Sikembar Sang Penguasa 2

Sikembar Sang Penguasa 2
pengawal baru


__ADS_3

.


Dylan keluar dari Lift menggendong Shindy dibelakangnya, para pelayan yang melihat kemesraan Dylan dan Shindy menahan tawa gemas masing-masing sekuat tenaga.


Dylan terlihat acuh dengan wajah datarnya, sedangkan Shindy memeluk leher Dylan bersenandung pelan sambil melambai menyapa para pelayan Melviano yang tak kuat menahan senyum dengan kelakuan Shindy yang sangat ramah menyapa mereka padahal hanya seorang pelayan.


"kita makan apa mas? " tanya Shindy dibelakang Dylan


"entah lah! aku tidak berselera makan". jawab Dylan dengan jujur


"ngga boleh gitu mas! turun kan aku mas "


pinta Shindy


Dylan menautkan alisnya dan menurunkan istrinya.


"lihatlah kemampuan istri cantik mu ini saat memasak! selain pengertian, hebat di atas ranjang juga jago beladiri, masak plus bonusnya wajah cantik ini ".


Dylan menyentil kening istrinya itu.


"dasar wanita narsis".


Shindy mengerucutkan bibirnya mengusap-ngusap keningnya yang sudah menjadi makanan sehariannya di jitak manis oleh sang suami.


"muah.. ". Dylan mengangkat dagu Shindy lalu mel*matnya singkat dan diakhiri kecupan singkat lagi jari telunjuk Dylan mengetuk pipi Shindy.


Shindy hendak menjitak kening Dylan tapi Dylan sudah menangkap tangan Shindy dan menguncinya ke dinding.


"ih... mas curang". pelototan horor Shindy berusaha melepaskan diri dari kuncian tangan Dylan


Dylan menyeringai lalu mengecup pipi Shindy, leher Shindy memberi sebuah karya indah disana. Shindy menikmati kecupan manis Dylan malah mendongakkan kepalanya seperti memberi izin pada Dylan untuk mencumb* lehernya.


"udah jangan marah lagi ya? ". gemas Dylan meradu hidungnya dengan hidung Shindy lalu kening mereka menyatu mesra


Shindy menebarkan senyum manisnya.


"iya mas ! sekarang lepasin aku ya! biar aku bisa masak untuk mas ".


Dylan melepaskan tangan Shindy, Shindy tersenyum lalu berlalu dari Dylan memakai celemek. Dylan menatap intens pemandangan indah di depannya dimana Shindy tengah menyanggul tinggi rambutnya dengan jepit rambut nan kecil.


Glek..!


Dylan bersusah payah menelan salivanya melihat leher jenjang dan punggung mulus istrinya yang terlihat separuhnya.


"kenapa pikiranku jadi ketularan mesum sepertinya? ". batin Dylan menggeleng-geleng kepalanya.


cukup lama Dylan menahan hasratnya melihat pergerakan lincah sang istri,,


"nah.. udah siap mas! tinggal makan". Shindy meletakkan semua makanan sederhana buatan tangannya.


Dylan berdehem pelan, Shindy mengerutkan keningnya melihat gelagat aneh suaminya yang tak seperti biasa yang selalu datar tapi tatapannya tidak dingin pada Shindy sekarang suaminya malah terlihat tidak bisa duduk dengan tenang.


"kenapa mas? ". tanya Shindy penasaran


"kasih jatah aku ya? ". ujar Dylan tak nyambung


Shindy makin kebingungan.


"jatah ap ..?". kata Shindy tergantung sepertinya otaknya langsung faham maksudnya.


Dylan mengangguk.


"mas kok jadi kepikiran kesitu sih? tadi aja nolak aku terus sekarang minta jatah". gerutu Shindy

__ADS_1


Dylan menggenggam tangan sang istri dan mengecupnya sayang, Dylan mengeluarkan sebuah kotak kecil dari kantong celananya dan membuka kotak itu di depan Shindy.


"kotak apa mas Eh? "Shindy terkejut melihat sepasang cincin pernikahan yang cantik dimatanya.


Dylan tersenyum lalu mengambil cincin berlian kecil dari kotak kecil itu lalu memasangkannya di jari manis Shindy. Shindy mengambil cincin yang besarnya dan memasangkannya di jari manis Dylan


"aku memesannya langsung dari negara M jadi butuh waktu lama selesainya".


ujar Dylan


Shindy tersenyum manis, matanya berkaca-kaca haru.


"mas aku suka sekali".


"hm.. beri aku hadiah plus-plus". kata Dylan sambil mulai mencicipi makanan buatan sang istri.


"iya mas..! aku pasti kasih deh.. plus plusnya sampai pagi juga boleh". senyum menawan Shindy memamerkan cincin pernikahannya.


Dylan tersenyum tipis namun tersirat penuh kemenangan melihat kegembiraan sang istri apalagi dirinya dikasih jatah sampai pagi pria mana yang tidak akan senang.


.


.


.


pagi harinya..


Dylan bersiap-siap bekerja sementara Shindy mengucek-ngucek matanya di balik selimut yang menutupi tubuh polosnya


"mas? ".


"hmm? ". Dylan mendekat ke Shindy dan duduk di tepi ranjang merapikan rambut istrinya.


"jam setengah 7 ! aku ada rapat penting apa kamu mau ikut? ". tanya Dylan dengan lembut.


Shindy menggeleng kepalanya.


"aku tidur aja ngantuk nggak tidur tadi malam! mas juga nanti harus tidur siang ya? ".


Dylan mengangguk.


"tidurlah! nanti saat aku pulang kamu harus segar dan kuat lagi sayang"


Shindy terkekeh lalu membenarkan dasi yang dipakai suaminya, Shindy mengecup pipi Dylan


"hati-hati ya? ". ucap Shindy dengan serius dengan wajah bantalnya.


"hmm! nanti siang akan ada tamu perempuan yang akan bertugas mengawalmu untuk kedepannya sayang".


"pengawal? kamu benar menyewa pengawal untukku mas ? apa tidak merepotkan mas? ".


"kenapa merepotkanku? setidaknya kamu bisa keluar mansion dan punya teman! kalaupun kamu dikamar dia tidak akan masuk kekamar kita ".


panjang pembicaraan akhirnya Shindy mengalah tidak lagi menjawab pembicaraan sang suami yang sudah teguh pendirian benar-benar akan memberinya pengawal.


.


.


Dylan ada di ruangannya lalu menutup berkas nya saat ada tamu yang masuk ke ruangannya.


"kau datang Rilly? ". Dylan tersenyum tipis melihat tamunya.

__ADS_1


"iya tuan muda! maafkan saya terlambat memenuhi perintah anda"


Ucap Rilly


"tidak apa! aku tak mempermasalahkannya sebaiknya kamu langsung bawa barang-barangmu ke mansion keluargaku dan aku juga sudah mengatakan pada istriku dimana letak kamarmu! kamu hanya tinggal duduk manis didalam mobil saat supirku membawamu pergi dari sini"


Rilly berucap tegas langsung mengikrarkan janjinya akan menjaga Shindy sepenuh jiwa dan raganya


"hmm.. sana pergilah! istriku menunggumu". usir Dylan dengan datar..


"baik tuan". jawab Rilly langsung pamit undur diri


Rilly berpenampilan sederhana tapi tidak ada yang tau bagaimana kejamnya Rilly di medan perang hanya Dylan dan rekan-rekan Rilly saja lah yang tau kehebatan wanita cantik itu.


Rilly pernah di lecehkan oleh papa tirinya sendiri, disaat Rilly hendak mengakhiri hidupnya dengan terjun bebas ke jurang laut lepas tapi Dylan menolongnya membawanya masuk ke markas besar dari situlah bermula tekat Rilly balas dendam sampai ke ubun-ubun kebenciannya pada sang ayah tiri.


Rilly tiba di mansion Melviano, matanya mengedar melihat sekeliling dan menautkan alisnya melihat gedung 3 tingkat di belakangnya.


"maaf? apa anda nona Rilly? yang akan menjadi teman Nona muda? "


Rilly menoleh dan menyapa ramah para pelayan Melviano, Rilly tau bagaimana rupa Shindy karna sempat viral di media tapi jujur Rilly belum pernah melihat Shindy secara langsung


"ayo Nona Rilly! nona muda kami sudah menunggu anda.. ".


Rilly masuk ke dalam mansion sementara koper Rilly di bawa oleh para pelayan diantar langsung ke kamar Rilly.


"waah.. ternyata rumah megah Melviano benar-benar seperti istana ". gumam Rilly dengan takjub.


"Rilly? "


"i.. iya saya".


Rilly menoleh ke asal suara dan terkesima melihat sosok wanita cantik yang tengah tersenyum ramah mendekatinya.


"apa dia nona muda tuan Melviano? benarkah? bagaimana bisa dia seramah itu? "


batin Rilly


"kenalkan namaku Shindy Sartika ! kata mas Dylan kamu akan menjadi temanku ".


Shindy mengulurkan tangannya begitu juga Rilly menyambut tangan Shindy yang terlihat begitu polos seperti gadis desa yang tidak tau kekuasaan. .


"Rilly Putri nona" senyum ramah Rilly.


.


.


waah... Pengawal baru nih..? Esok lagi ya Say...


terimakasih...


selamat beraktifitas jaga kesehatan selalu..


salam hangat dari Othor cantik ..


wkwkwk..


😂😂


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2