidak bisa bicara dengan nada pelan? " ujar Ali dengan dingin
" Zt.. hnshsmdmdj? " jawab Dewi tidak jelas sebab Ali membekap mulutnya.
"hah? " bingung Ali lalu melepaskan tangannya dari mulut Dewi
" tidak bisa tuan! anda memiliki badan yang sangat bagus dan juga anda sering melihat saya memakai handuk saja apa anda benar-benar tidak tertarik pada ku? " desis dewi dengan kesal.
"sudah? "
"apanya? " tanya dewi bingung
"berhenti bersikap kekanakan aku bukan bodyguardmu aku ditugaskan melindungimu karna tuanku" Ali kembali mengepak barang-barangnya yang sedikit tapi cukup berantakan berserak kesana-kemari.
Dewi terlihat kesal selalu saja diabaikan dengan wajah triplek itu.
"apa yang harus aku lakukan supaya kamu melihatku sebagai wanita? " tanya Dewi langsung duduk di ranjang Ali.
"tinggalkan pekerjaanmu sekarang ! apa kau sanggup menurutiku? ". Ali berbicara dengan serius
Dewi terdiam "jika aku tinggalkan kamu akan menyukaiku? "
"hmmm" jawab Ali
"baiklah! aku akan tinggalkan untukmu lalu aku akan mendaftar bekerja di tempatmu bekerja" senyum lebar Dewi
Ali tertegun mendengarnya dia tau bagaimana sayangnya dewi dengan pekerjaannya menjadi model papan atas sekaligus bintang Film tapi tak disangka oleh Ali, dewi meninggalkan pekerjaannya demi dirinya.
"kau serius? " tanya Ali
"aku serius padamu tuan! anda tidak tau bagaimana kesepiannya aku saat ini, cacian publik membuat perut saya kenyang dan ibu saya juga tidak ada lagi, saya bekerja seperti ini karnanya saya pantas di sebut jal*ng tapi apa salah saya jika semua orang pergi? untuk apa uang yang saya punya? tidak ada gunanya "
"hanya anda yang tersisa tuan! saya tidak butuh apapun lagi" senyum tulus Dewi untuk pertama kalinya tersirat juga kesedihan dimatanya.
tanpa sadar Ali tersentuh dengan kata-kata dewi.
"walaupun kau hidup sederhana denganku? " tanya Ali
"hmmm". dewi langsung mengangguk yakin tanpa banyak berpikir.
__ADS_1
"kalau begitu cepat keluar dari pekerjaanmu menikahlah denganku" seru Ali dengan serius
Dewi membulatkan matanya melihat Ali tanpa berkedip.
"benarkah tuan? ". tanya Dewi berdiri dari duduknya langsung berhadapan dengan Ali
"bukankah kau bilang tidak punya teman? tidak punya siapa-siapa lagi ! aku juga tidak punya siapa-siapa selain tuanku saat ini"
Dewi memekik senang langsung berhambur memeluk Ali tanpa malu mencium bahu Ali dengan gemas.
"jadi kau bisa membiarkanku pergi kan? " tanya Ali dengan wajah datarnya.
"bisa" jawab Dewi dengan senyum malunya
Ali langsung keluar membawa kopernya menuju ke Bagus yang tengah duduk di sofa menunggunya.
"bagaimana bang? udah siap? "
"sudah tuan" jawab Ali tak memandang umur Bagus yang lebih muda darinya.
Bagus mengangguk lalu berjalan duluan disusul oleh Ali dan Dewi yang saling mengekori satu sama lain.
Dewi melambai saat mobil Bagus meninggalkannya, tak ada kesedihan di mata Dewi malah hanya ada binar kebahagiaan.
"awal yang bagus..! aku menikah dengannya otomatis dia akan menjadi milikku" senyum lebar Dewi.
(ck.. ck.. ck.. Couple baru cek..)
.
.
cukup licik cara Shindy bisa keluar mansion, entah dapat keberanian dari mana dia bisa melawan perintah Dylan.
(mungkin dedek bayinya yang bandel.. wkwkwk)
"Nona? bagaimana jika kita kenak marah sama tuan? " tanya Rilly khawatir.
"tenang aja Lyli aku udah kabarin mas Dylan dan katanya dia akan menyusulku kesini" cengir Shindy
Rilly tak tau mau bicara apa lagi.
"tapi dimana jual ciloknya nona? " tanya Rilly kebingungan menelusuri jalanan dengan teliti
"kenapa lambat sekali Ly? bagaimana bisa sampai kalau kecepatannya lebih kencang siput.. " gerutu Shindy
"siput tidak secepat itu nona" selah Rilly
"isssh.. pokoknya jangan lambat Ly". keluh Shindy
__ADS_1
"tidak bisa kencang nona nanti masuk lubang kandungan anda bisa dalam bahaya? ". jelas Rilly
"tapi nggak gini juga lambatnya Ly.. ". kesal Shindy
Rilly tak mengindahkan kata-kata nona nya yang penting baginya melindungi anak dalam kandungan Shindy yang sangat berharga bagi tuannya.
Shindy menekuk wajah cantiknya dengan jalan mobil yang super lambat persis seperti mobil yang sedang kempes ban.
setibanya di tempat tujuan Dylan telah tiba menyusul Rilly dengan cepat karna Rilly bawa mobilnya lambat.
"sayang? kenapa main kabur aja dari rumah hmm? kan aku khawatir" Dylan menangkup wajah masam Shindy.
"pengen makan cilok.. " rengek Shindy menunjuk banyaknya pelanggan yang beli cilok.
Dylan menghela nafas panjang "terus kenapa wajah cantik ini di tekuk hmm? "
"Lyli mas...! masa udah 1 jam dari jalan X ke Jalan Y ini butuh waktu 1 jam lebih? jalannya lambat sekali" adu Shindy dengan kesal
sementara Rilly terlihat tidak takut sedikitpun karna Rilly tau dirinya tidak bersalah hanya berusaha melindungi Shindy dan bayinya.
"bagus dong..! dia cuma mau kamu baik-baik aja sayang" gemas Dylan
Dylan mengedarkan pandangannya melihat ada yang tidak beres dan bersitatap dengan seorang wanita yang terlihat tajam melihat ke arah Shindy
"masuk sayang! biar aku yang belikan" Dylan langsung menggendong Shindy yang terpekik seketika
Rilly yang tau gelagat Dylan langsung mendatangi wanita asing itu, Rilly tau wanita itu bagian dari musuhnya.
"kenapa kau datang kesini? apa kau bosan hidup? " tanya Rilly dengan dingin
"kau ? aku tidak ada urusan denganmu! aku hanya berurusan dengan tuanmu ! sepertinya wanita itu tengah hamil ya? aku bisa menusuk perutnya supaya tidak bisa hamil lagi sepertiku" seringai Billa dengan seringai liciknya
"kenapa kau menyalahkan tuanku? kau yang memulainya terlebih dahulu..! kau tau sendiri tuanku tidak pernah mengampuni siapapun yang berani mengusiknya..! jika kau masih hidup itu sudah keajaiban "
"tidak ada gunanya aku hidup..! aku ditinggalkan suamiku karna aku tidak bisa hamil dan dia yang telah membuatku begini" Maki Billa menunjuk geram Dylan
"kau memusuhi tuanku maka kau juga musuhku"
Rilly menyerang Billa dengan tiba-tiba, kecepatan mereka sangat hebat hingga beberapa orang menjerit melihat perkelahian perempuan itu tapi sangat hebat malah hampir setiap orang yang ada merekam aksi itu.
Dylan membeli ciloknya dengan ukuran besar ia tau kemampuan Rilly yang pasti bisa mengalahkan Billa
setelah mendapatkan apa yang dia mau Dylan mengusir orang-orang yang merekamnya dan sebagai gantinya Dylan membayar uang tutup mulut mereka semua.
"aku tidak akan memberi celah untuk siapapun" Dylan melirik ke arah Billa yang tampak terlihat begitu dendam kesumat padanya.
.
.
__ADS_1
.