
"ekhemm!! ". Dylan berdehem menetralisirkan bibirnya yang ingin tertawa.
sementara keluarga Dylan sudah kocar-kacir melarikan diri masuk ke sebuah ruangan tertutup sambil berteriak histeris mengingat Dylan si putra sulung Melviano tengah tertawa karna seorang perempuan, biasanya kan wajah Dylan datar, dingin, cuek dan tak pernah menanggapi siapapun perempuan didekatnya.
"aaakh.. Kakak Ipar gemesin banget dehh". teriak Keyzo di ruangan kedap suara.
Mely menjerit girang. "Yuhuuu... aku bakalan punya cicit hebat lagi". soraknya kegirangan.
Kaira tertawa kegirangan saling berpelukan dengan Kaisha dan Nova, mereka seperti teletubis berpelukan karna Dylan yang seperti luruh sedikit dengan kelakuan Shindy.
"ada apa sih? ". tanya Pasha yang memejamkan matanya seketika saat masuk terdengar pekikan histeris semua orang-orang tersayangnya
"kenapa?" timpal Matt juga kebingungan.
tadi Pasha dan Matt melihat orang-orang tersayangnya berlari-larian seperti anak TK keluar dari sekolah tentu mereka mengikuti saat masuk ke ruangan itu mereka malah di suguhkan dengan pemandangan heboh.
Mely dan Kaira kompak berlari ke suami mereka.
Kaira melompat memeluk Pasha, Pasha yang penasaran tentu membalas pelukan sang istri.
"kenapa sayang? ". tanya Pasha
Kaira tidak tega memanggil bunda dan Ayahnya jadi hanya yang berjaga saja yang datang ke ruangan ini, sedangkan Bunda dan Ayahnya sudah istirahat.
Kaira menceritakan semuanya, hingga semua orang yakin kalau Shindy memang sudah ada di hati Dylan walau hanya setitik spidol.
.
.
"apa tuan mau sesuatu? ". tanya Shindy sopan.
"kenapa kau menunggu disini? ". tanya Dylan bukannya menjawab pertanyaan Shindy.
Shindy menggaruk kepalanya yang tak gatal, ia juga tidak tau mau jawab apa karna dia sendiri tidak tau kenapa menunggunya.
"lebih baik kamu kembali kekamarmu! aku mau mandi terus tidur ". Dylan memijit tengkuknya yang terasa pegal.
"kalau begitu boleh saya membantu anda tuan? bukankah saya pelayan anda ? saya tidak bekerja di rumah anda tapi disini,, pelayan disini juga sering mengusir saya dengan bilang pekerjaan mereka tidak boleh di bantu ? ". kata Shindy.
Dylan tersenyum tipis, "baiklah "
Dylan berjalan terlebih dahulu dan Shindy dengan cepat mengekori Dylan.
setibanya di kamar Dylan, Shindy menggeleng kepalanya supaya tetap fokus untuk pekerjaannya.
"di dimana kamar mandinya tuan? ". tanya Shindy.
Dylan menunjuk dengan ekor matanya, Shindy segera melangkahkan kaki ke arah tatapan Dylan.
Dylan masuk ke ruangan gantinya dan melepas semua bajunya memakai jubah mandinya.
Shindy melihat ke arah Shower dan bathup, ia bingung yang mana harus di atur.
"apa sudah siap? " tanya Dylan mengagetkan Shindy
Shindy menjawab. "saya tidak tau yang mana harus saya atur tuan". jujur Shindy.
__ADS_1
"biasanya aku pakai Shower tapi hari ini cukup melelahkan jadi ingin berendam".
Shindy mengangguk tanpa melihat Dylan yang ada dibelakangnya, ia terlalu bersemangat melayani Dylan karna baginya seorang Pelayan lebih mulia dari pada seorang pelac*r, saat ini Shindy tetap bekerja sebagai Pelayan untuk mencicil hutang-hutangnya pada Dylan bukan niat menggoda seperti kebanyakan wanita.
"apa kau sudah ganti perban? ". tanya Dylan
"sudah tuan! tadi dibantu oleh nona Kaisha". jawab Shindy dengan serius menakar air hangat yang masuk ke dalam bathup.
Shindy menoleh ke tempat wewangian dan mengangguk-ngangguk pelan.
"pantas aja tubuh tuan sangat wangi! ternyata bau bunga mawar di campur aroma khas tubuhnya jadi memiliki wangi yang khas". batin Shindy sambil memperhatikan wewangian yang dipegangnya.
"sampai kapan aku menunggumu? ".
Shindy terperanjat kaget lalu segera bangkit dan membalik tubuhnya ke Dylan, Shindy terbelalak melihat Dylan yang sedang memakai jubah mandi berwarna putih sangat kontras dengan kulit Dylan.
"sana keluar! ruang ganti bajuku berantakan bersihkan dengan rapi " . perintah Dylan
"ba baik tuan" Shindy segera menurunkan pandangannya dan memberi Dylan jalan.
Shindy segera berjalan cepat keluar dari kamar mandi lalu melihat kiri-kanan tempat yang dimaksud Dylan.
Shindy masuk ke ruangan ganti Dylan dan mengerutkan keningnya.
"mana berantakannya ya? ". gumamnya keheranan.
Shindy melihat baju Dylan tadi yang berserakan di luar keranjang kotor. setelah memasukkannya dengan benar, Shindy melihat semua lemari yang bersih tidak ada yang berantakan
"apa aku salah dengar ya? aku yakin dia bilang ruang gantinya berantakan". gumam-gumam Shindy kebingungan.
Shindy melihat baju kotor Dylan lalu membawanya keluar kamar Dylan, kamar Dylan benar-benar bersih tidak ada yang kotor bahkan ranjangnya tidak berkerut sedikitpun saking rapinya.
.
.
"kok begini ya? kapan lukanya? ". gumam Shindy
Shindy memijit kakinya yang sedikit membiru, ia merasa kakinya tidak sakit tapi kenapa kakinya membiru.
"apa terkena bodi mobil ya? tapi dokter menunjukkan hasil pemeriksaan tidak ada yang salah dengan tulang kakiku".
lama kelamaan Shindy terlelap tanpa selimut, Dylan masuk ke kamar Shindy ia merasa aneh melihat kaki Shindy tadi sedikit kebiruan jadi ia ingin memastikan sendiri.
"kakinya memang membiru". gumam Dylan melihat kaki jenjang Shindy yang putih bersih.
Dylan membenarkan posisi tidur Shindy, entah kenapa shindy malah mencari kenyamanan saat Dylan menggendongnya.
"apa dia kedinginan? ". batin Dylan melihat AC kamar lalu berdecak pelan.
Dylan mengecilkan AC nya lalu mengobati kaki Shindy yang sedikit membiru setelah itu ia menyelimuti Shindy tanpa melakukan apa-apa Dylan keluar dari kamar Shindy.
Kaisha dan Mely sudah menunggu didepan Pintu, Dylan sudah tau akan hal itu malah menunjukkan wajah biasanya.
"ngapain kamu ke kamar perempuan sayang? ". tanya Kaira dengan tajam
"Dylan hanya melihat luka di kakinya". jawab Dylan tenang lalu mengecup kening Kaira dan Mely ia meninggalkan Kaira dan Mely yang belum siap berbicara.
__ADS_1
"sepertinya kita harus bergerak cepat mah". gerutu Kaira
"hmm.. bagaimana caranya biar mereka cepat terjebak lalu kita seolah memergoki mereka kalau kita yang melakukan kayaknya tidak mungkin kan? "
Kaira juga bingung bagaimana cara menjebak Shindy dan Dylan supaya bisa menikah. Kaira dan Mely sudah tau asal-usul Shindy dan tidak ada yang mempermasalahkannya.
ke esokan paginya Shindy terbangun sekitar jam 6 pagi, ia segera mencuci muka lalu mengerjakan pekerjaan Rumah, tanpa sepengetahuan Shindy Kaira dan Mely selalu mengamati Shindy yang suka melakukan pekerjaan rumah tangga
"mama jadi ingat kamu dulu sayang". bisik Mely
Kaira cekikikan mengingatnya. "iya mah ! Shindy mengingatkan Kaira saat masa berjuang mencari uang".
"dia memang pantas buat Dylan kita mah". timpal Kaira lagi.
Mely mengangguk membenarkan.
"Kakak ipar? " Keyzo melambaikan tangannya ke Shindy.
Shindy tersenyum kikuk karna Keyzo selalu memanggilnya begitu.
"bantuin Keyzo kakak ipar". pinta Keyzo
"hmm? ". Shindy seolah sedang bertanya apa yang bisa dibantu nya.
Shindy membantu Keyzo memanggang daging yang ia tak tau gunanya buat apa.
"siapa yang makan daging pagi-pagi keyzo? ". tanya Shindy penasaran.
"kakak ipar udah kasih makan peliharaan kakak? ". tanya Keyzo
"udah tapi kucing kakak lagi sama Kaisha". jawab Shindy
"nah yang ini buat peliharaan kak Dylan". jawab Keyzo menyeringai lalu mengedipkan matanya sebelah.
Shindy mengerjabkan matanya.
"tuan muda? punya peliharaan? ".
Keyzo manggut-manggut
"boleh kakak ikut? ". tanya Shindy
"kakak ipar punya riwayat sakit jantung tidak? ". tanya Keyzo melenceng
"tidak". jawab Shindy polos
Keyzo mengangguk-ngangguk.
"kakak ipar bakal lihat kucing manis kok ". senyum tipis Keyzo
Shindy dibuat bingung kenapa Keyzo bertanya dirinya punya penyakit jantung kalau yang harus di temui hanya se ekor kucing?
.
.
sambung Esok lagi Yeee...
__ADS_1
.
.