
Shindy mengikuti kemana Rilly dibawa,
"bantu mami sayang...! " . batin shindy mengusap pelan perutnya.
Shindy melirik tangannya yang ada cincin berlian kecil pernikahannya dengan Dylan.
"papi pasti bisa menemukan kita nak..! sampai papi kalian datang mami mohon bantu mami untuk bisa berpikir jernih ". batin Shindy memasuki mobil Jenny.
Jenny bersenandung senang, Shindy tersentak saat perutnya menonjol-nonjol dibagian-bagian tertentu, Shindy mengedarkan pandangannya dan terlihatlah mobil Dylan yang jauh di ujung jalan.
"mas..? ". batin Shindy saat mobil jenny masuk ke jalan lain.
"yakinlah sayang... Papi pasti menemukan kita.. ". seringai tipis Shindy seperti dapat kekuatan baru
Shindy mengusap perutnya yang mana anaknya begitu aktif didalam sana.
Jenny membawa Shindy dan Rilly ke gedung tua yang tidak terdeteksi jaringan HP.
"apa WIFI nya sudah aktif? " tanya Jenny dengan kesal.
"belum Nona.. disini jaringan sangat susah jadi harus butuh waktu lagi!" jawab bawahan Jenny.
Shindy memeluk Rilly yang masih belum sadar
Jenny tertawa lebar, ia tertawa makin terbahak mengingat semua perlakuan Shindy dan Dylan padanya, dendam yang mendarah daging di tubuhnya kini akan terbalaskan.
"kau akan mati... ah... tidak.. tidak.. Nyonya.. aku harus menunggu jaringan ada..aku akan menghubungi suamimu itu.. ". tawa Jenny dengan gembiranya.
"siapa kau sebenarnya? " tanya Shindy penasaran
"Aku? Bianka". jawabnya tersenyum miring.
"Bianka? kau Bianka? " tanya Shindy
"iya.. kenapa? kau berharap aku akan mati begitu? hanya karna aku buronan kalian fikir aku tidak bisa balas dendam? karna kalian hidupku hancur dan aku akan bahagia jika aku hancur membawa kalian semua". Bianka menyeringai jahat.
Shindy menunduk membuat Bianka merasa diatas awan, sementara Shindy menunduk menutupi senyum menakutkannya.
"tertawalah sepuas mu..! aku akan bantai kalian nanti malam ". batin Shindy.
Shindy memiliki kemampuan melihat di gelapnya malam, ia bisa melihat jelas walau gelap sejak mengandung anak kembarnya.
.
.
tengah malam disaat semua orang yang berjaga gedung gelap itu mulai melemah, dimana para lelaki sudah mengantuk berat walau sudah minum kopi.
Shindy sedang bersiasat dengan Rilly,, perut besar Shindy tidak akan menghalangi rencananya,
"Nona saya mohon.. jangan bertindak gegabah..! pikirkan kandungan anda". bisik Rilly dengan khawatir keadaan Shindy yang hamil besar masih bisa bersiasat licik.
"aku tidak mau dia akan menjadi beban bagi anak-anakku nanti Lyli". bisik Shindy tersenyum.
__ADS_1
"tapi Nona..! "
"sssstt...! diam... nanti rencana ku ketahuan" bisik Shindy menutup mulut Rilly yang masih bisa mengomel tak terima
"kalau begitu saya akan ikut nona". bisik Rilly penuh tekat
"apa kamu bisa melihat di gelap malam? " tanya Shindy
"hah? siapa yang bisa melihat sesuatu digelap malam nona. !" bisik Rilly syok lalu teringat Dylan
"hanya tuan muda yang bisa melihat seekor semut melintasi jalan saat di tengah hutan yang gelap". sambung Rilly lagi
"aku mengandung anaknya Lyli.. ". senyum manis Shindy
Rilly membulatkan matanya melihat kearah Shindy yang terkena pancaran cahaya lilin.
"ma maksud nona? ".tergagap Rilly bertanya
"aku udah bilang kan kalau aku sedang hamil anaknya jadi aku bisa melihat dengan jelas walau tempat ini gelap ". bisik shindy menyeringai
Rilly tiba-tiba memijit pelipisnya, bagaimana bisa nona nya masih tersenyum dan menyeringai senang seperti dapat mainan baru saja padahal saat ini situasi mereka sedang di culik.
Shindy keluar dari ruangan pengap itu dengan mudah karna ia punya kuncinya,, dicuri oleh Shindy dari kantong celana orang yang melihatnya tadi.
Rilly terpaksa meraba di dinding karna tidak bisa melihat jalan sedangkan Shindy sudah membekap lalu menyentrum para penjaga ruangannya sampai pingsan.
duugh...
Rilly tersandung tubuh pria berbadan besar yang sudah di jatuhkan Shindy.
"Nona? bangun Nona..? maafkan saya". bisik Rilly meraba-raba tubuh pria itu.
Rilly mengernyit kenapa ia merasa dada Shindy keras bukannya seperti perempuan yang kenyal tapi keras seperti dada Pria..
Rilly memegang wajah nya hingga ia memekik tapi dengan sigap ia menutup mulutnya supaya tidak terdengar oleh yang lainnya.
"sejak kapan Nona berjambang dan berkumis ? menggelikan sekali..! dimana Nona? ". batin Rilly meraba-raba lagi jalan yang ia lalui.
sementara Shindy sudah menjatuhkan dan membunuh semua bawahan Jenny..
"hm.. 28 orang... tinggal 3 Orang lagi" gumam Shindy tersenyum miring.
Shindy mengendap-ngendap ada kain putih diatasnya lalu tanpa pikir panjang di ambil olehnya menutupi tubuhnya sekeliling..
tangan Shindy dengan cekatan menggerai rambutnya lalu membuatnya berantakan..
"hihihihihihihi....! " Shindy mengeluarkan suara lengkingannya yang menyeramkan.
2 pria yang berjaga spontan saja melihat ke belakang dan melihat Shindy dengan gaun putih yang terseok-seok dan lagi tangan Shindy yang berlumur darah begitu juga rambutnya yang berantakan membuat 2 pria berbadan besar itu gemetar ketakutan.
"kaliiaaan...menggangguku...! hihihihi... ikutlah denganku ke alam baka.. ". Shindy bersuara layaknya kunti di film Horor.
"aaaaaaakkkh.. han.. han.. hantuuuuuuuu.. hantuu.. " teriak 2 Pria itu kocar-kacir meninggalkan gedung tua itu.
__ADS_1
"hihihihi.. kalian mau kemana...? " teriak Shindy masih dengan perannya padahal perut besarnya sedang menahan tawa sekuat tenaga saat ini..
tidak ada lagi suara disekitarnya hanya suara jangkrik, lolongan serigala dan kodok saja yang menghiasi gelap malam saat ini..
Shindy tertawa terbahak-bahak seketika, ia sampai memegang perutnya yang besar, disaat hamil besar pun masih bisa usil saja tingkah babynya itu.
Shindy terdiam seketika lalu tersenyum menakutkan dengan rambutnya yang masih berantakan itu.
Shindy berjalan dengan pakaian putihnya ke arah kamarnya Jenny yang ia ketahui tadi sore.
"aaaakkh...! " pekik Rilly melihat sosok putih melintas di sudut jalan.
walau gelap tapi sesuatu berwarna putih akan terlihat di gelap malam.
"ha.. hantuu...! Nona ada hantu... " teriak Rilly yang mengira Shindy hantu
Shindy tidak mendengarkannya malah serius berjalan ke arah kamar Jenny
Jenny yang mendengar jeritan terbangun seketika dan terpaku melihat sosok berpakaian putih yang mana tangannya ada banyak darah..
"ka.. kau siapa? hantu..? hantu apa kau? " tanya Jenny terbata-bata takut.
Jenny memekik ditempat saat Shindy mendekat, Jenny berlari ke arah belakang dimana ada kolam tua disana.
Jenny yang tidak bisa melihat pun tercebur ke kolam itu sedangkan Shindy terus menyeret-nyeret pakaian putihnya sampai kotor, Shindy mengaktifkan aliran listrik di lipstik pelindungnya pemberian Kaisha yang suka koleksi alat sentrum untuk menjaga diri.
"mati...! " seringai Shindy melempar alat sentrum yang memiliki aliran listrik beratus Volt ke kolam tua itu.
"aaaakhhh... akhh... " Jenny berteriak saat tubuhnya tersentrum listrik dikolam itu.
Jenny tidak bisa keluar,,
Shindy masih terus mendengarkan jeritan Jenny sampai benar-benar menghilang suaranya yang bisa Shindy pastikan Jenny sudah meninggal kesentrum listrik yang di tambah air membuat siapapun meninggal jika terkena 2 hal itu secara bersamaan.
Shindy masih berdiri disana sampai Jenny tak terlihat lagi alias tenggelam ke bawah dan besok pagi tubuh Jenny pasti akan keluar dengan sendirinya.
"kau yang mencari masalah denganku..! hanya karna aku hamil tua? aku tidak akan membiarkan kau menyakiti anakku". Shindy tersenyum puas dengan hal yang terjadi didepan matanya.
tangannya yang bersimbah darah mengusap perut buncitnya.
.
.
.
sadisss... tapi Nae Suka mbak Shindy.. hajar terusss... Esok lagi ya sayangku? hehehe...
Love You All.. 😘😘😘😚
.
.
__ADS_1
.
.