Sikembar Sang Penguasa 2

Sikembar Sang Penguasa 2
masih sama


__ADS_3

sementara Dylan sedang mengawasi Alexa yang sering bertemu dengan Branz.


"ck...! ". decak Dylan


"apa yang harus kita lakukan tuan? ". tanya Bagus penasaran.


Dylan diam sejenak


"aku ingin mencekiknya saat ini juga".


"apa perlu kita serang mereka tuan muda? ". tanya Bagus


Dylan menarik nafas panjang,,


"kirim mata-mata di dalam markas Branz beri pil kecil andalan kita yang menjalar perlahan-lahan di jantung mangsa kita".


Bagus bergidik ngeri membayangkannya, ia tau makna pil kecil itu memang meninggalnya bukan dalam sekejab tapi perlahan-lahan dalam jangka waktu tertentu yang pasti tidak akan terdeteksi oleh alat canggih apapun karna pil itu masuk dalam aliran darah.


"baik tuan! ". jawab Bagus


"kembali". perintah Dylan


Bagus langsung menghidupkan mesinnya.


"sepertinya wanita itu hanya ingin menyakiti nona Shindy saja tuan". tebak bagus di tengah perjalanan mereka.


"hmm..! aku tau seperti Shindy memanasinya dengan dekat denganku wanita itu juga ingin membuktikan Shindy memang pembawa sial hingga tidak ada pria yang mendekatinya berharap aku percaya hingga pada akhirnya meninggalkannya".


Bagus melebarkan matanya.


"tuan tau hal itu? ".


"hmm.. karna aku pernah dengar dari mulutnya sendiri kalau dia membawa sial dan percaya aku terkena sial karnanya".


Bagus mengangguk-ngangguk mengerti rencana Alexa


"kau awasi dia dengan seksama karna aku yakin dia akan ada dimanapun Shindy berada..! saat ini Shindy memang ada di mansion hingga dia aman saat ini tapi saat dia sudah sembuh total aku tidak ada alasan melarangnya bekerja".


"baik tuan". jawab Bagus


"tuan? ". panggil bagus ragu-ragu


"apa? ". tanya Dylan dengan datar.


Bagus memberikan ponselnya yang ada notifikasi pesan dari Shindy.


"akhir-akhir ini kau cukup dekat dengannya ya? ". kata Dylan dengan tenang tak ada nada cemburu dalam perkataannya.


"dia menanyakan keadaan anda tuan? ". jerit Bagus dalam hati.


"apa ini? ". tanya Dylan tak mengerti pesan Shindy.


"oh itu McD tuan... " jawab Bagus


"apa itu? ". tanya Dylan


"tuan tidak tau ayam spicy McD ? ". tanya Bagus balik.


Dylan menggeleng kepalanya lalu segera mencari di internet dan mengangguk-ngangguk mengerti.


"ternyata dia pemakan ayam? ". gumam Dylan tersenyum tipis.


"kan saya sudah bilang ayam spicy tuan? AYAM Spicy... " batin Bagus mengulang kembali kata-katanya.

__ADS_1


"berhenti di McD biar aku belikan Kaisha dan Nova". perintah Dylan


"baik tuan". jawab Bagus dengan mendesis.


Dylan melirik Bagus sebentar lalu mengangkat bahunya acuh tidak peduli apa yang membuat asistennya begitu jengkel, Dylan tau dari nada bicara Bagus yang seperti itu.


setelah membeli pesanan Shindy, Dylan juga membelikan makanan buat adik-adiknya.


.


.


"kakak beli apa?? " heboh Kaisha berlari melihat Dylan mendekati ruang tamu.


dylan memberikan semua jajanan yang ia belikan dan menyimpan 1 kantong kresek untuk Shindy. mereka semua saling melirik satu sama lain dan berpura-pura tak tau saat Dylan terlihat sedang mencari seseorang.


"mom? ". panggil Dylan ragu-ragu


"hmm? ". sahut Kaira sambil menggigit ayam Spicy nya yang super pedas.


Dylan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal lalu tanpa pemandu ia berlalu saja dari semua keluarganya yang tengah menatap aneh dirinya.


saat Dylan sudah masuk Lift, semua orang kompak tertawa sahut-sahutan mengingat wajah lucu Dylan yang masih mempertahankan sikap arogannya padahal mereka tau Dylan mencari sosok Shindy.


"apa kak Dylan tau dimana kakak ipar mom? ". tanya Nova serius.


"sudah pasti lah! kan Shindy nya emang dikamar setelah membereskan kamar Dylan". jawab Mely


"kak Dylan kenapa begitu sih? kayak anak kecil takut ketahuan mencuri deh..! lucu sekali". ujar Kaisha tertawa cekikikan.


Pasha juga tidak kuasa menahan tawanya, ia tau bagaimana karakter putra sulungnya yang sangat menjaga diri dengan sikap Arogannya itu.


Matt tertawa, ia tak percaya akan melihat sisi lain cucu pertamanya,, beberapa kali Mely dan Kaira berusaha menjodohkan Dylan dengan perempuan-perempuan dari kalangan atas,menengah tapi tidak satupun yang masuk ke hati Dylan, apalagi Dylan enggan untuk sekedar menemui saja.


.


.


sedangkan Dylan mencari Shindy dikamarnya,


"tidak di kunci? ".


Dylan mengetuknya terlebih dahulu lalu mulai melangkahkan kaki masuk ke kamar Shindy.


"hei...? Shindy? ". panggil Dylan


Shindy yang sedang melamun di balkon tersentak


"tuan? ". Shindy segera berlari semangat ke dalam kamar tapi karna tak sengaja tersandung kakinya sendiri hingga Shindy memekik pasrah.


Dylan dengan cepat berlari kearah Shindy dan menarik tangan Shindy hingga mengudara tak jadi terkena lantai.


"kenapa kau malah pasrah? kau mau hidungmu patah? keningmu merah? ". cecar Dylan


Shindy membuka matanya dan melihat ke arah mata Dylan yang sangat tajam seperti sebilah pedang Es.


"terimakasih tuan.!" ucap Shindy menebarkan senyuman kikuknya.


"kenapa? apa kau merindukanku? ". ledek Dylan asal sambil berjalan meninggalkan Shindy.


Shindy tertegun mendengarnya ia tidak menjawab hanya memainkan kuku-kukunya sambil menggigit bibir bawahnya melihat ke arah jemari kakinya.


Dylan melihat kesamping tidak ada Shindy lalu menghela nafas panjang rupanya Shindy tak mengikutinya.

__ADS_1


"sedang apa kau disana? ". tanya Dylan


Shindy mendongak dan berjalan dengan ragu-ragu ke arah Dylan.


"itu makananmu". Dylan menunjuk Ayam Spicy pesanan Shindy


Shindy membulatkan matanya.


"ta tapi saya pesan dengan tuan Bagus, t tuan? ".


"apa bedanya aku dengannya? kenapa kau tidak minta padaku? ". tanya Dylan dengan datar


"saya tidak mau merepotkan anda". jawab Shindy menunduk


Dylan menarik nafas panjang.


"aku yang memintamu untuk tidak boleh keluar kan? kenapa kau malah segan meminta padaku? ".


Shindy makin menundukkan wajahnya tak berani melihat ke arah tatapan mata Dylan yang tajam seperti pedang Es yang siap membelah tubuhnya jika menatap mata biru itu.


Dylan yang tau Shindy tengah takut padanya, ia mendekat ke Shindy dan mengusap kepala Shindy hingga si empunya mendongak menatap tangan dylan yang hangat tengah membelai kepalanya.


"jangan takut padaku! katakan saja apa yang kau butuhkan". kata Dylan dengan wajah datarnya lalu meninggalkan Shindy yang masih membeku.


di pintu Dylan berhenti tanpa membalik tubuhnya ia berkata "habiskan makananmu".


belum sempat Shindy mengeluarkan suara Dylan sudah menutup pintu kamarnya hingga Shindy kembali menutup mulutnya.


"kenapa tangannya sangat hangat? tapi tatapan dan tingkahnya sangat berbanding terbalik". gumam Shindy keheranan.


Shindy berjalan cepat dengan mata berbinar ke arah bungkusan kresek yang dibawa Dylan.


ia berdoa lalu mulai makan dengan lahap, hingga Shindy lupa dengan kejenuhannya di tempat ini ia memberi satu ayam buat kucingnya tapi tulangnya Shindy buang takut kucing kecilnya tercekik.


"Bombom! mamah sayang sama kamu cepat besar ya? ". celoteh Shindy mengusap-ngusap kepala kucingnya dengan gemas.


Shindy persis seperti seorang istri simpanan yang di tinggal oleh suaminya padahal ia bukan siapa-siapa Dylan tapi kondisinya sampai saat ini membuat siapapun salah faham.


"mama ingin tau isi hati papamu! ". bisik Shindy tersenyum lebar mengingat Dylan.


karna Dylan yang memberikan kucing kecil itu padanya maka Shindy mengatakan Dylan adalah papa nya kucing kecil itu yang artinya Bombom adalah anak mereka berdua tapi hanya Shindy yang tau pikiran itu tidak ada yang tau apa yang Shindy pikirkan.


.


.


.


.


.


anaknya Kucing mbak? cup.. cup kasihan bener sih sabar ya Mbakk... pria Arogan sedingin salju itu memang harus super sabar menghadapinya kebanyakan perempuannya yang banyak memberi kode keras dan terang-terangan kadang juga nggak peka


wkwkwk..


sabar readers.. !! jangan cela mas Dylan Othor ya..! di kasih nasihat aja dengan surat kirim ke kantor pos polisi ?


Just Kidding...


😂😂😂


.

__ADS_1


.


__ADS_2