
Roy mengantarkan Rilly palsu ke mansion megah Melviano.
Anna memasang topeng wajahnya lagi dan turun dari mobil menatap takjub mansion Melviano yang sangat megah.
saat di pagar para satpam membiarkan Rilly masuk karna semua orang di mansion tau kalau Rilly adalah bodyguard Shindy.
"dia sudah datang sayang". ujar Dylan melirik ke arah balkon.
Shindy mendengus tak suka. "kenapa kita harus menerimanya mas? aku ngga suka sama dia, enak sekali dia mengambil posisi Lyli... ".
"tapi kita butuh dia untuk tau keberadaan Lylimu sayang... " jelas Dylan
Shindy menghela nafas panjang.
"ck... siapa ? mas bilang namanya siapa? ". tanya Shindy pasrah
"aku tidak tau siapa dia sayang..! tapi akan aku cari tau siapa dia dengan menggeleda sesuatu yang penting nantinya".
Shindy mengangguk patuh.
Rilly masuk ke mansion dan terperangah melihat mansion itu lagi,
"gila.... ini namanya bukan mansion lagi tapi istana di dunia nyata... kenapa aku tidak menikah dengan tuan melviano saja? ya ampun... aku bisa jadi Nyonya yang paling di hargai di mana-mana.. ". batin Anna alias Rilly palsu.
"tapi dimana kamarku? ". gumamnya pelan.
Rilly berpura-pura sakit. "t.. tolong antar aku ke kamarku! ". pinta Rilly memegang kepalanya yang berpura-pura sakit.
satu pelayan menolong Rilly dan mengantarkan Rilly ke kamarnya, setibanya dikamar Rilly ia memekik tak percaya.
"jadi dia hidup seperti ini selama ini? pantas saja dia tidak mau meninggalkan pekerjaannya..! woow... ini seorang pengawal punya ranjang kingsize.. ". Anna benar-benar takjub kamar Rilly asli sangat mewah bagi ukuran bawahan
Anna melihat pakaian Rilly dan mendecih kesal. "kenapa hanya ada pakaian tertutup? mana dress dan baju santai tapi elegan lainnya? bodoh sekali memakai pakaian beginian... ck.. "
Anna terus saja mencari pakaian Rilly yang lain tapi tidak bisa ia temukan seperti yang Anna inginkan.
"sialan... wanita ini benar-benar tidak waras..! ada pria setampan dan sekaya tuan Melviano kenapa dia tidak menggodanya? 1 atap kan? hanya ada baju tidur itu pun tebal... isssh... norak sekali sih".
Anna menggeram kesal dan akhirnya ia memilih tidur, tanpa Anna ketahui di bawah ranjang kingsize nya ada alat penyadap yang dipasang.
Dylan mendengar nya di ruangan kerjanya,
"oh...! kau berniat menggodaku? apa bisa? apa istimewamu heh? ckk... ck..ck.. "
Dylan memijit pelipisnya sambil berpikir dimana Rilly palsu menyembunyikan Rilly asli.
"semoga kamu masih baik-baik saja Rilly.. ". gumam Dylan merasa sedikit bersalah.
ke esokan harinya Rilly palsu terus saja menggunakan aktingnya untuk memberitau kamar Shindy dan Dylan serta babynya.
__ADS_1
kini Rilly tengah mengantarkan susu ke kamar baby kembarnya Shindy
Rilly palsu membuka 3 kancing baju kemeja atasnya nya sedangkan celananya tidak bisa di ganggu gugat karna memang panjang.
Shindy memutar kepalanya mendengar suara ketukan pintu, ia kembali fokus menyusu* baby Raya.
"Nyonya.. saya datang". Rilly palsu masuk dan sekali lagi terperangah melihat kamar Nyonya Melviano timbul keinginannya yang sangat menginginkan posisi Nyonya Melviano.
padahal itu kamar Baby kembar, sedangkan kamar Dylan dan Shindy ada disebelah.
"apa yang kau lihat? ". tanya Shindy dengan dingin
"Ck.. suami istri sama aja! sama-sama dingin dan ketus". batin Anna dengan malas.
"saya tidak melihat apapun nyonya". jawab Rilly tersenyum cerah
Shindy melihat penampilan Anna dari ujung rambut sampai ujung kaki, "
ck... siapa sih wanita ini? kenapa wajahnya bisa mirip dengan Lyli? ". batin Shindy memicingkan matanya dengan datar.
"sejak kapan kau tidak memakai jas? baju putihmu itu transparan.. apa kau tidak tau?? ".Shindy menatap geram belahan dad* Anna yang terpampang.
Rilly palsu alias Anna tersenyum manis dan memberikan susu Shindy.
"jas saya tadi terkena cipratan air panas Nyonya". jawab Anna dengan senyuman.
"silahkan di minum Nyonya". Anna berkata
"sejak kapan kau membuatkanku susu putih? " tanya Shindy dengan datar.
"Ehh..? apa Nyonya mau susu coklat? " tanya Anna tersenyum
"tidak... siapa kau sebenarnya? ". tanya Shindy
DeG!!
jantung Anna ingin melompat dari tempatnya.
"ap.. apa maksud anda Nyonya.. saya illy nya Nyonya". tanya Anna dengan raut wajah sedih
"lalu kenapa kau membuatkanku susu putih ? aku tidak suka.. ". bentak Shindy hingga Anna terlonjak kaget.
"sial... jadi begini wajah asli istri Melviano? pantas saja sih...kalau aku jadi dia mungkin akan lebih parah tapi apa yang dia minum kalau bukan susu putih dan susu coklat". batin Anna frustasi.
"sana pergi...! ". usir Shindy
"Nyonya !! mau saya buatkan apa Nyonya? saya akan buatkan untuk anda" tanya Anna dengan sabar.
"aku minta kau buatkan seperti yang biasa..! jangan terlalu manis dan jangan terlalu hambar". jawab Shindy penuh penekanan.
__ADS_1
Glek...!
"kenapa aku harus terjebak dengan wanita ini? kenapa aku tidak jadi asisten tuan melviano saja? ". batin Anna
"pergii....!! ". bentak Shindy membuat Anna terlonjak kaget lagi dan segera meninggalkan Shindy
Shindy memandang sinis pintu keluar Anna tadi.
"aku akan membuatmu tidak betah bekerja denganku...! dasar pengecut... berani sekali kau mencoba mengganti posisi Lyliku".
Shindy menoleh ke Baby Raya dan tersenyum manis.. "maafkan mami sayang... maaf ya? tadi itu orang jahat.. ! mami harus bertindak begitu supaya dia jerah dan tidak berani macam-macam dengan mami".
Dylan masuk ke kamar baby kembar dan melihat Shindy tengah berdiri meletakkan baby Raya di box bayi.
"sayang? " Dylan berlari kecil ke arah Shindy dan membantu istrinya kembali duduk di kursi roda.
"mas.. aku baik-baik aja tau..! kenapa kamu membuatku merasa jadi wanita cacat? ". kekeh Shindy dengan tingkah posesif suaminya.
"kamu masih belum sembuh total sayang..! aku takut terjadi sesuatu denganmu". Dylan berjongkok di depan Shindy dan mencium punggung tangan istrinya dengan penuh cinta.
"mas? ". Shindy mengelus kepala Dylan juga.
"hmm? " saut Dylan mendongak.
"apa sudah di temukan? dimana wanita itu menyembunyikan Lyli? ". tanya Shindy
"belum... dia hanya sibuk mengoceh akan menggodaku.. ". jawab Dylan malas.
"ck... aku tau mas..! tadi bajunya begitu.. kalau mommy melihatnya bagaimana? ". kesal Shindy
"1 mansion keluarga kita sudah tau". jawab Dylan
"hah? kok bisa tau? apa yang mas katakan sama mereka semua? " tanya Shindy terkejut.
"aku harus bisa memainkan peran kan? satu keluarga ini harus bisa membuatnya tidak betah dan akhirnya keluar sendiri tanpa harus kita usir sambil mencari tau dimana Lylimu berada". Dylan berkata
"huuufft... semoga Lyli baik-baik aja mas". gumam Shindy dengan khawatir.
"hmm.. aku yakin dia baik-baik saja, tubuhnya sudah terlatih di dunia militer jadi aku yakin dia kuat bertahan walau di tengah hutan belantara sekalipun".
"astagah.. itu mengerikan mas..! kasihan Lyli kalau di kurung di tengah hutan ". Shindy membayangkannya saja sudah ngeri.
"tapi bagi kami itu hal biasa sayang... menjadi seorang prajurit sejati harus pandai bersiasat untuk perlindungan tubuh dan Lylimu pasti bisa bertahan dimanapun dia berada".
Shindy menekuk wajah cantiknya. "aku mau mas membunuh wanita itu jika Lyli sudah di temukan".
"okeh.. " jawab Dylan tanpa berpikir panjang.
.
__ADS_1
.
.