
"ada apa sayang? kenapa kamu keliatan senang akhir-akhir ini hmmm? ". tanya Dylan tiba-tiba memeluk Shindy dari belakang.
Shindy tidak kaget dengan kedatangan Dylan.
"tidak apa mas! " jawab Shindy menyeringai lebar membalik tubuhnya menghadap Dylan.
"kenapa kamu tidak kaget aku datang sayang? biasanya kamu sering terkejut kalau aku belum memanggilmu terlebih dahulu". tanya Dylan penasaran sambil menyibakkan rambut Shindy ke belakang supaya Dylan lebih leluasa menatap wajah cantik istrinya.
"aku mendengar mu mas". jawab Shindy
"oh ya? tapi tidak ada yang mendengar langkah kakiku sayang". Dylan malah tidak percaya Shindy bisa mendengarnya.
Shindy tersenyum lalu meletakkan tangannya dibelahan dada suaminya. "aku mendengar detak jantungmu".
Dylan menautkan kedua alisnya. "masa sih? " Dylan tidak percaya.
Shindy mengangkat bahunya tidak perduli Dylan percaya atau tidak yang penting itulah kebenarannya.
"ayo jawab! kenapa kamu terlihat senang? ". tanya Dylan mencubit hidung Shindy
"aku meneror seseorang mas! sekarang dia pindah karna ketakutan". curhat Shindy dengan senangnya
Dylan menaikkan sebelah alisnya.. "sampai pindah? ". tanya Dylan lagi dibalas anggukan oleh Shindy
"kok bisa? kamu teror dia apa aja sayang? " tanya Dylan
Shindy menceritakan semuanya hingga Dylan menjatuhkan rahangnya mendengar curhatan Shindy yang benar-benar diluar nalar manusia normal pada umumnya.
"kamu benar-benar melakukan itu sayang? " tanya Dylan sekali lagi
"iya mas! ". jawab Shindy dengan senang.
"siapa suruh dia beraninya menggodamu..! aku menerornya sebagai ancaman supaya dia mengerti jadi kalau dia terbunuh nanti bukan salahku juga". jelas Shindy dengan enteng memeluk Dylan begitu manja.
Dylan tidak bisa berkata-kata lagi, ingin rasanya Dylan menyembunyikan otak kecil istrinya itu atau lebih ingin memperbaiki anaknya lagi.
"*E*mbrioku.. kenapa kalian membuat mamimu begini? apa salah papi nak? kenapa kalian jahat sekali sama papi hah? " batin Dylan memijit pelipisnya yang lagi-lagi berdenyut nyeri.
"siapa saja yang melihatmu sayang?" tanya Dylan.
"siapa yang melihatku maksudnya apa mas? " tanya Shindy balik.
"siapa saja yang tau kamu meneror wanita itu? ". jelas Dylan lagi.
"oooh...cuma Lyli". jawab Shindy kembali memeluk Dylan.
"sayang kamu lagi hamil... dan usia kandunganmu masih 6 minggu.. aku mohon jangan sampai kamu masuk penjara karna ulah usilmu ini yang bisa dilaporkan seseorang ke polisi"
__ADS_1
"iya mas...! aku sudah menutup kamera CCTV dengan permen karet". seru Shindy hingga Dylan tak tau mau bicara apa lagi.
"apa permen karet di tasmu hanya untuk menutup CCTV? ". tanya Dylan
"emang iya". jawab Shindy menyeringai lebar hingga Dylan tersenyum memeluk tubuh Shindy dengan mesra.
bagaimana pun usil dan nakalnya Shindy, Dylan tidak bisa marah dengan perbuatan istrinya itu.
.
.
Aria yang merasa sudah bebas 2 hari ini tersenyum senang,
"walaupun rumah baruku tidak sebagus yang sebelumnya tapi setidaknya rumah ini aman dari teror gila itu".
Aria terlonjak kaget mendengar seseorang menekan bel.
Aria membuka pintu rumahnya dan matanya membulat sempurna melihat kotak dengan tanda nama PLK (PeLaKor).
"ada lagi? apa peneror ini tau aku pindah rumah? ". gumam Aria melirik situasi.
Aria menendang tutupnya ke atas hingga terlihatlah sebuah surat dari tinta darah di atasnya.
"jangan pernah mencoba bermain-main denganku! jika kau masih ingin hidup tenang pergi dari hidupku jauh-jauh.. ". tulisan itu tertera dengan tinta darah.
"darah apa itu? kenapa amis sekali". Aria menendang kotak itu menjauh lalu ia kembali masuk ke rumahnya.
Aria tidak akan membuka pintu lagi dan tidak akan menerima kado apapun.
jujur Aria takut dengan ancaman itu tapi ia benar-benar tidak tau dengan siapa dia bermasalah.
sore harinya Aria datang ke sebuah taman liburan dan seperti dapat kartu lotre, Aria mendekati Dylan yang tengah sibuk dengan pekerjaannya dengan Nazar sekretaris Bagus.
"kau? " Dylan menunjuk muka Aria seperti menunjuk seorang kriminal
Aria tersenyum manis merasa diatas awan seolah merasa Dylan mengenalinya karna keseksian tubuhnya padahal Dylan mengenalnya karna Shindy terus-terusan bercerita meneror Aria dengan hadiah yang tidak terduga.
"tuan mengingat saya". Aria memainkan jemari kakinya ke arah belakang kaki satunya, dengan wajah malu-malu melihat Dylan tengah menatapnya.
"dia tampak baik-baik saja! apa teror shindy tidak berlaku padanya? ". batin Dylan keheranan.
"saya tau kalau saya sangat cantik tuan". Aria menyibakkan rambutnya dengan wajah meronanya yang kepanasan diperhatikan Dylan
Dylan menaikkan sebelah bibirnya bukan tertarik dengan tingkah Aria malah ilfil dengan tingkah percaya diri wanita didepannya.
"kenapa kau disini lampu gantung? " tanya Dylan membuat tawa Nazar meledak seketika.
__ADS_1
beberapa karyawan yang akan membuat taman liburan yang baru pun juga ikutan tertawa mendengar ejekan Dylan pada wanita sexy didepan mereka
"kita berjodoh tuan". senyum manis Aria tidak marah disebut lampu gantung oleh Dylan
"sana kau pergi...! aku sedang sibuk ! mengganggu saja ". usir Dylan dengan dingin
Aria bergeser sedikit tapi begitu kecentilan mengikuti Dylan seperti anak ayam mengikuti Induknya hingga Dylan geram dengan tingkah Aria.
"kenapa Shindy tidak membunuh cepat wanita ini". batin Dylan memutar bola matanya dengan jengah tingkah menjijikkan Aria.
Shindy dan Rilly yang memang mengikuti Dylan melihat dari mobil gelagat ulat bulu satu itu.
"sepertinya dia mengabaikan peringatanku". gumam Shindy dengan wajah dingin dan datarnya.
"apa yang harus kita lakukan nona? " tanya Rilly
"dapatkan dia...! aku akan mencekiknya sampai kehabisan nafas". perintah Shindy
"tapi nona tidak boleh mengotori tangan nona demi wanita itu". cegah Rilly
"tenang saja Lyli.. aku akan menjebaknya". seringai menakutkan Shindy.
Dylan yang bosan segera menghentikan langkah kakinya dan melirik ke arah bawahannya
"kalian usir wanita itu jauh dariku! aku muak melihatnya". perintah Dylan
Aria membulatkan matanya, "anda tidak tertarik pada saya tuan? ".
"ciiuh... ! kapan aku bilang kalau aku tertarik padamu hah? ". geli Dylan
Aria gelagapan saat di usir oleh orang-orang berbadan lebih besar dari tubuhnya, Aria merasa saat Dylan menatapnya tadi karna sudah tertarik padanya tapi pada kenyataannya Dylan mengusirnya dan bilang tidak tertarik padanya.
Aria menepis kedua tangannya yang di tarik paksa oleh bawahan Dylan.
"awas saja kalau aku jadi Nyonya Melviano! kalian akan aku pecat". geram Aria dengan tatapan nyalang ke arah orang-orang yang telah meninggalkannya.
Aria memekik di tempat membaca sebuah pesan atas nama Dylan dan meminta nya untuk datang ke Hotel MattGtroup ke kamar 2 President suite.
"yess... ternyata tuan muda memang menyukaiku sampai memintaku untuk datang ke sebuah kamar hotel termahal sewaannya..! woowww...aku harus dandan cantik nanti malam". batinnya kegirangan.
Shindy tersenyum sinis memainkan ponselnya tadi yang ia gunakan untuk mengirim pesan menjijikkan ke Aria
"aku benar-benar habis kesabaran jika kau masih bersikeras menggoda suamiku". batin Shindy dengan seringai jahatnya.
.
.
__ADS_1
.