Sikembar Sang Penguasa 2

Sikembar Sang Penguasa 2
pelaku nya


__ADS_3

bertepatan Dylan datang bersama Keyzo.


"Kakak ipar? " teriak Keyzo dapat jitakan dari kakaknya


"kenapa kak? " kesalnya sambil mengusap-ngusap keningnya.


"kakak iparmu di culik..! menurutmu apa wajar teriak-teriak? apa kamu mengira kakak iparmu sedang kabur-kaburan seperti sebelumnya? " tanya Dylan dengan datar.


kakak beradik itu sama-sama bisa melihat jelas di gelap malam,


"oh.. iya ya... maaf kak". cengirnya


Dylan dan Keyzo kompak menoleh ke dalam mendengar Rilly memanggil Shindy.


"apa yang terjadi? kenapa bisa berteriak? " . gumam Dylan penasaran langsung masuk ke gedung itu.


"ini aneh kak... tidak ada penjaga disini.. ". Keyzo mengedarkan pandangannya saat di pintu masuk


"Nona? ada hantu Nona...? Nona?? " teriak Rilly masih merangkak ke dinding karna tidak bisa melihat di tempat gelap.


"Hantu? " beo Dylan dan Keyzo kompak.


"sayang? Ndy? kamu dimana sayang? ini aku!". Dylan akhirnya mengeluarkan suara saat melihat banyaknya manusia tergetak dan ada yang bersimbah darah.


"in.. ini siapa pelakunya? apa kakak ipar kak? " tanya Keyzo tergagap.


"bisa jadi". jawabnya asal langsung berjalan ke arah Rilly


"tuan..? Tuan...? ". Rilly mendengar suara Dylan dan masih meraba-raba dinding mendekati asal suara Dylan.


Dylan mengeluarkan senter dan memberikannya Ke Rilly yang memang tidak bisa melihat di gelap malam.


"No.. nona Tuan? s. saya tidak tau dimana nona! maafkan saya Tuan.. ". lirih Rilly merasa bersalah


"tadi kak Lyli bilang ada hantu dimana hantunya? " sambar Keyzo penasaran.


"ke.. ke arah sana". tunjuk Rilly.


"kau pergilah ke mobil, biar aku yang mencari istriku". perintah Dylan


"ba baik tuan" jawab Rilly yang dapat kunci dari keyzo.


"Sayang? " Dylan pergi ke belakang dimana Shindy sedang menatap Seseorang yang masih ada di kolam tua itu.


"mas? " ucap Shindy pelan tersadar lalu menoleh kebelakang


"Hhooooo... ha.. hantu..? itukah namanya hantu? " pekik Keyzo berbinar

__ADS_1


Dylan memicingkan matanya saat sosok berpakaian putih nan bersimbah darah, rambut yang berantakan tengah mendekatinya.


Keyzo terperangah saat Dylan malah mendekati hantu itu..


"Kak.. itu hantunya diajak selfie...! biar terkenal". teriak Keyzo heboh mengeluarkan ponselnya


Keyzo menghidupkan kamera flasnya menyorot ke arah Shindy.


"Ok.. Selfie dengan kunti.. hahaha". ucapnya girang membayangkan nambah pengikutnya di sosmed padahal sudah banyak pengikutnya.


Dylan yang melihat perut buncit Shindy membuatnya yakin itu adalah sosok istrinya.


"sayang? " Dylan menyibakkan rambut Shindy hingga wajahnya terlihat jelas


Keyzo yang memegang hpnya tersedak sendiri hingga terbatuk-batuk.


"yaah.. bukan hantu beneran kak? kakak ipar itu? " cecar Keyzo kecewa langsung menyimpan kembali ponselnya berjalan mendekati Dylan dan Shindy


"mas? akhirnya mas datang juga". cengirnya memegang tangan Dylan yang tengah menangkup mesra pipinya.


"apa kamu baik-baik aja sayang? apa ada yang terluka? " cecar Dylan khawatir membuang kain putih yang membalut tubuh istrinya


"aku baik-baik aja mas berkat anakmu ini" Shindy mengusap perut besarnya.


Keyzo menjatuhkan rahangnya mendengar nada bicara Shindy yang tidak ada kesan takut atau trauma padahal barusan di culik.


"hmm.. tadi sore mereka yang bilang akan membunuh anak ku langsung aku bunuh". jawabnya polos


Dylan memegang tangan Shindy dan bajunya yang ada terkena cipratan darah.


"terus ini darah mereka atau darahmu sayang? " tanya Dylan sampai berjongkok melihat perut besar istrinya.


"iya mas.. ini bukan darahku" jawab Shindy mengusap. kepala Dylan yang tengah memeluk perutnya


"isssh... situasi begini masih bisa pelukan ya? dasar bucin akut " cibir Keyzo berbalik meninggalkan pasangan yang sedang di mabuk cinta itu.


butuh waktu setengah jam bagi Dylan dan Shindy di tempat itu melepas rasa takut dan khawatir Dylan.


.


Keyzo dan Rilly duduk di depan kemudi sedangkan Dylan dan Shindy dibelakang dengan drama cekcok cinta pasangan itu.


Keyzo mengambil heandshet nya dan menutup kedua telinganya memutar musik supaya tidak mendengar pembicaraan kakak dengan kakak iparnya itu.


Rilly juga diam tanpa ikut campur berpura-pura tidak dengar padahal dengar.


Shindy mengerucutkan bibirnya saat sudah kalah cekcok mulut dengan suaminya.

__ADS_1


"mas..? aku baru tau kalau mas sangat bawel dan cerewet udah kayak emak-emak aja" gerutu Shindy kesal.


"aku ngga mau kamu mengikuti mereka lagi...! kamu fikir aku ngga tau sayang? kamu memang sengaja mengikuti mereka kan? seperti tadi itu rencanamu kan? kamu membantai mereka semua iyakan? ". omel Dylan sudah persis seperti emak-emak saja.


makin maju aja bibir Shindy yang mengerucut itu, "maaf mas..!". ucapnya pelan


Dylan memijit pelipisnya. " terus siapa yang kamu lihat tadi di kolam itu? " tanya Dylan


"Bianka... aku sentrum dengan tegangan Volt yang tinggi.. mati deh... " ucapnya pelan seolah Bianka itu hewan saja.


Dylan menjatuhkan rahangnya, ia tau Shindy tidak sesadis itu tapi kenapa tiba-tiba bisa sesadis itu,


"kamu pelakunya atau anak kita pelakunya? " tanya Dylan serius.


"kami bersama". cengir Shindy


"aku juga ngga tau kenapa bisa kepikiran itu mas..! tubuh aku seperti sedang di kendalikan oleh anak-anak kita tapi otakku masih menguasai diriku dan jujur aku ngga takut malah senang mereka mati ditanganku..!"


"siapa suruh mereka berani hendak mencelakai anakku? mereka membuatku mengeluarkan tandukku... mereka berfikir aku yang sedang hamil besar ini tidak bisa apa-apa mas.. "..


"sudah cukup...kita tidak bisa ke mansion dengan keadaanmu yang bersimbah darah begini.. mommy bisa khawatir denganmu". Dylan masih bisa berpikir waras dengan perkataan istrinya yang sudah persis seperti psikopat saja.


Shindy mengangguk-ngangguk patuh jadinya.


Dylan meminta Keyzo membawa mereka ke rumah mereka saja yang sudah lama tidak di tempati hanya pelayan saja yang masuk untuk membersihkan rumahnya.


.


Keyzo menunggu di sofa saat Dylan membawa Shindy masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri, sedangkan Rilly di kamar bawah dimana itu bekas kamar Shindy yang pernah tinggal di rumah ini.


"ckk... sepertinya calon penerus melviano yang baru punya jiwa psikopat... hahahah... Mafia berdarah dingin udah sama kayak daddy aja.. ". kekeh Keyzo geli.


Keyzo teringat kejadian di gedung tua itu dimana pembantaian wanita yang tengah hamil tua itu.


Shindy benar-benar mengagumkan bisa membunuh orang saat perutnya sudah begitu besar, kaki Shindy seperti kaki baja yang tidak lelah berjalan membawa kedua anak kembarnya kemana-mana.


.


Dylan memandikan istrinya yang tengah sibuk bermain gelembung-gelembung sabun.


"kalau begini siapa yang akan percaya istriku inilah pelakunya? kenapa anak-anakku harus memiliki darah Mafia seperti Daddy? dan aku juga pembunuh tapi tidak bergabung dengan Mafia... aku seorang Abdi negara.. apa ini hukuman bagiku.? ck.. aku tidak tau aku harus bangga atau menangis dengan calon anak-anakku ini". batin Dylan mendumel tak mengerti.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2